
~Za~
“Di mana cucuku? Di mana jagoan kecilku?” kata Mama begitu masuk ke ruang duduk. Hadi baru saja tertidur di pelukanku setelah kenyang minum susu.
“Sekarang orang tuaku lebih peduli kepada cucu mereka daripada putri mereka,” ucapku menggoda Mama. Dia segera memelukku, lalu meminta untuk menggendong putraku yang segera aku izinkan.
“Apa kamu sudah sarapan?” tanya Papa yang duduk di samping Mama dan melihat wajah cucunya dengan senyum bahagia.
“Sudah, Pa.” Aku tersenyum melihat mereka tidak mengalihkan pandangan mereka dari Hadi.
“Kemarin kami menemui Adhyana dan Naava,” kata Papa pelan. Aku memberikan perhatianku sepenuhnya kepadanya. “Mereka sama sekali tidak mau bicara dengan kami. Meskipun Hadi adalah cucu kandung mereka, sepertinya kesalahanmu tidak termaafkan.”
“Mereka tidak menyakiti Papa dan Mama, ‘kan?” tanyaku khawatir.
“Tidak. Mereka mau menemui kami tetapi hanya diam saja. Aku dan mamamu berusaha untuk mengajak bicara, meminta maaf, tetapi mereka bergeming. Karena suasana canggung begitu, kami memutuskan untuk pulang,” jawab Papa.
Aku mengangguk mengerti. Mereka juga bersikap sama kepadaku dan Hendra. Mungkin tidak kepada suamiku. Tetapi karena aku datang bersamanya, mereka memberi kami sikap diam dari awal kami datang hingga pamit pulang.
Tetapi sudah tidak ada gunanya lagi. Aku dan Hendra akan berpisah. Hubunganku dengan kedua mertuaku juga akan berakhir. Mereka akan bahagia lagi nanti. Hendra akan menemukan wanita yang lebih baik, menikah, memiliki anak, dan melupakan aku serta Hadi. Suamiku masih muda, dia masih bisa mempunyai beberapa anak lagi untuk meneruskan garis keturunan keluarganya.
“Nyonya, ada Pak Oscar,” ucap Abdi memberitahuku. Untuk apa dia datang ke rumah sepagi ini? Aku melihat ke arah orang tuaku. Oh, Tuhan. Aku tahu. Ini pasti untuk urusanku dengan Hendra. Apa kata Papa dan Mama nanti bila mereka tahu?
Ya, sudahlah. Cepat atau lambat, mereka akan mengetahuinya juga. Aku berdiri menyambut kedatangan pengacara suamiku itu. Aku mempersilakannya duduk sembari menungguku mengambil berkas di kamar. Dokumen itu masih bersih belum aku tanda tangani, aku baca juga belum.
Aku mengambil sebuah pulpen dari dalam laci dan membuka lembar demi lembar untuk mencari tempat yang membutuhkan tanda tanganku. Setelah memastikan sekali lagi bahwa aku menulis di tempat yang benar, aku menyimpan pulpenku kembali dan keluar dari kamar.
__ADS_1
Pak Oscar menerima dokumen tersebut dan memeriksa halaman demi halaman dengan saksama. Tidak lama kemudian, dia mengangguk puas. Dia memasukkan map itu ke tasnya dan pamit. Dia memang selalu bekerja dengan efektif dan efisien.
“Nak, apa yang terjadi?” tanya Mama khawatir. “Mengapa pengacara suamimu datang ke sini?”
“Dokumen apa itu?” tanya Papa ikut ingin tahu.
“Papa dan Mama jangan marah kepada Hendra, ya. Ini semua salahku, bukan kesalahannya,” kataku pelan. “Kami memutuskan untuk bercerai.”
Respons orang tuaku tidak seperti yang aku duga. Mereka terkejut, tetapi hanya itu. Mereka tidak bertanya lebih lanjut, menyatakan protes atau apa pun. Mereka hanya tertunduk diam. Aku merasa bersalah melihat mereka terlihat seperti orang kalah.
“Maafkan aku. Aku sudah mencoreng nama baik Papa dan Mama. Aku,” kataku menyesal.
“Tidak, Ara. Sudah cukup,” kata Mama dengan cepat memotongku. “Kami mengerti bahwa ini hal yang sulit bagi kalian berdua. Ini jalan yang terbaik. Hendra terlalu mencintaimu. Mustahil baginya untuk bisa menerimamu kembali. Apalagi kamu tidur dengan mantanmu, bukan laki-laki biasa.”
“Aku benar-benar menghancurkan hidupku sendiri, ya. Aku bodoh sekali,” isakku. “Seandainya saja aku mau mendengarkan nasihat Papa dan Mama.”
“Sayang,” kata Papa melerai Mama.
“Tidak, Pa. Aku perlu mengatakan ini kepada putri kita. Selagi dia masih mau mendengarkan dan tidak bersikap keras kepala.” Mama menatapku dengan serius. “Jangan takut dengan rasa sakit, Ra. Kamu harus melaluinya untuk bisa meraih bahagiamu. Kamu tidak bisa berharap semua orang akan melakukan persis seperti yang kamu harapkan supaya kamu bahagia.
