
Oh, Tuhan. Pengobatannya harus seekstrim itu? Apa tidak bisa kemoterapi saja? Bukankah stadium dua belum berbahaya dan masih bisa ditangani tanpa operasi? Pantas saja Mama tidak mau menemui dokter dan mengobati penyakitnya.
Aku tidak bisa membayangkan seandainya salah satu dari dadaku diambil dari tubuhku. Mungkin aku juga akan melakukan yang Mama lakukan. Tetapi aku memiliki anak-anak yang masih kecil. Tidak. Aku tidak akan meninggalkan mereka secepat itu. Aku akan melakukan segalanya agar bisa lebih lama bersama mereka.
“Tante, pascaoperasi masih bisa dilakukan operasi untuk memperbaiki keadaan tubuh Tante. Tidak akan ada yang tahu bahwa salah satu päyúdara Tante sudah diangkat. Kesehatan jauh lebih penting, Tante. Apa Tante tidak sedih meninggalkan Om secepat ini?” Aku mencoba untuk membujuknya. Dia terlihat ragu. “Kondisi kesehatan Tante akan semakin menurun bila kankernya dibiarkan. Apa Tante tidak khawatir suatu hari nanti akan berbaring terus tidak bisa bangun lagi?”
“Kamu jangan menakut-nakuti aku,” ucapnya marah. Menyadari bahwa usahaku itu berhasil, aku mencoba lagi.
“Aku harus melakukannya karena penyakit ini sangat serius. Ketika keadaannya semakin buruk, Tante akan merasa kesakitan pada bagian dada nyaris sepanjang hari. Saat kanker menyebar, bisa saja paru-paru Tante juga ikut dimakan tumor ganas. Bahkan dari yang aku baca, kankernya bisa menyebar sampai otak, Tante.” Aku perlahan berjalan mendekatinya.
“A-aku takut,” ucapnya pelan, nyaris berbisik.
“Aku akan menemani Tante berobat. Kita bisa mencari opsi lain dengan menemui spesialis onkologi yang lain.” Matanya menatapku penuh harap begitu mendengar bahwa masih ada kemungkinan lain yang bisa kami tempuh untuk mengobati penyakitnya. “Om dan Hendra tidak perlu tahu hal ini. Tetapi saat akan mengambil keputusan, mereka perlu mengetahuinya. Kita tidak bisa sembunyikan ini selamanya dari mereka.”
Dia melihat ke arah lain. “A-akan aku pikirkan dahulu.”
“Tidak bisa, Tante. Pengobatannya sudah tertunda selama sebulan lebih. Tante sudah tidak bisa menundanya lagi,” desakku. Dia mengerutkan keningnya. “Aku akan menjemput Tante besok pagi. Kita ke dokter bersama?”
Mama menarik napas perlahan. Dia menoleh ke arahku. “Baiklah. Tolong, jangan beritahu Adhy, jangan beritahu Hendra juga,” pintanya memohon.
“Dia tidak akan tahu. Aku akan membiarkan Tante yang memberitahu mereka.” Aku menyentuh tangannya dan bersyukur melihat dia tidak menarik dirinya dari sentuhanku. “Tante akan baik-baik saja.” Mama mengangguk pelan.
Setelah Mama merapikan dirinya dan menghapus air matanya, dia mengajak aku untuk keluar dari ruangan tersebut. Dia berjalan menjaga jaraknya dariku, tetapi aku tidak mengeluh. Dia adalah wanita kuat yang selalu berusaha berdiri di kakinya sendiri, jadi aku tidak memegang tangannya atau membiarkan dia menumpu kepadaku.
Pintu ruangan yang tadi hendak aku masuki terbuka, para pria mulai keluar sambil mengobrol dengan santai dengan rekan di samping mereka. Saat melihat kami, mereka mempersilakan agar kami lewat, tetapi kami menunggu sampai mereka semua keluar.
“Lo? Sayang? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Papa yang melihat kami berdiri tidak jauh dari pintu. Dia melihat ke arahku dan bingung harus bersikap seperti apa.
“Kamu tidak perlu segan begitu hanya karena menjaga perasaanku, Adhy. Kamu boleh menyapa menantumu.” Mama menggeleng pelan. Papa tersenyum bahagia.
“Hai, Zahara. Kamu dan istriku baru bertengkar atau kalian saling menarik rambut di toilet?” Dia melihat ke arah dari mana kami datang. Di sana memang ada toilet untuk para karyawan. Aku dan Mama tertawa mendengarnya.
__ADS_1
“Om tidak akan pernah tahu karena kami sudah memperbaiki penampilan kami,” jawabku. “Ah, aku akan ke kantor Hendra. Om dan Tante pasti ingin pulang sekarang.” Mereka serentak mengangguk. Aku sedikit menundukkan tubuhku, lalu membalikkan badan menuju elevator.
“Ah, Zahara?” Terdengar suara Mama memanggilku. Aku menghentikan langkah dan menoleh ke arah mereka kembali. “Jika kamu dan Hendra tidak ada acara, apa kalian mau makan malam bersama kami?” Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.
“Zahara? Apa kamu mendengar aku?” Mama menyentuh lenganku, menarikku dari lamunanku. “Apa kalian mau makan malam bersama kami?”
“A, ten-tentu saja, Tante,” jawabku dengan cepat. Aku tersenyum bahagia. “Aku akan memberitahu Hendra sekarang. Kita bertemu di restoran?”
“Iya. Restoran steak langganan kita.” Mama menoleh ke arah Papa. Melihat itu, Papa mengangguk mengerti, lalu mengeluarkan ponselnya. Dia pasti akan memesan tempat karena kami tidak akan mendapat meja kosong bila tidak memesan dari sekarang.
