Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 91 - Hanya Sebuah Saran


__ADS_3

“Ada apa, Kak?” tanya Zach ingin tahu. Dia memerhatikan wajahku dengan saksama. “Mengapa Kakak terlihat kesal begitu?”


“Tidak ada apa-apa.” Aku sudah cukup mendapatkan informasi darinya, jadi aku berjalan menuju di mana teman-temanku berada. Sudah saatnya untuk membereskan ruangan.


“Aku tahu arti ekspresi itu.” Zach berjalan di sisiku. “Kakak cemburu? Kak Hendra sedang dekat dengan perempuan lain, Kakak tidak suka? Kakak berdandan secantik ini, dengan riasan dan tataan rambut yang berbeda, apa Kakak berharap Kak Hendra akan datang ke acara hari ini?”


“Tutup mulutmu.” Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya. “Dengar, ya. Hari ini adalah hari ulang tahun Hadi, putraku. Aku harus berpenampilan rapi di hadapan para tamu. Bukan karena aku ingin menarik perhatian laki-laki yang sudah tidak peduli lagi kepadaku itu.”


“Biasanya juga Kakak hanya berpakaian rapi dan memakai lipstik. Tapi apa ini? Kakak berdandan maksimal, rambut diberi spiral pada ujungnya, dan memakai baju yang lebih cocok dikenakan saat menghadiri acara makan malam daripada ulang tahun anak berusia lima tahun. Bandingkan saja penampilan Kakak dengan istriku atau ketiga sahabat Kakak itu.” Dia menatapku penuh arti.


“Bicara denganmu memang hanya membuang-buang waktuku saja.” Aku membalikkan badan berniat pergi.


“Mau tunggu berapa lama lagi, Kak? Sampai kapan Kakak akan memendam perasaan Kakak untuk Kak Hendra? Jangan sampai Kak Hendra menikah dengan perempuan lain baru Kakak bertindak. Itu sudah terlambat,” katanya menggoyahkan pendirianku.


“Tidak. Aku sudah cukup menyakitinya. Aku tidak mau menyakitinya lagi,” kataku pelan.


“Jadi, Kakak lebih suka menyakiti diri sendiri dengan mencari tahu kabarnya dari kami yang masih sering bertemu dengannya? Mengapa tidak temui dia saja? Kakak tidak akan menyakitinya dengan bertemu dan bicara dengannya. Aku yakin Kak Hendra akan senang hati menerima ajakanmu,” ucapnya setengah berbisik.


“Mengapa bukan dia saja yang mengajak bertemu?” Aku balik bertanya. “Dia membiarkan aku mengurus kedua anak kami seorang diri. Apa kamu pikir aku punya waktu untuk merencanakan pertemuan dengan pria tidak punya hati itu? Dia bisa datang ke sini dan menemui kedua anaknya, jika dia tidak mau bertemu denganku. Tapi ke mana dia? Menghilang begitu saja,” rutukku kesal.


“Hei, hei, jangan marah kepadaku. Aku hanya memberi saran. Kalau tidak mau, ya, sudah.” Dia meneguk minuman dalam gelas yang dipegangnya.


“Apa dia yang menyuruhmu mengatakan semua hal tadi?” tanyaku ingin tahu. Dia malah tersenyum.


“Kak Hendra tidak pernah membahas apa pun mengenai Kakak atau perasaannya. Kami hanya bicara tentang pekerjaan. Titik. Apa Kakak lupa? Aku hanya seorang penasihat hukumnya sekarang. Bukan lagi adik iparnya.” Dia menoleh mendengar namanya dipanggil. Rasmi melambaikan tangannya. “Aku harus pergi. Kita lanjutkan ini nanti.”


Dasar pembohong. Hendra tidak pernah memperlakukannya sebagai orang asing. Dia masih adik iparnya. Karena kalau tidak, Hendra tidak akan campur tangan saat orang tua Rasmi mempersulit hubungan mereka. Dia menepati janjinya dengan mempersatukan Zach dan Rasmi dengan restu orang tua adik iparku itu. Entah apa yang dia lakukan sehingga mereka berubah pikiran, tetapi aku sangat menghargai usahanya itu. Zach kini bahagia dengan keluarga kecilnya.


