
“Apa yang Mama katakan saat kalian bicara tadi?”
Aku hanya memberitahunya mengenai hal yang ditawarkan Mama agar aku mau meninggalkannya. Aku tidak menyebut-nyebut tentang kata-kata kutukannya. Biar itu menjadi rahasia antara aku dan Mama saja. Aku adalah seorang ibu, sedikit banyak aku mengerti rasa putus asanya yang ingin melindungi putranya dari wanita yang dianggapnya sebagai orang jahat.
“Mengapa kamu tidak menerimanya saja? Ambil semua itu, lalu pulanglah dengan menjadi wanita kaya raya. Mama tidak akan bisa merendahkan kamu lagi. Bila kamu berniat meninggalkan aku, aku bisa mengejar kamu dan menyekapmu kembali di rumah ini. Beres.” Dia mengangkat kedua bahunya dengan santai. Aku mengangakan mulutku tidak percaya.
“Kamu lebih suka aku menjual diri semurah itu? Apa kamu pikir perasaanku untukmu bisa diukur dengan uang? Begitu?” protesku.
“Kamu ini mengapa mudah sekali tersinggung? Aku hanya bercanda.” Dia mempererat pelukannya. “Kalau begitu, aku akan memindahkan rumah ini atas namamu. Kedua mobil itu adalah milikmu dan sudah atas namamu, mengapa Mama memasukkannya dalam daftar tawarannya? Aku tidak bisa memberimu bagian saham sebanyak dua puluh persen karena itu bagianku. Tetapi kalau kamu mau menjadi wakil Papa, aku dengan senang hati akan memberikannya untukmu.”
“Apa kamu takut bahwa aku akan benar-benar menerima tawaran Mama dan meninggalkan kamu demi uang?” tanyaku curiga.
“Aku takut kehilangan kamu, sayang. Bukan berarti aku tidak percaya kepadamu. Aku sudah katakan, aku punya banyak saingan di luar sana.”
“Aku hanya mencintai kamu. Aku tidak peduli dengan yang lain.” Aku membingkai wajahnya dengan kedua tanganku. “Meskipun bibirmu terlalu tebal, hidungmu terlalu besar, matamu sipit ….”
“Yang benar saja.” Dia memotong kalimatku dengan membungkam mulutku dengan bibirnya. Aku tertawa dan tidak melawan saat dia menciumku sepuasnya.
Dira sangat bahagia ketika pada siang itu aku menunjukkan sebuah gaun putri berwarna putih, lengkap dengan tongkat dan tiaranya. Dia segera berlari menemui papanya untuk menunjukkan pakaian barunya itu. Hendra dan Hadi sudah menunggu di bawah dengan Ara. Anak-anak yang kami undang akan berpakaian layaknya pangeran dan putri, maka Hadi dan Dira juga begitu.
Putraku terlihat sangat tampan dengan setelan hitamnya. Dia dan adiknya terlihat sangat serasi. Mereka segera berlari menuju kebun, di mana sebuah miniatur istana telah berdiri dan berbagai permainan telah siap untuk digunakan. Ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, bahkan trampolin.
Agar dia tidak cemburu, Ara juga mengenakan dress putri khusus untuk anak anjing. Dia sangat senang dengan pakaian tersebut dan tidak risi sama sekali. Para tamu mulai berdatangan. Pengisi acara sudah siap dengan tugas mereka. Ada pemain boneka yang sudah siap untuk berdongeng, tukang sulap, penyanyi, bahkan seorang guru yang akan mengajar teknik menggambar sederhana kepada anak-anak.
Berbagai kue, buah, minuman, juga es krim telah tersedia. Anak-anak bebas untuk menikmati apa pun yang mereka mau. Kami hanya bisa berharap semoga orang tua mereka mengawasi berapa banyak porsi yang dikonsumsi oleh anak mereka masing-masing.
“Selamat, Hendra. Kamu berhasil menang dari tuntutan mantan sekretarismu itu.” Giovanni menepuk bahu suamiku. “Apa gosip itu benar? Wanita itu mencintaimu?”
“Mengapa kamu malah membahasnya di depan istrinya?” Darla memukul pelan dada suaminya. Giovanni tertawa.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Darla,” ucapku menengahi. “Iya, gosip itu benar, Giovanni.” Para suami sahabatku menarik napas terkejut. Kami para wanita hanya tertawa.
“Kamu tidak terkejut?” tanya Giovanni kepada istrinya.
“Apa lagi alasan dari seorang karyawan wanita yang bersikeras tetap bekerja untuk atasannya yang sedang sendiri?” ucap Darla sarkas. “Zahara yang sudah berpisah darinya saja tidak bisa berhenti mencintainya, apalagi wanita yang telah bekerja untuknya selama bertahun-tahun?”
“Itulah alasan utama aku mempekerjakan sekretaris laki-laki, Hendra. Kamu perlu merekrut sekretaris baru sebelum wanita muda itu jatuh cinta kepadamu,” kata Edu.
“Apa kamu lupa bahwa laki-laki pun ada yang menyukai sejenis, Edu?” tanya Hendra menggodanya. Wajah Edu seketika itu juga memucat. Kami tertawa melihatnya. “Setiap pilihan ada risikonya. Aku memercayakan divisi SDM untuk memilih sekretarisku. Jika dia juga berulah, tinggal pecat saja. Aku tidak mau menyusahkan diri untuk hal remeh-temeh.”
Perayaan singkat ulang tahun Dira sudah selesai, jadi kami bisa berkumpul bersama sembari mengawasi anak-anak bermain. Zach tidak jauh-jauh dari putranya, sedangkan Rasmi sudah beberapa kali harus ke kamar mandi. Mualnya sedang parah.
