
“Kakak!” Dira ingin turun dari sofa, aku menahannya. Hadi sudah bisa menaiki tangga sendiri menuju kamarnya, dia belum bisa. “Kakak, Ma. Kakak!”
“Iya, kita susul Kakak, ya. Tapi mama letakkan sebentar tablet mama.” Aku menarik napas panjang sebelum mengarahkan layar tablet kepadaku. “Aku matikan, ya. Aku perlu bicara dengan mereka.”
“Baik. Terima kasih, Za. Maafkan kesulitan yang aku sebabkan.”
“Bukan hanya salahmu. Ini kesalahanku juga. Seharusnya kita menunggu sampai anak-anak bangun, lalu kamu pamit pulang. Keadaannya tidak akan seperti ini jika saja aku ingat melakukan hal itu.” Aku mendesah pelan. “Sampai nanti.”
Hadi tidak mau melihat atau bicara kepadaku. Dira juga meniru sikap kakaknya. Mereka berbaring bersama di tempat tidur putraku. Sesekali aku mendengar isakan pria muda itu. Aku hanya bisa menarik napas panjang menenangkan diriku sendiri.
Setelah mereka tidur pulas, aku menggendong Dira dan membaringkannya di tempat tidurnya sendiri. Untuk pertama kalinya, mereka tidur tanpa membersihkan diri dahulu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak mau mendengarkan aku.
Ponselku yang ada di atas nakas bergetar, aku mendekatinya dan membaca nama pada layar. Aku menghela napas panjang sebelum menjawabnya. “Ya, Hendra.”
“Apakah anak-anak sudah tidur?” tanyanya khawatir.
“Iya.” Aku duduk di tepi tempat tidur.
“Inilah yang aku takutkan dengan datang menemui mereka sekarang.” katanya pelan.
“Keadaan akan lebih mudah seandainya saja kamu datang saat mereka masih kecil. Mereka akan terbiasa dengan ritme ini selama bertahun-tahun sebelumnya, jadi tidak akan ada drama seperti ini.” Penyesalan memang selalu datang terlambat.
“Ara juga bertingkah sama. Dia melolong sambil mencakar-cakar pintu ingin kembali ke rumah. Dia baru saja tidur setelah kelelahan sendiri.” Hendra mendesah pelan. “Semoga saja keadaan mereka akan lebih baik besok.”
__ADS_1
“Semoga. Ini pertama kalinya mereka tidak mau mendengarkan aku sama sekali.” Aku melihat ke arah jam digital di atas nakas. “Aku harus tidur sekarang. Aku membutuhkan banyak tenaga untuk menghadapi mereka besok.”
“Baik. Selamat tidur.” Setelah membalas ucapan salamnya, aku membersihkan diri di kamar mandi, lalu beristirahat. Aku membutuhkan waktu agak lama untuk tertidur. Kepalaku tidak berhenti memikirkan apa yang sebaiknya aku lakukan untuk membujuk mereka besok.
Kebiasaan pagiku masih terulang. Aku bangun lebih siang dari anak-anak. Suasana pagi itu sangat sepi, jadi aku bergegas melakukan ritual pagi lalu menuju kamar mereka. Dira tidak ada di kamarnya, aku menuju kamar Hadi. Mereka sedang berbaring bersama di tempat tidur.
“Selamat pagi, Hadi, Dira!” sapaku dengan riang. Mereka hanya diam. Aku duduk di tempat tidur, mereka serentak melihat ke arah lain. Oke. Pagi ini aku harus banyak bersabar.
“Ayo, bersiap ke sekolah, Nak.” Aku menyentuh punggung Hadi. Dia masih memberiku sikap diamnya. “Teman-teman kamu pasti sudah mencari-carimu untuk bermain bersama. Gurumu juga pasti rindu melihat murid cerdasnya yang selalu menjadi yang pertama menjawab pertanyaannya.” Dia masih diam.
“Sayang, kalau kamu tidur terus, kamu bisa terlambat ke sekolah.” Aku berdiri dan berpindah duduk di tepi tempat tidur yang mereka hadapi. Mereka serentak membalikkan badan menghindariku. Aku menarik napas panjang. “Jika kamu bersikap seperti ini terus, mama akan bilang sama Papa supaya kita tidak berlibur bersama bulan depan.” Dia masih diam. Apa ancamanku tidak manjur?
“Mama tidak main-main, lo. Mama akan menelepon Papa dan membatalkan rencana berlibur bersama kita pada bulan depan,” ucapku lagi. Dia masih diam. “Ya, sudah. Mama telepon Nenek saja. Biar Nenek yang memandikan kamu dan mengantar ke sekolah.” Dia tetap diam.