Adik dan sahabatku bahagia dengan pasangan dan anak-anak mereka. Hanya aku yang tidak punya Hendra di sisiku. Di saat-saat seperti ini pasti menyenangkan sekali bisa berada dalam pelukannya dan sesekali mencuri ciuman darinya. Sudah hampir tiga tahun berlalu sejak terakhir kali aku bisa memeluk dan menciumnya sepuasku. Aku tidak menyesali apa yang terjadi pada malam itu.


“Kamu pasti lelah menyiapkan acara ini.” Seseorang berbicara dari sisi kananku. Aku mengumpat di dalam hati karena berdiri bengong jauh dari sahabatku. Gara-gara ucapan Zach, aku lupa tadi berniat kembali bergabung bersama mereka.

__ADS_1


“Aku harus membereskan ruangan, permisi.” Aku berjalan mendekati Darla.


“Mengapa kamu selalu menghindariku? Aku tidak akan menggigit, Zahara,” kata Dicky. Aku tidak menghentikan langkahku.


Setelah satu jam bekerja sama, akhirnya ruangan itu kembali rapi, tempat duduk sewaan sudah ditumpuk, tinggal menunggu dijemput oleh pemiliknya. Semua peralatan makan yang kotor sudah dibersihkan dan diletakkan di tempat penyimpanan.


“Mama.” Dira menyentuh ujung rokku. Aku menoleh, lalu mengangkatnya. Dia segera melingkarkan kedua tangannya di leherku.


“Anak mama sudah mengantuk?” tanyaku pelan. Dia hanya diam. Aku mencium pipinya.


“Kami pamit, Zahara.” Darla menyentuh punggungku. Aku menganggukkan kepala.


“Terima kasih sudah datang dan menyiapkan acara ini, Darla.” Aku menerima pelukannya. Aku juga berterima kasih kepada kedua sahabatku yang lain. Para suami mereka hanya menjabat tanganku dengan sopan. Mereka kemudian mengucapkan selamat ulang tahun kepada Hadi dan mengusap-usap kepalanya dengan gemas.


“Apa hari Minggu ini kamu ada acara?” tanya Dicky saat gilirannya untuk pamit. Dia masih belum menyerah juga. “Bagaimana kalau aku jemput kamu dan anak-anak untuk makan siang bersama?”


“Tidak, terima kasih.” Aku segera menolaknya. Aku melihat teman-temanku mengulum senyum mereka sambil berdiri di belakang pria itu penuh rasa ingin tahu.


“Mama sudah bilang tidak. Terima kasih, Om.” Hadi menolak dengan sopan.


“Baiklah.” Dia tersenyum kepadaku, lalu membalikkan badan dan berjalan ke mobilnya. Aku mengusap kepala anakku karena dia sudah melakukan hal yang benar.


“Usahanya boleh juga,” kata Mama yang berdiri di sisiku. Aku memutar bola mataku mendengarnya. “Kamu serius tidak mau memberinya kesempatan? Dia seorang anggota dewan, lo.”


“Hentikan ini, Ma.” Aku memeluk dan menciumnya. “Mama sudah boleh pulang.”


“Anak durhaka. Orang tuamu sendiri pun kamu usir.” Mama pura-pura marah sambil mencium pipi Dira, lalu mendekati Hadi.


“Kakak senewen karena Kak Hendra tidak datang, Ma.” Zach yang menggendong Zeph yang sudah tidur mendekatiku. Aku hanya cemberut saat dia memeluk dan mencium pipiku. “Lihat saja dia sudah tampil maksimal, tetapi semuanya sia-sia.”


