
“Setelah kita enam tahun menikah, hubungan kita belum sebaik saat ini. Aku masih bersikap dingin kepadamu, seperti yang kamu lihat pada foto-foto awal pernikahan kita. Jadi, saat aku mengandung Hadi, Vivaldo tiba-tiba saja datang menemui aku.
“Tetapi pada saat itu, aku berpikir bahwa pertemuan kami tidak disengaja. Kamu yang kemudian memberitahu aku bahwa dia melakukan semua itu dengan sengaja. Sayang,” aku menyentuh tangannya, lalu menoleh ke arahnya. Aku ingin dia tahu bahwa kejadian itu tidak aku lakukan dengan sengaja. Aku berharap akan menatap matanya, yang aku lihat malah dia sudah tidur lelap.
Aku tersenyum melihat wajah damainya itu. Dasar laki-laki bodoh. Mengapa dia selalu saja berpikir bahwa dia tidak tampan? Bahkan ketika dia hilang ingatan pun dia masih berpikir begitu. Padahal aku sudah meralat ucapanku dahulu. Aku mengatakannya karena aku membencinya.
“Selamat malam, sayang. Aku sangat mencintaimu.” Aku mencium keningnya, lalu memadamkan lampu nakas di sisiku.
Tidak berolahraga selama beberapa hari akhirnya terasa juga dampaknya. Otot-otot tubuhku terasa kaku saat aku bangun tidur, dan aku semakin malas bangun sepagi biasanya. Ingin tidur lebih lama, aku mengulurkan tangan pada suamiku. Tetapi tanganku menyentuh permukaan tempat tidur.
Aku terpaksa membuka mata dan melihat ke sisiku. Hendra sudah tidak berbaring di tempatnya. Aku mengarahkan pandangan ke sekelilingku. Dia sudah tidak ada di kamar. Ke mana dia pergi? Ah, apa keadaannya sudah lebih baik sehingga dia tidak membutuhkan bantuan aku lagi?
Jangan-jangan dia sedang berolahraga sendiri di ruang bawah. Aku bergegas bangun, membersihkan diri di kamar mandi, lalu berganti pakaian. Dia tidak suka aku keluar kamar dengan gaun tidurku, sekalipun aku memakai mantel.
Abdi menyambut aku dan menunjuk ke arah ruang depan. Wajahnya terlihat sedih. Apa yang terjadi? Dia membukakan pintu agar aku bisa masuk. Ada Papa, Mama, dan Hendra di dalam. Suamiku duduk di kursi rodanya, sedangkan mertuaku duduk bersama di sofa.
“Selamat pagi, Pa, Tante,” sapaku. Aku mendekati suamiku, tetapi dia tidak melihat ke arahku sama sekali. Mengapa? Mengapa ingatan barunya selalu datang pada pagi hari dan aku harus bertemu dengan ekspresi dingin itu? “Ada apa, sayang?”
“Aku akan tinggal di rumah orang tuaku mulai hari ini. Mungkin untuk waktu yang lama,” jawabnya tanpa ekspresi. Aku mundur selangkah, terpukul dengan kalimat itu.
“A-apa maksudmu? Apa yang terjadi?” tanyaku tidak mengerti. “Sayang,” aku menyentuh tangannya, tetapi dia segera menepis tanganku.
“Aku hanya menunggu sampai kamu bangun untuk pamit. Jangan hubungi atau temui aku. Apa kamu mengerti?” tanyanya menatapku sesaat. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Apa yang dia ingat pagi ini sehingga dia begitu marah kepadaku? Tidak. Dia tidak marah. Tatapan itu, dia membenci aku.
Dia menggerakkan kursi rodanya menuju pintu tanpa mengatakan apa pun lagi. Abdi telah berdiri di sana, menahan pintu tetap terbuka. Papa menyusulnya, begitu juga dengan Mama. Tetapi dia menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah aku.
“Bersiaplah untuk bercerai dengannya. Kali ini kamu tidak akan bisa membawanya pergi lagi dariku.” Mama tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
“Apa kesalahanku kepada Tante? Aku sudah meminta maaf ratusan kali, apa kesalahanku sampai Tante dendam seperti ini? Hendra sedang sakit, tolong, jangan manfaatkan keadaannya untuk memisahkan kami. Dia akan sangat marah kepada Tante bila tahu kami berpisah karena mamanya sendiri.” Terdengar suara geraman dari arah pintu.
