
Sebagai pemilik perusahaan, mudah saja bagi Hendra untuk merencanakan liburan dalam waktu yang mendadak. Aku hanya perlu menghubungi sekretarisnya dengan memberitahukan tujuan perjalanan kami, maka tiket pesawat hingga penginapan pun beres.
Tidak banyak yang bisa aku lakukan pada hari Jumat karena pada sore harinya aku harus ke bandara. Aliando yang mengantar aku menggunakan mobil milikku. Meskipun Hendra sanggup membayar biaya parkir bila mobil diinapkan di bandara, aku tidak mau membuang-buang uang sebanyak itu. Lagipula aku juga membutuhkan Aliando untuk membantuku membawakan barang bawaanku dan Hendra menuju konter check-in.
Terminal di mana maskapai yang kami gunakan berada sangat padat dengan para penumpang yang akan melakukan perjalanan juga. Mungkin karena hari ini adalah awal dari akhir pekan. Pada hari Sabtu dan Minggu pasti banyak yang ingin berlibur atau mengunjungi sanak saudara mereka.
Masih ada cukup waktu sampai Hendra tiba, aku memutuskan untuk menunggunya sambil mengisi perut. Aku tadi tidak sempat memakan sesuatu sebelum berangkat. Setelah memutuskan untuk makan bakso, aku menuju salah satu restoran yang menyediakan menu tersebut.
Aku mengantri bersama pengunjung lainnya. Ketika tiba giliranku, aku memesan semangkuk bakso dan segelas air putih hangat. Beberapa menit usai membayar, pesananku pun sudah disajikan di atas baki. Aku melihat ke sekelilingku dan menemukan meja dengan dua kursi yang masih kosong.
Baru makan beberapa menit, ponselku bergetar. Tanpa perlu melihat nama pada layar, aku tahu itu panggilan dari suamiku. Aku mendekatkan ponsel ke telinga dan dugaanku benar. Dia menanyakan aku berada di mana. Setelah mendengarkan jawabanku, dia mengakhiri hubungan telepon usai mengucapkan cinta.
Jarum pada jam tanganku menunjukkan bahwa dia melakukan perjalanan cukup lama dari kantor sampai tiba di bandara. Pasti lalu lintas yang dilaluinya sangat macet. Aku mempercepat makanku karena begitu dia tiba, aku perlu berbenah di kamar mandi. Dan saat aku mengangkat kepala untuk melihat ke arah pintu masuk restoran, aku melihat dia.
“Hai, sayang.” Hendra mendekat lalu mencium puncak kepalaku. Kemudian dia duduk di kursi kosong di depanku dengan wajah tersenyum.
“Kamu tidak makan?” Aku melihat ke arah kasir yang antriannya sudah tidak sepanjang sebelumnya. Tidak akan butuh waktu lama baginya untuk mengantri.
“Nanti saja di pesawat. Aku hanya ingin makan makanan ringan.” Dia tersenyum penuh arti. “Kamu tahu bahwa kamu bisa menungguku di executive lounge dan makan apa saja yang mereka sediakan di sana, ‘kan?” Aku membulatkan mataku. Oh, iya.
__ADS_1
“Aku lupa.” Aku tahu bahwa setiap kali kami bepergian, kami selalu mendapatkan penerbangan kelas satu. Tetapi aku selalu lupa bahwa kami bisa menunggu di lounge yang disediakan khusus dengan berbagai fasilitas gratis yang bisa dinikmati.
“Apakah kamu sudah selesai makan?” tanyanya. Aku menganggukkan kepalaku. “Ayo, kita ke sana.”
“Aku perlu ke kamar mandi sebentar.” Aku meletakkan sendok di atas mangkuk, lalu berdiri sambil membawa tas sandangku bersamaku. Hendra ikut berdiri.
“Oke. Aku tunggu di gerbang masuk.” Dia melingkarkan tangannya di pinggangku lalu mengecup keningku. Aku hanya tersenyum dan bergegas menuju toilet.
Kami tidak ikut mengantri bersama penumpang lain yang buru-buru ingin masuk ke dalam pesawat. Hanya akan melelahkan kaki kami saja. Seperti biasanya, kami duduk menunggu sampai jumlah antrian tidak panjang lagi. Hendra menggandeng tanganku saat kami mendekati petugas bandara. Setelah menunjukkan tiket dan kartu tanda pengenal, kami diizinkan untuk masuk gerbang menuju kabin pesawat.
Hal pertama yang dilakukan Hendra begitu kami sudah berada di udara adalah memesan makanan. Aku tidak menginginkan apa pun tetapi aku tidak menolak ketika dia memesan menu yang sama untukku. Suhu di kabin pesawat sangat dingin, jadi sebentar saja aku sudah merasa lapar lagi. Kami makan bersama sambil menikmati pemandangan di luar jendela.
“Ya?” balasku tidak sabar. Aku benar-benar ingin tahu apa pendapatnya mengenai karya perdanaku tersebut. Dia selalu memberikan penilaian yang jujur mengenai apa pun yang aku kerjakan.
