
Pada pagi hari berikutnya, pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura yang dipimpin oleh Senopati Cakrayuda berangkat menuju Istana Setra Jenggala untuk menumpas Pangeran Panji dan kekuatannya. Sedangkan Senopati Wiraga yang belum pulih sepenuhnya, tetap berada di istana.
Sementara itu, kekuatan para pendekar, terdiri dari Ki Wiraga, Ki Tanggul Alas, Ki Kebo Ranu, Ki Klewang Klewung, Ki Bhanujiwo, Nyi Jinten, serta Puguh, Rengganis dan Den Roro. Ki Dwijo terpaksa tinggal di istana karena kondisinya yang belum memungkinkan.
Menjelang sing hari, mereka sampai di tepi hutan. Setelah beristirahat sejenak, pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura memasuki hutan dan menuju ke Istana Setra Jenggala yang dijadikan markas oleh Pangeran Panji.
Pada waktu yang bersamaan di Istana Setra Jenggala, Pangeran Panji menerima laporan dari prajurit penjaga, tentang kedatangan pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura.
Karena itu, Pangeran Panji memerintahkan pasukan perangnya seadanya untuk menghadapi serangan pasukan Kerajaan Banjaran Pura dan dipimpin sendiri oleh Pangeran Panji dan istrinya.
Selain itu, Pangeran Panji juga meminta pada para pendekar yang bersamanya untuk ikut berperang. Para pendekar yang antara lain Iblis Barat, Iblis Selatan, Iblis Utara, Nyi Manis, Dharma Shankara dan Muka Pucat serta Putri Mahatariti. Sedangkan Kama Catra masih berada di ruangan khusus untuk menyempurnakan ilmu barunya.
Tidak berapa lama, pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura tiba di gerbang Istana Setra Jenggala dan disambut langsung oleh Pangeran Panji.
"Atas perintah Prabu Pandu Kawiswara, Pangeran Panji diminta menyerah dan tidak melakukan perlawanan !" kata Senopati Cakrayuda.
"Haaahhh ha ha ha ha ... ! Sampaikan salamku pada Prabu Pandu Kawiswara. Dan sampaikan juga padanya, kalau Pangeran Panji tidak akan pernah menyerahkan diri !" sahut Pangeran Panji.
"Terpaksa kami akan menangkap Pangeran Panji dan menumpas semua yang berbuat makar pada kerajaan !" kata Senopati Cakrayuda.
Kemudian, setelah mendapatkan aba aba dari Senopati Cakrayuda, pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura mulai bergerak menyerbu.
Tanpa bisa dihindari lagi, kembali terjadi pertempuran yang sepertinya akan memakan banyak korban jiwa.
Pangeran Panji yang berdiri paling depan, segera berhadapan dengan Senopati Cakrayuda. Walau seorang Pangeran, Pangeran Panji memiliki ilmu silat yang tinggi, karena Pangeran Panji gemar akan ilmu silat dan kebetulan sebagai murid dari Ki Kama Catra. Sehingga Pangeran Panji mampu mengimbangi ilmu silat dan tenaga dalam Senopati Cakrayuda.
Sementara itu, untuk mencegah terjadinya banyak korban dikalangan prajurit, Ki Bhanujiwo mengajak pendekar pendekar yang lain untuk menghadang pergerakan pendekar pendekar yang mendukung Pangeran Panji.
Di tengah tengah rombongan prajurit pasukan perang Pangeran Panji, Iblis Barat, Iblis Selatan, Iblis Utara, Nyi Manis, Dharma Shankara dan Muka Pucat serta Putri Mahatariti, hanya bersiap sambil melihat keadaan, siapa saja pendekar yang ikut membantu pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura.
Mereka semua berpikir, kalau tokoh tokoh pendekar di pihak lawan, seimbang dengan mereka dan mampu mereka lawan, mereka akan ikut bertempur.
Namun, andaikata jumlah pendekar yang membantu pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura lebih banyak, dan diperkirakan mereka akan kalah, mereka semua akan pergi meninggalkan medan pertempuran. Apalagi tokoh yang mereka takuti dan mereka andalkan, Ki Kama Catra, belum pernah ikut berperang, bahkan sekarang sedang berada di ruangan khusus untuk menyempurnakan ilmunya.
Sesaat kemudian, Iblis Barat dan yang lainnya melihat, diantara prajurit Kerajaan Banjaran Pura, berlompatan dengan ilmu meringankan tubuhnya, para pendekar yang membantu pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura, yang jumlahnya ternyata lebih banyak dari jumlah mereka. Apalagi dari kejauhan mereka sudah melihat, tokoh tokoh pendekar di pihak pasukan kerajaan Banjaran Pura itu, siapa saja.
Akhirnya, tanpa diberi aba aba, Iblis Barat, Iblis Selatan, Iblis Utara, Nyi Manis, Dharma Shankara dan Muka Pucat istrinya melesat pergi meninggalkan pertempuran. Mereka tidak peduli dengan keadaan pasukan perang Pangeran Panji yang terdesak hebat.
__ADS_1
Sementara itu, Putri Mahatariti juga menyingkir dari tengah tengah para prajurit yang berperang. Namun tidak mengikuti arah perginya kedua orangtuanya, justru berdiri di pinggir pertempuran sambil melihat lihat ke berbagai sudut pertempuran, seolah olah ada yang dicarinya.
Saat melihat apa yang dicari cari, Putri Mahatariti segera melesat mendekati. Namun, tiba tiba ada sesosok tubuh yang menghadang di depannya. Putri Mahatariti pun menghentikan larinya.
"Saat ini aku sedang tidak ingin bertarung dan tidak akan bertarung dengan siapapun. Jangan halangi jalanku, aku hanya akan menemui Puguh !" ucap Putri Mahatariti pelan dengan sedikit menggerakkan kepalanya.
