Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Taktik Perang Yang Berbeda


__ADS_3

Pada malam harinya, setelah melakukan perjalanan sehari penuh, Puguh tiba di tempat yang dijadikan tempat bermalam pasukan perang Kerajaan Kisma Pura, di perbatasan kotaraja.


Begitu bertemu dengan Pangeran Indra Prana dan kedua gurunya serta beberapa pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha yang yang menjadi orang kepercayaan Ki Prana Jiwa atau Pangeran Indra Prana, Puguh mendapatkan informasi kalau banyak pendekar yang membantu pasukan perang Kerajaan Kisma Pura, mengalami luka luka dan ada beberapa yang tewas. Sementara untuk para prajurit, Pangeran Indra Prana harus kehilangan sekitar lima ratus prajurit.


"Pangeran Indra Prana, bagaimana kalau kita mencoba memakai taktik yang berbeda ?" kata Puguh memberikan saran usulannya.


"Taktik yang bagaimana, yang Pendekar Puguh maksudkan ?" tanya Pangeran Indra Prana.


"Kita coba, besok, sebisa mungkin kita tidak menggunakan kekuatan pasukan perang dulu. Kita kumpulkan seluruh pendekar yang ada di sini. Kita bagi tugas, untuk melawan siapa. Para pendekar yang belum mendapatkan tugas, bisa membuat barisan pertahanan, untuk berjaga jaga, bilamana ada serbuan pasukan perang yang hendak menerobos masuk ke dalam kotaraja. Saya kira, dengan tingkat kesaktian dan tenaga dalam para pendekar yang ada, akan mampu melawan para prajurit pasukan perang Kerajaan Menara Langit. Sebagai jaga jaga, kita tempatkan barisan prajurit pemanah, di belakang para pendekar yang membuat barisan untuk berjaga jaga ! Tentunya, untuk para senopati, juga ikut maju melawan para panglima perang yang tingkat kesaktiannya bisa mereka lawan !" kata Puguh menyampaikan usulannya.


Mendengar saran dari Puguh, Pangeran Indra Prana mengangguk angguk.


"Dengan cara itu, kita bisa melihat dan mengetahui, siapa saja di pihak kita yang terdesak atau butuh bantuan !" kata Pangeran Indra Prana menanggapi usulan Puguh.


"Betul, Pangeran Indra Prana !" jawab Puguh.


"Baiklah, kita menggunakan cara itu. Mari kita bahas pembagian tugasnya !" kata Pangeran Indra Prana.


Kemudian, pada saat itu juga, Pangeran Indra Prana memerintahkan pada orang orang kepercayaannya, untuk memanggil beberapa pendekar yang dibutuhkan yang saat itu belum hadir di situ.


Akhirnya, malam itu juga, Pangeran Indra Prana menyampaikan rencana untuk melakukan taktik baru dalam pertempuran besok. Selain itu, Pangeran Indra Prana, atas masukan dari Puguh, membagi tugas pada para pendekar yang hadir.


----- * -----


Keesokan harinya, sejak pagi hari sebelum matahari terbit, Pangeran Indra Prana, Puguh dan sekitar tiga ratus pendekar, diikuti oleh tiga ratus prajurit pemanah, berangkat menuju ke medan pertempuran.


Sesampai di tempat pertempuran kemaren, Pangeran Indra Prana segera membagi tugas.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian, pasukan perang Kerajaan Menara Langit berdatangan. Melihat jumlah pasukan perang Kerajaan Kisma Pura yang sedikit, para Panglima Perang Kerajaan Menara Langit menertawakan.


"Haahhh ha ha ha ! Sepertinya, kerajaan Kisma Pura sudah kehabisan prajurit. Sehingga hanya mengirimkan segelintir orang, untuk menghadapi pasukan perang kita !" kata Panglima Perang Anggaraksa.


"Pangeran pengacau ! Bagaimana kalau kalian menyerah saja. Jadi kami tidak repot repot mengotori senjata kami untuk membantai kalian !" tambah Panglima Perang Anggaraksa.


"Gerombolan perampok, bagaimana kalau kau bertarung saja dengan aku. Sementara yang lainnya biar memilih lawannya masing masing ?" jawab Pangeran Indra Prana dengan nada tantangan.


"Bedebah ! Kau mengatakan kami perampok ? Kami adalah pasukan perang dari negeri yang sangat besar !" kata Panglima Perang Anggaraksa dengan geram.


"Tetapi, di pulau Jawa Dwipa ini, kelakuan kalian lebih mirip perampok, dan sedikitpun tidak menunjukkan sebagai orang orang yang tinggal di keraton !" jawab Pangeran Indra Prana.


