Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 64 - Memuji Setinggi Langit


__ADS_3

Aku menunggunya pulang seperti biasa. Dia masih pulang malam sampai aku mengantuk di ruang duduk. Tetapi aku segera terbangun begitu mendengar deru mesin mobilnya. Jantungku mulai berdebar lebih kencang karena perasaan bahagia.


Tentu saja dia masih bersikap dingin dan menjawab sapaanku seadanya. Dia berjalan melewatiku menuju tangga. Aku mengikutinya seperti biasa. Saat kami berjalan di koridor menuju kamarnya, aku mempercepat langkahku dan segera memeluk tubuhnya dari belakang. Dengan begini, tidak akan ada satu pekerja pun yang melihat kami.


“Terima kasih. Aku sangat terbantu dalam memutuskan akan bekerja sama dengan penerbit yang mana yang tepat untuk bukuku,” Aku meletakkan pipiku di punggungnya dan mendengar detak halus jantungnya.


“Sama-sama.” Dia hanya berdiri mematung. Tangannya tidak menyentuh tanganku, tetapi dia tidak menolak pelukanku. Ini adalah perkembangan yang baik. “Sampai kapan kamu akan memelukku?”


“Ah, iya.” Aku mempererat pelukanku sebelum melepasnya. Dia melanjutkan langkahnya ke kamar. Aku menunggu sampai dia masuk ke kamarnya. Meskipun dia tidak menoleh ke arahku sedikit pun, aku sudah puas bisa memeluknya sebentar.


Penerbit yang memberiku tawaran paling menguntungkan adalah milik keluarga Rasmi. Aku tidak mau melibatkan Zach dalam urusan pekerjaan, maka aku menahan diri untuk tidak meminta nomor kekasihnya itu darinya. Aku mengirim pesan pada perwakilan penerbit tersebut untuk melakukan janji temu.


Hendra mengutus Pak Oscar untuk menemaniku sebagai orang yang bisa aku ajak diskusi sampai penandatanganan kontrak nanti. Aku sangat terkejut ketika datang ke kafe tempat janji temuku dengan pihak penerbit, Rasmi ada di sana.


“Kamu juga ikut dalam diskusi hari ini?” tanyaku saat menjabat tangannya.


“Ini bukan bidangku, tetapi aku tidak mau melewatkan kesempatan untuk bertemu dengan calon penulis terkenal seperti Kakak,” jawabnya riang. “Ayo, silakan duduk, Kak, Pak.”


Rekannya menjelaskan kepadaku mengenai detail keuntungan yang sudah mereka paparkan pada surel. Dia menjawab setiap pertanyaan dan keraguanku dengan baik. Rasmi tidak berbohong. Ini bukanlah bidang pekerjaannya karena sedari tadi dia hanya diam mendengarkan.


Mereka memberikan kopian kontrak untuk aku pelajari. Aku menyerahkannya kepada Pak Oscar agar dia bisa mempelajari setiap detailnya. Kami akan mendiskusikannya bersama saat dia sudah selesai memeriksanya. Hendra tidak mau ada satu poin pun yang sifatnya ambigu.


“Aku tahu bahwa Kak Hendra akan setuju dengan kesepakatan yang kami tawarkan!” ucap Rasmi saat kami hanya tinggal berdua saja.


“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.


“Saat aku dan Zach makan malam, kami tidak sengaja bertemu dengan Kak Hendra yang sedang makan bersama rekan bisnisnya. Begitu Zach memberitahu bahwa Kak Hendra adalah kakak iparnya, aku langsung memintanya agar membujuk Kakak untuk menerima tawaran penerbit kami,” katanya.

__ADS_1


“Kak Hendra memuji tulisan Kakak setinggi langit. Itu hal yang langka. Jarang sekali ada anggota keluarga yang menikmati karya tulis keluarganya sendiri. Saat itulah aku tahu bahwa penerbit lain juga melihat sesuatu yang istimewa pada karya Kakak tersebut.


“Jadi aku menambah beberapa penawaran seperti yang sudah disebut rekanku tadi. Dan Kak Hendra berjanji akan menunjuk penerbit kami sebagai penerima hak cetak novel Kakak. Aku tidak mau kehilangan muka jika keluargaku sampai tahu bahwa aku kehilangan calon kakak iparku sendiri sebagai rekan kami. Dan membiarkan penerbit lain yang menang.” Dia bergidik pelan.


“Kamu terlalu memuji. Apa kamu sudah baca buku itu?” Aku menatapnya curiga.


“Tentu saja sudah! Aku sangat menyukainya! Tokoh utamanya mengesalkan tetapi aku suka dengan alasan yang kuat yang Kakak paparkan sehingga aku setuju saja dengan pilihan yang dibuatnya. Tapi aku masih berharap dia akan bersama sahabatnya, bukan kekasihnya yang jahat itu,” keluhnya pelan. Aku tersenyum mendengarnya.


Percakapan ini mengingatkan aku pada diskusi yang aku lakukan bersama Hendra di pesawat saat kami berlibur ke Sabang. Sudah lama rasanya kami tidak mendiskusikan apa pun dengan bebas. Kami sudah terasa jauh sekarang. Apakah aku bisa membuat hubungan kami kembali seperti dahulu?


Dalam perjalanan pulang, aku mencoba untuk menghubungi Hendra. Dua kali panggilan telepon dariku tidak dijawabnya. Aku hanya tersenyum menatap layar ponsel. Tidak pernah satu kali pun sebelumnya dia tidak menjawab telepon dariku atau tidak membalas pesanku. Aku mengabaikan rasa sakit yang mendadak muncul di dadaku.


