Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pemimpin Tertinggi Bangsa Kera Raksasa


__ADS_3

Dengan berjalan pelan, Puguh menghampiri kedua tubuh kera raksasa yang pingsan itu, kemudian tangan kanannya bergerak melakukan totokan beberapa kali pada tubuh dua kera raksasa itu.


Kemudian Puguh melakukan totokan totokan pada bagian tubuh tertentu dari kedua kera raksasa itu hingga kedua kera raksasa itu siuman, setelah sebelumnya, Puguh membawa mereka kembali ke bawah pohon besar.


Kedua kera raksasa itu perlahan kembali kesadarannya. Mereka merasakan dan menyadari, keadaan mereka berdua kembali sama dengan sebelumnya. Mereka berdua tidak bisa menggetakkan tubuh mereka, karena tubuh mereka ditotok oleh Puguh. Namun kali ini agak berbeda, karena sekarang mereka juga merasakan kepala mereka pusing. Kedua kera raksasa itu, tidak mengetahui, jika tubuh mereka terlempar ke belakang hingga membentur pohon.


Kemudian Puguh duduk berjongkok di dekat mereka.


"Siapa yang akan menjawab pertanyaanku ?" tanya Puguh.


Kedua kera raksasa itu saling pandang. Namun Puguh sekilas melihat, kera raksasa yang di pintu gerbang itu beberapa kali melirik ke arah kera raksasa yang menyerang ke tengah perkampungan.


"Baiklah. Siapa kalian ! Kenapa kalian masuk ke Negeri Tanah Dewa ini ? Sudah berapa banyak, bangsa kalian yang memasuki Negeri ini ?" tanya Puguh sambil menatap kera raksasa yang lebih besar, yang tadi menyerang ke tengah perkampungan.


Puguh melihat, kera raksasa yang lebih besar itu enggan untuk menjawab.


Sesaat kera raksasa yang lebih besar itu tetap terdiam.

__ADS_1


"Bunuhlah kami ! Kami memang siap untuk mati saat kami datang ke Negeri Tanah Dewa ini !" jawab kera raksasa yang lebih besar.


"Haahhh ... Sudah aku duga, kalian memang kera sialan yang tidak bisa dipegang janji dan kata katanya !" kata Puguh sambil berdiri lagi. Kedua tangannya menepuk nepuk paha dan pantatnya seolah membersihkan pakaiannya dari kotoran yang menempel.


"Baiklah. Kalian akan aku buat pingsan lagi dan akan aku totok agar tubuh kalian tidak bisa lagi mengeluarkan tenaga dalam. Biar nanti saat kalian terbangun, kalian akan mendapati, tubuh kalian terikat rantai karena telah tertangkap oleh bangsa manusia ataupun oleh bangsa manusia setengah kera !" kata Puguh lagi.


"Grrhhh ! Baik ! Baik ! Akan aku jawab pertanyaanmu ! Asal jangan kau biarkan kami tertangkap oleh dua bangsa licik itu ! Lebih baik setelah itu, kau bunuh kami saja !" kata kera besar setengah berteriak.


"Nah ! Itu lebih baik !" jawab Puguh sambil terus duduk menjatuhkan pantatnya di tanah yang agak berumput di dekat kera raksasa yang lebih besar.


"Akan aku ceritakan yang sebenarnya, yang mungkin tidak pernah diceritakan oleh bangsa manusia ataupun bangsa manusia setengah kera !" kata kera raksasa yang lebih besar itu.


"Tidak apa apa, adikku !" jawab kera raksasa yang lebih besar.


