Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 186 - Aku Marah


__ADS_3

~Naava~


“Berhenti berteriak di rumahku! Apa kamu tidak bisa bicara dengan tenang?” hardikku kesal kepada pria yang sejak dia menginjakkan kakinya di ruang tamuku tidak berhenti marah kepada Adhy.


Akhirnya, suasana ruangan itu kembali tenang. Ken atau siapalah nama pria yang disebut suamiku itu sebagai sahabatnya tiba-tiba saja datang sambil berteriak di depan rumah kami. Apa dia harus bersikap sebarbar itu di pekarangan rumah orang lain, di atas tanah orang lain? Bukannya bicara secara baik-baik, dia malah membuat semua tetangga mendengar omelannya.


Aku sudah cukup malu dengan ulah perempuan pilihan putraku. Sekarang ditambah lagi dengan rahasia masa lalu suamiku. Dia masih saja mengelak bahwa dia punya anak dengan perempuan itu. Aku baru kali ini melihatnya secara langsung. Dia wanita yang sederhana, sama sekali tidak mirip dengan Gista. Aku justru melihat sekretaris putraku itu lebih banyak meniru ciri fisik ayahnya. Tetapi mirip saja tidak cukup. Itu belum bisa menjadi bukti kuat bahwa mereka adalah ayah dan anak.


“Tenang? Aku tidak bisa bersikap tenang seperti kamu setelah mengetahui suamimu punya anak dengan perempuan lain. Aku tidak terima telah dibohongi oleh temanku sendiri. Teman yang aku percayai!” seru pria itu marah. Pintu ruangan terbuka dan Adhy kembali masuk. “Kapan kalian memulai hubungan di antara kalian? Hah? Sejak kapan kamu menyentuh istriku?!”


“Pa, kamu tidak bisa menuduh Pak Adhyana seperti ini. Ingat putri kita bekerja untuk mereka. Gista sangat menyukai pekerjaannya. Jangan sampai dia dipecat karena ulahmu, Pa,” kata istrinya.


“Kalau kamu sudah tenang, kita akan bicara. Aku tidak akan mengatakan apa pun kepada orang yang tidak bisa mengendalikan emosinya,” kata Adhy dengan tenang. Dia meninggalkan kami di ruangan ini saat aku memarahinya habis-habisan. Dia selalu begitu. Pergi di saat aku menyampaikan amarah yang aku pendam. Padahal dia pantas untuk mendapatkannya.


Mereka pun bicara setelah beberapa menit pria itu tidak berteriak lagi. Adhy dan perempuan yang bernama Hagia itu bergantian memberi penjelasan. Bila dilihat dari interaksi di antara mereka, mustahil mereka punya hubungan di masa lalu. Apalagi sampai memiliki anak bersama. Wanita itu terlihat segan kepada Adhy dan suamiku tampak tidak dekat dengannya.


Tetapi mereka bisa saja berpura-pura. Sama seperti Zahara yang kelihatannya baik dan perhatian kepadaku. Lalu belakangan dia malah tega menyakitiku putraku. Penampilan bisa menipu. Aku tidak mau tertipu lagi. Tidak mungkin ada kabar itu bila mereka tidak pernah punya hubungan apa pun.


Saat Hendra dan wanita itu masuk, aku akhirnya mengerti apa yang dilakukan Adhy saat dia keluar tadi. Dia menelepon putra kami untuk datang. Mengapa dia tidak kemari sendiri saja? Mengapa aku harus melihat wajah wanita itu lagi?


Hendra menunjukkan hasil tes DNA yang ternyata sudah dilakukannya bersama papanya dan Gista, lalu masalah pun selesai. Pria itu tidak marah lagi dan meminta maaf kepada istrinya. Aku tahu bahwa aku tidak seharusnya mempertanyakan keaslian hasil tes itu, tetapi aku tidak bisa menahan diriku. Aku marah. Aku marah karena aku tahu bahwa aku salah telah menuduh suamiku.

__ADS_1


Adhy mengantar mereka sampai sampai ke teras saat Hendra dan istrinya pamit pulang. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi dia tidak juga kembali ke ruangan ini. Bosan tidak punya aktivitas, aku mengambil ponsel dan menghubungi nomor Nora. Aku malah disambut oleh operator. Tidak biasanya dia mematikan ponselnya. Apa dia sedang mengikuti sebuah acara?


Tidak ada yang mau menjadi teman bicaraku. Tidak suamiku atau putraku. Hanya Nora yang bisa diajak berdiskusi dengan baik. Dia selalu berpihak kepadaku. Tetapi dia sedang tidak bisa aku ajak berbincang. Aku mendesah pelan. Ada apa denganku? Sejak kapan aku manja begini? Aku sudah biasa mengurus diri dan segalanya sendiri. Sejak kapan aku bergantung kepada orang lain?


Aku keluar dari ruangan dan melihat ke arah pintu depan. Mereka bertiga masih berdiri di sana dan terlihat sangat serius. Apa yang sedang mereka bicarakan sehingga tidak mau aku mendengarnya juga? Gara-gara perempuan itu, suamiku pun sekarang menjauh dariku. Dia bahkan mengizinkan perempuan itu kembali memanggilnya papa.


