Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 236 - Aku Yakin


__ADS_3

“Siapa yang melakukan ini kepada suamiku?” tanyaku ingin tahu. Irwan menyebut nama orang yang tidak asing lagi bagiku. Sial. “Apa yang dia lakukan sehingga wali kota ingin membunuhnya?”


“Kemungkinan besar ini ada hubungannya dengan kasus korupsi yang dilakukannya,” jawab Irwan. Pantas saja dia menyebutnya begitu. Akan sulit bagi kami untuk melaporkan perbuatannya karena semua instansi terkait berada di bawah kuasanya.


“Untuk apa dia menyelidiki kasus korupsi seorang pejabat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengannya?” tanyaku bingung. Aku ingin sekali meremas kedua pipi suamiku. Kadang-kadang dia tidak sadar dengan bahaya yang dia hadapi karena kenekatannya. “Bagaimana dengan Keva?”


“Selain laporan yang aku berikan kemarin, tidak ada hal baru yang kami dapatkan mengenai dia. Apa Ibu butuh bantuan untuk menyelidiki lebih lanjut mengenai penyebab kematian suaminya?” tanya Irwan. Itu hal yang sangat menggoda. Tetapi aku punya cara yang lebih baik.


“Apa kamu bisa memastikan bahwa salah satu keluarga almarhum mendapatkan laporan forensik tersebut?” tanyaku penuh harap.


“Apa Ibu ingin keluarga itu mengetahui penyebab kematian almarhum yang sebenarnya?” tanya Irwan dengan nada bingung.


“Apa maksudmu?”


“Laporan forensik itu sifatnya rahasia dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali Keva. Kami bisa mendapatkannya karena menelusuri komputer milik rumah sakit di mana almarhum meninggal dunia. Sepertinya dia bekerja sama dengan dokter yang melakukan autopsi untuk membuat laporan palsu dan menyembunyikan laporan asli.”


“Mengapa dia tidak menghancurkan laporan yang asli?” tanyaku tidak mengerti.


“Jaminan. Setiap orang yang terpaksa atau dibayar untuk melakukan sebuah kejahatan selalu membutuhkan jaminan bahwa dia tidak akan diseret sendirian ke penjara. Jadi, dokter itu sengaja menyimpan berkas asli sebagai jaminan bahwa Keva memaksanya membuat laporan palsu,” jawab Irwan. Benar juga.


“Bila Ibu ingin laporan itu diterima oleh salah satu anggota keluarga almarhum, aku akan mengirim orang untuk melakukannya. Ibu yakin ingin melakukan ini?” tanya Irwan.


Aku mempertimbangkan pertanyaannya tersebut. Apakah aku melakukan ini karena aku membenci Keva dan ingin membalas perbuatannya? Tidak. Aku melakukan ini demi memberi sebuah keadilan yang pantas untuk didapatkan oleh almarhum. Aku memang tidak mengenal dia, tetapi aku tahu ada bukti yang bisa digunakan untuk menghukum orang yang sudah membunuhnya pelan-pelan.


Irwan dan tim hebatnya menemukan dokumen tersebut bukanlah sebuah kebetulan. Enam bulan sudah berlalu sejak pria itu dinyatakan meninggal. Belum terlambat untuk menunjukkan kepada keluarganya siapa wanita itu yang sebenarnya. Aku juga harus melindungi anaknya. Jika dia sanggup berbuat seperti itu kepada suaminya, bagaimana dengan putrinya nanti?

__ADS_1


“Iya, aku yakin.”


Hendra memanggil namaku, aku segera mendekatinya. Aku mematikan air pancuran, lalu menutup tubuhnya dengan handuk. Aku membantunya keluar dari bak mandi, mengeringkan tubuhnya, dan membantunya memakaikan mantel mandi.


“Kamu tadi bicara dengan siapa?” tanyanya ingin tahu. “Seseorang menelepon kamu?”


“Iya. Irwan. Apa kamu mengenalnya?” Hendra mengangguk pelan. “Dia memberitahu aku siapa yang telah menyebabkan kamu mengalami kecelakaan. Sepertinya suamiku suka sekali mencari masalah di luar sana tanpa sepengetahuanku.” Dia tertawa kecil.


“Aku tidak bisa memikirkan apa pun untuk saat ini. Memikirkan kamu saja sudah berat,” godanya. “Kamu serahkan saja kepada Irwan dan timnya. Mereka tahu harus melakukan apa. Tolong, katakan kepadanya untuk mengirim nominal yang harus aku bayar. Aku akan transfer secepatnya.”


Dia mengecup pipiku saat aku sedang membantunya mengenakan pakaian. Aku tersenyum. Melihat dia menguap pelan, aku mempercepat gerakan tanganku. Setelah dia selesai berpakaian, aku membantunya berbaring. Sebentar saja, dia sudah pulas.


Aku meminta Pak Oscar dan adikku untuk mampir ke rumah sebelum pulang dari tempat kerja. Ada hal penting yang perlu kami bicarakan. Aku tidak bisa memikirkan tentang keselamatan suamiku seorang diri, jadi aku membutuhkan bantuan dan pendapat mereka. Karena itu aku meminta Irwan untuk mengirim bukti yang dia dapatkan kepada mereka.


