Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 253 - Andilku


__ADS_3

~Anya~


Sejak Ara lahir, aku selalu menjaga anak-anakku sebaik mungkin. Meksipun aku bekerja membantu suami memenuhi kebutuhan hidup kami sehari-hari, mereka tidak pernah lepas dari perhatianku. Bila ada yang berani mengganggu mereka, aku pasti akan membuat perhitungan. Hanya aku yang boleh memarahi dan memukul Ara dan Zach, bukan orang lain.


Aku kehilangan saudaraku satu-satunya karena kedua orang tua kami sibuk bekerja. Mereka tidak bisa melindungi dia yang mengadu bahwa dia dirundung di sekolah. Aku hanya seorang gadis kecil, aku tidak bisa melindungi kakakku dari teman-temannya yang adalah seniorku di sekolah. Jadi, aku tidak mau sampai kehilangan salah satu dari anak-anakku.


Zach bisa melindungi dirinya sendiri, tetapi tidak dengan Ara. Karena itu sebelum usianya cukup untuk bepergian sendiri, aku melarangnya keluar rumah atau pergi dari tempat penitipan tanpa izinku. Dia sering memberontak dengan marah dan memusuhi aku berhari-hari seperti remaja pada umumnya, tetapi kami selalu berbaikan kembali.


Putriku tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Aku tidak tahu dari mana dia mewarisi kecantikan tersebut karena aku tidak semenarik dirinya. Meskipun aku tidak pernah menghabiskan waktu bersamanya di luar rumah, aku tahu bahwa banyak pemuda yang jatuh cinta kepadanya.


Ketika dia akhirnya memilih salah satu dari mereka, aku selalu menegaskan agar dia tidak melewati batas. Dia tidak boleh membiarkan bibir dan daerah pribadinya disentuh oleh siapa pun kekasihnya itu. Pergaulan zaman sekarang terlalu bebas. Mereka memulainya dari berciuman, lalu tiba-tiba saja semua pakaian sudah lepas dari badan. Aku tidak mau hal itu terjadi pada putriku.


Apalagi selama bertahun-tahun dia menjalin hubungan dengan pria yang bernama Vivaldo itu, aku tidak pernah melihat batang hidungnya. Nuraniku sebagai seorang ibu tidak tenang. Apa yang diinginkan laki-laki itu dengan bersembunyi dariku dan papa Ara? Kami bukanlah orang tua yang jahat. Jika dia pria yang baik, maka kami akan mendukung hubungan mereka.


“Aldo sedang menyiapkan diri mengikuti ujian akhir nasional, Ma. Jadi, dia mengikuti les di luar jam sekolah agar bisa lulus dengan baik. Kalau liburan sudah tiba, aku akan ajak dia ke sini,” jawab Ara saat aku mengundang pemuda itu untuk datang.


“Dia berlibur ke rumah neneknya di desa, Ma. Aku akan mengajak dia ke sini saat mereka sudah pulang nanti,” jawabnya saat ujian akhir nasional selesai.


“Selama satu bulan ke depan, dia akan fokus mengikuti les dan belajar di rumah untuk seleksi masuk perguruan tinggi negeri, Ma,” katanya kemudian.


Sampai akhirnya pria itu lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan, dia tidak pernah datang ke rumah untuk menemui kami. Aku seperti calon mertua yang mengemis dikunjungi oleh calon menantunya. Apa yang begitu menarik dari pria muda itu sehingga putriku jatuh cinta kepadanya?


Karena itu, baik aku maupun papa Ara, sangat terkejut mendapati kunjungan dari seorang pria yang mengaku sebagai sahabat sekaligus senior Ara di kampusnya. Hari itu adalah hari di mana kehidupan kami berubah total. Pria muda itu melamar putri kami untuk menjadi istrinya.


Aku dan suamiku memahami arti hidup dalam kesulitan. Kami harus bekerja keras demi memenuhi kehidupan kami dan anak-anak. Sampai waktu untuk sekadar membangun hubungan antara orang tua dan anak saja, kami tidak sempat. Apalagi membangun hubungan antara suami dan istri.


Kedatangan Hendra itu kami anggap sebagai kesempatan emas yang tidak akan datang lagi. Pria itu jauh lebih baik daripada kekasih misterius putriku yang tidak tahu etika itu. Hendra serius dengan niatnya terhadap Ara dengan tidak sekadar mengajaknya menjadi pacar, tetapi istri. Usianya masih muda berbanding terbalik dengan kesiapannya memasuki kehidupan pernikahan.

__ADS_1


“Tidak. Aku tidak mau menikah dengan Hendra. Aku sudah punya pacar, Pa. Dan aku hanya ingin menikah dengan Aldo. Aku mencintainya.” Ara selalu mengucapkan itu setiap kali kami meminta dia untuk memikirkan ulang lamaran pemuda bernama Hendra tersebut.


Putriku benar-benar buta karena cinta. Pacarnya itu tidak mencintainya sebesar yang dia ucapkan. Karena kalau iya, dia sudah lebih dahulu melamarnya daripada Hendra. Kami adalah orang yang sederhana, jadi kami tidak akan menuntut pernikahan yang mewah. Asal saja dia menikahi putri kami secara baik-baik.


Mereka menjalin hubungan selama tujuh tahun, selama itu juga aku tidak pernah melihat wajahnya. Lalu saat dia akhirnya datang, dia bahkan tidak berani mengatakan bahwa dia ingin menikah dengan Ara. Putriku yang bicara sepanjang kunjungan pertama kekasihnya itu.


“Laki-laki apa itu? Dia mau menikahi putriku tetapi mulutnya tidak mengucapkan satu patah kata pun. Apa aku ini seperti hantu sampai dia tidak bisa bicara?” Yousef begitu marah dengan sikap kurang ajarnya itu. “Aku mau tahu apa dia serius dengan Ara.”


