
"Ngger Puguh, kamu masih mampu berlari ?" tanya Ki Dwijo pelan.
"Masih guru. Tenaga murid seperti tidak berkurang !" jawab Puguh dengan senang.
"Baguslah ! Sekarang kamu fokus, kejar Ki Naga Gringsing ! Guru punya rencana !" kata Ki Dwijo lagi.
"Baik guru !" sahut Puguh.
Kemudian, Puguh segera melesat ke arah Ki Naga Gringsing.
Ki Naga Gringsing yang tidak menduga akan mendapatkan serangan, segera maju untuk mengadu serangan. Goloknya segera diayunkan ke arah bawah menyasar ke arah kaki Puguh yang berlari ke arahnya.
"Tetaplah berlari ngger. Jangan hiraukan serangannya. Guru jamin kau aman !" bisik Ki Dwijo pada Puguh.
Mendengar kata kata gurunya, Puguh semakin mantap. Langkah kakinya semakin ringan melesat mengejar Ki Naga Gringsing.
Saat golok Ki Naga Gringsing sampai di bawah, tiba tiba sebuah tongkat butut melesat dengan sangat cepatnya, menahan luncuran golok Ki Naga Gringsing.
Taaakkk !!!
Golok Ki Naga Gringsing terpental kembali ke belakang, saat berbenturan dengan tongkat Ki Dwijo. Ki Naga Gringsing merasakan tangan kanannya yang memegang golok bergetar hebat.
Setelah menangkis golok Ki Naga Gringsing, tubuh atas Ki Dwijo berputar ke kanan. Dalam posisi menghadap ke samping, Ki Dwijo kembali meluncurkan tongkatnya untuk menangkis datangnya tombak Ki Naga Wiru yang bergerak mengikuti arah lari Puguh dan menyerangnya dari belakang.
Traaakkk !!!
Sama seperti yang terjadi pada golok Ki Naga Gringsing, tombak Ki Naga Wiru juga terpental kembali ke belakang saat bertumbukan dengan tongkat Ki Dwijo.
Tidak berhenti di situ, setelah menangkis tombak Ki Naga Wiru, tubuh atas Ki Dwijo menggeliat sedemikian rupa, sehingga arah tongkatnya sudah menyasar ke tubuh Ki Naga Gringsing.
Sudah tidak mungkin menghindar, Ki Naga Gringsing mengayunkan goloknya umtuk menghalau tongkat kayu Ki Dwijo yang sudah mendekat.
Namun, walau sudah mengerahkan tenaga dalamnya, golok Ki Naga Gringsing tetap terpental begitu mengenai tongkat kayu Ki Dwijo.
Taaakkk !!!
__ADS_1
Ki Dwijo terus saja mencecar Ki Naga Gringsing dengan totokan ataupun sabetan tongkat. Karena merasa, waktunya hanya sebentar. Khawatirnya jika Ki Naga Gringsing dan Ki Naga Wiru semakin pulih energinya atau bahkan ada yang datang lagi dari kelompok mereka. Jika itu yang terjadi, akan sangat berbahaya kalau kedua kakinya yang lumpuh belum bisa dipulihkan.
Rencana Ki Dwijo adalah mencecar Ki Naga Gringsing dengan serangan yang terus menerus, hingga memaksanya untuk mengadu tenaga dalam.
Pada suatu saat, setelah hanya bisa menghindar dan menangkis, Ki Naga Gringsing kembali harus menangkis datangnya sabetan tongkat kayu yang melesat dengan sangat cepat mengadah ke lehernya.
Dalam posisi kuda kuda yang kurang sempurna, Ki Naga Gringsing memapaki datangnya sabetan tongkat itu
Taaakkk !!!
Klaaannnggg !!!
Begitu kedua senjata bertumbukan, golok Ki Naga Gringsing mental kembali dengan sangat kuat, hingga akhirnya terlepas dari genggaman.
Ki Dwijo langsung melanjutkan dengan totokan ke arah dada.
Duuuggghhh !!!
Karena ingin secepatnya pergi dari tempat itu, Ki Dwijo menggunakan tenaga dalam yang cukup besar. Sehingga seketika membuat tubuh Ki Naga Gringsing terlempar ke belakang hingga lima langkah lebih.
Bruuukkk !!!
Begitu melihat lawannya terjatuh, Ki Dwijo kata lirihbpada Puguh.
"Kita pergi dulu dari tempat ini ngger. Kamu tahu kan tempat Ki Bhanujiwo sahabat guru ? Di bawah punggung gunung, dataran luas di kaki tebing yang ada sungainya ?"
"Tahu guru," jawab Puguh.