"Baahhh ! Kalau begitu, aku terima tantanganmu !" teriak Panglima Perang Anggaraksa sambil mencabut senjata pedangnya.


Kemudian, dalam sekejap, tubuh Panglima Perang Anggaraksa sudah melesat meninggalkan pasukan perangnya, untuk melakukan serangan.


Melihat pancingannya berhasil, Pangeran Indra Prana tersenyum dan sejenak melihat ke arah Puguh.


Tanpa menunggu Puguh menjawab, Pangeran Indra Prana segera melesat maju memapaki datangnya Panglima Perang Anggaraksa yang sudah maju menyerang.


Sesaat kemudian, di tengah tengah medan pertempuran terjadi benturan berkali kali senjata pedang dengan senjata tongkat, yang menimbulkan suara dentangan.


Klang ! Klang ! Klang ! Klang !


Sebagai ketua muda dari Padepokan Kuwanda Brastha, Pangeran Indra Prana atau yang lebih dikenal sebagai Ki Prana Jiwa, memiliki tenaga dalam dan kesamtian yang sangat tinggi, sehingga mampu mengimbangi gempuran serangan Panglima Perang Anggaraksa.


Pertarungan Pangeran Indra Prana melawan Panglima Perang Anggaraksa berjalan semakin sengit, dengan saling melakukan serangan dan menangkis untuk mematahkan serangan lawannya.

__ADS_1


Bahkan, dengan tingkat kekuatan yang mereka miliki dengan besarnya tenaga dalam yang sudah Panglima Perang Anggaraksa dan Pangeran Indra Prana keluarkan, membuat pertarungan mereka lambat laun dilakukan dengan melayang dan akhirnya sambil terbang ke udara.


Sementara itu, selama beberapa waktu, pasukan perang dari kedua belah pihak, masih terdiam dan hanya menyaksikan pertarungan Panglima Perang Anggaraksa melawan Pangeran Indra Prana.


Setelah pertarungan yang mereka lihat itu mulai melayang dan berlangsung di angkasa, beberapa pemimpin pasukan Kerajaan Menara Langit mulai tidak sabar dan maju ke depan.


"Ayo ! Siapa yang ingin merasakan ketajaman senjata golokku !" teriak Panglima Perang Gardapati yang melangkah maju tiga langkah sambil kedua tangannya memutar pelan senjata golok bergagang panjang miliknya. Perlahan terdengar suara menderu dari senjata golok yang berputar pelan.


Melihat Panglima Perang Gardapati maju, Puguh segera ikut maju mendekatinya.


"Aku akan mencoba menghadapi tajamnya senjata golokmu !" kata Puguh sambil melangkah maju beberapa langkah.


Melihat lawannya yang masih sangat muda, Panglima Perang Gardapati, hanya melihat dan mendengus.


"Apa mungkin benar, Kerajaan Kisma Pura telah kehabisan kekuatan ?" tanya Panglima Perang Gardapati dalam hati.


Beberapa saat kemudian, setelah saling berdiri berhadapan, Puguh dan Panglima Perang Gardapati yang telah mengeluarkan senjata, secara bersamaan melesat maju dan dengan sangat cepatnya, mereka berdua sudah saling meluncurkan serangan.


Bersamaan dengan pertarungan Puguh melawan Panglima Perang Gardapati, tiga panglima perang lainnya yaitu Panglima Perang Hapsari, Panglima Perang Angin Maruta dan Panglima Perang Sarjungkara, juga melesat maju dan langsung dihadang oleh para pendekar lainnya. Disusul kemudian menyerbunya para wakil panglima perang. Hingga akhirnya, di tempat yang kemaren menjadi ajang pertempuran. Hiruk pikuk pertempuran diwarnai dengan suara beraneka teriakan.


Di pertarungan Puguh melawan Panglima Perang Gardapati, terjadi berkali kali benturan senjata. Setiap senjata golok bergagang panjangnya membentur senjata pedang Puguh, Panglima Perang Gardapati merasakan, kedua tangannya terasa kebas dan bergetar hebat hingga pangkal bahu.


"Anak muda ini, tenaga dalam dan kssaktiannya sungguh luar biasa !" kata Panglima Perang Gardapati dalam hati.


Kemudian, dengan rasa tidak ingin kalah, Panglima Perang Gardapati menambah kecepatannya. Tubuhnya bergerak dengan sangat cepat melesat ke arah Puguh.


Melihat gerakan lawannya bertambah cepat, Puguh pun menambah lagi pengeluaran tenaga dalamnya, hingga gerakannya menjadi bertambah cepat.

__ADS_1


Bertambahnya gerakan Puguh dan Panglima Perang Gardapati, membuat gerakan mereka sudah tidak bisa diikuti dengan mata biasa.


---------- ◇ ----------


__ADS_2