Aku menahan diri sekuat tenaga ketika menggendong Hadi dari tempat tidur menuju kamar mandinya. Tubuhku basah kuyup setelah selesai memandikannya. Dia memberontak dan menolak untuk mengenakan pakaiannya, aku memanggil Yuyun untuk membantuku.
Meskipun berhasil memakaikan seragam sekolahnya, aku tidak bisa memaksa Hadi makan. Dengan perut kosong, aku tidak tega memaksanya diantar ke sekolah. Akhirnya, aku hanya bisa duduk diam di lantai dengan Hadi menangis memanggil-manggil papanya.
“Ada apa, Ara?” tanya Mama yang baru saja sampai. Aku masih duduk di lantai dengan putraku berbaring sesenggukan di lantai, tidak jauh dariku.
“Hadi, mengapa kamu malah tidur di sini?” Papa mendekati cucunya yang keras kepala itu.
“Kakek!” Hadi bangun dan memeluk Papa. “Aku mau bertemu Papa. Aku mau tinggal bersama Papa. Bawa aku menemui Papa.” Kedua orang tuaku menatapku dengan bingung.
__ADS_1
“Minggu lalu Hendra datang dan mengajak anak-anak berlibur. Aku ikut karena Dira masih kecil. Kami baru kembali dari Puncak kemarin. Hendra kembali ke apartemennya dan anak-anak ingin ayah mereka tinggal di sini bersama kami.” Aku mendesah pelan.
“Apa kalian sudah memberitahu itu kepada anak-anak sebelum berlibur?” tanya Mama pelan. Aku menatapnya dengan bingung. “Apa kalian sudah katakan dari awal bahwa kalian hanya berlibur bersama untuk satu minggu dan bukan tinggal bersama kepada anak-anak?” Aku diam.
Mama mendesah pelan. “Hal sesederhana itu pun lupa kamu sampaikan? Apa Hadi tidak pernah menyinggung itu selama seminggu kalian bersama? Apa kalian menjawab pertanyaannya dengan benar?” Aku menundukkan kepalaku.
“Ara, ini bukan hal baru bagimu. Mengapa kamu tidak mengatakan hal sepenting itu kepada Hadi dan Dira?” tanya Mama tidak percaya. “Apa yang membuat kamu tidak konsentrasi begitu? Biasanya kamu bisa berkomunikasi dengan baik dengan anak-anakmu.”
“Kamu masih bertanya, Ma? Dia sudah lima tahun tidak bertemu dengan pria yang dicintainya. Wajar saja dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Dua tahun tidak bertemu saja mereka berhasil menambah anak. Apalagi tiga tahun. Jangan-jangan sudah ada cucu keempatmu di perutnya.” Papa menatap Mama penuh arti. Aku melihat Papa tidak percaya.
“Papa!” Aku menatapnya sambil melirik ke arah Hadi. Apa Papa tidak sadar bahwa ada anak kecil di antara kami? “Tidak akan ada cucu keempat.”
“Ya, sudah. Segera hubungi Hendra.” Nenek melihat ke sekeliling kami. “Di mana Dira?”
“Sudah tidur di kamarnya setelah lelah menangis,” jawabku pelan. Mama kali ini melotot.
“Kamu sudah berapa lama membiarkan anak-anak bersikap seperti ini? Ara?” Mama menatapku tidak percaya. Aku segera berdiri lalu mengambil ponselku yang ada di atas meja.
“Aku akan menghubungi Hendra.” Aku mencari nomor laki-laki sumber masalah itu, lalu menunggu sampai dia menjawab panggilanku.
“Halo,” sapanya dengan suara dinginnya. Wah. Nada suara menjengkelkannya itu kembali. Dia sudah tidak khawatir lagi dengan anak-anaknya?
“Kemarikan.” Mama mengulurkan tangannya. Aku menelan ludah melihat ekspresi wajah Mama. Dia segera meletakkan ponsel itu di dekat telinganya. “Hendra, segera datang ke sini atau aku akan menyeretmu dari ruang kerjamu itu.” Mama berhenti sesaat. Sepertinya Hendra sedang bicara.
__ADS_1
“Tidak ada tapi-tapian. Anak-anakmu lebih penting daripada rapat apa pun. Jika dalam waktu satu jam kamu tidak sampai juga, aku akan mengirim Liando dan Sakti untuk menyeretmu ke sini!”