“Aku tidak menyukai akhir ceritanya,” katanya tanpa berbasa-basi.
“Mengapa?” tanyaku penasaran.
“Aku mengerti bahwa tokoh wanita tersebut sudah lama menjalin hubungan dengan tokoh utama pria. Iya, setiap hubungan pasti punya masalah. Tetapi pria itu selalu lebih memilih untuk berpihak kepada ibu atau adiknya tanpa peduli siapa yang berkata benar dan bohong atau bagaimana kejadian yang sebenarnya dari yang diceritakan tokoh wanita juga ibu dan adik tokoh pria.”
__ADS_1
Aku tidak tahu apa alasan dia tidak menyebut nama tokohnya saja daripada menyebut posisi mereka dalam kisah tersebut. Nama yang aku gunakan sangat mudah untuk diingat. Namun aku tidak memotong atau meralat dia agar dia bisa mengatakan semua yang ada dalam pikirannya dan tidak terganggu jika aku menginterupsi dia.
“Iya, menjelang akhir cerita, tokoh pria mulai membuka pikirannya dan tidak menelan mentah-mentah setiap informasi dari ibu dan adiknya. Namun kecenderungan itu masih ada. Hal itu terbukti dari lamanya waktu yang dia butuhkan untuk percaya kepada tokoh wanita ketika dia mencoba meyakinkan pria itu mengenai kejadian yang sebenarnya. Padahal wanita itu tidak hanya bicara omong kosong tetapi juga menyertakan saksi dan bukti.”
“Jauh berbeda dengan tokoh pria yang lain yang hadir sebagai pihak ketiga. Memang dia hanya rekan kerja sekaligus sahabat baik tokoh wanita. Cinta yang dia rasakan dan tunjukkan juga mungkin tidak sebesar tokoh utama pria, tetapi dia selalu percaya penuh kepada wanita yang dia cintai. Di satu sisi, itu hal yang berbahaya. Namun di sisi lain, itu akan menguatkan hubungannya dengan tokoh wanita andai dia memilih pria itu.”
“Setiap hubungan harus didasari oleh rasa percaya. Barulah kemudian mencari tahu fakta yang sebenarnya. Jika belum apa-apa sudah tidak percaya, lama-kelamaan hal itu akan mematikan api cinta itu sendiri. Yang aku tidak bisa mengerti, tokoh utama pria sudah mengenal kekasihnya begitu lama, tetapi masih tidak bisa mengenalnya dengan baik. Sebaliknya, tokoh pria kedua baru mengenal tokoh wanita beberapa bulan saja tetapi sudah mengenalnya dengan sangat baik.”
“Aku kecewa tokoh wanita lebih memilih pria yang selama ini bersamanya tetapi tidak selalu berada di pihaknya daripada pria yang telah berhasil menunjukkan bahwa dia serius mencintainya. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana kelanjutan hubungan mereka bahkan bagaimana kehidupan pernikahan mereka nanti. Pengaruh ibu dan adiknya akan perlahan-lahan menghancurkan hubungan mereka.” Hendra menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Seorang wanita tidak akan membeli kucing dalam karung. Tentu saja tokoh wanita akan lebih memilih bersama pria yang sudah lama dikenalnya. Permasalahan di antara mereka sudah terpola, jadi dia tahu bagaimana menyelesaikan konflik di antara mereka, andai konflik yang sama terjadi lagi,” ucapku dengan nada sedikit membela diri.
“Kamu serius menggunakan hal itu sebagai alasannya?” tanya Hendra tidak percaya.
“Tentu saja. Pernikahan itu bukan mainan dan tidak untuk dijalankan selama satu atau dua hari saja. Tetapi untuk selamanya. Tokoh pria yang kedua memang sempurna dilihat dari sisi mana pun, tetapi, Hendra, kamu tahu bahwa tidak ada orang yang sempurna. Dia pasti punya kekurangan.”
“Iya, dia pasti punya kekurangan. Namun bagaimana kamu bisa begitu yakin bahwa tokoh utama pria yang cocok dengan tokoh wanita, jika wanita tersebut tidak pernah memberi satu kesempatan pun kepada tokoh kedua untuk membuktikan cintanya? Apa kamu tidak tahu bahwa sahabat yang baik bisa menjadi pasangan yang baik juga?”
Aku terdiam mendengar pertanyaan itu. Dia benar. Aku sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada tokoh kedua dan langsung mengarahkan cerita bahwa tokoh utama pria adalah yang lebih cocok untuk bersama tokoh wanita hingga akhir cerita.
__ADS_1
Mereka adalah sahabat baik, pengenalan tokoh kedua pria akan sama baiknya dengan tokoh utama pria terhadap karakter tokoh wanita. Tetapi dari awal cerita hingga akhir, tokoh kedua tidak pernah gagal menunjukkan kepercayaannya kepada tokoh wanita. Berbeda dengan tokoh utama yang selalu saja lebih percaya kepada cerita ibu dan adiknya.