Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 160 - Pertunjukan


__ADS_3

“Sayang.” Terdengar suara Hendra pada earphone di telingaku. “Kita sudah mendapatkan semua informasi yang kita butuhkan. Kembali ke sini. Jangan katakan apa pun yang bisa membuat dia curiga. Aku mohon, cinta.” Aku hanya diam. “Darla, lakukan sesuatu.”


Dia tidak hanya merencanakan penyebaran rekaman itu, tetapi juga mendorong kedua pria itu untuk melecehkan aku? Dia ini perempuan atau bukan? Manusia atau bukan? Dia tega membiarkan kaumnya sendiri direndahkan seperti itu? Apa salahku kepadanya?


“Kita lihat saja nanti, Nora. Apakah Hendra akan lebih percaya kepadaku atau kepadamu?” balasku.


“Oke, kita lihat saja nanti. Cepat atau lambat, dia akan menjadi milikku, Zahara. Karena Tante Inggrid lebih memilih aku untuk menjadi menantunya.” Dia tertawa lalu berjalan keluar melalui pintu. Aku menatap pintu itu untuk beberapa saat. Aku memejamkan mata, lalu menghela napas panjang. Aku membukanya ketika merasakan sentuhan pada lenganku.


“Kerja yang hebat, Zahara,” puji Darla. Aku memegang tangannya dan tersenyum puas.


“Irwan,” panggilku. Pria itu menjawab. “Jangan sampai dia lolos.”


“Tidak akan.”


Aku kembali ke aula lebih dahulu, Darla menyusul. Kami tidak mau terlihat datang bersama. Aku bertemu pandang dengan Mama yang duduk pada meja yang sama dengan Nora. Aku menundukkan tubuh dan tersenyum kepadanya sebelum melihat ke arah suamiku. Aku sengaja tidak menunggu responsnya. Mama pasti masih tidak peduli kepadaku.


Hendra berdiri menyambutku. Dia meletakkan tangannya di punggung bawahku, lalu mencium pipiku. Aku tersenyum kepadanya. Kami duduk dan mengikuti acara yang masih berlangsung. Pembawa acara sedang mempersilakan satu-persatu anggota keluarga yang ingin mengucapkan nasihat kepada kedua mempelai.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Hendra khawatir. Aku mengangguk pelan.


“Kamu terlalu khawatir. Aku tahu semua tugasku dan aku tidak akan merusak rencana kita dengan terpancing emosi.” Aku tersenyum kepadanya.


“Itu baru istriku. Semuanya akan berjalan sesuai rencana. Rasmi sudah mendapatkan pengakuan Vivaldo. Kita bisa menggunakannya sebagai bukti saat melaporkan perbuatannya kepada polisi.” Hendra mendekatkan kursinya kepadaku, lalu meletakkan tangannya pada sandaran kursiku. “Qiana dan Helmut masih berusaha mencari momen yang tepat.”


Jantungku berdebar dengan cepat saat kedua pengantin menceritakan pengalaman mereka dari awal berkenalan hingga memutuskan untuk menikah. Video yang merupakan kumpulan foto kebersamaan mereka ditampilkan pada layar di kanan dan kiri atas pelaminan.

__ADS_1


“Pertunjukan dimulai.” Itu adalah sinyal dari Irwan yang menandakan rencana kedua akan dimulai.


Aku yang sedang mencuci tangan di wastafel tampil di layar, bayanganku di cermin. Nora yang berdiri di sisi kananku juga terlihat pada layar. “Zahara Aprilia.” Suara Nora terdengar jelas dan jernih memenuhi aula.


“Apa ini? Hentikan video itu!” Tentu saja hanya ada satu orang di ruangan ini yang panik melihat video tersebut. Nora bergegas berjalan menuju bagian belakang pelaminan. Beberapa orang di sekitarku bicara terhadap satu sama lain melihat reaksi wanita itu.


Suasana aula itu kemudian senyap tidak ada seorang pun yang bicara. Hanya terdengar percakapan antara aku dan Nora di toilet tadi lewat pengeras suara. Darla sengaja memasang tanda bahwa toilet wanita sedang rusak sehingga tidak ada orang yang masuk menginterupsi pembicaraan kami tadi.


Tarikan napas terkejut keluar dari mulut beberapa orang saat Nora mengakui perbuatannya. Aku melihat para wartawan mengarahkan kamera mereka ke salah satu layar. Kali ini dia tidak akan bisa lari lagi. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepadaku dan keluargaku.


“Ini tidak benar! Aku sedang dijebak.” Nora berdiri di tengah panggung khusus untuk penyanyi dan band yang mengiringinya. “Aku pasti akan menuntut Zahara atas fitnah ini. Rekaman itu adalah pencemaran nama baik.”


Dua orang laki-laki segera mendekatinya dan menjauhkan mikrofon yang dipegangnya. Mereka membawanya turun dari panggung tersebut. Pasti orang tuanya yang menyuruh mereka melakukan itu. Aku nyaris kasihan melihat kepanikan yang dia alami. Tetapi mengingat semua yang aku alami karena perbuatannya, aku menepis perasaan itu jauh-jauh dari dadaku.


“Helmut dan Qiana juga sudah menyelesaikan tugas mereka.” Irwan melaporkan lewat earphone begitu kami berada di dalam mobil. Kami mendesah lega. Aku menoleh ke arah Hendra. Dia tersenyum kepadaku.