Seorang manajer yang tadi mengikuti pelatihan membantuku menggunakan elevator. Dia memindai kartu namanya, lalu menekan tombol lantai teratas. Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. Aku sangat bahagia bisa makan bersama kedua mertuaku lagi. Jantungku bahkan ikut berdebar senang.
Aku melangkah dengan cepat menuju ruang kerja Hendra. Gista menyambut kedatanganku dengan berdiri dan membukakan pintu untukku. Aku berterima kasih kepadanya dan tidak marah melihat wajah anak-anak berlepotan dengan cokelat, keju, dan entah apa lagi yang mereka makan.
“Ada apa, sayang?” Hendra berdiri dari sofa saat aku berjalan mendekatinya. Aku tidak menjawab, hanya menghamburkan diri ke dalam pelukannya. Aku memeluknya sangat erat. Dia tertawa kecil. “Oke. Kamu membuatku sangat bingung. Ada apa ini?”
“Coba tebak apa yang baru saja terjadi hari ini?” Aku mengangkat wajahku agar bisa menatapnya, tanpa melepaskan pelukanku.
“Mama mengajak kita makan malam bersama!” sorakku senang.
“Mama? Mama ada di sini? Bagaimana aku bisa tahu bahwa wajah bahagiamu ini ada hubungannya dengan Mama?” Dia memutar bola matanya. Aku tertawa.
“Ayo, cepat bersiap-siap. Kita makan di restoran kesukaanku!” ucapku senang. Aku melepaskan pelukanku agar bisa membantu Hadi dan Dira membersihkan diri mereka. Hendra malah menahan tubuhku dan menciumku bertubi-tubi. Aku tertawa bahagia. “Sayang, hentikan!”
“Apa yang kamu lakukan? Bagaimana Mama bisa luluh begini? Aku berusaha keras selama lima tahun terakhir dan tidak satu usaha pun berhasil.” Dia menatapku dengan terpana. Aku tersenyum penuh arti.
“Apa usaha keras yang kamu maksudkan ini adalah dengan memaksa, menentang, dan melawan semua ucapan Mama kepadamu?” tebakku. Dia menghindari tatapan mataku. Aku tertawa. “Pantas saja usahamu sia-sia. Ayo, sana rapikan pekerjaanmu. Aku akan bawa anak-anak ke toilet.”
Dia mencium bibirku sekali lagi. “Oke. Aku akan bereskan pekerjaanku sebentar, lalu kita pergi.”
Setelah mengganti baju anak-anak di mobil, kami keluar dan berjalan menuju restoran. Dira berada dalam gendongan Hendra, sedangkan aku menggandeng tangan Hadi. Suamiku menyebut nama Papa dan pelayan mengantar kami ke meja di mana mereka berada.
__ADS_1
Papa mengajak Hadi duduk di sisinya. Dia menoleh ke arahku menunggu responsku. Aku tersenyum, lalu mengangguk, mempersilakan dia untuk duduk di samping kakeknya. Hendra menolongnya untuk duduk. Dia duduk di sebelah Mama dan Dira berada di antara kami. Meja itu berbentuk bulat, jadi kami bisa saling berhadapan tanpa harus memutar badan.
Kami memesan makanan kesukaan kami masing-masing. Aku membantu Hadi untuk memilih makanannya, sedangkan untuk Dira, aku akan berbagi makananku dengannya. Aku yakin mereka tidak akan bisa menyantap banyak makanan setelah dua kali makan camilan sore.
“Sudah lama rasanya kita tidak makan bersama seperti ini,” ucap Papa senang. Dia menoleh ke arah Mama. “Kamu pasti salah makan siang tadi di rumah. Aku akan menaikkan gaji koki kita.” Mama menatap Papa tidak percaya. Aku dan Hendra tertawa kecil.
“Kalau kamu terus menggodaku seperti ini, lebih baik kita pulang saja sekarang,” ucap Mama pura-pura marah. Papa tertawa. Dia menoleh ke arah Hadi.
“Apa kamu sudah sekolah?” tanya Papa.
“Sudah, Kakek. Aku murid TK A. Guruku Miss Jane. Teman sekelasku Colin. Kepala sekolahku Pak Wilbur Lewis,” katanya dengan bangga. Papa tertawa.
“Siapa yang mengajarimu menjawab seperti ini? Kamu cukup jawab sudah. Begitu,” kata Kakek.
“Pak Will yang memintaku menjawab begitu. Katanya, untuk membantu mempromosikan sekolah kami juga,” jawab Hadi dengan jujur.
“Aku harus membuat perhitungan dengannya. Bagaimana bisa dia mengajari murid-muridnya menjawab pertanyaan selengkap itu?” ucap Hendra pelan. Aku tertawa geli.
“Tante Naava?” ucap seseorang dari arah belakangku. Semua orang menoleh ke arah datangnya suara. “Apa yang sedang Tante dan Om lakukan? Bagaimana bisa kalian makan bersama perempuan murahan ini?” Aku melihat air muka Hendra berubah merah padam.
...*******...
...~Author's Note~...
Hai, teman-teman! Pasti sudah bisa menebak maksud dari sapaanku ini. Hehehe .... Aku minta izin cuti satu hari, ya. Hanya pada tanggal 1 Januari 2022. (Gosh! The New Year is coming!) Kita bertemu lagi pada tahun yang baru, yang pasti akan lebih baik dari tahun sebelumnya. (๑・ω-)~♡”
Selamat berkumpul bersama keluarga, selamat menulis resolusi baru, selamat makan enak, dan tetap patuhi protokol kesehatan yang ketat bila pergi keluar rumah. Selamat menyambut Tahun Baru! (-ㅂ-)/ ♡♡♡
Salam sayang,
Meina H.
__ADS_1