Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 107 - Satu-satunya Harapan


__ADS_3

~Hendra~


Aku melihat Za masuk ke rumah dan menunggu sampai dia tidak akan bisa mendengar kami sebelum bicara dengan perempuan itu. Dia sudah berhari-hari menggangguku dengan meneleponku. Karena itu nomornya sudah aku masukkan daftar hitam agar automatis ditolak oleh sistem ponselku.


Tidak bisa lagi menghubungiku lewat telepon, dia nekat datang menemuiku langsung? Apa yang dilakukan Oscar dan Zach? Mengapa mereka tidak bisa memberikan pemahaman yang benar agar tidak ada yang berani mempertanyakan keputusanku?


“Kamu tahu bahwa aku bisa menghancurkan hidupmu jika kamu terus menantangku seperti ini. Pergi dari tempat ini selagi aku masih bisa menoleransi sikapmu.” Dia sudah mengabdi begitu lama, hanya itu yang membuatku sedikit menghargainya sebagai manusia.


“Saya berjanji tidak akan melakukan itu lagi, Pak. Tidak akan ada lagi perhatian berlebihan atau menggoda Bapak. Saya benar-benar minta maaf tetapi izinkan saya tetap bekerja untuk Bapak,” pintanya lagi. Dia bahkan sampai berlutut di depanku.


“Aku akan menghubungi polisi.” Aku melewatinya dan berjalan mendekati pintu.


“Tidak, Pak! Tunggu. Baik, baik. Saya akan pergi dari sini. Tapi saya mohon, pertimbangkan lagi permintaan saya. Tidak akan ada orang yang bisa bekerja sebaik saya, Bapak tahu itu. Hanya saya yang tahu bagaimana bekerja dengan ritme yang Bapak inginkan.” Dia masih saja berusaha untuk membujukku. Aku membalikkan badan dan menatapnya dengan serius.


“Kamu pikir, kamu tidak terganti hanya karena kamu telah bekerja untukku selama tujuh tahun? Kamu bukan istriku, Sherry. Kamu hanya seorang sekretaris.” Dia terisak, aku tidak peduli. Aku masuk ke rumah dan menutup pintunya kembali.


Kejadian itu bermain kembali di dalam kepalaku saat memeluk Za, mencoba untuk menenangkannya. Ini semua salahku yang tidak berhati-hati. Seharusnya aku langsung mengunci pintu di mana putriku berada, bukan mengandalkan kunci sentral pada mobil. Kelemahan itu dimanfaatkan para penculik itu dalam aksi mereka. Sial.


Aku punya terlalu banyak musuh. Mungkinkah salah satu dari mereka yang melakukan ini? Melihat tekad Sherry tadi, mungkinkah dia yang merencanakan ini? Dia mengenal begitu banyak orang yang punya duit dan kekuasaan setelah bertahun-tahun bekerja untukku. Bisa saja salah satu dari mereka adalah musuh dalam selimut.


Kepala bagian IT sudah memastikan bahwa tidak ada satu pun dari anak buahnya yang berhubungan dengan Sherry setelah dia resmi dipecat. Tidak ada komunikasi dalam bentuk apa pun, maka dia tidak mungkin mendapatkan bantuan dari salah satu IT terbaikku.


Atau jangan-jangan ini ulah Aldo? Dia telah bebas setahun yang lalu dari penjara. Mirisnya, dia bisa kembali bekerja di tempatnya semula. Tetapi aku tidak pedulikan itu. Dia sudah merasakan tidak enaknya hidup dalam penjara. Dan aku memastikan bahwa dia mendapatkan apa yang harus dia dapatkan selama tiga tahun dalam kurungan. Uang selalu bisa aku andalkan.


Dia masih membayar orang untuk mengikuti istriku dan mengamatinya dari jauh. Apa yang dia inginkan? Dia telah mendapatkan begitu banyak kesempatan dahulu untuk bisa memiliki Za, tetapi dia sia-siakan. Lalu sekarang dia masih berusaha untuk mendapatkannya kembali? Apa sebenarnya yang dia harapkan dari istriku? Apa ini artinya sudah saatnya aku dan Za kembali bersama?

__ADS_1


Aldo telah mencoba dua kali bicara dengan Za saat dia sedang berada di luar rumah dengan anak-anak. Tentu saja wanitaku segera menghindar dan menjauh darinya. Sejak perceraian kami, aku membayar orang untuk mengikutinya ke mana pun dan melaporkannya kepadaku. Aku tidak percaya lagi kepadanya karena itu aku ingin tahu apa dia menjaga dirinya dengan baik di luar sana atau mencari cinta yang baru.


Tidak. Belum saatnya kami kembali untuk bersama. Za tidak akan kuat menghadapi begitu banyak persoalan yang telah menanti kami di depan. Papa dan Mama juga masih sangat membencinya dan berusaha untuk menikahkan aku dengan wanita lain. Aku harus menunggu.


Nora. Apa mungkin wanita itu yang menyuruh orang untuk menculik Dira? Keluarganya kaya raya, membayar satu komplotan untuk melakukan kejahatan tidaklah sulit. Meskipun nama keluarga mereka bersih, aku pernah mendengar desas-desus tidak enak mengenai cara mereka menyelesaikan sengketa dengan karyawan yang melakukan mogok kerja.


