
"Senopati Cakrayuda, bagaimana tadi pasukan Kerajaan Banjaran Pura bisa bertempur melawan pasukan Kerajaan Kisma Pura ? Apakah peperangan sudah dimulai ?" tanya Puguh.
"Sebenarnya belum terjadi perang. Namun, sejak saat lamaran Prabu Girindra Nata ditolak oleh Putri Cinde Puspita itulah orang orang Kerajaan Kisma Pura selalu mengganggu dan membuat kerusuhan di wilayah Kerajaan Banjaran Pura !" jawab Senopati Cakrayuda.
Mendengar semua isi pembicaraan itu, Rengganis hanya diam saja, walaupun sebenarnya hatinya sakit sekaligus panas luar biasa.
Bahkan ketika mereka selesai berbincang dan mundur dari pembicaraan pun, Rengganis tetap terdiam.
----- * -----
Pada pagi hari berikutnya, Puguh dan Rengganis menghadap Prabu Pandu Kawiswara.
Pada pertemuan yang juga dihadiri oleh Senopati Wiraga dan Senopati Cakrayuda itu, Prabu Pandu Kawiswara meminta pada Puguh untuk membantu Kerajaan Banjaran Pura dengan bersedia untuk mengadu ilmu seperti tantangan yang dilayangkan oleh Prabu Girindra Nata.
Sebelum mengatakan menyanggupi permintaan Prabu Pandu Kawiswara, Puguh meminta informasi sebanyak banyaknya tentang kekuatan perang Kerajaan Kisma Pura dan terutama tentang kekuatan para pendekar di dunia persilatan Kerajaan Kisma Pura.
"Puguh, kekuatan angkatan perang Kerajaan Kisma Pura sangat besar. Ada banyak senopati yang kemampuannya setingkat dengan kami. Ada beberapa senopati yang tingkat ilmunya diatas kami !" jawab Senopati Wiraga, "Kalau kemampuan para pendekar dari Kerajaan Kisma Pura, sulit untuk diukur. Banyak pendekar dari Kerajaan Kisma Pura yang kesaktiannya di luar bayangan kita."
"Prabu Pandu Kawiswara, demi Kerajaan Banjaran Pura, aku akan bertarung untuk meladeni tantangan Prabu Girindra Nata !" kata Puguh.
Mendengar kesanggupan Puguh, semua yang berada di ruang pertemuan itu merasa lega.
Kemudian, sebelum pertemuan dibubarkan, Prabu Pandu Kawiswara menyampaikan, kalau suatu saat utusan dari Kerajaan Kisma Pura datang, akan disampaikan kalau Kerajaan Banjaran Pura menerima tantangan Prabu Girindra Nata.
Setelah keluar dari ruang pertemuan, Puguh menyampaikan maksudnya pada Rengganis.
"Adik Rengganis, sepertinya kakang harus pergi ke tlatah Kerajaan Kisma Pura, untuk melihat dan mendengar dari dekat, terutama kekuatan para pendekar dari Kerajaan Kisma Pura !" kata Puguh.
"Rengganis akan menemani kemanapun kakang Puguh pergi !" jawab Rengganis.
"Tetapi apa yang akan kakang lakukan ini, penuh dengan bahaya, bahkan mungkin mengorbankan nyawa," kata Puguh lagi.
"Matipun Rengganis siap selama bersama sama dengan kakang !" jawab Rengganis.
Mendengar jawaban Rengganis, Puguh pun mendekap Rengganis dengan erat hingga beberapa waktu. Tidak ada kata kata yang keluar dari mereka berdua. Namun, degup jatung, desiran hati serta getaran tubuh mereka sudah mengatakan semuanya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, setelah mereka berdua melepaskan pelukan, siang itu juga, Puguh dan Rengganis melesat menyeberang hutan perbatasan menuju ke Kerajaan Kisma Pura.
Selama berlari melintasi hutan perbatasan itu, Puguh dan Rengganis merasakan banyak sekali getaran kekuatan yang berasal dari makhluk siluman penghuni hutan itu.
Tidak ingin berurusan dengan para siluman itu, Puguh dan Rengganis melesat dengan kecepatan yang sudah tidak bisa diikuti dengan mata. Mereka berdua berusaha, menjelang petang sudah bisa keluar dari hutan perbatasan.
Pada sore hari menjelang malam, Puguh dan Rengganis tiba di perbatasan Kerajaan Kisma Pura. Sebagai kerajaan yang sangat besar, banyak orang berkepentingan memasuki kerajaan Kisma Pura, sehingga pada sore menjelang malam itu, Puguh dan Rengganis tidak kesulitan melewati gerbang perbatasan, karena bersamaan dengan banyak orang.
Puguh dan Rengganis segera mencari penginapan yang juga menyediakan makan. Selain untuk beristirahat, mereka juga ingin mendengar berita berita seputar Kerajaan Kisma Pura, untuk bekal pengetahuan mereka melakukan perjalanan di Kerajaan Kisma Pura pada keesokan harinya.