Kami berkumpul kembali di rumah Lindsey. Televisi akhirnya menayangkan dua kejadian besar pada tempat yang berbeda mengenai pengakuan Nora dan Dicky. Mereka tidak bisa lagi menyangkal keterlibatan mereka pada kejadian yang telah merusak nama baikku, Hendra, dan keluarganya.


Qiana bahkan dengan ahlinya membuat Dicky mengaku bahwa dialah yang menjadi otak penculikan Dira di Puncak. Aku tidak peduli andai mereka masih bisa bebas dari tuduhan setelah semua orang mendengar sendiri mereka mengakui perbuatan jahat mereka. Misi kami telah tercapai.


“Oscar sudah menyerahkan semua bukti ke kantor polisi dan melaporkan perbuatan mereka. Kita tunggu kabar selanjutnya.” Hendra memasukkan ponselnya kembali ke saku jasnya.


“Kakak tidak memberikan rekaman asli pernyataan Vivaldo, ‘kan?” tanya Rasmi khawatir.


“Irwan tahu apa yang harus dia lakukan. Jangan khawatir. Bila mereka membayar polisi untuk menghilangkan semua bukti, kita masih punya rekaman yang lain.” Hendra duduk di sisiku. “Lagi pula hukuman sosial sudah cukup menyakitkan meskipun mereka tidak masuk penjara.”

__ADS_1


“Tetapi mereka bisa membayar media untuk tidak memasang berita mengenai skandal itu, Hendra. Dan jangan lupa, mereka juga bisa membayar orang untuk memberi komentar di media sosial untuk menggiring opini publik,” ucap Helmut mengingatkan. Kami terdiam mendengarnya.


“Satu hal yang aku tidak bisa terima sampai saat ini adalah Nora tega memasukkan ide gila di kepala orang sampai mereka pikir mereka berhak melecehkan dia. Itu rencana yang sangat rendah.” Darla menggeleng pelan. “Zahara bahkan tidak punya kesalahan apa pun kepadanya hingga dia tega berbuat itu. Bila dia sakit hati karena Hendra menolaknya, mengapa tidak fokus pada Hendra saja?”


“Rencananya bukan untuk menghancurkan Hendra, tetapi pernikahan mereka, sayang,” kata Gio setengah bercanda. “Hendra pasti sudah melakukan sesuatu kepadanya sampai gadis itu berpikir ada harapan pada hubungan mereka.” Edu, Zach, Helmut, dan Mason tertawa mendengarnya. “Jujurlah, kawan. Apa yang sudah kamu lakukan kepadanya di belakang istrimu?”


“Gio, kamu perlu membuka mata saat berlibur bersama kami. Apa kamu tidak melihat tatapan yang diberikan oleh para wanita di sekitar kita? Mereka menggunakan segala cara untuk bisa menarik perhatian suamiku.” Aku melingkarkan tanganku di lengan Hendra. “Dia tidak perlu memberi mereka harapan, para wanita itu sendiri yang memberikan dirinya dengan rela di bawah kakinya.”


“Wah, sayang. Kamu membangunkan singa betina tidur.” Darla tertawa kecil. Kami semua ikut tertawa bersamanya.


“Aku teringat pada satu hal.” Aku menunggu sampai teman-temanku berhenti tertawa. Mereka mengarahkan perhatian mereka kembali kepadaku. “Vivaldo pernah terlibat kasus suap, apa dia sudah bertobat atau ada indikasi pengulangan? Bagaimana dengan Dicky? Ada banyak anggota dewan yang terlibat kasus serupa. Apa mungkin dia juga melakukan hal yang sama?”


“Bisa jelaskan apa maksudmu, sayang?” tanya Hendra yang tertarik dengan pertanyaanku.


“Mereka bisa saja lolos lagi. Tetapi bila kejahatan mereka ada hubungannya dengan anggaran, aku yakin kasus itu akan ditangani dengan serius.” Aku melihat ke arah Helmut. “Aku mohon, kamu tidak terlibat dengan permainan anggaran, ‘kan, Helmut?” Aku ingin menghukum Dicky tetapi aku tidak mau menjatuhkan sahabatku juga.


“Tidak. Aku tidak serakus itu. Tetapi yang kamu katakan ada benarnya. Aku bisa membantu mencari tahu program apa yang sedang ditangani oleh komisinya. Bisa jadi dia melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Itu pembalasan yang sempurna.” Helmut mengangguk setuju. Teman-teman segera bersemangat.


“Rencana itu terdengar bagus, tetapi bagaimana kita akan melakukannya? Ini tidak akan semudah menghadiri sebuah acara lalu memprovokasi mereka.” Qiana menatap kami dengan serius.


“Apa kita akan melakukan penyamaran kemudian menyusup ke gedung parlemen atau kantor pemerintahan?” tanya Claudia antusias. “Aku ikut!”


Suasana ruangan itu mendadak ramai karena semua orang berebut menyatakan pendapat dan idenya untuk menjebak Vivaldo dan Dicky. Mulai dari rencana yang masuk akal hingga yang mustahil untuk dilakukan bahkan dalam skenario film sekalipun.


“Teman-teman.” Hendra meminta perhatian semua orang. Mereka pun terdiam. “Ini bukan rencana yang bisa melibatkan banyak orang tanpa ketahuan. Apa kalian pikir mereka tidak akan curiga melihat kita mendadak muncul di depan mereka lagi? Biar aku dan timku yang melakukannya.”

__ADS_1


__ADS_2