“Apa menurutmu dia tidak bertingkah aneh?” kata Za sambil mengamati tingkah Ara.


Awalnya aku skeptis bahwa anak anjing yang belum terlatih ini akan bisa membantu kami mencari Dira atau setidaknya menemukan jejak mobil yang mereka gunakan tadi. Tetapi melihatnya bisa mengikuti bau putriku, mungkin dia adalah satu-satunya harapan kami.


Setelah meminta pengurus vila untuk menjaga putraku yang sudah tidur, aku segera mengajak Za untuk masuk ke mobil. Dia ragu meninggalkan putra kami sendirian, tetapi aku berhasil meyakinkan dia. Kami tidak bisa membuang waktu. Bisa saja mereka pergi dan pindah ke lokasi baru. Dira tidak bisa berlama-lama bersama orang asing.


Aku kembali ke jalan yang tadi kami lalui dan Irwan menolongku memilih jalan yang tidak terpantau CCTV tadi. Ara bersikap tenang sambil mengendus-endus udara. Aku mengendarai mobil selambat mungkin dan membuka semua jendela.


“Sepertinya cara ini tidak berhasil,” kata Za yang menatap keluar jendela dengan khawatir. Aku meraih tangannya dan tersenyum kepadanya.


“Belum saatnya untuk menyerah.” Aku tidak hanya meyakinkannya, tetapi diriku juga.


“Satu ruas jalan lagi, Hendra. Semoga kali ini kita beruntung,” kata Irwan lewat pengeras suara ponselku. “Mobil mereka belum juga keluar dari titik buta. Mereka masih ada di sekitar sana.”


“Baik.” Hal itu memberiku sedikit harapan.


“Ingat, jangan bertindak sebelum orang-orangku datang. Kamu tidak boleh melawan mereka sendirian. Siapa tahu ada yang membawa senjata.”


“Oh, Tuhan.” Za menutup mulut dengan kedua tangannya.

__ADS_1


“Hanya dugaanku, Nyonya Mahendra. Aku sangat berharap bahwa aku salah. Tetapi tidak ada salahnya bila kita berjaga-jaga,” kata Irwan lagi.


“Aku bukan Nyonya Mahendra lagi. Panggil aku Zahara saja.” Za menatapku dengan bingung. Ara menggonggong mendengar nama itu.


“Bukan Nyonya Mahendra? Tapi Hendra bilang,” ucap Irwan dengan nada bingung.


“Fokus, Irwan. Kami sudah memasuki ruas jalan terakhir. Mobil mereka belum tertangkap CCTV, ‘kan?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.


Ara tidak berhenti menggonggong. Aku dan Za saling bertukar pandang. Jadi, salakannya tadi bukan karena mendengar namanya disebut? Aku menepikan mobil. Untung saja aku memasang rantai pada kalung di lehernya sehingga dia tidak bisa melompat dari jendela. Ara berusaha menarikku agar mengizinkan dia pergi. Aku meraihnya dan berusaha untuk menenangkannya.


“Ada apa, Hendra? Kalian berhenti. Apa anak anjing itu menemukannya?” tanya Irwan. Dia kemudian terdengar memberi perintah kepada seseorang sambil menyebut sebuah alamat.


“Semoga saja dia menemukannya. Dia juga bersikap begini saat memaksa masuk ke mobil karena mencium bau Dira yang ada di kursi bayinya.” Aku mengelus-elus kepala Ara. Terdengar bunyi mesin mobil tidak jauh di belakang dan depanku. Mereka bergegas memadamkan lampu dan mesin mobil. Oke. Aku tidak sendirian. Kami bisa melakukan ini.


“Ayo, Hendra. Kita harus cepat. Aku mengkhawatirkan Dira.” Za mengguncang-guncang tanganku.


“Kamu tetap di dalam mobil.” Dia ingin menolak tetapi aku segera memberi sinyal agar dia tidak memotong ucapanku. “Aku tidak bisa kehilangan kalian berdua sekaligus. Seperti kata Irwan, mereka bisa saja memiliki senjata. Tolong, tetaplah di dalam mobil. Aku pasti akan membawa putri kita.”


“Baiklah.” Dia mengatakannya dengan berat. Dia menyentuh tanganku. “Kamu juga harus berhati-hati. Aku tidak bisa kehilanganmu. Tolong, jaga dirimu.”


“Aku janji.” Aku meminta Ara untuk tidak menggonggong, entah dia mengerti atau tidak, lalu membuka pintu mobil. Tetapi sebelum aku keluar, aku kembali menoleh ke arah Za. Wajahnya sudah bersimbah air mata.


Aku tidak tahu apa aku akan bisa melihatnya lagi nanti. Jujur saja, aku ketakutan setengah mati. Jadi, andai ini adalah kesempatan terakhir kami untuk bertemu, aku ingin pergi dalam keadaan damai. Aku membingkai leher belakangnya dengan tanganku, lalu mencium bibirnya sepuasku.


Aku sangat mencintaimu, Za.

__ADS_1


__ADS_2