
Dia yang mengakhiri pernikahan kami, lalu aku yang mendapat tugas untuk menentukan kembali atau tidaknya kami bersama? Egois sekali. Kalau dia tidak mau kami kembali bersama lagi, aku juga. Lihat saja siapa yang bisa bertahan nanti saat kami berpisah lagi begitu kembali ke Jakarta.
Aku cepat-cepat menghabiskan cokelat bagianku dan meletakkan mug kosong itu ke wastafel. Aku mengucapkan selamat malam seadanya sebelum masuk ke kamar. Hendra membalas atau tidak, aku tidak peduli. Aku menutup pintu kamar dan segera berbaring tidur. Bahkan tanpa membersihkan wajah dan gigiku lebih dahulu. Aku kesal.
Bangun pada pagi harinya, aku ingin menangis karena anak-anak telah melupakan aku sepenuhnya. Mereka tidak lagi masuk ke kamar untuk membangunkan aku seperti biasanya. Suara tawa bahagia mereka diikuti dengan salakan anak anjing jelek itu semakin membuatku kesal. Aku tidak peduli bila aku dicap sebagai ibu yang egois, tetapi aku hanya mau anak-anakku bahagia saat bersamaku!
“Selamat pagi, Mama!” sapa Hadi seadanya. Aku tidak suka dengan sapaan jenis itu, maka aku mendekatinya, memeluknya, lalu menciumnya habis-habisan. Dia tertawa bahagia.
“Mama! Mama! Kakak!” Tentu saja Dira juga tidak mau diabaikan begitu saja. Aku pun memeluknya dan mencium pipinya sepuasku.
“Ayo, Pa. Mengapa Papa hanya diam saja?” Hadi mendorong tubuh Hendra agar mendekat. Aku berhenti tertawa dan kami saling bertatapan dengan canggung. “Sini, Pa.” Hadi memelukku lalu menarik tangan papanya agar meniru apa yang dia lakukan.
Hendra tidak menolak lagi. Dia memeluk kami bertiga. Aku menahan air mata yang mendesak untuk keluar. Yang segera runtuh saat merasakan bibirnya di keningku. Tindakan spontanku tadi malah memberi hasil yang berada di luar dugaanku. Ya, Tuhan. Bisakah hentikan waktu untuk satu hari saja?
Usai sarapan bersama, hari itu Hendra membawa kami ke tempat wisata selanjutnya. Aku membaca nama tempat yang kami tuju. Seperti nama merek minuman yoghurt. Hendra menggendong Dira, sedangkan aku menggandeng tangan Hadi. Setelah Hendra membeli tiket, kami masuk.
Tempat itu sangat indah, bersih, dan udaranya segar sekali. Karena hari ini adalah hari Jumat, tidak banyak pengunjung di tempat itu. Hendra mempersilakan aku dan Hadi berjalan lebih dahulu. Kami menuruni tangga kemudian bertemu dengan jembatan yang besar untuk menyeberangi sungai.
Hadi bersorak senang dan sedikit menarik tanganku untuk mendekati jembatan tersebut. Aku ikut tertawa dan menurutinya. Aku mengambil dua langkah besar, jembatan itu bergoyang. Jantungku berdebar dengan cepat dan bulu kudukku meremang. Apa ini? Aku segera berpegangan pada besi yang ada di sebelah kiriku.
“Ada apa, Ma? Ayo, kita jalan,” ajak Hadi. Aku melihatnya dengan kecut. Dia tidak takut merasakan jembatannya bergoyang?
“Ada apa, Za?” Aku mendengar Hendra bicara di belakangku. Dia mendekat. Kayu yang aku injak serasa berguncang hebat. Aku berpegangan erat dengan kedua tanganku. “Jangan bilang kamu takut.” Kalau bukan karena jantungku berdebar keras memekakkan telingaku, dengan senang hati aku akan menarik-narik ujung bibirnya yang sedang tersenyum puas itu.
__ADS_1
“Ma, ayo. Jembatannya aman dan kuat. Mama jangan takut.” Hadi memegang tanganku. “Mama bisa berpegangan padaku.”
“Ma-mama tidak takut. Mama ha-hanya sedikit pusing.” Aku berusaha memberanikan diri. Aku melepas peganganku dan kembali menggandeng tangan Hadi. Tetapi tangan kiriku tetap berpegangan pada besi jembatan. Hadi tersenyum dan kami kembali melangkah. Hendra menghentakkan kakinya di dekatku dan pijakanku kembali goyah.
“Hendraaa …! Hendra, apa yang kamu lakukan?! Aku bisa jatuh! Jembatan ini sudah rapuh. Aku pasti jatuh ke sungai yang deras itu. Aku pasti mati. Hentikan! Hendra, hentikaan …! Kurang ajar kamu! Aku akan membunuhmu! Aku akan menghantuimu seumur hidup kalau aku mati!” Bukannya menolongku, dia malah tertawa terbahak-bahak. Tamatlah riwayatku.
“Ini hiburan yang sangat menyenangkan.” Aku merasakan sebuah tangan yang besar melingkari tubuhku. Tetapi aku tidak melepaskan peganganku pada besi jembatan tersebut. “Lepaskan peganganmu. Aku akan menggendongmu.”
“Tidak mau! Kamu pasti merencanakan ini semua. Kamu ingin aku mati. Iya, ‘kan?” Aku sama sekali tidak berani membuka mataku karena ketakutan. Oh, Tuhan. Mengapa jembatan ini tidak berhenti bergoyang? Aku bisa jatuh dan mati terkena batu besar di sungai.
