Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 47 - Wanita Pilihan Adikku


__ADS_3

Kafin sudah pamit akan pulang ke rumah orang tuanya untuk melamar pacarnya pada akhir pekan itu, maka Liando yang mengemudikan mobil untukku. Aku sengaja berangkat lebih cepat dari rumah untuk menghindari kemacetan yang sering terjadi menjelang malam Minggu.


Setelah memberikan sejumlah uang kepada Liando agar dia bisa makan sesuatu sambil menungguku, aku keluar dari mobil. Mengapa adikku memilih mal di saat dia bisa saja menentukan salah satu kafe yang ada di luar pusat perbelanjaan sebesar itu, entahlah.


Untungnya, lokasi kafe cukup dekat dari pintu masuk utama mal, jadi aku tidak perlu berjalan jauh ke dalam gedung atau berdesak-desakan di dalam elevator hanya untuk menuju tempat pertemuan kami. Aku melihat ke sekeliling kafe saat pelayannya menyambutku dengan ramah. Zach sedang mengangkat tangannya untuk menarik perhatianku.


Pelayan itu mengikutiku sampai ke meja. Mataku tertuju kepada tas wanita yang ada di kursi di samping Zach. Oh. Jadi ini maksudnya mengajakku bertemu. Aku duduk, membuka menu, dan menyebutkan pesananku. Zach dan teman wanitanya telah memesan lebih dahulu.


“Di mana dia?” tanyaku penuh arti. Zach tersenyum.


“Sedang ke toilet. Sebentar lagi dia kembali.” Dia melihat ke arah pintu masuk kafe.


“Jadi, kapan kalian akan menikah?” tanyaku lagi. Dia tertawa kecil.


“Kak, tolong jangan lakukan ini di depannya nanti.” Dia memberiku peringatan. Aku mengulum senyum. “Kami baru saja menjalin hubungan selama satu bulan terakhir. Aku belum yakin dengan hubungan kami, tetapi dia sangat mencintaiku.”


“Karena dia terus memberimu perhatian, maka kamu akhirnya menyerah dan bersedia menjadi pacarnya? Wow, Zach. Ternyata kamu bisa juga ditaklukkan.” Aku tertawa kecil.


“Silakan Kakak tertawakan aku sepuasnya. Ketika Kakak melihatnya nanti, Kakak akan mengerti mengapa aku tidak percaya diri.” Dia melihat ke arah pintu masuk. “Itu dia datang.”


Aku menoleh ke arah belakangku dan melihat seorang gadis yang sangat cantik tersenyum kepada Zach, lalu ke arahku. Aku berdiri dan menyambut uluran tangannya. Kami saling memperkenalkan diri. Rasmi, nama yang cantik seperti orangnya. Aku menatap Zach penuh arti. Sekarang aku mengerti mengapa dia ragu, gadis ini sangat cantik. Dia bisa saja memilih pria lain yang lebih baik tetapi dia memilih adikku?

__ADS_1


Melihat mereka duduk berdua di depanku, menurutku mereka sangat serasi. Zach termasuk ganteng walaupun aku tidak mau mengakuinya. Lagi pula tidak ada seorang saudara kandung yang mau secara jujur mengakui kelebihan saudaranya sendiri. Setidaknya aku dan Zach begitu.


“Senang bisa bertemu denganmu, Kak Zahara,” ucap gadis itu dengan sopan.


“Aku juga, Rasmi. Tolong, panggil aku Ara seperti Zach memanggilku. Agak aneh rasanya bila dia memanggilku Ara, ketika di sisi lain kamu memanggilku dengan nama depanku.”


“Baik, Kak Ara,” katanya menurut. “Zach banyak bercerita tentang Kakak. Benarkah Kakak seorang penulis?” Aku menganggukkan kepalaku. “Keluargaku punya penerbit yang sudah banyak menerima buku-buku dengan penjualan bagus. Kalau Kakak butuh bantuan, beritahu aku.”


“Penerbit?” tanyaku tidak percaya dengan kebetulan tersebut.


“Iya.” Dia lalu menyebut nama penerbit yang termasuk dalam penerbit yang melamar bukuku. Aku tersenyum mendengarnya. “Ada apa, Kak?”


