Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 201 - Teguran


__ADS_3

“Apa!? Kamu sudah tahu bahwa petugas keamanan melarang dia masuk, tetapi kamu tanpa berpikir panjang membiarkan Nora masuk, tidak hanya ke pekarangan rumahmu tetapi juga ke ruang depan? Dan kalian hanya berdua saja di dalam ruangan itu!?” pekik Qiana kesal.


“Apa kamu lupa bahwa dia mampu melakukan apa saja untuk mendapatkan semua yang dia mau? Kamu telah membahayakan nyawamu sendiri hanya karena rasa kasihan kepada orang yang sama sekali tidak peduli dengan dirimu, Zahara!” seru Lindsey tidak mau kalah.


“Dia membawa senjata tajam, kamu malah menghindar saja bukannya berteriak minta tolong? Apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan? Seharusnya kamu meminta Abdi atau Liando menemani kamu saat bicara dengannya di ruangan ini. CCTV itu tidak akan bisa menolong kamu pada saat nyawamu sedang terancam,” ucap Darla sengit.


Aku membuka mulut ingin mengatakan sesuatu. “Jangan coba-coba membela diri dan mengatakan bahwa yang penting semuanya sudah selesai.” Mereka bertiga mengucapkannya hampir bersamaan.


“Aku harus bicarakan ini dengan Hendra. Dia terlalu lunak kepada istrinya. Lihat saja, dia tidak berubah sama sekali. Masih saja menganggap sepele semua musuhnya.” Qiana dan Lindsey menyetujui ucapan Darla itu. Aku akhirnya hanya diam dan membiarkan mereka melampiaskan amarah mereka kepadaku.


Dira yang duduk di pangkuanku tiba-tiba saja tertawa. Mereka terdiam sejenak. Lalu mereka pun ikut tertawa dan berhenti memarahi aku. Kami menikmati camilan dan minuman yang sudah tidak hangat lagi sambil membicarakan nasib Nora. Aku memberitahu mereka mengenai rencana Hendra bersama para pengacaranya.


Mereka pulang dan memutuskan untuk tidak ikut makan malam bersama kami. Nasihat panjang lebar mereka berikan kepadaku sebelum mereka masuk ke mobil mereka masing-masing. Aku tahu bahwa aku telah melakukan kesalahan besar, jadi aku hanya diam menikmati kasih sayang yang mereka tunjukkan lewat amarah mereka.


Hadi dan Dira bersiap-siap sejak pagi hari. Mereka sudah tidak sabar untuk pergi ke kebun binatang bersama sepupu dan om mereka. Aku memakaikan kaus, celana pendek, dan sepatu kets agar memudahkan mereka beraktivitas. Topi mereka juga aku masukkan ke tas ransel yang Hadi bawa siapa tahu mereka membutuhkannya nanti.


Begitu mendengar bunyi mobil memasuki pekarangan rumah kami, mereka segera berlari menuju pintu depan. Aku hanya menggeleng pelan melihat tingkah mereka berdua. Ini bukan pertama kalinya mereka pergi ke kebun binatang, tetapi antusiasme mereka tetap sama.

__ADS_1


“Sampai nanti, Kak,” ucap Rasmi yang melambaikan tangannya kepadaku. Dia hanya membuka kaca jendela mobilnya. Zach yang duduk di sisinya ikut melambaikan tangannya kepadaku. Liando yang membantu Hadi masuk dan menolong Dira untuk duduk di kursi khususnya.


“Hati-hati,” kataku kepada Zach. Dia hanya menjawab oke. Anak-anak melambaikan tangan mereka. Aku dan Hendra berdiri menunggu sampai mobil mereka keluar dari gerbang depan.


“Kita ke rumah Papa sekarang?” tanyanya. Aku mengangguk dengan cepat. Karena aku tidak akan bisa menemani Mama seperti biasanya, maka kami datang pagi ini agar kami bisa kencan pada sisa hari ini sebelum anak-anak kembali. Lagi pula Hendra sudah lama tidak melihat keadaan mamanya.


Ara mengeluarkan suara sedihnya karena ditinggal sendirian di rumah. Apa boleh buat, kami tidak bisa membawanya ke mal. Papa dan Mama tidak akan keberatan menerimanya di rumah mereka, tetapi dia akan lebih nyaman bila ditinggal di rumah bersama orang-orang yang sudah dikenalnya dengan baik.