“Dia akan memaafkan aku. Ibu dan anak bertengkar adalah hal yang biasa. Aku harap kamu tidak akan mempersulit proses perceraian kalian.” Mama membalikkan badannya, dan berjalan menuju pintu. Ara menyalak keras saat Mama melewatinya. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri sehingga tidak menghalangi Ara melakukan itu. Tubuhku bergetar dengan hebat. Apa yang terjadi?
Segalanya bisa aku hadapi. Hendra mau marah, mencaci, menolak sentuhanku, akan aku terima. Tetapi aku tidak kuat melihat dia membenci aku seperti ini. Dia yang mencintai aku, bagaimana bisa menatap aku penuh kebencian seperti itu?
“Nyonya? Anda tidak apa-apa?” Yuyun datang mendekati aku. “Maafkan saya. Seharusnya saya membangunkan Nyonya saat Tuan meminta pakaiannya dimasukkan ke koper. Tetapi Nyonya terlihat sangat lelah, jadi saya tidak tega.”
“Pakaian? Pakaian apa?” tanyaku bingung.
“Tuan meminta pakaiannya dimasukkan ke koper, Nyonya. Tuan tidak mau tinggal di sini lagi,” ucap Yuyun lirih. Apa? Jadi, dia benar-benar pergi? Aku segera melesat keluar dari ruangan.
Range Rover milik Hendra berada di depan rumah. Sakti dan Liando sedang memasukkan kursi rodanya di bagasi belakang. Hendra duduk di jok belakang seorang diri. Aku segera berlari ke jendela mobil di mana dia berada.
“Sayang, jangan lakukan ini. Ayo, kita bicara,” bujukku. Dia hanya diam menatap ke depan. “Apa yang kamu ingat pagi ini? Apa kesalahanku? Aku bisa menjelaskan segalanya.” Dia masih diam. Aku membuka pintu, tetapi tidak bisa. Dia menguncinya dari dalam. “Sayang, aku mohon.”
“Maafkan saya, Nyonya,” kata Sakti. “Saya harus menyetir, tolong, Nyonya tidak berdiri terlalu dekat.” Dia memasuki mobil, lalu kendaraan itu bergerak maju. Tidak. Bila dia pergi, dia tidak akan kembali lagi.
Hanya ada satu alasan yang membuat dia tega meninggalkan aku seperti ini. Hanya ada satu hal yang membuatnya sanggup menatapku dengan mata dingin itu. Dia ingat hari di mana aku tidur dengan Vivaldo. Aku tidak bisa menjalani ini lagi. Aku tidak mau berpisah bertahun-tahun lagi darinya. Tidak setelah kami saling menyatakan cinta. Mengapa dia tidak mau membicarakan ini denganku sebelum memutuskan untuk pergi? Bukankah dia mencintai aku?
Dadaku terasa sakit sekali. Jauh lebih sakit daripada saat mengetahui dia sedang berjuang antara hidup dan mati di meja operasi. Aku tahu bahwa jika aku kehilangan dia, itu semua di luar kuasaku. Tetapi kehilangan kali ini bisa aku hindari. Seandainya saja aku lebih cepat menceritakan semua yang terjadi dalam pernikahan kami, dia tidak akan salah paham begini.
Namun Dokter Andreas sudah memperingatkan kami agar tidak menjejali dia dengan begitu banyak kenangan secara bersamaan. Hal itu bisa memicu terjadi pendarahan lagi. Kalau sudah begini, apa yang bisa aku lakukan? Bila bicara denganku saja dia tidak mau, bagaimana cara membawanya kembali ke sini bersamaku?
“Nyonya, ayo, kita masuk ke rumah,” ajak Yuyun. Aku menoleh dan menyadari bahwa kedua tangannya sedang memegang lenganku.
“Yun, suamiku pergi. Dia meninggalkan aku. Mungkin dia tidak akan kembali lagi,” kataku pelan.
__ADS_1
“Kita bisa bicarakan ini di rumah, Nyonya. Para wartawan sedang tidak ada, sebaiknya kita masuk sebelum ada yang datang,” katanya yang membuat aku melihat ke sekelilingku. Dia benar. Tidak ada seorang pun yang berdiri di depan gerbang.