Ponsel di tanganku bergetar, aku segera melihat layar. Aku pikir Nora yang menghubungi aku, ternyata hanya sahabatku. Mereka hanya akan bertanya tentang isu itu. Dan benar. Setelah panggilan darinya tidak aku jawab, dia mengirim pesan. Dia meminta aku untuk menjawab telepon darinya dan menceritakan mengenai berita yang beredar.


“Mengapa kamu hanya berdiri di situ?” tanya Adhy yang tiba-tiba saja sudah berdiri di dekatku. Aku melihat ke arah pintu. Kepala pelayan sudah menutupnya, sepertinya Hendra sudah pergi.


“Tidak apa-apa. Aku akan beristirahat di kamar.” Aku memasukkan ponsel itu ke dalam saku bajuku.


“Hendra pasti marah kepadaku,” kataku pelan.


“Aku juga marah kepadamu. Tega sekali kamu menuduh dia memanipulasi hasil tes itu. Aku dan Gista pergi bersamanya ke lab untuk memberikan sampel darah kami. Tes itu tidak murah karena kami membutuhkan hasilnya cepat keluar.” Dia menjelaskan. “Kamu bertingkah seperti orang yang paling menderita karena gosip itu, kamu belum melihat bagaimana kondisi Gista.”


“Ada apa dengannya?” tanyaku ingin tahu.


“Dia menjadi bulan-bulanan di tempat kerja. Padahal dia menjadi sekretaris direktur utama bukan karena status atau apa pun itu. Dia menjadi sekretaris Hendra saat masih menjadi wakilku, maka wajar saja dia yang menjadi sekretarisnya saat naik jabatan,” jawabnya. “Mereka memanfaatkan gosip ini untuk menjatuhkan mentalnya.”


“Hendra bisa mempekerjakan sekretarismu untuk menjadi sekretarisnya,” kataku memberi pilihan lain. Gista baru beberapa bulan bekerja di sana, tidak mengherankan bila kemampuannya diragukan oleh rekan-rekannya yang sudah lebih dahulu bekerja di sana.

__ADS_1


“Kamu tahu bahwa dia sudah lama ingin berhenti bekerja dan fokus mengurus keluarganya. Aku yang menahannya. Jadi, aku tidak mungkin memaksanya tetap bekerja untuk Hendra juga. Lagi pula dia sudah cukup menderita menjadi sekretarisku selama dua puluh tahun ini.” Adhy membuka pintu kamar. Aku masuk lebih dahulu, lalu dia menyusul.


Para pelayan tampak sibuk pada Minggu sore, memasukkan koper ke dalam bagasi mobil beserta sebuah keranjang berisi bekal makanan untuk Adhy dan Nora nanti. Mereka akan berada di kamar menemani aku. Meskipun aku sudah yakin dengan keputusanku melakukan operasi ini, aku tidak bisa menghilangkan rasa gugup dan takutku. Kehadiran mereka akan membantu aku mengatasinya.


Keluarga dan sahabat masih mencoba untuk menelepon dan aku masih mengabaikan mereka. Rencana operasi ini juga tidak aku beritahukan kepada siapa pun sebelum aku keluar dengan selamat dari ruang operasi nanti. Aku takut akan ada yang menggoyahkan keputusan yang aku ambil.


Membuang satu bagian dari tubuhku adalah keputusan yang tidak akan diterima dengan baik oleh para sahabatku atau kerabat kami. Mereka pasti lebih menganjurkan agar aku kemoterapi saja. Aku tidak mau setengah-setengah mengobati penyakit mematikan ini. Aku ingin sembuh. Aku mau berumur lebih panjang dari nenek dan ibuku.


“Kita harus berangkat sekarang, sayang.” Adhy memasuki ruang keluarga dan berjalan mendekati aku yang sedang duduk menunggu. Aku melihat ke arah pintu, lalu ponselku. Dia benar. Sudah waktunya bagi kami untuk pergi ke rumah sakit.


“Nora belum datang,” ucapku pelan. Ke mana dia? Dari kemarin, aku tidak bisa menghubunginya.


“Kita tidak bisa menunggu dia lebih lama lagi. Apa kamu sudah menghubungi dia?” tanyanya tidak sabar. Dia sudah tidak satu pikiran lagi denganku. Sejak Nora mengajak kami ikut dalam pertemuan antara dia dan Hendra untuk mengambil jalan damai, Adhy tidak suka lagi kepadanya. Padahal kami sebelumnya setuju untuk menyiapkan gadis itu menjadi istri putra kami.


“Aku sudah mengirim pesan juga. Mungkin dia sedang ada urusan makanya tidak menjawab telepon atau membalas pesan.” Aku memeriksa ponselku kembali. Nihil.


“Hendra benar. Dia tidak akan datang.” Adhy menggelengkan kepalanya.


“Apa maksud kamu dengan Hendra benar?” tanyaku tersinggung.


“Dia yang meminta aku untuk ikut juga ke rumah sakit menemani kamu karena dia yakin bahwa Nora tidak akan datang. Apa kamu mau tahu dia berada di mana sekarang?”

__ADS_1


__ADS_2