
Melihat Iblis Bermata Satu melesat ke arahnya, Puguh pun memapakinya dengan meningkatkan lagi aliran tenaga dalamnya.
Sesaat kemudian, terjadi lagi adu pukulan dan tendangan. Kali ini, setiap bentrokan serangan terjadi, hanya menimbulkan suara yang pelan. Namun, dibalik suara yang pelan itu, tenaga dalam yang sangat besar mengalir keluar dari setiap pukulan ataupun tendangan mereka berdua.
Bug ! Bug ! Bug !
Paaaccckkk ! Paaaccckkk !
Setelah tiga puluh jurus mereka lewati dengan terus menerus mengadu pukulan dan tendangan dalam bertukar serangan, Puguh dan Iblis Bermata Satu sama sama terhuyung mundur hingga tiga langkah, saat telapak tangan mereka yang berisi tenaga dalam penuh, saling bertemu berbenturan.
Benturan tenaga dalam melalui telapak tangan mereka berdua itu, menimbulkan suara yang sangat keras.
Blaaannnggg !
Sesaat setelah suara benturan itu, terlihat dua tubuh terlempar ke belakang dalam arah yang berlawanan.
Tubuh Puguh melayang ke belakang dan berhenti dalam sikap tubuh berdiri dengan tetap berada pada kuda kudanya. Nafasnya terlihat sedikit memburu.
Sementara itu Iblis Bermata Satu, tubuhnya terlempar ke belakang, bersalto dan berhenti dalam posisi berdiri. Nafasnya terlihat sedikit berat.
"Suara pertarungan kita pastinya akan menarik perhatian mereka yang di dalam istana. Aku tidak ingin, mereka turut campur dalam pertarungan yang menghibur ini. Kita pergi dulu Iblis Bermata Elang. Kita lanjutkan bertarung saat kita bertemu lagi. Sampai jumpa lagi Iblis Bermata Elang !" kata Iblis Bermata Satu, sambil kemudian tubuhnya melesat kembali ke arah istana Pangeran Panji dengan mengambil jalan memutar menghindari bertemu dengan orang orang yang berada di dalam istana, yang kemungkinan ada yang datang ke tempat pertarungan.
Di luar sepengetahuan Puguh, beberapa saat setelah berlari, Iblis Bermata Satu memuntahkan darah segar dan wajahnya sedikit memucat.
"Anak itu masih muda tapi tenaga dalamnya sudah setingkat denganku bahkan mungkin diatasku. Baru kali ini aku mendengar namanya !" gumam Iblis Bermata Satu sambil mengusap sudut bibirnya dengan punggung lengan bajunya.
Sementara itu, mendengar perkataan Iblis Bermata Satu, tanpa menjawab, Puguh pun melesat pergi melompati tembok benteng Istana Kepangeranan dan dengan cepat kembali ke dalam Istana Kepangeranan milik Pangeran Pandu.
Sesampainya di ruang tengah istana, Puguh duduk bersila untuk bersemedi mengatur pernafasannya dan menetralkan tenaga dalamnya yang sempat terguncang sampai menjelang pagi.
----- * -----
__ADS_1
Pada pagi harinya, untuk menjaga agar tidak menimbulkan kecurigaan, Pangeran Pandu tetap akan keluar berjalan jalan seperti biasa. Namun kali ini diikuti oleh Ki Dwijo dan Rengganis secara diam diam.
Sesaat sebelum berangkat, Ki Dwijo dan Rengganis sempat berbincang dengan Puguh. Pada kesempatan itu, Puguh menceritakan semua yang dia lihat saat menyusup ke Istana Kepangeranan Pangeran Panji. Dan juga menceritakan tentang pertarungannya dengan Iblis Bermata Satu.
"Iblis Bermata Satu ? Ternyata dia belum tewas dalam pertarungan besar itu !" kata Ki Dwijo menanggapi cerita Puguh.
"Seberapa tinggi sekarang ilmunya," kata Ki Dwijo dalam hati.
Pangeran Pandu yang ikut mendengarkan semua yang disampaikan Puguh, hanya terdiam saja. Dia hanya membatin, betapa saudaranya itu sangat tergila gila dengan ilmu silat, sehingga sampai mendatangkan banyak pendekar ke istananya.
Beberapa saat kemudian, Pangeran Pandu keluar dari istananya dengan berjalan kaki, ditemani oleh dua orang prajurit yang mengenakan pakaian seperti pakaian seorang pendekar. Sementara Ki Dwijo dan Rengganis mengikuti dalam jarak yang cukup jauh.
