
Tepat saat kedua penyerang yang melawan Ki Dwijo terjatuh, terdengar suara orang berlari. Terlihat Pangeran Panji diikuti dua orang prajurit berlari ke arah Pangeran Pandu.
"Adi Pandu ! Apa yang terjadi ? Kenapa kau tidak segera muncul di tanah lapang tengah hutan ?" tanya Pangeran Panji.
"Maaf kakang Panji. Aku sebenarnya sudah akan kembali ke tempat semula kita berpisah. Tapi perjalananku terhalang datangnya penyerang yang tiba tiba menyerangku !" jawab Pangeran Pandu.
"Ada yang menyerang adi Pandu ? Mana orangnya ! Aku ingin melihat mukanya ! Berani beraninya menyerang anggota keluarga Kerajaan Banjaran Pura !" tanya Pangeran Panji dengan nada tinggi.
"Mereka sudah pingsan, kakang Panji," jawab Pangeran Pandu pelan sambil tangan kanannya menunjuk ke dua tubuh yang tergeletak tidak jauh dari mereka berdiri.
"Aku ingin melihat wajah orang yang berani menyerang keluarga kerajaan !" kata Panheran Panji sambil melangkah ke arah dua tubuh yang pingsan itu.
Pangeran Pandu baru saja hendak ikut mendekat untuk memeriksanya, ketika tiba tiba, dengan gerakan yang cepat, Pangeran Panji menghunus senjata pedangnya dan menebas leher dua penyerang yang pingsan itu.
Pangeran Pandu baru saja hendak mencegah tindakan Pangeran Panji, namun sudah terlambat.
Craaasss ! Craaasss !
"Kakang Panji ! Kenapa kakang membunuh mereka ?" tanya Pangeran Pandu dengan gusar.
"Hukuman bagi penyerang keluarga kerajaan adalah kematian !" jawab Pangeran Panji sambil melirik ke arah Ki Dwijo dan Rengganis.
"Tapi kakang ... ," kata Pangeran Pandu lagi.
"Sudahlah, yang penting adi Pandu selamat. Ayo kita pulang !" sahut Pangeran Panji.
"Owwhhh iya, tolong kalian rawat mayat mayat itu !" kata Pangeran Panji memberi perintah pada Ki Dwijo dan Rengganis.
Mendengar perintah Pangeran Panji, Rengganis hendak menjawab dengan marah. Namun keburu tangannya ditarik oleh Ki Dwijo, untuk segera berjalan ke arah jasad para penyerang tadi.
Kesempatan itu digunakan Ki Dwijo dan Rengganis untuk memeriksa mayat empat penyerang tadi. Mungkin ada petunjuk yang bisa memperjelas keadaan.
Namun, karena tidak ada yang bisa ditemukan sebagai petunjuk, Ki Dwijo cepat cepat membuat lubang kubur untuk mengubur empat jasad yang diserahkan pada mereka berdua. Agar setelah selesai, mereka berdua bisa segera membuntuti lagi perjalanan Pangeran Pandu.
__ADS_1
Sementara itu, Pangeran Panji segera mengajak Pangeran Pandu untuk kembali menuju tempat mereka menghentikan dan menitipkan kereta kudanya.
----- * -----
Suasana di dalam Istana Kepangeranan milik Pangeran Pandu, cukup sepi. Hanya ada beberapa prajurit kerajaan yang silih berganti berjaga dan mengontrol keamanan.
Keadaan sepi itu membuat Puguh leluasa untuk melakukan pengamatan. Dengan menggunakan pakaian prajurit kerajaan, Puguh dengan cukup nyaman bisa melihat ke arah bangunan istana yang lainnya tanpa takut ketahuan oleh prajurit dari istana yang lain.
Menjelang siang, Puguh merasakan ada empat getaran tenaga dalam yang mendekati Istana Kepangeranan milik Pangeran Pandu, dari arah samping kiri istana Pangeran Pandu.
Puguh segera melesat ke arah tembok benteng sebelah kiri, setelah sebelumnya meminta para prajurit jaga untuk berjaga di dalam gedung istana. Karena Puguh menyadari, empat getaran tenaga dalam yang mendekat itu bukan tandingan dari para prajurit jaga.
Beberapa saat kemudian, Puguh melihat empat bayangan tubuh meloncati tembok benteng dengan mudahnya dan mendarat di tanah dengan ringan. Keempat orang itu terdiri dari seorang perempuan tua yang tangan kanannya memegang tongkat kayu. Gurat gurat kecantikan masih terlihat di wajah tuanya yang dipoles dengan bedak yang tebal. Tubuhnya yang ramping dibungkus dengan pakaian pendekar dari kain motif warna warni dan dilapisi jubah berwarna merah. Dan tiga orang yang lainnya adalah orang orang paruh baya yang berpakaian pemimpin prajurit dengan senjata golok terselip di pinggang kiri mereka.
