Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Membantu Kerajaan Banjaran Pura


__ADS_3

Melihat lima prajurit yang diperintahkan untuk kembali ke kotaraja tidak bisa melepaskan diri dari serangan, pemimpin pasukan pengintai segera memerintahkan lima prajurit lainnya, yang bersamanya untuk segera pergi mencari bantuan. Sementara itu, pemimpin prajurit pengintai itu segera melesat maju membantu para prajuritnya.


Melihat pemimpin mereka melesat ke arah lima prajurit rekan mereka yang sedang menghadapi serangan dari sebagian kecil pasukan perang yang berada di tengah Hutan Perbatasan, tanpa berpikir panjang, kelima prajurit yang diperintah oleh pemimpin untuk mencari bantuan itu, lari ke arah yang berlawanan. Tanpa sadar, mereka berlari menuju ke dalam Hutan Perbatasan yang ke arah wilayah Kerajaan Kisma Pura. Yang kemudian, akhirnya mereka bertemu dengan rombongan pendekar dan pasukan perang dari Kerajaan Kisma Pura yang dipimpin oleh Pangeran Indra Prana.


----- * -----


Mendengar seluruh kisah salah seorang prajurit pengintai dari Kerajaan Banjaran Pura itu, Pangeran Indra Prana segera memerintahkan seluruh pasukan perangnya untuk menyeberang Hutan Perbatasan serta mengajak rombongan pendekar itu untuk langsung menuju kotaraja Kerajaan Banjaran Pura.


Seluruh prajurit pasukan perang Kerajaan Kisma Pura tidak menyadari betapa mereka semua sangat lancar melintasi Hutan Perbatasan, sebuah hutan yang selama ini tidak semua orang atau pendekar berani memasukinya, karena dihuni oleh banyak makhluk siluman binatang yang mempunyai tingkat kekuatan sangat tinggi.


Setelah melakukan perjalanan selama satu hari penuh, pada sore hari menjelang malam, pasukan perang Kerajaan Kisma Pura tiba di perbatasan Kerajaan Banjaran Pura dengan Hutan Perbatasan.


Di tepi hutan itu, Pangeran Indra Prana dan rombongan pendekar serta pasukan perang Kerajaan Kisma Pura, menemukan cukup banyak prajurit Kerajaan Banjaran Pura yang terluka dan terlihat panik.


Segera saja Pangeran Indra Prana memerintahkan seluruh prajurit yang menjadi anggota regu pengobatan untuk menolong para prajurit Kerajaan Banjaran Pura.


Regu pengobatan juga menemukan Putri Cinde Puspita yang sedang bersemedi karena mengalami luka¥) dalam. Regu pengobatan segera menempatkan Putri Cinde Puspita di tenda khusus untuk pengobatan.


Waktu terasa berjalan pelan namun pasti. Akhirnya menjelang pagi di hari berikutnya, Putri Cinde Puspita terlihat bangun dari semedinya.


Pangeran Indra Prana yang ikut menunggui proses pengobatan Putri Cinde Puspita, merasa gembira saat mengetahui Putri Cinde Puspita sudah bisa bangun dari semedinya.


"Putri Cinde Puspita, siapa yang memimpin pasukan dari Kerajaan Banjaran Pura ini ?" tanya Pangeran Indra Prana, setelah Putri Cinde Puspita berdiri dari duduk semedinya.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, Putri Cinde Puspita menatap tajam Pangeran Indra Prana.


Ditatap Putri Cinde Puspita dengan sorot mata yang tajam, yang keluar dari kedua matanya yang sangat indah, membuat jantung Pangeran Indra Prana berdetak lebih cepat dan dengan perasaan yang tidak menentu.


"Ahh maaf, Putri Cinde Puspita. Perkenalkan, aku Pangeran Indra Prana dari Kerajaan Kisma Pura. Kami datang ke sini untuk membantu negerimu yang diserang oleh pasukan perang asing dari tanah seberang !" kata Pangeran Indra Prana memperkenalkan diri sambil kedua tangannya melakukan gerakan menjura.


"Terimakasih Pangeran Indra Prana. Aku Putri Cinde Puspita, adik dari Prabu Pandu Kawiswara !" jawab Putri Cinde Puspita.


"Maaf, aku tahu namamu dari para prajuritmu !" kata Pangeran Indra Prana lagi.


"Pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura yang melarikan diri ke Hutan Perbatasan ini, bisa dikatakan, akulah yang memimpinnya, walau sebenarnya, mereka semualah yang mengawalku !" kata Putri Cinde Puspita, "Sekali lagi, terimakasih Pangeran Indra Prana, telah bersedia membantu kami untuk membebaskan Kerajaan Banjaran Pura dari serbuan pasukan perang dari negeri seberang !"


Kemudian, Putri Cinde Puspita menceritakan, apa yang telah menimpa Kerajaan Banjaran Pura.


----- * -----


Mendengar laporan itu, prabu Pandu Kawiswara segera memerintahkan seluruh senopatinya untuk menyiapkan seluruh pasukan perangnya secepat mungkin.


Prabu Pandu Kawiswara juga ikut dalam pasukan terdepan bersama sama dengan Putri Cinde Puspita, Dewi Laksita dan kedua senopatinya yaitu Senopati Wiraga dan Senopati Cakrayuda.


Sementara itu, Senopati Widura, Senopati Darutama, Senopati Arimbi dan Ki Bhanujiwo, menjaga di sayap kanan dan sayap kiri.


Pada pagi hari itu, dua pasukan perang saling berhadapan di luar gerbang kotaraja kerajaan Banjaran Pura.

__ADS_1


Di pihak pasukan perang Kerajaan Menara Langit, nampak ada Panglima Perang Hapsari yang menjadi pemimpin pasukan perang. Di samping kanan Panglima Perang Hapsari, berdiri dengan gagahnya Panglima Perang Jaladra walau tangannya tinggal satu. Di samping kirinya, dua gadis muda cantik, tangan kanan Pangeran Langit Barat.


Sedangkan di sayap kanan dan sayap kiri pasukan perang, ada beberapa wakil panglima perang yang kesaktian dan tenaga dalamnya sudah memasuki tingkat sangat tinggi, hanya sedikit di bawah para Panglima Perang.


"Kalian semua orang orang Kerajaan Banjaran Pura, kami dengar, di negeri kalian ini, tersimpan inti jiwa siluman binatang yang terkuat di tanah ini ! Kami datang ke negeri kalian ini, diutus oleh junjungan kami, Pangeran Langit Barat, untuk meminjam inti jiwa siluman binatang itu secara baik baik !" kata Panglima Perang Hapsari.


"Siapapun kalian dan dari manapun kalian berasal, kembalilah ke negeri kalian. Di sini, Kerajaan Banjaran Pura, tidak ada barang yang kalian maksud !" jawab Prabu Pandu Kawiswara.


"Huuhhh ! Sepertinya kalian tidak bisa diajak berbicara baik baik ! Jangan paksa kami untuk menggunakan kekerasan !" sahut Panglima Perang Jaladra.


"Cepat berikan inti jiwa siluman binatang, dan kami akan pergi dari negeri kalian !" teriak Panglima Perang Hapsari.


"Pergilah kalian semua ! Tidak ada sesuatu yang harus kami berikan pada kalian !" jawab Prabu Pandu Kawiswara.


"Kalian semua memang harus diberi pelajaran !" kata Panglima Perang Hapsari lagi sambil mengeluarkan senjata cambuknya dan kemudian melecutkan ujung cambuknya ke udara.


Ctaaarrr ! Ctaaarrr ! Ctaaarrr !


Sesaat kemudian, terdengar suara teriakan bergemuruh saat ribuan prajurit Kerajaan Menara Langit, berlarian maju menyerang. Rupanya, suara lecutan cambuk itu merupakan aba aba untuk menyerang.


Sementara itu, dipihak Kerajaan Banjaran Pura, melihat bala prajurit pasukan perang Kerajaan Menara Langit sudah bergerak maju, Prabu Pandu Kawiswara segera memberi aba aba pasukan perangnya untuk maju.


Tak terhindarkan lagi, di waktu pagi menjelang siang itu, terjadi pertempuran antara pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura melawan pasukan perang Kerajaan Menara Langit.

__ADS_1


Suatu pertempuran yang tidak seimbang. Jumlah kekuatan seluruh pasukan Kerajaan Banjaran Pura yang tinggal dua ribu prajurit, harus menghadapi pasukan perang Kerajaan Menara Langit yang berjumlah sekitar lima Ribu prajurit. Belum lagi jumlah wakil panglima perang yang berkemampuan dan memiliki tenaga dalam pada tingkatan yang sudah sangat tinggi, yang hanya berselisih sedikit dengan para Panglima Perang.


---------- ◇ ----------


__ADS_2