Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Peperangan di Hari ke Dua II


__ADS_3

Setelah sekitar sepuluh jurus Ki Pande dan Ki Tanggul Alas hanya bertahan, Ki Pande ingin mencoba satu cara.


"Ki Tanggul Alas ! Begitu ada serangan datang, kita tahan agar mereka tetap terlihat selama mungkin. Kita serang bagian bawah mereka !" kata Ki Pande.


"Ayo kita lakukan, Ki Pande !" jawab Ki Tanggul Alas.


Kemudian, ketika Iblis Barat dan Iblis Timur kembali menyerang, Ki Tanggul Alas memutar tongkatnya sedemikian rupa untuk menahan serangan mereka. Begitu mendapatkan sedikit celah dari pertahanan Iblis Barat dan Iblis Timur, Ki Pande segera mengarahkan kedua palunya untuk menyerang bagian kaki mereka.


Tidak ingin kakinya hancur, Iblis Barat dan Iblis Timur pun melenting ke atas untuk menghindari serangan palu dari Ki Pande.


Saat tubuh Iblis Barat dan Iblis Timur melayang ke atas itulah, Ki Tanggul Alas mencecar mereka dengan serangan tongkat.


Karena posisi tubuh mereka yang melayang di udara, membuat tidak ada benda yang bisa mereka pergunakan untuk menempelkan tubuh mereka agar bisa menghilang.


Kemudian mereka pun meluncur turun dengan senjata mereka yang terlebih dahulu berada di bawah.


Namun, saat senjata pedang dan golok mereka mencapai jarak setinggi tubuh manusia, tiba tiba palu Ki Pande sudah membentur kedua senjata itu.


Klaaannnggg ! Klaaannnggg !


Tanpa bisa dihindari lagi, kedua senjata itu terpental dan terlepas dari genggaman mereka berdua. Iblis Barat Barat dan Iblis Timur pun kembali melayang ke atas menggunakan bantuan tenaga benturan tadi.


Setelah beberapa waktu Iblis Barat dan Iblis Timur melayang, setinggi apapun tenaga dalamnya, mereka tetap butuh tumpuan untuk tetap melayang. Akhirnya, tubuh mereka berdua meluncur turun.


Melihat kedua lawannya melayang turun, Ki Pande segera menyambutnya dengan serangan kedua palunya.


Dbuuummm ! Dbuuummm ! Dbuuummm ! Dbuuummm !


----- * -----

__ADS_1


Hari semakin sore. Pertempuran hari itu hampir mencapai puncaknya. Banyak prajurit yang gugur. Bahkan jumlah prajurit yang gugur pada hari ini, lebih banyak dari hari kemaren.


Pertarungan kedua Senopati, Senopati Lembu Caraka yang berhadapan dengan Senopati Wiraga sudah pada titik tertinggi kemampuan mereka.


Tubuh mereka berdua sudah penuh dengan luka luka. Entah sudah berapa sayatan golok, pukulan ataupun tendangan mereka terima, sampai tidak terhitung.


Hingga pada suatu ketika, dengan sisa sisa tenaganya, mereka berdua memaksakan diri untuk melenting guna melancarkan serangan terakhir mereka.


Benturan senjata gada besi di tangan Senopati Lembu Caraka dengan senjata golok di tangan Senopati Wiraga terjadi berkali kali. Dan akhirnya, senjata mereka mengenai tubuh lawannya masing masing.


Golok di tangan Senopati Wiraga berhasil merobek perut Senopati Lembu Caraka. Sedangkan Senopati Wiraga sendiri terkena pukulan gada di dadanya.


Sraaattt ! Buuuggghhh !


Kedua senopati andalan utama masing masing pasukan perang itu terhuyung dan jatuh terlentang ke belakang.


Mereka berdua sudah tidak bisa bangun lagi Hanya gerakan mulut dan bola mata yang menunjukkan kalau masih ada kehidupan di dalam tubuh mereka.


Pada dasarnya, Iblis Selatan dan Iblis Utara tidak terlalu peduli dengan urusan kerajaan apalagi peperangan. Mereka lebih mementingkan urusan pribadi mereka dan hanya tertarik dengan pertarungan dan membunuh untuk kesenangan.


Iblis Selatan bertemu dengan Ki Bhanujiwo dan Iblis Utara yang dihadang oleh Ki Kebo Ranu.


Dua pedang pendek Iblis Selatan berkelebatan dengan sangat cepatnya, berusaha mengurung Ki Bhanujiwo. Namun kedua pedang pendek itu seperti membentur batu karang yang sangat kuat setiap berbenturan dengan tongkat Ki Bhanujiwo.