“Oh, ya? Pasti ada penerbit lain juga yang mengirim surel yang sama. Kakak jangan khawatir. Yang mana pun yang Kakak pilih, aku tidak akan tersinggung. Bisnis adalah bisnis, urusan keluarga adalah urusan keluarga. Aku tidak akan mencampurinya.”


“Keluarga?” tanyaku tertarik dengan kalimat itu. Rasmi melihat ke arah Zach.


“Iya. Aku ingin menikah dengan Zach. Tetapi dia masih ragu dengan hubungan kami.” Dia kembali melihat ke arahku. “Apakah menurut Kakak aku kurang cantik? Aku bukan wanita yang baik? Apa yang harus aku lakukan supaya Zach mau menikah denganku?”


“Ng, itu ….” Aku melihat ke arah adikku sebelum kembali menatap Rasmi. “Kamu yakin kamu mau menikah dengan adikku? Dia bukanlah pria yang menyenangkan.”


“Kak, kami sudah berteman sejak duduk di bangku kuliah. Walaupun berbeda jurusan, kami sering bertemu di perpustakaan atau kantin kampusku. Dia dan teman-temannya sering makan siang di sana karena, tentu saja, mahasiswa fakultas ekonomi cantik-cantik.” Aku dan Rasmi tertawa kecil.

__ADS_1


“Aku tahu dia datang karena dipaksa oleh teman-temannya. Karena hanya dia satu-satunya mahasiswa yang cemberut di meja mereka. Kalau bukan aku yang memperkenalkan diri dan datang bicara dengannya, mungkin sampai saat ini kami hanya akan berteman saja.” Dia mendesah pelan. “Aku sudah mengenal beberapa keburukannya dan aku tetap mencintainya.” Wow.


“Zach, apa lagi yang kamu cari? Bila ada sesuatu pada dirinya yang perlu diubah, kamu bisa bilang langsung supaya tidak ada yang mengganjal di hatimu,” kataku memberi saran.


“Aku hanya meminta waktu, dia malah ingin menikah secepatnya. Kami baru satu bulan menjalin asmara, Kak,” ucap Zach memberi alasan.


“Aku sudah menunggu selama delapan tahun untuk bisa mendengar kata cintanya, apakah itu artinya aku harus menunggu selama delapan tahun lagi untuk mendengar lamarannya, Kak?” Rasmi memasang wajah memelas. Wanita ini benar-benar tidak mudah menyerah.


“Kamu tidak akan menunggu selama itu, Rasmi. Aku yakin Zach hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menikahimu. Dia baru saja memulai karirnya dan aku yakin dia ingin memberikan yang terbaik untukmu sebagai seorang suami.” Aku melihat ke arah Zach. “Tapi jangan menunggu sampai kamu mampu membeli mobil dan rumah. Kamu tidak membutuhkan itu dalam pernikahan.”


“Tuh, kamu dengar apa kata Kak Ara.” Rasmi segera menimpali.


“Asal kamu bertanggung jawab dan setia, itu sudah cukup.” Aku tersenyum kepada Zach.


“Aku menyesal mempertemukan kalian berdua.” Zach menepuk dahinya. Aku dan Rasmi tertawa melihatnya. Makanan ringan dan minuman pesanan kami datang, percakapan serius pun berubah menjadi obrolan santai.


Mendengar seperti apa keluarga wanita itu, aku mengerti mengapa Zach tidak percaya diri. Dia bukan hanya cantik dan cerdas, dia juga berasal dari keluarga kaya raya dan terpandang. Walaupun Rasmi berkata bahwa dia yakin dengan pilihannya, kami belum tahu apa tanggapan keluarganya bila mereka tahu bahwa kami hanyalah keluarga dari kalangan bawah.


Puas berbincang hingga lupa waktu, kami akhirnya memutuskan untuk bertemu lagi di lain waktu. Mereka ingin menonton film di bioskop dan sudah membeli tiket. Aku tidak mau ikut karena sudah memesan tempat untuk makan malam. Pada saat berpisah di depan kafe, mereka memilih berjalan ke arah bagian dalam mal, sedangkan aku ke pintu keluar.


“Ara?” Terdengar seseorang memanggil dari arah sampingku. Aku menoleh dan mendesah pelan. Mengapa aku terus saja bertemu dengannya secara kebetulan seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2