Segera saja Puguh melesat ke arah mulut jurang. Kakinya tetap terayun untuk berlari walaupun ada Ki Naga Wiru yang menghadang langkahnya. Namun tetap diterjangnya, karena Puguh yakin, gurunya akan melakukan apapun demi keselamatannya.
Ki Naga Wiru yang masih terkejut dengan jatuhnya Ki Naga Gringsing, mencoba menangkis dengan sekuat tenaganya, saat Puguh dan Ki Dwijo melesat melewatinya.
Taaakkk !!!
Bruuuaaakkk !!!
__ADS_1
Walaupun sudah berusaha menangkis dengan sekuat tenaganya, tetap saja tombaknya terpental dan terlepas dari tangannya. Bahkan tubuhnya sampai harus terlempar ke belakang tidak kuat menahan ayunan tongkat kayu Ki Dwijo.
Semua itu bisa terjadi karena saat itu tenaga dalam Ki Naga Gringsing dan Ki Naga Wiru masih belum pulih saat habis dalam pertarungan seharian yang juga melawan Ki Dwijo.
Dengan tidak memperdulikan apapun yang terjadi di jalur yang dilewati, Puguh yang menggendong Ki Dwijo terus melesat menuju ke tempat Ki Bhanujiwo. Karena terus menerus mendapatkan penyaluran tenaga dalam, Puguh tidak merasakan kelelahan sedikitpun selama berlari.
Hingga akhirnya, menjelang pagi, Puguh sampai di dataran yang cukup luas. Dataran yang membentang tepat di bawah tebing yang lebar dan tinggi.
Walaupun matahari belum menampakkan sinarnya, namun dataran itu sudah menunjukkan kecerahannya.
Begitu sampai di dataran yang menjadi padang rumput, Puguh terus berlari pelan menuju ke gubuk Ki Bhanujiwo.
Saat berlari pelan di padang rumput itu, Puguh merasakan sedikit keanehan. Tiba tiba dia merasakan agak kelelahan. Namun, tanpa memperdulikan rasa lelah itu, Puguh terus saja menuju ke sebuah gubuk kecil tempat Ki Bhanujiwo tinggal.
Begitu sampai di depan teras kecil, Puguh mencoba memanggil.
"Pa ... man guru,"
Begitu melihat pintu reot itu terbuka, yang menampakkan bagian dalamnya yang gelap, Puguh melihat, sekelilingnya juga gelap.
----- o -----
Sebenarnya, Ki Bhanujiwo sudah bisa merasakan akan datangnya Puguh, dari getaran tenaga dalam yang dia tangkap.
Merasakan dari langkah yang ada dan besar getaran tenaga dalam yang dirasakannya, Ki Bhanujiwo tidak menganggap orang yang datang ini sebagai sebuah ancaman. Sehingga Ki Bhanujiwo memilih menunggu di dalam tempat tinggalnya.
Ketika sampai di depan teras, Ki Bhanujiwo merasa penasaran karena dia merasakan kalau getaran tenaga dalam yang baru saja datang tiba tiba menghilang.
Ketika baru saja membukakan pintu tempat tinggalnya, rasa penasaran Ki Bhanujiwo berubah menjadi terkejut. Karena dilihat ternyata seorang anak kecil yang memanggul seorang kakek renta yang ternyata Ki Dwijo, sahabatnya. Dan yang membuat lebih terkejut lagi, begitu sampai di depan pintu, anak kecil itu langsung pingsan karena kelelahan.
Segera saja Ki Bhanujiwo melesat untuk menangkap tubuh Ki Dwijo dan tubuh Puguh. Dsn kemudian langsung di bawa masuk ke dalam untuk diperiksa.
Puguh dan Ki Dwijo bisa tidak sadarkan karena mereka sama sama kehabisan tenaga dalam.
Ki Dwijo yang sejak pagi sudah bertarung melawan dua orang sekaligus sampai menjelang malam dan kemudian mengalami kelumpuhan kaki, hanya beristirahat sebentar sehingga tenaga dalamnya baru pulih sebagian kecil. Itupun kemudian digunakan untuk bertarung lagi melawan dua orang yang sama. Dan selama bertarung hingga melakukan perjalanan selalu menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Puguh. Hingga akhirnya, saat perjalanan mereka hampir sampai, Ki Dwijo sudah benar benar kehabisan tenaga dalam. Sehingga saat Puguh menyeberangi padang rumput sudah tidak bisa menyalurkan tenaga dalamnya.
__ADS_1
Karena sudah tidak diberi penyaluran tenaga dalam, maka selama perjalanannya menyeberangi padang rumput, Puguh memakai tenaga dalamnya sendiri. Karena tenaga dalamnya tinggal sedikit, maka saat dia sampai di depan teras, tenaga dalamnya habis. Hingga akhirnya Puguh pingsan.
__________ 0 __________