
"Dewa Batara ! Cah ayu, menyingkirlah ! Aku tidak ingin bertarung dengan kamu ! Biar kuusir perempuan yang baru datang itu !" teriak Wiku Polobogo sambil menambah aliran tenaga dalamnya, kemudian menyerang Rengganis dengan gerakan mendorong.
Sementara Rengganis yang tidak ingin kembali diserang secara mendadak, segera memapakinya dengan pukulan.
Untuk kesekian kalinya, terjadi benturan pukulan yang membuat tubuh mereka kembali terlempar ke belakang.
Hingga suatu saat, dalam posisi sama sama tersurut mundur, Puguh dan Rengganis bisa berdiri berdekatan.
"Kakang Puguh ! Mereka semua mempunyai kekuatan yang sangat tinggi. Kalau kita masing masing melawan satu orang, mungkin kita bisa mengalahkannya, walau memakan waktu yang tidak sebentar. Tetapi bagaimana kalau mereka berpikir untuk mengeroyok kita ? Kita tidak mungkin menghadapi mereka secara bersamaan. Belum lagi, kemungkinan masih ada lagi pendekar pendekar sakti yang lain yang akan datang kesini. Kita tidak mungkin sekarang ini menghabiskan tenaga dan kekuatan untuk pertarungan yang belum jelas maksudnya. Kita untuk sementara menyingkir dulu saja. Kita keluar dari Kerajaan Banjaran Pura !" kata Rengganis dengan cepat.
Mendengar perkataan Rengganis, Puguh sejenak terdiam. Hatinya mengatakan, selama bisa menghindarkan orang orang dari bahaya, apapun akan dia lakukan.
"Baiklah adik Rengganis. Begitu ada kesempatan, kita keluar dulu dari kepungan mereka !" jawab Puguh.
Sementara itu, Wiku Polobogo terus menatap Nyi Riwut Parijatha dengan penuh kecurigaan. Maka, ketika Nyi Riwut Parijatha bergerak melesat hendak menyerang Puguh lagi, dengan cepat Wiku Polobogo melenting guna menghadang arah jalan Nyi Riwut Parijatha, dan dengan cepat mereka bergebrak lagi.
Namun, saat pertarungan mereka baru berjalan sepuluh jurus, Wiku Polobogo sudah berteriak teriak lagi.
"Hentikan pertarungan ! Yang kita cari sudah melarikan diri !" teriak Wiku Polobogo.
Mendengar teriakan Wiku Polobogo, semuanya meloncat mundur. Biyung Kencana langsung menatap tajam empat laki laki kekar yang menjadi pengikutnya.
"Heeiii kalian ! Kenapa kalian tidak mengejar dua anak muda yang lari ?" teriak Biyung Kencana memarahi keempat orang yang mengikutinya sambil membawa bungkusan besar di punggungnya.
"Maaf Nyonya Juragan ! Tugas utama kami menjaga Nyonya Juragan !" jawab salah seorang dari keempat laki laki berbadan kekar itu.
__ADS_1
Mendengar jawaban itu, Biyung Kencana bukan senang dan berterimakasih. Justru telapak tangan kanannya melayang menampar pipi keempat laki laki berbadan kekar itu.
Plakkk ! Plakkk ! Plakkk ! Plakkk !
Menerima tamparan itu, empat laki laki kekar itu hanya terdiam dan sedikit meringis.
"Ayo cepat ! Kita kejar anak itu !" kata Biyung Kencana.
Seketika, keempat laki laki kekar itu melesat dengan sangat ringannya ke arah belakang bukit, yang menuju ke Kerajaan Banjaran Pura, diikuti oleh Biyung Kencana yang berjalan kaki biasa sambil tangan kirinya melambai lambaikan kipas untuk mengipasi leher dan wajahnya yang masih terlihat cantik.
Walaupun terlihat hanya berjalan kaki, namun Biyung Kencana tidak pernah ketinggalan dari keempat laki laki kekar yang berlari dengan sangat cepat.
Akhirnya, yang masih berdiri di puncak Bukit Gumuk Pasir Wedhi hanya tinggal Wiku Polobogo dan Nyi Riwut Parijatha. Karena, sebelum Biyung Kencana pergi meninggalkan puncak bukit, Topeng Kawung dan kedua muridnya, Topeng Seta dan Topeng Jenar, sudah melesat lebih dahulu menuju ke arah Kerajaan Banjaran Pura.
Melihat hanya berdua dengan Nyi Riwut Parijatha, Wiku polobogo yang merasa kikuk dan tidak ada urusan lagi dengan Nyi Riwut Parijatha, segera beranjak pergi.
"Dewa Batara ! Aku yang papa ini dipanggil dengan Wiku Polobogo, dari suatu negeri di Pulau Pasir Emas !" jawab Wiku Polobogo sambil menjura.
