
Aku tidak bisa menoleh ke belakang karena dia berdiri tepat di belakangku. Aku juga tidak bisa memberi sinyal kepada Hendra agar dia tidak mengatakan atau melakukan sesuatu yang ekstrem terhadap wanita itu. Kami sedang berada di depan umum.
“Hai, Nora.” Mama menyentuh tangan Hendra. Suamiku melihat ke arah ibunya, lalu ke arahku. Aku tersenyum kepadanya. “Kamu datang ke sini bersama orang tuamu?”
“Tidak. Bersama teman-temanku. Sejak aku memperkenalkan restoran ini kepada mereka, mereka suka dengan steak yang mereka sajikan. Terima kasih Tante sudah mengajakku ke sini,” ucap wanita bernama Nora itu dengan riang.
“Sama-sama. Ini restoran kesukaan Zahara. Hendra yang memperkenalkan restoran ini kepadaku, dan sama seperti teman-teman kamu, sejak itu aku juga suka dengan steak di tempat ini.” Mama memanggil seorang pelayan yang lewat. “Kamu mau makan bersama kami? Masih ada tempat untuk satu orang lagi di meja ini.” Aku mengerutkan kening melihat Hendra tersenyum.
“Aku punya usul yang lebih baik. Tante dan Om bisa bergabung di meja kami,” ajaknya. Mengapa dia terus berdiri di belakangku? Apa dia sengaja agar aku tidak bisa melihat ke arahnya? Ooh, aku mengerti. Dia ingin bisa melihat Mama, Papa, dan Hendra secara langsung.
“Terima kasih, Nak. Aku akan menerima ajakanmu lain kali. Malam ini kami ingin makan bersama Hendra dan keluarganya.” Mama tersenyum begitu manis. Sayang sekali aku tidak bisa melihat ekspresi di wajah Nora.
“Baiklah. Selamat menikmati makan malam, Tante, Om, Hendra,” ucapnya mengabaikan aku dan anak-anakku. Gadis muda yang naif. Dia ingin mendapatkan Hendra tetapi tidak bersikap baik kepada Hadi dan Dira. Apa dia tidak tahu bahwa memenangkan hati anak-anaknya adalah salah satu cara memenangkan hati ayahnya juga?
“Maafkan atas sikap lancangnya, Zahara,” ucap Mama setelah wanita itu pergi meninggalkan kami.
“Tante tidak perlu meminta maaf atas namanya. Kesalahannya bukan kesalahan Tante.” Aku menggeleng pelan. “Lagi pula aku sudah pernah mendengar hinaan lebih parah dari itu.”
“Aku minta Mama tidak lagi berharap agar aku mau menerima wanita seperti itu menjadi istriku. Istriku hanya Za dan aku tidak akan pernah berpaling kepada yang lain,” kata Hendra dengan tegas. Mama membuka mulut ingin mengatakan sesuatu, tetapi suamiku melanjutkan, “Aku tidak pernah tertarik dengan perempuan yang berusaha memisahkan anakku dari ibu mereka.”
“Aku hanya memikirkan yang terbaik untukmu. Tidak ada cara lain untuk menghilangkan gosip selain memulai hidup yang baru, Nak.” Mama menatap putranya itu dengan serius.
Wanita bernama Nora itu hebat juga. Dia masih bisa mendapatkan dukungan dari Mama meskipun keborokannya sudah berulang kali terungkap di depan umum. Bukan sekadar gosip kosong, tetapi fakta dengan bukti yang tidak bisa disangkal. Bagaimana dia menjelaskan semuanya kepada Mama dan masih bisa menjadi calon menantu idaman?
__ADS_1
“Kita akhirnya bisa makan malam bersama setelah sekian lama, jangan dirusak dengan pembicaraan yang menegangkan seperti ini,” kata Papa melerai. Pelayan datang mengantarkan makanan. “Nah, tepat pada waktunya!”
Hadi dan Dira kembali menjadi topik utama percakapan kami berkat Papa. Masalah Nora sejenak terlupakan. Tetapi aku masih bisa melihat ketegangan di antara Hendra dan Mama. Apa menikah denganku begitu buruk sehingga setelah semua yang terjadi, Mama masih bersikeras agar putranya menikah dengan perempuan lain?
Seandainya wanita pilihan Mama bukan perempuan jahat itu, mungkin aku akan ikut membujuk Hendra untuk meninggalkan aku dan menikah dengannya. Tetapi wanita itu jahat. Aku tidak akan membiarkan anak-anakku berada di dekatnya. Hadi dan Dira sudah besar, bila aku dan suamiku berpisah, maka kami akan berbagi waktu dengan mereka. Nora bersama anak-anakku? Itu musibah.
“Ma, apa arti wanita murahan?” tanya Hadi saat kami berada di dalam mobil. Aku dan Hendra saling bertukar pandang.
“Itu adalah kata yang tidak baik untuk diucapkan, Hadi,” jawabku pelan.
“Oh. Maafkan aku, Ma.” Dia menatapku dengan mata menyesal. “Lalu mengapa tidak ada yang memarahi tante tadi karena sudah mengucapkan kata yang tidak baik?”
