
Mama segera mengalihkan pertanyaan Hadi dengan mengajak kami semua ke ruang makan. Untuk saat ini, aku dan Hendra tenang. Tetapi aku tahu bahwa putra kami akan menanyakan hal itu lagi nanti. Kami hanya aman untuk sementara ini saja.
Lelah dengan lompatan emosi anak-anak sejak bangun pagi, aku tertidur di sofa. Aku hanya punya satu pelaku yang pasti memindahkan aku ke kamar. Karena saat terbangun, aku berbaring di tempat tidurku sendiri. Aku melirik jam digital. Sudah pukul lima sore.
Aku mendengar sorakan tawa anak-anak dari arah kolam renang. Ternyata Hendra juga berenang bersama mereka. Hadi dan Dira memanggilku untuk ikut bermain air bersama mereka, aku menolak. Aku tidak punya tenaga untuk naik ke kamar dan berganti pakaian.
“Minumlah. Fahri baru mencoba resep minuman yang rasanya segar sekali.” Mama mendekatkan sebuah gelas kepadaku. Aku meneguknya. Enak.
“Maaf, aku tertidur. Apakah anak-anak merepotkan Papa dan Mama?” Aku memerhatikan mereka sedang bermain lempar bola dengan Hendra.
“Cucu-cucuku tidak pernah merepotkan aku.” Mama tertawa bahagia. “Hendra kebingungan tadi. Hadi menanyakan soal pernikahan kalian lagi. Kali ini aku tidak menolongnya dan membiarkan dia menjawabnya. Jangan tanya apa jawabannya karena aku tidak akan memberitahumu.”
Aku baru saja duduk nyaman bersiap untuk mendengarkan cerita yang menarik itu, Mama malah menghentikannya begitu saja. Aku memasang wajah cemberut. “Untuk apa Mama mengatakannya jika Mama tidak berniat menceritakan semuanya dari awal sampai akhir?”
“Karena aku tidak mau kamu mencontek jawaban Hendra. Aku yakin Hadi akan bertanya kepadamu. Apa kira-kira jawabanmu nanti, ya …?” Mama menatapku penuh arti. Papa tertawa.
Entah ada acara apa, Zach datang bersama Rasmi dan Zeph sebelum jam makan malam tiba. Anak-anak senang bisa melihat sepupu mereka. Kami duduk bersama di ruang keluarga sambil berbincang santai. Mama sengaja menempatkan aku dan Hendra duduk berdampingan.
Kami sedang asyik mengobrol ketika tiba-tiba saja Dira menangis. Hendra mendekat, jadi aku membiarkan dia yang menanganinya. Mereka berebut mainan. Kebiasaan Dira memang begitu. Selalu menginginkan apa yang dipegang kakaknya. Ketika dia tidak mendapatkan apa yang dia mau, dia menangis dan berharap dengan begitu, kakaknya akan mengalah.
Tepat pada jam tujuh malam, Yuyun atau Abdi belum juga datang memberitahukan mengenai makan malam. Aku mohon diri untuk keluar dari ruangan tersebut. Ternyata ada satu menu yang belum matang karena Hendra memintanya beberapa saat setelah mereka mulai memasak.
“Ara? Nama anak anjing Kak Hendra diberi nama Ara?” ejek Zach yang baru saja keluar dari toilet.
“Diam kamu. Aku sedang pusing dan tidak ingin kamu menambah-nambah masalahku.” Aku berjalan kembali menuju ruangan di mana keluarga kami berada.
__ADS_1
“Pusing? Memangnya ada masalah apa, Kak? Cerita kepadaku.” Zach terlihat khawatir.
“Tidak ada masalah apa pun. Kamu sudah melihat sendiri bahwa semua orang sedang bahagia.” ucapku kesal. Zach meraih tanganku, lalu menggandengku masuk ke ruang khususku. “Ada apa?”
“Apa yang dikatakan Hadi benar? Kakak dan Kak Hendra akan rujuk?” tanyanya setengah berbisik.
“Rujuk? Tidak. Kami tidak membahas hal itu sama sekali. Mungkin kamu salah dengar. Lagi pula dari mana putraku mendengar kata rujuk?” Seingatku, aku tidak pernah menyebut-nyebut kata itu.
“Jadi, Kakak dan Kak Hendra tidak ada rencana menikah lagi?” tanyanya heran. “Lalu untuk apa Kak Hendra tinggal di sini bersama kalian? Apa Kakak tidak khawatir dengan apa kata orang nanti?”
“Aku sudah bilang, aku pusing. Kamu malah menambah pikiranku.” Aku berniat keluar dari ruangan itu, tetapi Zach menahan tanganku. “Ada apa lagi?”