Ki Dwijo tidak terlalu khawatir dengan keselamatan Pangeran Pandu, karena ilmu yang dikuasai oleh Pangeran Pandu tergolong tinggi.
Pagi itu, Pangeran Pandu yang berpakaian sama dengan prajurit pengawalnya, melewati jalan yang cukup besar yang di kiri kanannya terdapat rumah rumah pemukiman warga.
Pangeran Pandu selalu merasa bahagia setiap melihat langsung kondisi rakyatnya.
Tiba tiba, dari jalan arah belakang mereka, terdengar derap kaki kuda yang berlari kencang.
Terlihat sebuah kereta mewah yang ditarik dua ekor kuda yang diiringi dua prajurit kerajaan yang menunggang kuda.
Kereta kuda itu tiba tiba berhenti di depan Pangeran Pandu dan dua prajurit pengawalnya. Sesaat kemudian, pintu kereta dibuka dari dalam.
"Adi Pandu, sekali kali ayo ikut kakang berburu di hutan !" kata Pangeran Panji yang membuka pintu kereta dari dalam.
"Kakang Panji, aku tidak bisa berburu," jawab Pangeran Pandu, saat mengetahui yang berada di dalam kereta itu adalah Pangeran Panji, kakak tirinya.
"Yang penting ikut dulu. Nanti aku ajari cara berburu dengan menggunakan berbagai senjata. Ayo naik ke kereta !" bujuk Pangeran Panji.
Merasa tidak enak, akhirnya Pangeran Pandu menuruti ajakan kakaknya, ikut berburu dihutan.
__ADS_1
Setelah menyuruh dua orang pengawalnya pulang mengambil kuda untuk menyusulnya, Pangeran Pandu pun naik ke kereta yang segera melesat cepat keluar kotaraja menuju ke arah sebuah hutan.
Tanpa sepengetahuan rombongan kereta itu, ada dua sosok tubuh membuntuti mereka dengan melesat bagaikan terbang, berloncatan dari satu dahan pohon ke dahan pohon yang lain.
Setelah cukup lama kereta kuda itu melaju cepat, akhirnya, rombongan Pangeran Panji dan Pangeran Pandu tiba di hutan kecil di pinggiran kotaraja.
Kemudian, Pangeran Panji mengajak Pangeran Pandu berganti naik kuda. Kedua prajurit kerajaan yang mengikutinya disuruh menjaga kereta.
"Adi Pandu ! Ayo kita masuk ke hutan !" ajak Pangeran Panji sambil memberikan alat alat berburu pada Pangeran Pandu.
Setelah semua peralatan berburu lengkap, mereka berdua segera menunggang kuda dan melesat masuk ke hutan menerobos semak belukar.
Tanpa Pangeran Pandu sadari, Pangeran Panji mengajaknya melewati daerah yang berbahaya. Menuruni tebing yang curam dan licin, hingga menuruni jurang yang terjal dan penuh bebatuan.
Setelah menempuh berbagai kesulitan, akhirnya mereka berdua sampai di tanah lapang di tengah hutan. Mereka pun berhenti dan turun dari kuda.
Kemudian, setelah mengajari cara cara menggunakan senjata berburu, mereka berdua mulai berjalan kaki, meninggalkan kuda mereka di tanah lapang.
Karena pernah membaca kitab kitab tentang cara penggunaan senjata berburu, sebentar saja, Pangeran Pandu bisa menggunakan semua alat alat berburu itu.
"Adi Pandu, di hutan ini ada berbagai jenis hewan liar. Mari kita mulai. Siapa yang lebih dulu melihat dan mengenai hewan buruan. Dan siapa yang lebih banyak mendapatkan hasil buruan," kata Pangeran Panji.
Kemudian, dengan berjalan berjajar, mereka berdua mulai melakukan perburuan.
Awalnya mereka berdua masih saling berdekatan dan masih bisa saling melihat walau terpisah oleh semak belukar. Namun, tanpa terasa, semakin jauh mereka berjalan, jarak mereka semakin berjauhan. Hingga pada suatu saat, mereka sudah tidak bisa saling melihat.
Namun, karena mereka sangat fokus pada pergerakan hewan buruan, mereka berdua tidak merasakan, betapa posisi mereka sekarang sudah saling berjauhan.
Walaupun belum pernah berburu sebelumnya, Pangeran Pandu bisa menikmati suasana perburuan. Begitu menikmatinya, sehingga Pangeran Pandu tidak menyadari, jauh dibelakang, terjadi pertarungan yang sengit hingga memakan korban jiwa.
__________ ◇ __________
__ADS_1