Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 127 - Harga Cinta Kita


__ADS_3

Jumlah yang Mama tawarkan itu tidak main-main. Aku bisa saja mengambilnya, lalu menggunakan uang sebanyak itu untuk memenangkan hati Hendra kembali. Tetapi aku bukan hanya tidak ingin memberi harga pada diriku sendiri. Aku tidak akan memberi harga pada cinta Hendra untukku.


Dia terlalu berharga daripada jumlah uang sebanyak apa pun yang ada di dunia ini. Aku tidak mau melepasnya lagi walau hanya sesaat. Aku menolak tawaran kedua Mama tersebut. Dia menatapku dalam diam. Aku tahu sesuatu sedang berkecamuk di dalam kepalanya. Mama sedang memikirkan apa lagi yang bisa dia tawarkan untuk menggoyahkan pendirianku.


“Kamu tidak mau melepaskannya setelah mendengar angka itu. Kamu pasti berpikir bahwa kamu bisa mendapatkan lebih banyak daripada yang aku tawarkan jika kamu tetap menjadi istrinya. Benar, ‘kan?” Mama tertawa kecil. “Perempuan licik. Aku menyesal pernah memperlakukanmu seperti putriku sendiri. Kamu membalasku dengan cara kotor begini.


“Setelah kamu mencoreng nama baik keluarga kami dengan tidur bersama pria lain, kamu tetap bisa memegang erat putraku sampai dia tidak mau lepas darimu. Ilmu sihir apa yang kamu gunakan? Tetapi kita lihat saja berapa lama kamu akan bertahan dengan sikap polos penuh sandiwaramu itu. Aku berharap kamu akan dihukum berat oleh Tuhan karena sudah merusak kehidupan putraku.


“Aku berdoa semoga kamu mendapatkan ganjaran atas kejahatanmu memisahkan ibu dari anaknya. Bila itu satu-satunya cara untuk membuatmu melepaskan cengkeramanmu atas putraku, maka aku akan menggunakan seluruh waktuku untuk mengutukmu dan anak-anakmu.”


“Tante! Cukup.” Tubuhku bergetar dengan hebat. “Iya, aku perempuan kotor dan hina. Aku sama sekali tidak sesuci Tante yang tidak pernah berbuat kesalahan dan dosa. Tetapi cukup kutuk aku saja. Jangan anak-anakku. Mereka tidak melakukan kesalahan apa pun kepada Tante. Kutuk aku sepuas Tante. Mati pun aku rela. Tolong, jangan anak-anakku.” Mama mendengus pelan.


“Semoga saja aku berumur panjang. Aku mau melihatmu menderita sama sepertiku, ketika anak-anakmu nanti direbut darimu oleh pasangan mereka yang melempar kotoran ke wajahmu. Pada saat itu terjadi, ingatlah rasa sakit itu. Hal yang sama telah kamu torehkan di dadaku.” Mama mengambil kertas yang ada di atas meja dan memasukkan ke tasnya.


“Hendra pasti akan meninggalkanmu setelah dia tahu bahwa Nora jauh lebih baik darimu. Tidak ada laki-laki yang bisa bertahan hidup dengan wanita penuh kepalsuan. Suatu hari topengmu pasti akan terbuka juga. Aku akan ada di sana untuk menyembuhkan putraku yang kamu lukai lagi. Saat hal itu terjadi, dia tidak akan kembali kepadamu.” Mama berdiri dan pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.


Kalau bukan karena ada anak-anak di sini, aku pasti sudah menangis seperti orang yang kehilangan akal. Begitu berdosakah aku sehingga pantas mendapatkan kutukan dari ibu mertuaku sendiri? Aku sungguh-sungguh tidak bermaksud menyakitinya atau memisahkannya dari putranya. Kami ingin memperbaiki hubungan kami dengan mereka.

__ADS_1


Aku tahu bahwa tidur dengan laki-laki yang bukan suamiku adalah dosa, tetapi apakah aku tidak bisa dimaafkan lagi? Begitu besarkah dosaku sehingga aku tidak pantas mendapatkan kesempatan kedua dan memperbaiki diri? Aku tidak bergaul dengan laki-laki mana pun setelah kejadian itu.


“Ma, aku mau ke toilet.” Hadi mengguncang-guncang tanganku membuyarkan lamunanku.


“Ah, iya, sayang.” Aku melihat ke sekeliling kami. Kami masih berada di kafe. “Sebentar, ya.”


Aku merapikan penampilan Dira, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu menggendongnya. Setelah menyandangkan tas ke bahu, aku menggandeng tangan Hadi. Aku membayar tagihan kami di kasir, kemudian menuju toilet yang ada di bagian belakang kafe.