Hadi dan Dira sedang menikmati es krim di ruang keluarga sambil menonton film untuk anak-anak, sedangkan Ara sedang menyantap camilan berbentuk tulang di mangkuk khususnya. Yuyun masuk kemudian dan memberikan semangkuk es krim kepadaku.


“Ma, apa Papa masih lama memakai perban di kepalanya?” tanya Hadi.


“Tergantung keputusan dokter, Nak. Setiap kali Papa perlu mengganti perban, seorang perawat akan datang untuk membantu Papa melakukannya. Jika keadaan lukanya dianggap sudah bisa dirawat tanpa perban lagi, maka perban itu tidak akan dibutuhkan lagi,” jawabku. Dia mengangguk pelan.


“Bagaimana dengan liburan kita, Ma? Apa kita menundanya sampai Papa sembuh?” tanyanya lagi. Oh, iya. Aku lupa dengan rencana kami tersebut. Aku harus menanyakan hal ini kepada Gista.


“Iya. Kamu tidak keberatan, ‘kan?” tanyaku. Dia menggeleng.


“Tidak, Ma. Yang penting Papa sembuh. Kita bisa liburan lain waktu.” Aku mengecup kepalanya.

__ADS_1


“Anak mama memang pintar,” pujiku tulus.


Saat Zach dan Pak Oscar datang, aku meninggalkan anak-anak dalam pengawasan Yuyun. Kami berdiskusi di ruang kerja. Setelah Liando menyajikan makanan ringan dan minuman hangat, dia meninggalkan kami.


Adikku memberikan sebuah amplop kepadaku. Ini pasti kiriman Irwan. Aku mengambilnya dan hanya ada sebuah diska lepas di dalamnya. Tidak ada selembar dokumen apa pun.


“Kami sudah melihat isi diska lepas itu lewat laptopku,” Zach melirik Pak Oscar yang menganggukkan kepalanya. “Itu adalah bukti rekaman CCTV di mana tersangka bertemu dengan pemilik mobil yang sengaja membuyarkan konsentrasi Kafin. Juga rekaman dari kamera dasbor mobil di belakang mobil Kak Hendra. Yang dialami mereka bukanlah kecelakaan tetapi usaha pembunuhan.”


“Kafin tidak sepenuhnya membanting setir ke kiri sehingga mobil mereka tidak dilindas oleh truk. Dan lajur kiri adalah lajur lambat, jadi truk itu tidak melaju sekencang mobil pada lajur kanan. Rencana mereka adalah membuat Kafin panik agar dia membanting setir ke kiri hingga masuk ke bagian bawah truk,” kata Zach menjelaskan.


“Bagaimana kamu bisa tahu hal sedetail itu hanya dari rekaman CCTV dan kamera dasbor? Apa ada rekaman audionya juga?” tanyaku heran.


“Semua rencana itu ada pada pesan mereka di ponsel ajudan wali kota.” Zach tertawa kecil. “Teman Kak Hendra ini genius. Aku tidak bisa membayangkan berapa uang yang dia keluarkan demi semua informasi mahal darinya. Tetapi perannya memang telah banyak membantu kita selama ini.”


“Jadi, kita harus bagaimana? Apa bukti ini cukup untuk melaporkan perbuatan pria itu?” tanyaku penuh harap. Pak Oscar dan Zach saling bertukar pandang.


“Kita tidak bisa melakukannya sekarang, Bu. Kita harus tunggu sampai dia turun dari jabatannya. Itu artinya kita akan gunakan informasi mengenai penyalahgunaan anggaran untuk menjatuhkan dia, lalu membuka semua bukti keterlibatannya dalam kasus kecelakaan yang dialami Pak Hendra,” kata Pak Oscar menjawab pertanyaanku.


“Kita harus bergerak cepat, tetapi juga berhati-hati. Untuk sementara, jangan ke mana-mana bila tidak ada urusan penting. Kita tidak tahu apa dia akan nekat menyuruh orang untuk melukai Kak Hendra lagi. Dan, Kak, tolong nasihati dia. Berhenti mencari masalah dengan orang berpengaruh besar di negeri ini. Kami tidak bisa terus sibuk begini karena ulahnya,” protes Zach.


Aku tertawa kecil mendengarnya. Hendra punya pikiran dan pertimbangannya sendiri dalam melakukan apa pun yang dia anggap benar. Sebagai istri sekalipun, aku tidak bisa mengganggu gugat setiap keputusannya.


“Aku mengatakan ini karena dia sudah berani menyuruh orang untuk masuk ke kantor Kak Hendra,” ucap Zach dengan ekspresi serius.


“Apa maksudmu?” Aku bersikap waspada melihat ekspresi wajahnya itu.

__ADS_1


“Semalam ada yang menyusup ke ruang kerja Kak Hendra dan berusaha membongkar brankas berisi surat berharga perusahaan.”


__ADS_2