Tidak jauh dari pertarungan Iblis Selatan melawan Ki Bhanujiwo. Iblis Utara dengan senjata rantai dengan bandul besi berduri juga menemui lawan yang sepadan, saat berhadapan dengan Ki Kebo Ranu.


Mereka semua adalah tokoh tokoh dunia persilatan yang seangkatan dan sudah sama sama mencapai tingkat yang tinggi.


Sudah ratusan jurus mereka lalui. Semua kemampuan mereka sudah mereka keluarkan.

__ADS_1


Ki Bhanujiwo yang merasakan peningkatan pada tenaga dalamnya, sejak mendapatkan penyaluran tenaga dalam dari Puguh, belum merasa terlalu lelah. Sedangkan Iblis Selatan yang sudah mengeluarkan hampir dari puncak kemampuannya, perlahan mengalami penurunan kecepatan dan kekuatan tenaga dalamnya.


Dalam pikiran Iblis Selatan, mulai tersirat keinginan untuk pergi dari pertempuran. Iblis Selatan tidak ingin mati sia sia hanya karena peperangan ini.


Maka ketika Iblis Selatan mendengar suara ledakan yang berasal dari kedua palu besi Ki Pande yang menghantam tanah dengan kekuatan yang sangat tinggi, Iblis Selatan pun segera melenting dan melesat pergi meninggalkan medan pertempuran.


Sementara itu Iblis Utara yang berhadapan dengan Ki Kebo Ranu sangat merasa penasaran. Karena, sejak tadi, bandul besi berduri yang menjadi senjata andalannya dan kebanggaannya, belum bisa mengenai lawannya. Kemanapun bandul besi berduri yang dia kendalikan dengan rantai besar, selalu berbenturan dengan senjata sabit dengan gagang sepanjang lengan orang dewasa.


Iblis Utara yang memiliki tenaga dalam yang sedikit lebih tinggi diantara empat iblis, terlihat sangat pas menggunakan senjata rantai besar dengan bandulan besi berduri yang membutuhkan penggunaan tenaga dalam yang besar. Membuat hasil serangannya sangat merusak dan menghancurkan. Bahkan berkali kali, bandul besi berduri yang bisa dihindari atau ditangkis oleh Ki Kebo Ranu, mengenai dan menewaskan para prajurit yang bertempur di sekitar pertarungan mereka. Baik prajurit kerajaan Banjaran Pura ataupun prajurit pasukan Pangeran Panji.


Namun kali ini yang Iblis Utara hadapi adalah Ki Kebo Ranu yang menggunakan senjata sabit bergagang panjang, senjata yang sangat efektif untuk menghadapi senjata rantai karena tidak terlalu banyak menggunakan tenaga dalam.


Karena senjata Iblis Utara yang sangat berbahaya, perlahan Ki Kebo Ranu menggeser pertarungan mereka, menjadi menjauh dari pertempuran para prajurit.


Setelah pertarungan mereka memasuki ratusan jurus, sedikit demi sedikit, Iblis Utara terdesak oleh Ki Kebo Ranu.


Sama seperti Iblis Selatan, Iblis Utara adalah seorang yang sangat egois. Iblis Utara memang sangat menyukai pertarungan, namun dia juga tidak mau mati dalam perang sesama saudara.


Maka, ketika mulai terdesak, Iblis Utara pun juga berpikir untuk meninggalkan pertarungan.


Saat sekilas melihat, Iblis Selatan yang melesat pergi begitu mendengar suara ledakan dari palu Ki Pande yang menghantam tanah, Iblis Utara pun menyusulnya. Dengan cepat tubuhnya melesat meninggalkan Ki Kebo Ranu yang memang tidak mengejarnya.


Ketika hari sudah memasuki petang hari, kedua pasukan perang kembali mundur setelah mendengar suara terompet tanda peperangan berhenti.


Masing masing pasukan kembali berkumpul untuk menolong rekan rekannya yang terluka dan mengurus para prajurit yang harus gugur dalam pertempuran hari ini.


Namun, mereka semua belum menyadari, bahwa ada satu pertarungan yang belum berhenti dan bahkan sedang memasuki tingkat hidup atau mati.


Pertarungan yang belum berhenti adalah pertarungan antara Ki Dwijo melawan Iblis Bermata Satu.

__ADS_1


Begitu serunya pertarungan mereka, hingga tanpa mereka sadari, mereka terpisah dari para prajurit dan perlahan bergeser hingga memasuki hutan yang agak dalam.


__________ ◇ __________


__ADS_2