"Siapa yang akan percaya dengan perkataan perempuan keji sepertimu ?" jawab suara perempuan yang ternyata adalah Rengganis.
"Terserah kau akan percaya atau tidak ! Yang jelas, aku tidak berniat bertarung dengan siapapun !" kata Putri Mahatariti lagi.
"Huuuhhh ! Kau hanya ingin mengelabui kami !" sahut Rengganis sambil melesat ke arah Putri Mahatariti sambil melancarkan serangan.
Buuuggghhh !
Tubuh Putri Mahatariti terdorong mundur hingga tiga langkah dan kemudian jatuh terduduk.
Beberapa saat Putri Mahatariti terdiam. Dirasakan nyeri dadanya dan nafasnya sedikit sesak.
Kemudian dengan perlahan Putri Mahatariti bangun berdiri lagi. Tangan kirinya mengelap sedikit darah yang keluar di kedua ujung bibirnya.
Sementara itu, Rengganis melihat itu semua dengan mulut sedikit ternganga. Dia tidak mengira, perempuan di depannya itu benar benar tidak mau bertarung, bahkan juga tidak berusaha menghindari pukulannya.
"Aku ke sini untuk menemui Puguh, tidak untuk bertarung," kata Putri Mahatariti sambil berjalan ke arah Puguh yang muncul di belakang Rengganis.
"Puguh .. !' kata Putri Mahatariti.
Mengetahui Puguh muncul di belakangnya, Rengganis segera bergerak mundur mendahului Putri Mahatariti dan kemudian berdiri tepat di depan Puguh.
"Kakang Puguh sudah di sini. Sekarang katakan apa yang hendak kau sampaikan !" kata Rengganis.
Mulut mungil Putri Mahatariti baru saja hendak mengucapkan sesuatu, namun akhirnya tertunda tatkala tiba tiba terdengar teriakan yang sangat keras dengan nada marah yang bercampur dengan kepiluan dan kekecewaan.
Aaaaaahhh .... !!!
----- * -----
Sementara itu di tempat pertempuran. Pangeran Panji yang saat itu sedang menghadapi Senopati Cakrayuda, sangat terkejut melihat para pendekar yang membantunya, semuanya melarikan diri. Selain itu, dilihatnya, istrinya yang tidak terlalu tinggi ilmu silatnya, gugur setelah menghadapi beberapa pimpinan prajurit sekaligus. Hal itu menimbulkan kemarahan sekaligus kekecewaan dalam diri Pangeran Panji.
__ADS_1
Segera saja Pangeran Panji melenting ke arah para prajuritnya yang sedang bertempur.
"Buat formasi bertahan ! Lindungi aku !" teriak Pangeran Panji.
Segera saja para prajurit membuat pertahanan yang rapat.
Melihat hal itu, Senopati Cakrayuda mencoba mendekat dan melewati barisan prajurit.
Namun, baru saja tubuhnya bergerak, tiba tiba terlihat beberapa tubuh prajurit melayang ke arahnya. Karena takut mencelakakan tubuh prajurit itu, Senopati Cakrayuda terpaksa menangkap tubuh para prajurit itu.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Pangeran Panji melesat masuk ke dalam Istana Setra Jenggala untuk mencari ibunya.
Namun, kembali lagi Pangeran Panji terkejut saat melihat ibunya tergeletak di lantai kamar dengan sebuah keris yang menancap di dadanya, dan tangan kanannya masih memegang gagang keris itu. Terlihat darah masih mengalir deras dari sela sela bilah keris yang menancap.
Seketika Pangeran Panji berteriak dengan sangat keras.
Aaaaaahhh .... !!!
Suara teriakan yang membuat ngeri siapapun yang mendengarnya. Karena suara teriakan itu menggambarkan perasaan marah, pilu dan kecewa.
Pangeran Panji memang marah dengan kepergian semua pendekar yang tadinya membantunya. Namun, Pangeran Panji juga sedih dan pilu atas kematian istri dan ibunya, orang orang yang selalu mendukung dan membelanya. Ditambah lagi dengan kalah dan habisnya pasukan yang dibentuknya, yang membuatnya merasa kecewa.
Dengan perasaan hati yang bercampumr aduk, Pangeran Panji meloncat keluar. Pangeran Panji melihat, sudah tidak ada pertempuran. Pasukan perangnya hancur. Yang terlihat dipihaknya hanyalah Putri Mahatariti.
Maka, dengan kekuatan penuh, Pangeran Panji menyambar tubuh Putri Mahatariti yang sebenarnya sedikit mengalami luka dalam dan tidak siap serta tidak menyangka sama sekali dengan apa yang akan dilakukan oleh Pangeran Panji.
Kemudian Pangeran Panji melesat Pergi ke arah hutan yang lebih dalam lagi sambil membawa tubuh Putri Mahatariti.
"Puguh ! Tolooong !" teriak Putri Mahatariti.
Mendengar teriakan minta tolong, Puguh baru akan bergerak mengejar, namun ditahan oleh Rengganis.
"Kakang Puguh ! Dia itu perempuan keji ! Tidak perlu ditolong !" kata Rengganis sambil memegang tangan Puguh. Puguh pun urung mengejarnya.
Sementara dalam peperangan antar prajurit, karena kalah dalam jumlah dan kalah dalam semangat bertempur, sisa sisa prajurit pasukan Pangeran Panji akhirnya menyerah dengan membuang senjatanya. Setelah sebelumnya prajurit pasukan Pangeran Panji melakukan perlawanan dan banyak yang tewas.
Karena lawan sudah menyerah, akhirnya pertempuran pun berakhir.
__ADS_1
__________ ◇ __________