Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 135 - Usahanya Boleh Juga


__ADS_3

“Apa kita harus membicarakan itu?” ucapku memasang wajah memelas. Dia menatapku tanpa ekspresi. Aku benci setiap kali dia melakukannya. “Dia bilang bahwa dia mencintaiku dan akan menikahi aku bila kamu meninggalkan aku lagi.”


“Atas dasar apa dia berkata begitu?” tanya Hendra.


“Aku tidak tahu dan tidak mau tahu.” Aku membaringkan kepalaku di dadanya lagi. “Aku tidak mau membahas orang lain. Masalah kita sudah banyak, aku tidak mau menambahnya lagi.” Dadanya kembali naik turun ketika dia menarik napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan.


“Aku curiga mantanmu itu mengatakan sesuatu yang membuat orang percaya bahwa kamu dan aku tidak baik-baik saja.” Hendra kembali mengusap-usap rambutku.


“Ah, mengenai itu. Bagaimana kalau kita menontonnya? Aku juga ingin tahu apa yang dia katakan sampai orang-orang membicarakan aku di belakangku.” Mengejutkan, Hendra mengangguk setuju dengan usulku itu.


Kami duduk, lalu Hendra mengambil remote televisi. Dia membuka situs yang menayangkan berbagai video dan menemukan yang kami cari. Hm. Stasiun televisi yang menayangkan acara itu adalah milik keluarga Dicky. Apa dia ada hubungannya dengan ini? Tidak mungkin. Vivaldo dan Dicky tidak saling mengenal.


Vivaldo dengan sombongnya berbicara mengenai hubungannya denganku di masa lalu. Kemudian dia menceritakan bahwa Hendra menjebaknya sehingga aku memutuskan hubungan dan mau menerima lamaran suamiku. Bertahun-tahun tidak punya anak, aku justru hamil setelah tidur dengannya. Dia menyampaikan kecurigaannya bahwa Hadi adalah putranya.


Berita basi, jadi aku mengabaikannya. Tetapi dia berani mengatakan bahwa aku sesekali tidur dengannya tanpa sepengetahuan suamiku. Aku kesepian karena sering ditinggal sehingga mencari kepuasan dari pria lain. Saat kami bercerai, dia sedang berada di dalam penjara sehingga kami tidak bisa bersama dan aku hamil lagi dari pria yang lain. Bukti bahwa pada saat bercerai pun, aku masih mencari kepuasan di ranjang.


“Anda berkata bahwa Anda mencintai Zahara. Lalu mengapa Anda membuka aibnya di depan banyak orang?” tanya pewawancara dengan nada bingung.


“Mahendra Perkasa selalu mengutamakan nama baik keluarganya di atas segalanya. Aku hanya memanfaatkan tekanan publik agar dia melepaskan Araku.” Vivaldo melihat ke arah kamera. “Tidak ada orang lain di dunia ini yang mencintai Ara seperti aku. Bila Mahendra memiliki kekuasaan dan uang untuk menahannya, maka aku punya dukungan media untuk mendapatkannya kembali.”


Dukungan media? Dia menggunakan media untuk mendapatkan aku kembali? Apa dia tidak salah? Tidak akan ada orang yang mendukung tindakan perselingkuhan. Dia jelas-jelas mengganggu istri orang. Dukungan apa yang akan dia dapatkan? Yang terjadi justru orang-orang menghinaku dan suamiku. Tidak ada yang membahas tentang dukungan untuknya.


“Usaha dia boleh juga.” Hendra mengganti saluran televisi dan berhenti pada saluran yang memutar salah satu film anak-anak. “Tetapi dia hanya mempermalukan dirinya sendiri. Dia terus-menerus mengatakan bahwa dia mencintai kamu. Tidak satu kali pun dia berkata bahwa kamu mencintai dia juga. Kita biarkan saja dia mencari perhatian orang banyak.”

__ADS_1


Hendra memeluk tubuhku, lalu tersenyum. “Aku sudah cukup dengan mendapatkan perhatian darimu saja.” Dia mencium bibirku. Aku tertawa.


“Gombal. Kamu juga suka dengan perhatian dari anak-anak.” Aku mencubit pipinya dengan gemas.


“Aku menganggapnya sebagai bonus.” Dia menciumku sekali lagi.


Usai sarapan pada keesokan harinya, kami kembali ke Jakarta. Kami bernyanyi bersama sepanjang perjalanan ditemani lolongan panjang Ara. Kami sampai tertawa dibuatnya. Saat anak-anak tertidur, aku dan Hendra membicarakan hal-hal ringan agar dia tidak mengantuk.


Dan pemandangan yang hanya aku dengar dari teman-temanku, akhirnya aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri. Puluhan wartawan berdiri di tepi jalan menuju rumah kami. Mobil dengan label berbagai stasiun televisi dan acara berita diparkir dengan rapi di sepanjang jalan. Mereka masih bertahan demi bisa mendapatkan konfirmasi langsung dari kami?


