
Perlahan lahan, tubuh Puguh terangkat dari lantai dan melayang hingga setinggi lutut orang dewasa. Sinar hijau terang yang bercampur dengan sinar keemasan yang menyelimuti tubuh Puguh, terlihat semakin bertambah pekat, hingga membuat tubuh Puguh tidak terlihat lagi.
Hal itu berlangsung cukup lama. Hingga akhirnya sinar hijau terang dan sinar keemasan itu semakin menipis dan akhirnya menghilang, masuk ke dalam dada Puguh.
Setelah sinar itu habis seluruhnya, tubuh Puguh yang masih melayang, perlahan lahan turun lagi di tempat tadi Puguh digeletakkan.
Selama beberapa waktu, tubuh Puguh masih terlihat terdiam. Kemudian samar samar Puguh mendengar suara isak tangis yang ditahan.
Puguh pun segera menoleh ke arah suara isak tangis.
"Siapa yang menangis ? Dan siapa yang tergeletak di lantai itu ?" gumam Puguh pelan.
Namun, belum sempat Puguh melangkah, terdengar suara memanggil namanya.
"Kakang Puguh !" teriak Rengganis yang sudah melesat ke arah Puguh dan langsung memeluknya dengan erat sambil menahan tangis.
"A ... dik ... Rengga ...nis ?" ucap Puguh dengan terkejut.
Selama beberapa saat, mereka berdua terdiam dan hanya berpelukan. Hingga suasana menjadi hening.
Tetapi kemudian, dalam keheningan itu, mereka berdua mendengar suara tangisan yang sepertinya ditekan di dalam dada.
Segera saja Puguh menoleh. Pandangan matanya berhenti pada sosok Iswara Dhatu yang duduk bersimpuh di dekat Kartika Dhatu yang tergeletak tidak sadarkan diri di lantai.
Puguh dan Rengganis pun segera melepaskan pelukan mereka dan melangkah ke arah Iswara Dhatu.
"Bibi, adakah yang bisa kami lakukan untuk menolong adik Kartika Dhatu ?" tanya Puguh pelan, setelah mereka berdua tiba di dekat Iswara Dhatu.
Sementara itu, mendengar Puguh dan Rengganis mendekat, cepat cepat Iswara Dhatu menyeka air matanya dan kemudian menatap Puguh dengan senyum yang dipaksakan.
__ADS_1
"Puguh, sudah tidak ada yang bisa kita lakukan. Sesaat tadi, bibi memang tidak rela jika harus kehilangan Kartika Dhatu, cucuku. Tetapi sekarang bibi pasrah bila harus kehilangan cucu kandungku satu satunya !" kata Iswara Dhatu sambil beranjak berdiri.
"Kakang Puguh, ketahuilah, yang menyadarkan dan menyembuhkan kakang Puguh adalah bibi Iswara Dhatu, dengan menggunakan Bunga Hitam yang seharusnya bisa Bibi Iswara Dhatu pergunakan untuk menyadarkan dan menyembuhkan Kartika Dhatu !" kata Rengganis sambil memegang telapak tangan Puguh.
"Itu sudah menjadi takdirmu ngger Puguh. Leluhur kami, eyang Asmara Dhatu sudah memberi pesan kepada kami !" sahut Iswara Dhatu.
"Bibi, benarkah itu semua ? Aku berhutang nyawa pada Bibi ! Mungkin masih ada kekuatan Bunga Hitam yang sekarang menyatu dengan tubuhku, yang bisa aku pergunakan untuk menolong adik Kartika Dhatu !" kata Puguh.
Kemudian, dwngan dibantu Rengganis dan Iswara Dhatu, yang mendudukkan Kartika Dhatu dan menopangnya dari samping kanan dan kiri, Puguh mulai menyalurkan tenaga dalamnya melalui punggung Kartika Dhatu.
Sinar hijau terang bercampur keemasan, keluar dari telapak tangan kanan Puguh yang menempel di punggung Kartika Dhatu.
Sinar hijau keemasan itu langsung masuk ke punggung Kartika Dhatu dan perlahan menyebar ke seluruh tubuh Kartika Dhatu.
Hingga beberapa waktu, tidak terjadi apapun pada tubuh Puguh. Kemudian sedikit demi sedikit, Puguh menaikkan tingkat tenaga dalam yang disalurkannya.
Beberapa saat kemudian, tubuh Kartika Dhatu terlihat bergetar. Asap tipis terlihat keluar dari seluruh tubuh Kartika Dhatu, terutama dari kepalanya.
Setelah itu, getaran tubuh Kartika Dhatu perlahan mengecil dan akhirnya berhenti sama sekali.
Terlihat, Kartika Dhatu sudah sadar, walaupun terlihat masih sangat lemah.
