
Tidak. Aku cepat-cepat menyeka air mata yang jatuh membasahi pipiku. Masih ada harapan. Bukan saatnya untuk menyerah. Masih ada harapan untuk kami. Cinta Hendra untukku akan menuntunnya untuk perlahan memaafkan aku. Aku percaya itu.
Begitu makanan pesananku diantar, aku berhenti memikirkan hal yang tidak penting. Keramaian di sekelilingku membantu mengusir rasa sepi. Meskipun tidak ada yang aku kenal, aku cukup puas bisa mendengar berbagai topik yang mereka bahas.
“Zahara.” Aku melompat terkejut merasakan sentuhan pada pundakku. Aku menoleh dan melihat Hendra berdiri di sisiku. Salah satu tangannya bersandar di punggung kursi, sedangkan tangannya yang lain meraih tanganku yang ada di atas pangkuanku.
“Aku antar pulang,” ucapnya pelan. Aku menatapnya heran, lalu menoleh ke arah piringku yang sudah kosong.
“Makanannya,” kataku sambil berdiri dibantu oleh suamiku.
“Aku sudah membayarnya.” Dia mengambil tasku yang ada di atas meja.
“Kamu tidak perlu mengantarku pulang. Aku datang bersama Liando.” Aku menahan tangannya yang menggandeng tanganku. Dia menoleh ke arahku.
“Aku sudah menyuruhnya pulang.” Dia kembali mengajakku untuk mengikutinya keluar dari restoran. Aku menatapnya dengan bingung. Bukankah dia masih ada pekerjaan hari ini? Mengapa dia malah mengantarku pulang dan meninggalkan kantor?
Mobilnya telah diparkir di depan pintu. Dia membukakan pintu untukku dan menolongku untuk masuk. Lalu dia memutar dan duduk di sisi kananku. Kafin mengendarai mobil setelah mendapat perintah dari tuannya. Perjuangan melewati kemacetan pun dimulai.
Beberapa menit pertama, tidak ada yang bicara atau mencoba untuk memulai pembicaraan. Aku hanya melirik sesaat ke arahnya setiap kali merasakan tatapannya sedang ditujukan kepadaku. Tetapi kami tidak pernah bertemu pandang karena dia telah kembali melihat ke arah lain.
“Apakah tidak apa-apa kamu meninggalkan ruang rapat?” tanyaku pelan.
__ADS_1
“Sudah selesai,” jawabnya singkat.
Tentu saja dia menemuiku karena rapat sudah selesai. Bukan karena aku lebih penting baginya daripada pertemuan itu. Bodohnya aku. Tetapi tidak apa-apa. Dia mau mengantarku pulang dan duduk bersama seperti ini saja sudah lebih dari cukup. Ini adalah perkembangan yang sangat baik.
Pelan-pelan, Ara. Beri dia waktu. Berapa lama pun yang dia butuhkan untuk memaafkan aku, aku akan menunggu dengan sabar. Yang penting, aku tidak berhenti berusaha. Lagi pula semua yang aku lakukan sepertinya mulai membuahkan hasil.
“Apakah kamu tahu hari ini hari apa?” tanya Hendra saat kami sarapan bersama pada pagi itu. Aku hampir menangis mendengar dia akhirnya mau bicara lebih dahulu denganku.
“Hari Rabu?” tebakku seadanya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu melanjutkan sarapannya. “Ada apa? Apakah aku melupakan sesuatu?”
“Bukan hal yang penting.” Dia berdiri dan berjalan keluar dari ruang makan. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Dia yang sedang merajuk sangatlah manis.
Setelah melakukan senam dan makan siang bersama, kami mulai bersiap-siap. Abdi dan Liando menolongku untuk menyusun meja saji dan kursi di beberapa sudut di ruang depan. Mereka meniup balon huruf serta angka dan menggantungnya di dinding membentuk satu kalimat ucapan. Aku mengatur bunga di dalam pot dan mereka membantu meletakkannya pada titik yang aku sebutkan.