“Apa kalian berdua punya masalah yang tidak aku ketahui?” tanya Zach, kali ini dengan nada serius. Aku mengerutkan keningku. “Kakak mencintainya, apa yang membuat Kakak takut maju untuk menyatakan perasaan Kakak kepadanya?” Ah, iya!
“Ada apa? Mengapa Kakak bersikap aneh begini?” tanya Zach curiga.
“Aku punya pertanyaan untukmu mengenai laki-laki.” Aku kembali melihat ke sekitar kami walaupun aku tahu hanya ada kami berdua di ruangan itu.
“Bisa cepat, tidak, Kak? Aku bisa mati penasaran,” ucap Zach tidak sabar.
“Sabarlah sedikit. Ini bukan pertanyaan yang mudah.” Aku menggeram pelan. Zach menunggu. “Apa-apakah laki-laki, eh, maksudku. Aduh, mengapa jadi susah sekali.” Aku menarik napas panjang. “Kamu tidak ada masalah, ‘kan, tidur bersama Rasmi? Maksudku ….”
“Kakak mau menanyakan pengalamanku di ranjang dengan istriku?” Dia membulatkan matanya. Aku segera menutup mulutnya dengan tanganku.
“Bukan. Kamu ini bisa pelan sedikit, tidak, saat bicara? Kamu membuatku semakin gugup.” Aku melihat ke sekelilingku.
__ADS_1
Dia menjauhkan diri dan menepis tanganku. “Kalau begitu cepat katakan. Aku sudah bilang, aku tidak kuat menahan rasa penasaran.”
“A-apa yang membuat laki-laki berhenti saat hampir bersatu dengan istrinya?” tanyaku dalam satu hembusan napas. Zach menatapku sesaat. Aku menghela napas, lalu mendesah pelan menenangkan diri. Itu adalah pertanyaan yang tersulit yang pernah aku ajukan seumur hidupku.
“Apa Kakak membicarakan tentang Kak Hendra?” tanya Zach. Aku mengangguk. “Kalian baru saja … dan dia tiba-tiba berhenti?” Aku kembali mengangguk. “Itu hal yang normal.”
“Apa maksudmu dengan normal?” tanyaku bingung.
“Sebelum aku menjawabnya, apa yang terjadi sehingga Kak Hendra bisa melakukannya dan Kakak mengandung Dira?” tanyanya lagi.
“Dia mabuk,” jawabku pelan. Zach memberikan reaksi seolah-olah berkata, sekarang aku mengerti! Aku tahu bahwa adikku selalu memegang semua rahasiaku dengan baik. Jadi, aku tidak perlu memberitahunya bahwa ini adalah rahasia. Dia tidak akan mengatakannya kepada siapa pun bahkan kepada istrinya sekalipun.
“Kak Hendra tidak pernah mengizinkan laki-laki mana pun menyentuh Kakak. Tentu saja kecuali aku, Papa, dan Om Adhyana. Lalu ketika Kakak memberikan diri kepada Aldo, itu menjadi kesalahan yang terbesar baginya. Bayangan kalian sedang bersama pasti bermain-main di kepalanya. Itu normal, Kak. Aku juga akan begitu andai istriku mengkhianatiku.”
“Maksud kamu, saat kami sedang bercinta, dia tidak sedang melihat aku bersamanya, tetapi aku bersama Aldo?” tanyaku mengonfirmasi.
“Tidak. Kalian tetap bersama tetapi Aldo menjadi orang ketiga. Dia seperti hantu yang tidak bersama kalian secara fisik, tetapi ada dalam pikiran Kak Hendra.” Zach menghela napas panjang. “Tetapi itu hanya dugaanku saja. Yang tahu alasan yang sebenarnya adalah Kak Hendra sendiri. Aku mengetahui alasan ini juga karena cerita dari teman-temanku yang pernah mengurus kasus perceraian.”
“Lalu bagaimana aku harus menolongnya agar dia tidak dibayang-bayangi oleh Aldo lagi?” tanyaku pelan. Zach mendekatkan wajahnya.
“Katakan, aku mencintaimu. Beres,” kata Zach santai. “Mengapa Kakak melihatku seperti itu? Aku bicara dari sisi laki-laki. Kata cinta dari wanita yang dicintai adalah obat yang paling mujarab untuk luka hati pria separah apa pun.”
“Aku yakin ini adalah pesanan Hendra. Aku tidak akan pernah menyatakan cinta lebih dahulu. Aku akan lakukan apa pun agar kami bisa kembali bersama, tetapi tidak dengan yang satu itu.” kataku dengan serius.
“Mengapa tidak? Kakak takut akan direndahkan bila menyatakan cinta lebih dahulu? Walaupun itu mungkin adalah satu-satunya cara untuk memulihkan hubungan kalian?”
__ADS_1