Sementara itu, dari tenaga dalam yang dialirkannya, Puguh merasakan masih ada beberapa pembuluh darah di tubuh Kartika Dhatu yang tersumbat, atau tidak sepenuhnya lancar.
Kemudian, Puguh kembali menaikkan jumlah tenaga dalam yang dialirkannya ke tubuh Kartika Dhatu, untuk membantu Kartika Dhatu menyusun dan mengumpulkan kembali tenaga dalamnya.
Perlahan, wajah dan kulit tubuh Kartika Dhatu merona merah, setelah sebelumnya terlihat sangat pucat.
Beberapa saat kemudian, ketika sudah merasa cukup kuat, Kartika Dhatu mulai melakukan semedi.
__ADS_1
Setelah nafas Kartika Dhatu terlihat stabil dan panjang, Rengganis dan Iswara Dhatu melepaskan pegangannya pada lengan dan bahu Kartika Dhatu.
Puguh pun demikian juga. Ketika merasakan adanya getaran kekuatan dari tubuh Kartika Dhatu, dan tenaga dalam Kartika Dhatu sudah mulai terkumpul, Puguh pun menghentikan penyaluran tenaga dalamnya dan menarik telapak tangan kanannya dari punggung Kartika Dhatu.
"Aku berterimakasih pada kalian berdua, yang telah menyelamatkan cucuku !" kata Iswara Dhatu dengan suara pelan dan bernada penuh kelegaan.
"Bibi, kamilah yang seharusnya berterimakasih kepada Bibi, karena Bibi Iswara Dhatu telah menyelamatkan aku !" jawab Puguh.
Akhirnya, setelah ditunggu sepanjang malam, Kartika Dhatu mengakhiri semedinya. Iswara Dhatu pun merasa sangat lega dan gembira. Dipeluknya tubuh Kartika Dhatu sambil banjir air mata di kedua matanya.
Setelah beristirahat sebentar dan hari benar benar terang, Puguh, Rengganis dan Iswara Dhatu serta Kartika Dhatu berkemas untuk pergi ke arah kotaraja Kerajaan Banjaran Pura.
Mereka berempat melakukan perjalanan menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka, dengan tidak terlalu cepat. Selama dalam perjalanan, Kartika Dhatu menceritakan semua yang sudah dia alami sebelumnya, termasuk saat bertarung melawan Pangeran Langit Barat.
Saat melewati Hutan Perbatasan, Puguh masih belum merasakan adanya getaran kekuatan dari para siluman binatang.
"Rupanya, seluruh siluman binatang penghuni Hutan Perbatasan ini masih dikurung oleh kakek tua kecil, guru dari Pangeran Langit Barat ! Aku harus membebaskan mereka semua !" kata Puguh dalam hati.
----- \* -----
Sementara itu, di luar gerbang kotaraja Kerajaan Banjaran Pura. Setelah kedatangan Pangeran Langit Barat, Ki Naga Kecil dan sebagian pasukan perang yang mengikutinya, keadaan pasukan perang Pangeran Indra Prana yang telah bergabung dengan sisa sisa pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura, semakin tidak diuntungkan.
Putri Cinde Puspita yang bahu membahu dengan Pangeran Indra Prana, dibantu dengan para pendekar yang lainnya, termasuk Ki Dwijo dan Resi Wismaya, sangat kesulitan membendung kekuatan pasukan perang dari Kerajaan Menara Langit.
Sebenarnya Putri Cinde Puspita sudah sangat ingin menggempur langsung Pangeran Langit Barat untuk membalaskan dendam Dewi Laksita gurunya.
Namun selalu dicegah oleh Pangeran Indra Prana, yang mengatakan kalau hal itu sangat membahayakan diri Putri Cinde Puspita sendiri. Jangan sampai Putri Cinde Puspita tertangkap atau bahkan terbunuh, karena Prabu Pandu Kawiswara sudah terlebih dahulu tertangkap dan dijebloskan ke penjara.
Hingga petang hari menjelang malam, mereka dikejutkan dan merasa lega, dengan kedatangan Puguh beserta Rengganis, Iswara Dhatu dan Kartika Dhatu.
__ADS_1
Sementara itu, begitu tiba di tempat gabungan pasukan perang Kerajaan Kisma Pura dan pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura, Iswara Dhatu dan Kartika Dhatu juga terkejut sekaligus gembira, saat didatangi oleh serombongan pendekar perempuan, yang ternyata adalah para anak murid Trah Keluarga Asmara Dhatu yang sebelumnya selalu menunggu Kartika Dhatu di tepi Hutan Perbatasan, sebelum mereka bergabung dengan pasukan perang Kerajaan Kisma Pura.
---------- ◇ ----------