Sesekali aku melihat ke arah pintu depan, bersiap jika orang yang tidak diundang datang dan berusaha untuk membuat kekacauan. Tetapi sampai satu-persatu tamu pamit pulang, dia tidak muncul seperti yang aku khawatirkan.
“Bila kamu waswas Dicky akan datang dan mengganggumu lagi, jangan khawatir. Suamiku sudah bicara dengannya,” bisik Qiana. Para suami sudah tidak bersama kami lagi, jadi kami berempat bisa bicara dengan leluasa.
“Kamu memang sudah punya dua anak, tetapi kamu semakin cantik, tubuhmu bagus, masih muda, dan sikapmu juga baik. Yang paling utama, kamu janda kaya. Wajar saja banyak pria yang jatuh cinta kepadamu,” kata Lindsey.
“Aku bukan istri yang setia. Jika mereka tahu itu, mereka pasti tidak akan tertarik lagi kepadaku,” kataku dengan yakin. Mereka tertawa geli.
“Zahara, kamu ini hidup di zaman apa? Justru kalau mereka tahu bahwa kamu pernah tidur dengan laki-laki lain dalam pernikahanmu, mereka semakin tertantang untuk menaklukkanmu. Aku adalah buktinya. Dan kamu bisa tanya Claudia juga.” Lindsey mendekatkan wajahnya kepada kami. “Jangan salah paham. Aku tidak bangga dengan perselingkuhan yang aku lakukan.”
“Aku tidak akan melakukannya lagi. Yang pertama aku lakukan bukan dalam keadaan sepenuhnya sadar. Aku benar-benar takut andai saja timing-nya tidak tepat.” Jantungku selalu berdebar lebih cepat setiap kali teringat hal itu.
“Timing?” tanya Darla.
“Aku sudah positif hamil saat melakukan kesalahan itu. Seandainya aku hamil setelahnya, aku tidak akan bisa mencegah skandal yang terjadi.” Aku mendesah keras.
“Zahara, sekali lagi. Kamu ini hidup di zaman apa? Persoalan ayah dan anak kandung adalah hal yang sepele. Tinggal melakukan tes DNA. Beres.” Lindsey menjentikkan jarinya.
__ADS_1
“Dan bila hasilnya menunjukkan bahwa Hendra bukan ayahnya?” tanya Darla dan Qiana serentak.
“Sudah, kalian jangan menambah kekhawatiran tak berarti yang dialami sahabat kecil kita.” Lindsey memarahi Darla dan Qiana. “Sudah cukup berandai-andainya. Masalah kita sudah banyak, tidak perlu ditambah lagi dengan memikirkan hal yang tidak akan pernah terjadi.”
“Tumben kamu bijak,” goda Qiana. Kami tertawa kecil mendengarnya. “Biasanya itu bagian Darla.”
“Mengurus dan membesarkan seorang cucu di usia senja akan membuatmu begitu juga.” Lindsey mendesah pelan. Wajahnya berubah sedih. “Aku berhenti mengandaikan hal yang tidak penting.” Kami serentak menyentuh tangannya, untuk memberinya kekuatan.
Ketika pemakaman putri dan menantunya selesai, Lindsey tidak berhenti menyesali kejadian pada hari itu. Dia selalu mengucapkan kalimat yang sama, seandainya mereka berangkat lima menit lebih lama, seandainya mereka makan siang dahulu, seandainya mereka berbelanja lebih lama, dan daftar itu terus bertambah. Dua tahun dia habiskan untuk berduka.
Dia benar. Sudah saatnya juga bagiku untuk berhenti berandai. Semua itu tidak akan mengubah apa pun. Aku bersyukur Hadi adalah anak Hendra. Dia tumbuh menjadi anak laki-laki yang membuatku sangat bangga kepadanya. Aku harus berhenti mengkhawatirkan masa lalu.
Kami membersihkan rumah bersama setelah para tamu pulang. Aku tidak melarang anak-anak yang bermain bersama Ara di sekeliling rumah. Setidaknya mereka tidak mengganggu kami bekerja. Keluarga dan sahabatku pamit setelah rumah bersih kembali. Yang masih bekerja adalah pemilik tenda dan segala jenis permainan yang kami sewa. Abdi dan Liando mengawasi mereka agar tidak ada yang menyusup masuk ke rumah. Aku tidak khawatir bila barang-barang milik kami dicuri. Aku lebih khawatir bila anak-anak diculik.
Usai makan malam, Hadi dan Dira mengantuk. Mereka kelelahan setelah sepanjang siang dan sore itu tidak berhenti bermain dengan teman-teman mereka. Aku juga mengantuk. Aku bahkan hampir tertidur saat duduk sebentar di tepi tempat tidur putriku. Aku tersenyum melihat wajah bahagianya. Dia pasti senang hari ulang tahunnya dirayakan bersama anak-anak yang lain.
Aku menguap lebar ketika berjalan menuju kamar kami. Hendra belum juga datang untuk mencium Dira. Sepertinya dia masih mengurus Hadi di kamarnya. Aku memutuskan untuk tidak menunggu. Aku menguap sekali lagi saat menurunkan kenop dan membuka pintu. Mataku yang semula mengantuk, menatap baik-baik pemandangan yang ada di hadapanku. Lalu kantukku lenyap begitu saja mengenali apa yang aku lihat di atas tempat tidur.
...*******...
...~Author's Note~...
Yes! Hari Senin lagi. Harinya setiap akun mendapat karcis merah gratis. Hehehe .... Kalau teman-teman tidak punya bacaan lain yang ingin diberi vote, lemparkan ke sini saja, ya. Ehem. #tersipu_malu
Terima kasih atas dukungan teman-teman kepada Hendra dan Zahara. Sampai ketemu di bab selanjutnya. ♡
Salam sayang,
Meina H.
__ADS_1