"Kalau boleh tahu, aku sedang berhadapan dengan siapa ?" sambung Wiku Polobogo ganti bertanya.
"Sebenarnya aku tidak ingin dikenal orang. Tetapi karena kau sudah menyebutkan namamu, penduduk lereng gunung biasa memanggilku Nyi Riwut Parijatha. Aku dari Kerajaan Kisma Pura !" jawab Nyi Riwut Parijatha.
"Dewa Batara ! Negeri yang sangat besar. Baiklah, aku permisi dulu !" kata Wiku Polobogo yang kemudian langsung melesat meninggalkan Nyi Riwut Parijatha yang akhirnya sendirian.
Seketika keadaan di puncak Bukit Gumuk Pasir Wedhi menjadi sunyi. Hanya terdengar suara hembusan angin yang menerbangkan debu debu dan menggoyangkan daun daun rerumputan yang sedikit tumbuh di bawah bawah batu besar.
__ADS_1
Harin semakin siang. Cuaca di seluruh permukaan Bukit Gumuk Pasir Wedi semakin panas menyengat.
"Kalau betul Ki Dahana Yaksa baru saja bertarung dengan pemuda itu, pantas saja kalau mendapatkan luka separah itu. Kekuatan dan tenaga dalam pemuda itu sudah pada tingkatan yang sangat tinggi. Semua yang datang tadi, akan sulit untuk bisa mengalahkan pemuda itu, bahkan untuk mengimbanginya pun berat !" gumam Nyi Riwut Parijatha sambil pandangannya menatap jauh ke arah perginya orang orang yang mencoba mengejar Puguh dan Rengganis.
Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat, Nyi Riwut Parijatha melesat ke arah yang diambil oleh Wiku Polobogo tadi.
----- * -----
Nyi Riwut Parijatha, pendekar yang seusia dan seangkatan dengan Resi Wismaya, adalah tokoh yang sangat sakti, bahkan sebenarnya merupakan satu dari beberapa tokoh persilatan yang paling sakti di Kerajaan Kisma Pura.
Karena dia tidak ingin dikenal orang, maka namanya jarang terdengar di dunia persilatan. Sepak terjangnya di dunia persilatan yang sangat jarang diketahui orang lain, membuat nama dan kesaktiannya seolah tidak dianggap.
Sebagai kakak kandung dari Ki Dahana Yaksa, Nyi Riwut Parijatha memiliki ilmu yang lebih tinggi dari Ki Dahana Yaksa.
Nyi Riwut Parijatha tinggal di lereng Gunung Bathok, gunung yang tidak terlalu tinggi yang terletak tepat di sebelah Gunung Pedang, wilayah kekuasaan Padepokan Wukir Candrasa.
Saat Ki Dahana Yaksa dibawa pulang dalam keadaan terluka parah, Nyi Riwut Parijatha yang dikabari oleh Bantala Yaksa keponakannya, segera menjenguk dan mencoba menolongnya. Namun, belum sempat memberikan ramuan yang dibuatnya, Ki Dahana Yaksa sudah lebih dahulu tewas.
Saat itu, Nyi Riwut Parijatha hanya bertanya, baru saja bertarung dengan siapakah hingga Ki Dahana Yaksa bisa mendapatkan luka separah itu yang akhirnya membuatnya tewas.
Setelah mendapatkan jawaban kalau Ki Dahana Yaksa baru saja bertarung dengan seorang pemuda bernama Puguh di depan Istana Kerajaan Banjaran Pura, Nyi Riwut Parijatha segera mencari keberadaan Puguh dan akhirnya bertemu di puncak Bukit Gumuk Pasir Wedhi.
----- * -----
Sebenar, tokoh tokoh dunia persilatan yang diam diam telah mengetahui berita tentang senjata pedang dan siluman elang peninggalan Pendekar Penunggang Elang yang jatuh ke tangan seorang pemuda, tidak hanya Biyung Kencana, Topeng Kawung, Wiku Polobogo dan Riwut Parijatha, yang sudah sempat bertemu dengan Puguh. Namun ada banyak lagi pendekar yang belum penah bertemu dengan Puguh, namun berusaha mencari berita tentang Puguh dan berusaha mencari untuk menangkapnya.
__ADS_1
Setelah mengetahui atau mendengar berita tentang kematian Pemimpin Besar Padepokan Wukir Candrasa, Ki Dahana Yaksa, banyak pendekar yang kemudian tidak melanjutkan untuk mencari dan ingin bertemu dengan Puguh yang diceritakan, mampu menewaskan Ki Dahana Yaksa. Tetapi tetap ada pendekar pendekar dengan tingkat kemampuan dan tenaga dalam yang sangat tinggi, diam diam tetap ikut mencari dan mengejar Puguh.
__________ ◇ __________