Kedua ibuku, Yuyun, dan Fahri memasak bersama di dapur. Mereka hanya menyiapkan masakan kesukaan Hendra. Air liurku terbit menghirup aroma setiap makanan pembuka, utama, dan penutup yang mereka sajikan, bahkan minuman hangat dan dingin buatan mereka juga terlihat enak. Tetapi aku hanya bisa menelan ludah. Belum saatnya untuk menikmatinya.
Darla adalah tamu pertama yang datang. Dia membawa begitu banyak buah dan bumbu rujak yang sangat kami sukai itu. Aku bersorak senang melihatnya. Qiana merepotkan dirinya sendiri dengan membawa dua galon es krim. Lindsey membawa kue tar besar dengan sebuah ucapan selamat di permukaannya. Sempurna.
“Kalian tidak memarkirkan mobil di sekitar sini, ‘kan?” tanyaku memastikan bahwa sahabatku tidak akan membuat kejutan ini ketahuan sebelum waktunya tiba.
“Tidak. Aku menyuruh sopirku langsung pulang. Toh, Gio akan datang juga, jadi kami bisa pulang bersama.” Darla mengedipkan sebelah matanya. Qiana dan Lindsey juga melakukan hal yang sama dengan menyuruh sopir mereka untuk pulang. Aku mengangguk puas.
__ADS_1
“Oke. Kalian semua tenang. Jangan ada yang bersuara.” Aku memegang ponselku dan memilih sebuah nomor kontak. Aku mendengar seseorang terkikik. “Mama!”
“Iya, iya. Aku akan menutup mulutku.” Ibu mertuaku segera menutup mulut dengan tangannya.
Aku menarik napas panjang, lalu menelepon Hendra. Aku berdoa di dalam hati semoga saja dia akan menjawab panggilan dariku. Dan aku mendengar suaranya. Syukurlah. “Hendra? A, aku terjatuh. Aku tahu kamu akan marah jika Abdi atau Liando menyentuhku, jadi aku tidak tahu harus bagaimana.”
“Terjatuh bagaimana?” Nada suaranya terdengar khawatir.
“Aku sedang menuruni tangga saat ….” Aku berusaha bicara semeyakinkan mungkin sambil menahan rasa sakit agar dia percaya.
“Aku pulang sekarang,” katanya memotong kalimatku dan mengakhiri hubungan telepon. Aku melihat ke arah sahabat dan kedua ibuku. Mereka kemudian tertawa geli.
Kedua papaku dan Zach kemudian datang, begitu juga dengan para tetangga, dan beberapa kenalan Hendra yang aku tahu. Mereka semua meminta sopir untuk pergi jauh dan menjemput mereka usai acara. Zach menitipkan mobilnya di rumah salah satu tetanggaku.
Hari sudah gelap, maka kami memadamkan lampu ruang depan dan menunggu sampai Hendra datang. Dia tidak membuatku kecewa. Deru halus mobilnya memasuki halaman depan beberapa saat kemudian. Terdengar langkah kakinya yang terburu-buru menuju pintu depan rumah. Abdi sengaja tidak mengunci pintu sehingga suamiku bisa dengan mudah memutar kenopnya.
“Sayang …?” tanyanya dengan nada khawatir dan napas memburu. Oh. Tuhan. Dia memanggilku dengan kata itu lagi. Aku tidak menahan air mata yang mendesak keluar karena rasa haru. “Sayang, kamu di mana? Za …?” Dia melangkah ke sana kemari, lalu ruangan itu berubah terang-benderang. Dia berhasil menemukan sakelar.
“Selamat ulang tahun!!!” sorak kami semua. Hendra menatap sekelilingnya dengan terpana. Dia menyapukan pandangannya kepada kami, lalu berhenti saat bertemu pandang denganku.
Melihat dia berjalan cepat ke arahku, Darla dan Qiana segera mengambil alih kue yang aku pegang. Dan mereka bertindak benar karena Hendra tidak berhenti sampai dia memeluk tubuhku. Para tamu menyanyikan lagu selamat ulang tahun, tetapi kami berdua menangis bersama. Tidak ada yang tahu alasan pentingnya pelukan ini bagi kami berdua.
__ADS_1