Papa menyambut kami dengan wajah bahagia. Mama menunggu di ruang duduk dan menyambut kami dengan senyuman. Kami mengobrol bersama yang lebih banyak dimonopoli oleh Papa dan Hendra. Aku dan Mama tersenyum mendengar mereka justru membicarakan pekerjaan.


“Aku tidak pernah salah dalam menilai orang sebelumnya, tetapi aku harus akui bahwa kali ini aku telah melakukan kesalahan,” ucap Mama pelan. Kami mengarahkan pandangan kami kepadanya. Ini adalah pertama kalinya Mama mengakui kesalahannya. Sejak niat busuk Nora terbongkar untuk pertama kalinya, Mama terus saja berpihak kepadanya dan tidak menyatakan maaf.


“Mengapa kalian melihatku seperti ini? Aku bukan hantu. Aku tahu bahwa aku bersikap keras kepala, tetapi aku masih punya etika. Aku tahu kapan saatnya mengakui bahwa aku salah.” Mama menatap kami dengan wajah tidak suka. “Hendra, Zahara, maafkan aku yang sudah membawa Nora dalam kehidupan kalian dan menyebabkan begitu banyak masalah.”


“Mama sudah lama kami maafkan. Lagi pula Nora pasti akan berhasil masuk dalam kehidupan kami, cepat atau lambat.” Hendra melihat ke arahku.


“Apa maksudmu? Mengapa kamu bilang begitu?” tanya Mama bingung.

__ADS_1


“Karena mereka sudah lama merencanakan untuk bisa dekat dengan Mama. Mereka sadar bahwa mereka tidak bisa menyembunyikan identitas Nora selamanya. Jadi, mereka menggunakan Mama agar menikahkan aku dengan Nora. Walaupun Mama menolak, mereka pasti akan menemukan cara supaya mendapatkan dukungan Mama lagi. Titik kelemahan Mama adalah Zahara. Mereka tahu hal itu dan memanfaatkannya,” jawab Hendra. Mama hanya diam.


“Jadi mereka berencana menikahkan putri mereka denganmu agar mereka tetap bisa hidup mewah?” tanya Papa. Hendra membenarkan dugaannya tersebut. “Aku sudah curiga bahwa niat mereka tidak tulus ketika mereka sama sekali tidak menyesal telah merusak citra keluarga kita di depan banyak orang. Mereka bahkan tidak meminta maaf atas perbuatan putri mereka itu.”


“Orang tua dan putrinya sama saja,” kata Mama pelan. Dia meletakkan tangannya di perutnya. “Aku sudah lapar. Bagaimana kalau kita makan siang sekarang?”


“Kami tidak ikut makan siang bersama Papa dan Mama.” Hendra melingkarkan tangannya di bahuku. “Aku akan membawa istriku kencan.” Dia tersenyum begitu bahagia.


“Kalian bisa kencan nanti. Koki sudah memasakkan banyak makanan untuk kita semua. Lagi pula Zahara harus menemani aku sebelum aku beristirahat siang,” ucap Mama dengan tegas sambil berdiri dan Papa ikut berdiri dengannya. Papa menghindari tatapan aku dan Hendra, jelas sekali tidak mau membantu dengan membela kami.


“Mama tidak bisa melakukan ini. Mama sudah memonopoli istriku dari Senin sampai Jumat, masa pada akhir pekan pun aku tidak bisa memiliki waktunya? Aku dan Za akan pergi kencan. Papa dan Mama bisa makan siang berdua,” kata Hendra bersikeras.


“Bukankah kalian datang sebelum jam makan siang untuk makan bersama kami? Kita sudah bicara panjang lebar, kalian juga pasti sudah lapar. Hari ini hari Sabtu, lalu lintas sedang padat. Kalian makan siang bersama kami.” Mama tidak mau kalah. Hendra melirik jam tangannya.


“Ini bahkan belum jam dua belas, Ma. Kami masih punya banyak waktu untuk pergi ke mal dan makan siang di sana. Aku dan Za akan pergi kencan,” kata Hendra keras kepala. Aku melihat ke arah Papa mengharapkan dia melerai mereka berdua. Tetapi dia masih pura-pura tidak melihat.


“Baik. Karena Zahara yang sedang kita bicarakan, kita biarkan dia yang memutuskannya.” Mama menoleh ke arahku. Oh, Tuhan. Aku menelan ludah dengan berat. Mengapa aku juga harus dilibatkan dalam pertengkaran ibu dan anak ini? “Bagaimana, Zahara? Apa kamu akan makan siang bersama kami, lalu menemani aku untuk senam atau pergi kencan bersama suamimu?”

__ADS_1


__ADS_2