“Biarkan saja. Dia perlu tahu rasanya ditolak dan diabaikan.” Kadang-kadang aku bertanya, aku ini putri kandung ibuku atau bukan. Mengapa Mama terus saja berpihak kepada Hendra? Mereka tertawa bersama mengejekku.

__ADS_1


Papa dan Rasmi bergantian memeluk dan menciumku. Mereka juga melakukan hal yang sama kepada Hadi, sedangkan Dira tidak membuka matanya lagi saat mereka menyapa dan menciumnya. Akhirnya, semua orang pulang. Rumah sudah sepi lagi.


Dira tertidur pulas dalam pelukanku, maka aku membawanya ke kamarnya lebih dahulu. Aku mengganti pakaiannya dengan piyama kesukaannya, lalu membantu menyikat giginya. Dia tidak menolak karena hal itu sudah menjadi kebiasaannya. Aku duduk sesaat di tepi tempat tidurnya setelah membaringkannya di ranjangnya.


Pintu kamar terbuka, Hadi melongokkan kepalanya. Aku tersenyum melihat dia sudah mengganti pakaiannya sendiri. Dia segera berlari mendekatiku dan memelukku. Dari aroma napasnya, dia bahkan sudah menyikat giginya sendiri.


“Anak mama pintar sekali sudah membersihkan diri dan berganti pakaian sendiri,” pujiku sambil memberinya sebuah ciuman sebagai hadiah.


“Aku sudah lima tahun, jadi aku sudah besar. Iya, ‘kan, Ma?” ucapnya dengan bangga.


“Iya. Kamu mau buka kadomu malam ini atau tunggu besok saja?” Aku berdiri dan mengajaknya keluar dari kamar Dira agar adiknya tidak terbangun.


“Aku hanya mau buka kado dari Papa,” ucapnya tidak sabar. “Kado lainnya dibuka besok saja.”


Kami menuju lantai bawah dan mendekati tumpukan hadiah yang sudah diatur dengan rapi oleh Yuyun dan Abdi di ruang keluarga. Kado dari Hendra segera menarik perhatian karena kotak itu adalah kotak terbesar dibandingkan pemberian dari yang lain. Yuyun pasti sengaja meletakkannya di satu tempat dan tidak disatukan dengan hadiah lain.


“Ayo, Ma. Cepat buka!” ucap Hadi semakin tidak sabar. Aku menggunakan gunting untuk merobek selotip yang merekatkan penutup bagian atas kardus tersebut. “Waahh …!” Dia harus berjinjit untuk bisa melihat isi di dalam kotak besar itu.


Aku mengeluarkan satu-persatu kotak dari dalamnya. Mobil dengan alat pengendalinya, beberapa kotak besar dengan logo LEGO, sebuah action figure tokoh kartun kesukaan Hadi, dan beberapa buku bacaan untuk anak-anak. Tentu saja Hadi segera memeluk patung lilin tersebut lebih dahulu.


“Bagaimana Papa bisa tahu, Ma? Kata Mama, patung kecil ini sangat mahal.” Dia menatap kotak tersebut dengan mata berbinar-binar, lalu memeluknya lagi.


“Mungkin ada malaikat yang membisikkannya kepada Papa karena kamu bersikap baik selama ini?” tebakku. Dia tertawa kecil.


“Pasti Mama yang memberitahu Papa. Terima kasih, Ma!” Dia mencium pipiku. “Mama tidak boleh dekat dengan laki-laki mana pun, ya.”


“Mengapa kamu tiba-tiba berkata begitu?” tanyaku bingung.


“Aku tidak suka dengan Om Dicky. Aku tidak mau punya papa tiri. Aku hanya mau papaku. Dia yang terbaik.” Tentu saja dia berkata begitu setelah menerima semua hadiah ini. “Kalau Mama menikah dengan yang lain, aku tidak mau tinggal dengan Mama. Aku mau sama Papa saja.”


Apa? Siapa yang mengajarinya bicara seperti itu? Sejak kapan putraku sendiri berani mengancamku?

__ADS_1


__ADS_2