"Kami adalah keturunan dari pemimpin tertinggi bangsa kera raksasa. Dahulu kala, saat kami kalah berperang melawan keroyokan bangsa manusia dan bangsa manusia setengah kera, kami semua bangsa kera raksasa, dihukum oleh dewa untuk tinggal di Pulau Besar, sebuah pulau yang dihuni oleh hewan hewan raksasa, yang kemudian diberi sekat pelindung agar kami bangsa kera raksasa tidak bisa kembali ke Negeri Tanah Dewa. Namun, saat kami sampai di Pulau Besar, ternyata Pemimpin Tertinggi bangsa kami tidak ada bersama kami. Kami semua, keturunan dan seluruh rakyat bangsa kera raksasa menunggu kehadiran Pemimpin Tertinggi bertahun tahun agar bisa memimpin kami lagi menjadi bangsa yang kuat dan disegani. Kemudian, ada beberapa dari kami, keturunan Pemimpin Tertinggi, yang mewarisi ilmu yang tinggi dan memiliki tenaga dalam yang tinggi, selalu mencoba untuk bisa menyelinap keluar dari sekat pelindung. Selama bertahun tahun, kami telah mempelajari, waktu kapan saja sekat pelindung itu dalam keadaan kuat dan waktu kapan saja sekat itu dalam keadaan lemah. Hingga suatu saat, kami menemukan cara agar bisa membuat celah pada sekat pelindung. Kami semua yang memiliki ilmu dan tenaga dalam yang tinggi, bekerja sama dan akhirnya bisa mengirimkan satu persatu beberapa dari kami keluar dari sekat pelindung. Kami yang bisa keluar dari sekat pelindung, terpisah pisah karena waktu keluar dari sekat pelindung yang tidak bersamaan. Kami mengembara mengikuti kemanapun kaki melangkah. Bertahun tahun bahkan puluhan hingga ratusan tahun, kami berusaha menuntut ilmu sebanyak banyaknya dengan sabar. Tidak peduli dari manapun ilmu itu, asal bisa membuat kami menjadi bertambah lebih kuat, akan kami pelajari. Hingga suatu saat, terjadi ledakan suara yang membuat retakan pada selubung pelindung yang memisahkan antara alam manusia dengan alam iblis, yang ternyata juga membuka jalan bagi kami, untuk pergi memuju ke tempat yang kami cari, yaitu Tanah Dewa. Beberapa dari kami yang berhasil ke Tanah Dewa, akhirnya bisa mendapatkan kabar, kalau Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa, ditahan di suatu tempat di Negeri Tanah Dewa. Kami hanya berusaha meminta kembali Pemimpin Tertinggi kami, mati atau masih hidup, itu saja, untuk kami bawa pulang ke Pulau Besar, yang sekarang menjadi negeri kami." cerita kera raksasa yang lebih besar.


Mendengar cerita yang sangat panjang itu, Puguh sejenak terdiam. Pikirannya bekerja cepat menguntai semua kejadian yang dilihat dan dialaminya, dengan semua cerita yang pernah didengarnya.

__ADS_1


"Kalau Pemimpin Tertinggi kalian, bisa kalian temukan hidup atau mati dan bisa kalian bawa pergi, apakah bangsa kera raksasa tidak akan menyerang bangsa manusia dan bangsa manusia setengah kera lagi kedepannya ?" tanya Puguh.


"Ggrrhhh ! Semua bangsa pada dasarnya sama. Bangsa manusia, bangsa manusia setengah kera, bangsa kera raksasa bahkan bangsa siluman pun ada yang jahat tapi banyak pula yang baik. Semuanya punya keinginan yang sama, ingin hidup tenang. Jadi, kalian bangsa manusia dan bangsa manusia setengah kera, jangan merasa lebih baik, dari bangsa kera raksasa ataupun bangsa siluman !" sahut kera raksasa yang lebih kecil sambil matanya menatap tajam ke arah Puguh, "Kami semua keturunan Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa, hanya berniat membawa pulang Pemimpin Tertinggi kami. Kalau masih hidup, agar bisa memimpin kami lagi, kalau sudah mati, agar kami bisa segera mengangkat salah satu.dari kami untuk menjadi Pemimpin Tertinggi kami !"


"Kalau aku bisa membantu bangsa kalian untuk menemukan Pemimpin Tertinggi bangsa kalian, apa jaminan yang bisa membuat aku percaya, kalian tidak akan kembali menyerang bangsa manusia dan bangsa manusia setengah kera ?" tanya Puguh.


"Ggrrhhh ! Seberapa tinggi kemampuanmu, hingga kau berniat membantu bangsa kami ? Kamu belum tahu, betapa kuatnya Pemimpin Tertinggi bangsa manusia dan Pemimpin Tertinggi bangsa manusia setengah kera !" jawab kera raksasa yang lebih besar, yang meragukan kemampuan Puguh.


"Bagaimana caraku untuk membuktikan niatku untuk membantu bangsamu ?" tanya Puguh.


"Ggrrhhh ! Kalahkan salah satu dari Pemimpin Tertinggi itu ! Baru kami percaya kemampuanmu !" jawab kera raksasa yang lebih kecil.


"Siapa Pemimpin Tertinggi bangsa kera raksasa yang sementara untuk saat ini ? Aku akan bicara dengannya !" kata Puguh lagi.


"Ggrrhhh ! Kakang tertua kami sedang mencari ilmu, untuk menghadapi Pemimpin Tertinggi bangsa manusia atau Pemimpin Tertinggi bangsa manusia setengah kera, jika menghalangi kami membawa kembali Pemimpin Tertinggi bangsa kami, hidup atau mati !" jawab kera raksasa yang lebih besar.


"Aku akan berusaha menemui masing masing Pemimpin Tertinggi bangsa manusia dan bangsa manusia setengah kera. Aku akan membebaskan kalian, dengan syarat kalian tidak lagi menyerang suku suku bangsa manusia ataupun bangsa manusia setengah kera !" kata Puguh lagi.

__ADS_1


__________ ◇ __________


__ADS_2