Setelah menolong Hadi, Dira juga ingin buang air. Hanya ada kami bertiga, jadi kami bisa santai dan tidak terburu-buru. Anak-anak bermain air saat mencuci tangan mereka. Tidak Hadi maupun Dira yang peduli dengan laranganku. Aku mencium Dira dengan gemas yang malah tertawa melihat dress imutnya basah karena ulahnya.


Aku terpaksa mengganti pakaiannya dahulu sebelum keluar dari toilet. Drama yang sering terjadi saat kami menggunakan toilet umum. Aku menciumnya dan Hadi sampai mereka tertawa bahagia saat keluar dari kafe tersebut. Langkahku terhenti melihat mobil yang berada di depan kami.


“Liando,” kataku seraya melihat ke tempat parkir.


“Aku sudah memintanya untuk pulang lebih dahulu.” Dia masih menunggu. Aku pun menurut dan duduk di samping Hadi.


Kafin mengendarai mobil menjauh dari kafe setelah Hendra duduk dan menutup pintu. Belum jam pulang kerja, jadi suasana lalu lintas belum padat. Hadi dan Dira berebutan bicara selama dalam perjalanan, mencegahku untuk tenggelam dalam pikiranku sendiri. Aku sangat mensyukuri hal itu.

__ADS_1


Yuyun menjaga Hadi dan Dira setelah kami memandikan mereka. Hendra sedang mandi saat aku masuk ke kamar. Bagaimana dia bisa tahu di mana aku berada? Apa dia sudah lama berada di sana menungguku dan anak-anak? Apa dia diam-diam membayar orang untuk mengikutiku ke mana pun aku pergi? Atau Liando yang melapor kepadanya?


“Mandilah.” Hendra keluar dari kamar mandi, kemudian berjalan menuju ruang pakaian. Aku menurut. Aku memanfaatkan kesempatan berada di ruangan itu seorang diri dengan menangis sepuasnya. Sebenarnya aku sudah lelah dengan kondisi ini. Aku ingin memaafkan diriku sendiri dan berharap orang-orang terdekatku juga begitu. Aku lelah harus membahas masa lalu lagi.


Hendra sedang duduk di tepi tempat tidur saat aku keluar dari kamar mandi. Aku berpakaian sebelum duduk di sisinya. Dia memegang tanganku yang ada di atas pangkuanku. Tanpa mengatakan apa pun, dia hanya mencium pelipisku. Air mataku kembali mendesak keluar.


“Mengapa kamu menemui Mama?” tanya Hendra pelan. Aku terisak. Oh, Tuhan. Kalimat itu tidak berhenti terngiang di kepalaku. Setiap kalimat yang ditujukan Mama kepadaku dan anak-anak. “Aku sudah katakan, sekarang belum waktunya. Kamu seharusnya menolak, Za.”


Bagaimana aku bisa menolaknya? Walaupun sedikit, aku berharap bahwa kami akan bisa bicara baik-baik mengenai kesalahpahaman di antara kami. Tetapi aku salah membaca situasi. “Maafkan aku.” Aku menundukkan kepalaku.


“Apakah aku saja belum cukup bagimu? Apa kamu harus mendapatkan cinta dari mereka juga?” tanyanya. Keluarganya adalah keluargaku juga. Aku ingin kami bisa bersama lagi seperti dahulu. Sebelum segalanya hancur karena kejadian pada malam itu.


“Tolong, jangan marahi aku lagi. Aku tahu aku salah. Aku tidak akan melakukannya lagi,” pintaku. Dia mendesah pelan. Aku merasakan tangannya di wajahku, kemudian tangannya yang lain melingkari pundakku. Dia membawaku ke dalam pelukannya.


Aku benar-benar menyesal telah menyakiti suamiku. Seandainya saja aku bisa mengulang waktu, aku tidak akan mengizinkan hal itu terjadi. Aku tidak akan membiarkan Aldo memanfaatkan kondisiku yang sedang rapuh dan bingung. Namun aku tidak bisa kembali ke masa lalu.


“Untuk beberapa hari ke depan, sebaiknya kamu fokus menyiapkan acara ulang tahun Dira. Aku mau dia juga mendapatkan perhatian yang sama seperti kakaknya. Lalu jangan lupa berkemas, kita akan pergi berlibur pada hari Senin.” Kalimat terakhirnya itu berhasil mengusir rasa sedihku. Aku mengangkat wajah agar bisa menatapnya.

__ADS_1


“Kita akan berlibur ke mana?” tanyaku penuh harap. Dia tertawa.


“Rahasia.”


__ADS_2