“Kamu mencintai Vivaldo, tetapi dia tidak merasakan hal yang sama kepadamu. Keinginannya untuk menikah tidak sebesar impianmu untuk hidup bersamanya. Lalu kamu memaksa dan mendesaknya untuk meminta restu kami, tentu saja dia tidak mau. Apa dahulu dia mengejar-ngejarmu seperti yang dia lakukan sekarang? Tidak. Lalu mengapa kamu tidak putuskan saja dia pada saat itu? Karena kamu takut patah hati.
“Lalu kamu menikah dengan Hendra dan berharap dia tidak semakin mencintaimu. Itu mustahil. Semakin kamu menjaga jarak, dia semakin tertarik kepadamu. Dan kamu marah karena hal itu? Lihat, ‘kan, kamu jatuh cinta kepada suamimu tetapi kamu tidak menyadarinya. Karena lagi-lagi kamu takut patah hati.
“Aku tahu kamu tidak mau memiliki anak lagi setelah melewati rasa sakit melahirkan Hadi. Tetapi memeluknya dan melihatnya langsung seperti ini, kamu melupakan rasa sakit itu dan mengharapkan anak kedua. Iya, ‘kan? Bila kamu masih takut dengan rasa sakit, kamu tidak pantas bersama Hendra. Karena kamu akan sibuk melindungi hatimu dengan terus menyakitinya. Dia adalah pria yang baik. Meskipun kamu adalah putriku, aku tidak mengizinkanmu menyakitinya lagi.” kata Mama, tegas.
__ADS_1
Menuruti ucapan Mama itu, aku memutuskan untuk tidak datang sama sekali dalam persidangan perceraian kami. Dengan begitu, proses perceraian bisa berlangsung lebih cepat. Kami tidak perlu mediasi, tidak ada gunanya. Aku juga tidak sanggup bertemu dengannya, khawatir aku akan berlutut di kakinya dan memohon dia kembali kepadaku.
Saat kabar itu sampai ke telinga teman-temanku, mereka datang berkunjung dan menghiburku. Aku tidak pernah merasa seberuntung ini selama hidupku. Ketika teman-teman sekolah dan kuliahku dahulu mempertanyakan setiap keputusanku dan menyalahkan aku atas putusnya hubunganku dan Aldo, ketiga sahabatku ini tidak. Mereka terus saja memberikan dukungan kepadaku. Tanpa syarat.
“Kamu tahu, aku iri kepadamu,” ucap Qiana. Aku menelengkan kepala mendengarnya. “Hendra sangat mencintaimu sampai dia tidak bisa memaafkan perbuatanmu. Aku tidak punya cinta sebesar itu untuk Helmut. Aku bahkan tidak marah sebagaimana seharusnya yang dilakukan seorang istri yang dikhianati oleh suaminya.”
“Qiana, belum terlambat untuk bicara jujur dengan suamimu. Tetapi mengatakan bahwa kamu tidak mencintainya adalah salah. Kamu sangat mencintainya dan rasa takut kehilangan itu adalah buktinya. Seperti kamu berani jujur mengatakan iri kepada Zahara, jujurlah kepada suamimu dan katakan kamu marah dan terluka karena perselingkuhannya,” kata Lindsey. Qiana mengangguk pelan.
“Bagaimana selanjutnya? Apakah kamu akan pindah dari rumah ini?” tanya Darla.
“Aku diizinkan tinggal di sini, setidaknya sampai aku menikah dengan pria lain atau Hadi berusia lima tahun. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu,” jawabku jujur.
“Kalau begitu, kamu rawat putramu dengan baik. Kami akan membantu apa yang bisa kami bantu. Meskipun nanti kamu tidak punya suami lagi, kamu masih punya kami, sahabat baikmu,” ucap Darla. Aku menganggukkan kepalaku. Mereka memelukku dan kami menangis bersama.
Pada hari pembacaan putusan, aku tidak hadir dalam sidang. Tetapi aku meminta Pak Oscar untuk meneleponku dan membiarkan aku mendengar putusan hakim. Dan dengan satu kalimat pamungkas serta ketukan palu, aku sudah bukan lagi Nyonya Mahendra Satya Perkasa.
...*******...
...~Author's Note~...
Season satu berakhir di sini. Kita akan masuk fase berikutnya pada bab selanjutnya. Tetapi sebelumnya, mohon beri aku waktu dua hari untuk beristirahat, ya. Aku terlalu banyak menangis saat menulis dan mengedit bab-bab terakhir ini. Mataku bengkak seperti bakpao. (╥﹏╥)
Aku segera kembali dengan cerita Hendra dan Zahara berikutnya. Bagaimana hubungan mereka setelah perceraian nanti, ya? Huuwwaa .... Aku juga penasaran. ≧ω≦
Terima kasih atas dukungan teman-teman sampai saat ini, ya. Terima kasih untuk jempol, hadiah, rating, dan vote yang diberikan. Dukungannya masih terus diharapkan sampai kisah mereka selesai nanti. (。・ω・。)ノ♡
__ADS_1
Salam sayang,
Meina H.