“Saat kamu sudah dewasa, tidak semua kesalahanmu ada yang menegur di depan umum. Orang yang peduli kepadamu akan memberitahu kesalahanmu saat sedang berdua saja. Mungkin tante tadi tidak ada yang memarahi, tetapi orang tidak menyukainya karena suka bicara yang tidak baik,” jawabku berhati-hati memilih kata.
“Aku mau punya banyak teman. Aku akan bicara yang baik,” kata Hadi penuh tekad. Aku dan Hendra tersenyum mendengarnya.
Menepati janjiku kepada Mama, pagi itu aku dan Dira menjemput Mama di rumah dan kami pergi bersama ke rumah sakit. Kami mengunjungi rumah sakit lain yang bukan langganan keluarga kami. Setelah mendaftar dan mendapatkan nomor antrian, kami menunggu giliran untuk bertemu dengan dokter spesialis onkologi.
Setengah jam menunggu, kami dipersilakan masuk ke ruangan dan bertemu dengan seorang pria yang masih tergolong muda. Sama seperti penampilan dokter pada umumnya, dia sangat bersih, rapi, dan tampan. Aku berharap penampilan itu juga sejalan dengan keahliannya.
Aku membiarkan Mama bicara dengannya dan mendiskusikan mengenai gejala juga hasil konsultasi dengan dokter sebelumnya. Mereka juga membahas mengenai hasil foto jaringan pada päyúdara Mama dari rumah sakit sebelumnya.
“Banyak yang bisa terjadi dalam waktu satu bulan. Maka sebelum kita membicarakan langkah selanjutnya, saya boleh melakukan USG?” tanya dokter tersebut dengan sopan.
__ADS_1
“Boleh, Dok,” jawab Mama. Dia melihat ke arahku. Aku mengangguk pelan.
“Baik. Suster akan membantu Ibu untuk bersiap-siap.” Wanita yang dari tadi berdiri di sisinya, mengajak Ibu untuk mengikutinya.
“Kamu pasti sudah tidak mengenali aku lagi, Zahara,” ucap dokter itu mengejutkan aku. Aku yang berniat keluar ruangan mengikuti Mama dan suster itu berhenti. Aku menatapnya dengan bingung. “Aku teman sekelas kamu saat SMU. Apa kamu tidak ingat dengan namaku?”
“Ah, maafkan aku.” Aku tidak dekat dengan semua teman sekelasku, jadi aku tidak heran bila aku tidak mengingat dia atau namanya. “Bisakah kita bicarakan ini nanti? Aku ingin menemani ibuku.”
“Biarkan mereka bersiap-siap. Sebentar lagi kita akan ke sana juga.” Dia menunjuk ke arah kursi yang aku duduki tadi. “Jadi, Ibu Naava adalah ibu Vivaldo?”
Sepertinya dia tidak tahu bahwa aku dan pria itu sudah lama putus hubungan. Wajahnya terlihat tulus dengan pertanyaan itu. Kejadian akhir-akhir ini memang membuat aku sulit percaya kepada orang yang baru aku kenal. Bahkan sekalipun mereka adalah benar teman lamaku.
Aku melihat ke arah kedua tangannya. Tidak ada cincin di sana. Ini adalah jenis laki-laki yang harus aku waspadai. Aku sudah punya cukup masalah dengan Vivaldo dan Dicky. Keduanya adalah pria lajang yang entah mengapa berpikir bahwa aku akan memilih mereka bila mereka terus berusaha mendekati aku.
“Bukan. Mama adalah ibu suamiku, Hendra.” Aku memutuskan untuk tetap berdiri dan tidak duduk kembali di kursi tadi.
“Hendra? Aku pikir kamu dan Vivaldo akan menikah. Kalian sangat dekat saat kalian datang di reuni pertama kelas kita,” katanya. Aku ingat dengan reuni yang kami hadiri tersebut. Tetapi aku tetap tidak bisa mengingat dia dan namanya itu.
“Apa kamu tidak mengikuti berita akhir-akhir ini?” tanyaku bingung. Dia tertawa kecil.
“Aku tidak punya waktu untuk sekadar menjawab pesan yang masuk di ponselku. Apalagi mengikuti berita, Zahara. Waktu luangku lebih banyak aku gunakan untuk belajar mengenai bidang yang aku ambil. Kamu akan terkejut bila aku beritahu jumlah pasien penderita kanker yang harus aku tangani setiap harinya.” Dia mengangkat kedua alisnya.
“Berita mengenai aku dan keluargaku akhir-akhir ini terjadi secara masif, jadi aku terkejut kamu tidak mengetahuinya.” Aku melihat ke arah pintu. “Apa kita belum bisa ke sana sekarang?”
__ADS_1
“Baik. Kita ke sana sekarang.” Dia tertawa kecil. “Ada apa denganmu? Apa kamu mengkhawatirkan ibu mertuamu? Aku selalu memperlakukan setiap pasienku dengan baik. Kamu tidak perlu khawatir. Atau kamu menjaga jarak begini karena kamu takut kepadaku?”