“Apa maksud kamu, sayang?” tanyaku waswas.


“Kamu lihat saja nanti,” ucapnya misterius.


Entah apa yang suamiku lakukan, tetapi suatu hari Ara menyatakan setuju untuk menikah dengan Hendra dengan wajah berurai air mata. Suamiku begitu senang sampai dia tidak menunggu untuk mengabari berita itu kepada Adhy.


Hendra sekali lagi menunjukkan keseriusannya dengan tidak menunda pernikahan mereka. Aku hanya bisa bermimpi akan pernah memberikan upacara dan resepsi pernikahan semegah itu untuk putriku. Dia beruntung dan aku bahagia untuknya.


Tetapi Ara sama sekali tidak bahagia. Dia hidup dalam kemewahan, semua hal yang dia inginkan selalu dia dapatkan, dan suaminya begitu mencintai dan memanjakannya. Dia tetap tidak bahagia. Aku akhirnya tahu alasannya, dia memutuskan untuk menikah dengan Hendra karena dia melihat Vivaldo mencium perempuan lain.


“Maafkan aku. Aku melakukan itu karena tidak punya cara lain. Apa yang diinginkan Vivaldo dari putriku?” tanya Yousef tidak mengerti.


“Dia sangat tampan dan Ara sangat cantik. Aku yakin, dia tidak tulus mencintainya. Dia hanya suka dengan pandangan iri orang banyak ketika melihat mereka bersama. Karena itu dia tidak terlalu peduli dengan menemui kita atau menikahi Ara,” kataku asal menebak.


Putriku bukan hanya tidak bahagia dalam pernikahannya, dia juga mengalami begitu banyak hal yang tidak menyenangkan dalam hidupnya sejak menjadi Nyonya Mahendra Perkasa. Aku salah menduga. Aku pikir uang adalah segalanya. Aku pikir putriku akan bahagia bila semua kebutuhannya terpenuhi. Ternyata menjadi istri orang kaya punya masalahnya sendiri.


Ketika dia akhirnya menemukan kebahagiaannya, jatuh cinta kepada suaminya sendiri, bagaimana aku bisa marah kepadanya atas kesalahan kecil yang dia lakukan demi menjaga dirinya sendiri? Aku kecewa dia telah membohongi aku dengan triknya mencegah kehamilan. Tetapi aku mempunyai andil besar sehingga dia mengambil keputusan itu.


Yang terpenting bagiku sekarang adalah dia bahagia bersama keluarga kecilnya yang sebentar lagi akan bertemu dengan anggota baru. Dia dan Hendra menjadi pasangan yang membuat banyak orang iri. Jadi, aku tidak heran bila ke depan nanti mereka akan menemui banyak ujian dalam hubungan mereka. Tetapi semua itu hanya akan membuat cinta di antara mereka semakin kuat.

__ADS_1


“Mengapa kamu malah menangis di hari bahagia ini, Anya?” tanya Naava yang duduk di sisiku. Aku melihat wajah bahagia putriku yang sedang bertemu dengan para penggemar bukunya.


“Ini air mata bahagia.” Aku tersenyum kepadanya.


“Kamu punya putri yang hebat. Aku sudah sangat jahat kepadanya dan aku bersyukur rasa cintanya kepada putraku jauh lebih besar. Dia bertahan menghadapiku. Padahal suami dan putraku sudah putus asa,” kata Naava sambil tertawa kecil.


“Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.


“Sekitar dua bulan lalu, Adhy sudah tidak tahan lagi dengan sikap kasarku kepada Za. Dia memberiku sebuah ultimatum, berhenti mengganggu pernikahan putra kami atau dia akan menceraikan aku.”


...*******...


    Sementara itu, di ruangan sebelah aula.


    “Argh!” Rasmi mencari pegangan dengan tangan kanannya, ketika tangan kirinya menyentuh perut besarnya. Zach yang melihat itu segera mendekati istrinya.


    “Sayang, kamu tidak apa-apa?” tanyanya khawatir. “Ayo, duduk di sini.” Dia mendekatkan sebuah kursi agar istrinya bisa duduk.


    “Aku tidak apa-apa. Hanya kontraksi, dan sudah tidak terasa lagi.” Rasmi menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya secara perlahan.


    “Jaraknya sudah mulai berdekatan. Aku pikir sudah saatnya kita ke rumah sakit,” ucap Zach. Rasmi menggeleng pelan.


    “Belum. Jangan sekarang. Masih ada satu perayaan lagi. Aku akan baik-baik saja, sayang. Putra atau putri kita adalah anak baik yang akan menuruti permintaan mamanya.” Rasmi mengusap-usap perutnya dengan penuh rasa sayang. “Sebentar lagi, ya, Nak. Sabar, ya.”


    “Ada apa? Apa telah terjadi sesuatu?” tanya Darla yang berdiri di sisi Rasmi. Wajahnya berubah panik melihat tangan Rasmi berada di perutnya. “Apa sudah waktunya?”


    “Hanya kontraksi, Kak. Jangan khawatir begitu,” jawab Rasmi menenangkan.

__ADS_1


    “Kontraksi?” tanya Qiana yang ikut mendekati mereka. Dia melihat ke arah Rasmi. “Apa kamu sudah waktunya untuk melahirkan?”


    “Belum, Kak. Hanya kontraksi,” jawab Rasmi lagi. “Ayo, sebentar lagi mereka akan datang ke sini. Kita harus bersiap-siap.” Rasmi tertawa kecil melihat wajah khawatir ketiga orang yang berdiri di dekatnya. “Aku janji akan memberitahu kalian bila sudah tiba saatnya.”


__ADS_2