Begitu mereka tiba di tanah, mereka terkejut, di depan mereka sudah berdiri Puguh yang berpakaian prajurit kerajaan.
Keempat orang itu mengira Puguh hanyalah prajurit biasa, karena mereka tidak merasakan getaran tenaga dalam prajurit itu. Dengan tingkat tenaga dalam dan ilmu silat yang dimiliki Puguh, sangat mudah baginya untuk menyembunyikan getaran tenaga dalamnya.
"Siapa kalian ! Masuk lingkungan istana kepangeranan seperti seorang penjahat !" tanya Puguh dengan keras.
"Kalian lanjut antar Nyi Manis ke dalam untuk mengurus Pangeran Pandu ! Biar aku urus prajurit kurang ajar ini !" kata salah seorang berpakaian pemimpin prajurit.
"Berhenti ! Semua tetap di sini ! Kalian semua harus bertanggung jawab atas kelancangan kalian, masuk ke istana Pangeran Pandu !" kata Puguh mencegah mereka.
"Haaahhh ha ha ha .... ! Prajurit biasa berani beraninya memerintah kita !" sahut tiga orang berpakaian pemimpin prajurit itu.
Kemudian, salah seorang yang berpakaian pemimpin prajurit itu melesat cepat melayangkan sebiah tamparan ke kepala Puguh.
Namun, dengan mudahnya Puguh menghindari tamparan itu dengan menarik sedikit kepalanya ke samping.
Tamparan itu tidak mengenai sasaran dan hanya lewat di samping kepala Puguh. Orang berpakaian pemimpin prajurit itu berpikir, prajurit itu hanya beruntung bisa menghindari tamparannya. Maka diapun kembali menyerang.
"Prajurit kurang ajar !" bentak orang berpakaian pemimpin prajurit itu sambil menyambung serangannya dengan pukulan dan tendangan, setelah tamparannya gagal.
__ADS_1
Namun, orang berpakaian pemimpin prajurit itu terkejut, karena semua serangannya bisa dihindari oleh prajurit di depannya itu.
Melihat hal itu, dua temannya tertawa mengejek.
"Cepat selesaikan prajurit itu !" kata Nyi Manis.
Merasa diejek oleh teman temannya, orang berpakaian pemimpin prajurit itu segera kembali menyerang Puguh. Kali ini dia lebih berhati hati dan tidak meremehkan lawannya.
Dengan gerakan yang mantap, orang berpakaian pemimpin prajurit itu melenting ke atas dan segera menghujani Puguh dengan pukulan dan tendangan.
Kali ini, Puguh tidak lagi menghindar. Setiap pukulan dan tendangan yang datang, ditangkis oleh Puguh.
Namun, baru beberapa pukulan ditangkis Puguh, satu pukulan balasan Puguh mengenai dada orang berpakaian pemimpin prajurit itu.
Plak ! Plak ! Plak ! Plak !
Deeesss !
Tubuh orang berpakaian pemimpin prajurit itu terdorong ke belakang dengan keras hingga tubuhnya meluncur di tanah hingga beberapa meter.
Setelah tubuhnya berhenti meluncur, orang berpakaian pemimpin prajurit itu mencoba bangkit. Namun tubuhnya terasa lemas dan pernafasannya terasa berat. Hingga kemudian, tubuhnya terjatuh lagi.
Melihat hal itu, Nyi Manis berteriak.
"Cepat kalian bereskan anak itu !" teriak Nyi Manis dengan tidak sabar pada dua orang berpakaian pemimpin prajurit.
Mendengar teriakan Nyi Manis, dua orang berpakaian pemimpin prajurit itu segera melesat ke arah Puguh, sambil.menghunus senjata golok mereka.
Kemudian, keduanya segera menghujani Puguh dengan tebasan tebasan golok diselingi dengan tendangan dan pukulan tangan kiri.
Dengan tetap tenang, Puguh menghindari setiap kelebatan golok yang mengarah padanya. Dan pada suatu kesempatan, Puguh berhasil memaksa mereka berdua untuk melepaskan golok mereka, saat tendangan Puguh mengenai pergelangan tangan kanan mereka berdua.
Saat kedua golok itu jatuh ke tanah, Puguh segera sedikit melenting dan dengan cepat melakukan serangan. Dua tendangannya mendarat di dada kedua lawannya, hingga mereka berdua terlempar jauh ke belakang dan kemudian terjatuh di tanah dan tidak bergerak lagi karena pingsan.
__ADS_1
__________ ◇ __________