“Lepaskan peganganmu dan naik ke punggungku. Aku tidak akan mengatakannya lagi, Za. Ini kesempatan terakhirmu,” katanya membuatku semakin takut ditinggalkan di jembatan rusak ini. Aku membuka mataku. Dia memberikan punggungnya kepadaku. Aku cepat-cepat melingkarkan kedua tanganku di lehernya dan mengaitkan kakiku di tubuhnya.
“Mama!” ucap Dira senang. Aku tidak bisa membalasnya. Aku menutup mata dan merasakan Hendra menegakkan tubuhnya dan mulai berjalan. Jantungku tidak berhenti berdebar. Bahkan langkahnya pun terasa gontai. Kami pasti jatuh.
“Semangat, Ma. Kita sudah di tengah jembatan,” ucap Hadi dengan nada senang.
“Aku lebih baik mati daripada membuka mataku,” ucapku dengan suara bergetar. Dia tertawa. Hadi terus memukau kagum membuatku penasaran. Aku perlahan membuka mata dan melihat ke sekelilingku. Waahh …. Hendra benar. Pemandangannya indah sekali. Kini aku bahkan bisa mendengar bunyi aliran sungai yang deras di bawah kami.
Sampai di ujung jembatan, dia menurunkan aku. Kakiku sedikit goyah, jadi aku berpegangan kepadanya. Aku melihat ke arah jembatan yang kami lewati. Ada sepasang kekasih yang berjalan di belakang kami. Mereka tertawa geli saat bertemu pandang denganku. Menjengkelkan sekali. Aku belum pernah merasa dipermalukan seperti ini.
“Sebaiknya kamu selalu waspada dengan orang-orang di sekitarmu. Karena aku akan membunuhmu saat kita kembali ke vila nanti,” ucapku mengancam Hendra. “Kamu tahu bahwa aku takut pada jembatan sejenis ini tetapi kamu tidak memberitahuku sebelum aku menginjaknya.”
“Hiburan sekali seumur hidup ini tidak akan pernah aku lewatkan, Za.” Dia tertawa kecil. Dia mendekatkan wajahnya lalu berbisik, “Setelah melahirkan dua orang anak, dadamu besar juga.”
__ADS_1
“Berengsek kamu.” Aku menggeram kesal. Dia segera menutup telinga Dira dengan tangannya.
“Jangan kotori pikiran polos putriku dengan kata-kata umpatan begitu.” Dia berjalan menjauh dariku sambil tertawa puas. Mengesalkan sekali. Aku ingin mengatainya lagi, tetapi aku menahan diriku. “Ayo, Hadi. Ada banyak hewan yang bisa kamu lihat di sini.”
Hadi begitu senang melihat burung yang ada di sangkar besar yang pertama kami datangi. Hendra tidak menolak ketika putra kami ingin memberi makan pada kelinci. Dira minta diturunkan dari gendongan papanya, ingin menyentuh hewan bertelinga panjang tersebut.
Hendra menawarkan Hadi untuk mencoba memerah susu sapi, tetapi dia menolak. Dia sudah cukup puas hanya melihat hewan itu menggerak-gerakkan mulut mengunyah makanan. Setelah melihat dan memberi makan hewan demi hewan yang ada di tempat itu, kami kembali ke tempat kami datang tadi. Tetapi kali ini tidak lewat jembatan.
“Mengapa saat datang tadi kita tidak lewat jalan ini saja?” protesku. Hendra tertawa kecil.
“Dan melewatkan kesempatan untuk melihatmu lepas kendali?” Dia tertawa puas. Aku menatapnya dengan tajam. Aku pasti akan membalas perbuatannya hari ini.
Kami memasuki sebuah tempat yang tadi kami lewati. Ada banyak akurium besar di dalamnya. Hadi bersorak senang dan menyebut nama-nama ikan yang dikenalnya. Hendra membaca nama pada papan yang ada di dekat akurium untuk menyebut nama ikan atau hewan air yang tidak dikenal untuk putra kami.
Puas berkeliling, kami makan siang di restoran yang tersedia di tempat itu sambil menikmati pemandangan sungai, mendengar derasnya aliran air, dan menghirup segarnya udara di sekitar kami. Selera makan kami bertambah sehingga makanan yang begitu banyak yang dipesan Hendra sanggup kami habiskan berempat.
Setelah membeli beberapa makanan ringan juga susu segar dalam berbagai rasa, kami kembali ke vila. Anak-anak langsung pulas di jok belakang karena lelah dan kekenyangan. Aku meminta Hendra untuk mematikan pendingin mobil agar kami bisa membuka jendela depan. Dia memenuhi permintaanku dan angin yang sejuk pun masuk ke mobil.
Hendra membopong Hadi yang masih pulas, sedangkan aku menggendong Dira saat kami sudah tiba. Hampir mendekati teras, aku mengangkat kepalaku dan melihat seorang wanita duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Wajahnya tampak tidak asing.
“Bapak tidak bisa memecat saya secara sepihak seperti ini,” katanya yang mengabaikan aku dan melihat ke arah belakangku dengan mata berair. Kini aku mengenalnya. Sekretaris Hendra.
“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Sebaiknya kamu segera pergi dari tempat ini sebelum aku memanggil polisi.” Hendra memberiku sedikit dorongan agar tetap melanjutkan langkahku. Aku menurutinya. Wanita itu menghalangi langkahku.
__ADS_1
“Apa Bapak memecat saya karena Bapak khawatir saya akan menghalangi kembalinya hubungan Bapak dengan Ibu? Saya tidak akan melakukannya, Pak. Izinkan saya tetap bekerja untuk Bapak. Saya tidak akan mencoba menggoda Bapak lagi. Tapi jangan paksa saya berhenti mencintai Bapak,” ucap wanita itu dengan wajah memelas.
Apa? Wanita ini mencintai Hendra?