Pada hari Sabtu malam itu, aku menemani Hendra menghadiri sebuah acara. Perayaan itu tidak formal, jadi kami bisa berkeliling ruangan untuk bicara dengan siapa saja tanpa harus duduk di tempat yang sudah ditentukan. Para pelayan akan sesekali melewati kami sambil membawa baki berisi minuman atau makanan ringan.


Hendra mengajakku untuk makan malam lebih dahulu sebelum berbaur dengan tamu yang lain. Kami duduk bersebelahan di sofa yang kosong dan menghabiskan makanan kami dalam diam. Seorang pelayan datang menawarkan minuman, kemudian mengambil piring kami yang telah kosong.


“Wah, wah, akhirnya kita bertemu juga.” Terdengar suara seorang pria dari sebelah kiriku. Aku menoleh dan melihat pria yang aku ingat pernah bertemu di konser amal. “Mahendra Perkasa, aku sudah lama ingin bertemu denganmu secara langsung.”


“Selamat malam, Pak.” Hendra menundukkan kepalanya membalas sapaan pria itu. Tulang tangan kanannya masih digips, jadi dia belum bisa berjabatan tangan, sedangkan tangan kirinya melingkari pinggangku sehingga kami berdiri begitu dekat.


“Dan aku sudah tahu bahwa aku tidak bisa menyentuh istri cantikmu,” ucapnya sambil membungkuk sedikit ke arahku. Aku tersenyum dan menundukkan kepalaku sebagai balasannya. “Kami bertemu pada acara konser yang diadakan oleh ibumu. Apa mereka tidak datang malam ini?”


“Orang tua saya menghadiri undangan lain,” jawab Hendra dengan sopan.


“Aah, kalian berbagi tugas.” Pria itu mengangguk pelan. Aku berdoa di dalam hati semoga saja malam ini dia datang bersama istrinya atau siapa saja, asal bukan dia.


“Bapak tidak datang bersama istri?” tanya Hendra. Pria itu tertawa kecil.

__ADS_1


“Istriku baru saja melahirkan anak kami, jadi dia tidak bisa menemaniku untuk sementara waktu.” Dia mencari-cari ke sekitarnya. “Aku datang bersama asistenku … ah, itu dia.”


“Selamat atas kelahiran anak Bapak,” ucap Hendra. Pria itu berterima kasih. “Oh. Bapak datang bersama Vivaldo?” Tentu saja doaku tidak akan dikabulkan.


“Lo? Kalian saling mengenal?” tanya pria itu heran.


“Iya. Dia junior saya di kampus.” Hendra hanya menganggukkan kepala ke arahnya dan tidak tertarik sedikit pun untuk melihat ke arahnya. “Senang bisa berbicara dengan Bapak, saya dan istri saya akan menyapa tamu yang lain.”


“Tentu saja. Silakan. Kami baru saja datang, jadi aku akan makan dahulu.” Pria itu bergeser agar kami bisa berjalan melewatinya. Aku sama sekali tidak melihat ke arah Aldo.


Hendra menyapa dan berbincang dengan begitu banyak orang. Sebagai pengganti Papa satu-satunya, aku mengerti mengapa dia perlu memberi kesan yang baik kepada semua rekan bisnis keluarga kami. Dia akan banyak berhubungan dengan mereka saat dia menduduki kursi direktur utama nanti.


Kami pamit pada orang-orang yang sedang mengobrol bersama kami tepat pada jam sembilan malam. Kafin sudah menunggu di depan pintu utama, jadi Hendra tidak perlu menelepon untuk memberitahunya. Suasana di dalam mobil hening, tidak satu pun dari kami yang bicara selama dalam perjalanan menuju rumah.


“Mengapa kamu tidak memberitahuku bahwa kamu dan orang tuaku bertemu dia pada acara konser amal itu?” tanyanya begitu kami berada di koridor menuju kamar kami masing-masing. “Aku ingat bahwa aku meneleponmu pada malam itu.”


“Tidak ada yang perlu aku beritahukan. Mama dan Papa berbincang dengan pria kenalan mereka itu dan tidak ada yang memedulikan Aldo,” jawabku setengah jujur.


“Aku sedang berada di luar negeri dan kalian mendadak bertemu berulang kali secara tidak sengaja di belakangku. Benar-benar pintar memilih waktu yang tepat.” Dia menatapku dengan dingin.


“Kamu tahu bahwa Mama yang mengajakku ke acara konser itu. Apa kamu pikir aku sudah gila sehingga berani bertemu dengan laki-laki lain saat aku sedang bersama mereka?”


“Kamu tidur dengannya, bukankah itu tindakan yang gila? Lihatlah apa akibat dari perbuatanmu itu. Dia terus menatapmu tidak peduli bahwa aku, suamimu, sedang berdiri di sisimu tadi. Juga tidak peduli andai ada orang lain yang melihat sikap kurang ajarnya itu,” ucapnya geram. Aldo melakukan itu? “Aku sangat membencimu saat ini.”


“Hendra,” aku menahan air mataku sekuat tenaga, “aku pantas kamu marahi dan caci. Tapi jangan ucapkan kalimat apa pun yang tidak berasal dari hatimu.”


“Kamu pikir aku tidak serius? Aku benar-benar membencimu, Zahara.”

__ADS_1


__ADS_2