Anak-anak bangun, aku tidak tahu harus mengatakan apa mengenai ketidakhadiran papa mereka. Akhirnya, aku berbohong dengan mengatakan bahwa dia harus dirawat di tempat khusus agar cepat sembuh. Mungkin karena sudah pernah merasakan ditinggal, mereka tidak bertanya lebih lanjut.
Tubuhku bergerak sendiri sepanjang hari itu. Aku menemani anak-anak bermain di ruang keluarga, makan siang bersama, lalu membawa mereka ke taman. Setelah kami makan malam bersama, mereka mulai mengantuk saat kami menonton siaran anak-anak di televisi.
“Kita tidur di kamar, ya, sayang,” ucapku kepada Hadi. Dia menurut.
Aku sengaja tinggal lebih lama di kamar putriku setelah menolong putraku tidur. Aku tidak punya alasan untuk masuk ke kamarku. Tidak ada dia yang akan menunggu aku di sana. Aku tidak akan mendengar kata-kata gombalnya, melihat badan basahnya yang membuat mataku susah berpaling, juga tidak akan memeluk tubuhnya yang hangat.
Mengapa di saat segalanya sudah baik-baik saja, selalu saja ada masalah baru yang timbul? Mengapa masalahku selalu saja berputar-putar di Vivaldo lagi dan lagi? Apa belum cukup penderitaan yang aku alami untuk membayar lunas dosaku itu? Hanya satu malam, ya, Tuhan. Aku tidur dengannya di luar keinginanku hanya pada satu malam terkutuk itu.
Aku mendengar pintu kamar putriku terbuka, lalu sesuatu menyentuh lenganku. Aku yang sedang duduk sambil memeluk lututku terpaksa mengangkat kepala dan melihat Ara menatapku dengan wajah sedihnya. Dia mendekat dan meletakkan kepalanya di bahuku.
“Dia sudah pergi, Ara. Dia tidak mencintai aku lagi. Dia membenci aku karena kesalahan yang sama. Kamu beruntung. Kamu tidak harus merasakan sakit yang aku rasakan sekarang. Jadi, jangan dekati anjing jantan mana pun. Jauhi mereka kalau kamu mau hidup tenang dan jauh dari drama.
“Lihat aku. Hanya bisa menangis di sini, tidak berdaya menahan suamiku untuk tetap tinggal bersamaku. Aku ingin membencinya. Laki-laki bodoh. Aku baru kali ini mengenal pria yang berpikir menggunakan perasaannya bukan pikirannya.”
Aku terus mengutuknya, mengumpat menggunakan namanya untuk membuat perasaanku lebih baik. Tetapi aku tidak merasakan apa yang aku harapkan. Aku tidak merasa lebih baik. Aku justru merasa hancur karena mengatakan semua itu, sekalipun hanya pada seekor anjing.
Tubuhku kembali bergerak secara automatis pada keesokan harinya. Aku bangun pagi dalam posisi duduk di lantai dekat tempat tidur putriku bersama Ara. Setelah membantu Dira mandi dan berganti pakaian, aku menuju kamarku sendiri.
Fahri telah bersikap sangat baik dengan memasak sarapan kesukaanku. Roti isi, cupcake selai kacang, donat kentang cokelat, pai apel, jus jeruk, juga sosis dan ham. Aku berusaha untuk tidak menangis menyadari kursi kosong di dekatku, di mana biasanya dia duduk.
“Nyonya, ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda,” ucap Abdi yang memasuki ruang makan. Aku menoleh ke arah Yuyun. Dia mengangguk mengerti.
Aku berdiri dan mengikuti Abdi menuju ruang depan. Ada seorang pria berpakaian setelan rapi berdiri menyambut kedatanganku. Aku mempersilakannya untuk duduk kembali. Dia mengulurkan tangannya, tetapi aku terpaksa menolak. Liando datang menyajikan makanan dan minuman untuk pria tersebut.
__ADS_1
“Selamat pagi, Ibu Zahara. Saya datang untuk mengantarkan dokumen penting atas permintaan Pak Mahendra.” Dia mengeluarkan sebuah map dan meletakkannya di atas meja. Aku menatapnya dengan bingung. Hendra selalu mengutus Pak Oscar untuk mewakilinya, mengapa kali ini berbeda?
Aku mengambil map tersebut dan membukanya. Begitu aku membaca kepala surat pada dokumen tersebut, air mata jatuh tidak tertahankan lagi.