----- * -----
Pagi yang cerah dengan langit yang jernih. Matahari sudah membagikan kehangatannya pada semua makhluk penghuni bumi, tanpa terhalangi oleh awan sedikitpun. Termasuk di jalan yang cukup lebar, yang menuju ke arah kota yang terdekat dengan perbatasan.
Puguh dan Rengganis menyusuri jalan yang tidak terlalu ramai itu. Di kiri dan kanan jalan itu, terlihat banyak bangunan rumah berdiri, baik yang digunakan sebagai hunian, rumah makan ataupun penginapan.
Setelah beberapa saat melewati jalan itu, Puguh dan Rengganis sampai di jalanan yang mulai sepi karena sudah jarang sekali orang yang lewat.
Memanfaatkan kondisi jalan yang sepi, Puguh dan Rengganis segera menggunakan ilmu berlari cepat mereka.
Setelah beberapa waktu mereka berlari, pendengaran Puguh dan Rengganis menangkap suara suara berdentang seperti suara senjata beradu yang disertai dengan suara suara teriakan.
Sesampai di belokan itu, Puguh dan Rengganis memperlambat lari mereka. Terlihat di jalan depan mereka, empat buah kereta yang masing masing ditarik oleh dua ekor kuda, berhenti di tengah jalan.
Di sekeliling kereta kereta itu, terjadi pertarungan yang tidak seimbang. Terlihat empat orang berpakaian pendekar dikeroyok oleh puluhan orang bersenjatakan golok. Sementara, disekitar pertarungan, enam orang berpakaian pendekar tergeletak di tanah dengan luka terkena tebasan golok.
Walaupun dikeroyok oleh puluhan orang, keempat pendekar itu masih bisa bertahan. Namun, karena kalah jumlah dan diantara pengeroyok itu ada beberapa yang ilmu silatnya setingkat dengan mereka berempat, akhirnya keempat orang pendekar itu terdesak dan mulai mendapatkan luka.
Melihat keadaan yang timpang dan membahayakan nyawa itu, Rengganis mengambil beberapa lembar daun. Kemudian, dari jarak yang masih cukup jauh, Rengganis melemparkan beberapa lembar daun ke arah para pengeroyok itu.
Dengan kecepatan yang sangat tinggi, beberapa lembar daun itu membentur bilah golok para pengeroyok, yang terkejut ketika tiba tiba golok mereka terlepas dari genggaman mereka.
Ting ! Ting ! Ting ! Ting !
"Bedebah ! Siapa yang berani turut campur urusan ini !" teriak seorang pengeroyok yang bertubuh tinggi besar sambil memungut kembali golok besarnya yang tiba tiba terjatuh. Diikuti beberapa orang yang golok mereka juga terlepas dari genggaman mereka.
__ADS_1
Sementara itu, ketika nyawa mereka terselamatkan, keempat pendekar itu segera berdiri di samping kereta.
"Lindungi Ki Sugih Brana dan keluarganya !" teriak salah satu pendekar yang nampaknya sebagai pemimpinnya.
"Habisi mereka ! Ambil barang barang muatan mereka ! Kemudian kita bakar sisanya !" pemimpin pengeroyok yang berbadan tinggi besar yang telah memegang goloknya kembali.
Mereka semua baru saja akan bergerak menyerbu, ketika terdengar suara seorang perampuan.
"Penjahat seperti kalian itu memang harus diberantas !"
Sesaat kemudian, terlihat berkelebatnya sesosok tubuh, ketika Rengganis yang berlari mendahului kemudian melakukan beberapa pukulan ke para pengeroyok itu, yang membuat pengeroyok yang terkena tamparannya terpelanting jatuh.
Plak ! Plak ! Plak ! Plak !
"Pergi dari sini atau kalian akan merasakan akibatnya !" kata Rengganis dengan keras.
Melihat yang baru saja datang hanyalah seorang perempuan, pemimpin gerombolan pengeroyok dan semua anggotanya itu sejenak terdiam sambil menatap tubuh dan wajah Rengganis yang sangat cantik.
Namun kemudian, rasa geram pemimpin gerombolan itu kembali muncul.
"Kepung dan tangkap perempuan itu !" perintah pemimpin gerombolan pengeroyok itu.
Mendengar perintah pemimpinnya, para pengeroyok itu segera mengepung Rengganis dan kemudian melakukan serangan.
Melihat para anggota gerombolan itu kembali menyerang, Rengganis segera bergerak maju. Dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti dengan mata, Rengganis menampar pengeroyok yang menyerang paling depan dan merebut goloknya.
Plaaakkk !
Pengeroyok yang terkena tamparan itu terpelanting jatuh dengan mata berkunang kunang.
Sesaat kemudian, terdengar kembali suara berdentangan, saat dengan gerakan tubuhnya yang sangat cepat, Rengganis menjatuhkan semua golok yang pegang oleh para pengeroyok.
Trang ! Trang ! Trang ! Trang !
Beberapa waktu kemudian semua senjata golok yang dipegang oleh gerombolan pengeroyok itu jatuh berserakan di tanah dan segara di sapok lagi oleh Rengganis dengan menggunakan golok yang dia bawa, yang membuat golok golok itu melayang dan menancap di batang pohon.
__ADS_1
Clap ! Clap ! Clap ! Clap !
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_