“Kita tidak bisa tinggal di sini untuk sementara.” Hendra tidak berbelok menuju gerbang rumah kami tetapi tetap terus menyetir melewatinya. “Untung saja aku memakai mobil ini. Bila aku memakai Audi-ku, mereka pasti segera mengenalinya.”


“Kita akan tinggal di mana?” tanyaku bingung.


Melihat gedung tinggi itu aku memukul keningku sendiri. Aku lupa bahwa Hendra mempunyai sebuah apartemen. Sudah lama rasanya aku tidak mendatangi tempat ini. Kami bergantian mandi setelah membaringkan anak-anak di tempat tidur mereka.


Liando datang kemudian dengan membawa koper berisi pakaian kami, tempat tidur Ara, beberapa barang milikku, juga makan malam. Dia menanyakan apa Fahri perlu datang untuk memasakkan makanan seperti biasanya, Hendra menolak. Pekerja di rumah juga membutuhkan koki.


“Lalu siapa yang akan memasakkan makanan untuk kita?” tanyaku bingung setelah Liando pergi.


“Apartemen ini menyediakan katering. Aku akan memesan dari mereka. Masakannya sehat, jangan khawatir. Ini hanya untuk sementara. Mungkin akhir pekan ini kita sudah bisa pulang. Aku tidak yakin mereka akan bertahan lebih dari satu minggu.”


“Baiklah.”

__ADS_1


Aku memeriksa pakaian yang ada di dalam koper, lalu merapikan semua setelan milik Hendra. Dia tidak boleh mengenakan pakaian yang kusut. Aku juga merapikan seragam sekolah Hadi. Setelah selesai merapikan pakaian, aku membantu Dira untuk mandi sore. Mereka bermain bersama Ara saat aku dan Hendra duduk di sofa beristirahat.


Televisi sedang menayangkan siaran berita dan aku bersyukur tidak ada seorang pun selain Vivaldo yang berbicara mengenai kehidupan pernikahanku dan Mahendra. Keluarga dan para sahabatku tutup mulut adalah hal yang biasa. Namun orang tua Hendra masih tidak memberikan komentar adalah hal yang mengejutkan. Aku pikir mereka, atau setidaknya Mama, akan memanfaatkan situasi ini untuk memisahkan aku dari putra mereka. Ternyata tidak. Mereka juga bungkam.


“Mama, apa Papa yang akan mengantar aku ke sekolah?” tanya Hadi saat aku memeriksa kotak bekal makanannya dari katering apartemen pada Senin pagi.


“Tidak, Nak. Pak Liando akan menjemputmu. Dia sudah di tempat parkir,” jawab Hendra yang baru keluar dari kamar. Dia terlihat sangat tampan dengan setelan kerjanya. Aku tersenyum saat dia mencium bibirku, kemudian dia mencium kepala anak-anak.


“Papa mau berangkat sekarang?” tanya Hadi. Aku membersihkan tangan Dira dengan tisu basah sebelum Hendra pamit kepadanya.


“Iya. Papa ada rapat penting pagi ini. Kamu baik-baik di sekolah, ya.” Hendra membelai kepala putra kami. Dia segera mengiyakan nasihat papanya. Seperti dugaanku, Hendra mengangkat Dira dari kursi khususnya sambil berjalan menuju pintu.


“Semoga rapat hari ini berjalan lancar.” Aku mengikutinya.


“Pasti. Papa pergi, ya, sayang. Baik-baik dengan Mama di sini.” Hendra mencium pipi Dira lalu memberikannya kepadaku. “Sampai nanti, Hadi.” Kami melambaikan tangan kepadanya. Dan pintu pun tertutup.


Liando datang kemudian sambil membawa beberapa barang pesananku. Hadi pergi bersamanya, kami bertiga menatap apartemen yang terasa kosong tersebut. Aku memberikan boneka kesukaan Dira yang segera diterimanya dengan sorakan girang, lalu merapikan bonekanya yang lain di kamarnya. Buku-buku yang belum dibaca untuk pengantar tidur mereka juga aku letakkan di ranjang mereka masing-masing.


Aku menemani Dira dan Ara bermain sampai gadis kecilku tertidur, barulah aku bisa melanjutkan bab buku baruku. Suasana tempat tinggal tanpa kehadiran Yuyun dan rekan-rekannya memang berbeda. Aku sedikit merasa kesepian di sini. Tetapi aku justru lebih lancar menulis.


Pintu apartemen diketuk, aku membukanya dan menerima makanan yang diantar oleh katering. Aku sengaja meminta mereka untuk tidak membunyikan bel agar Dira tidak terbangun. Saat aku akan menutup pintu, elevator terbuka dan Hadi bersama Liando keluar dari sana. Aku tersenyum. Namun saat melihat wajah putraku, aku mengerutkan kening.


“Mamaaa!!!” seru Hadi yang segera menghamburkan tubuhnya dalam pelukanku. Aku menatap Liando dengan bingung. Putraku menangis meraung-raung. Apa yang terjadi?

__ADS_1


__ADS_2