
Melihat ada orang lain lagi yang datang ke Bukit Gumuk Pasir Wedhi, Biyung Kencana tidak menghiraukannya, bahkan segera menatap ke arah Puguh.
"Anak muda ! Kalau kau tidak mau menjualnya padaku, baiklah, akan aku ambil sendiri, karena aku berniat untuk menambah barang antik yang aku koleksi !" teriak Biyung Kencana.
Saat suara teriakan itu belum berhenti, tubuh Biyung Kencana sudah menghilang dari tempatnya berdiri, melesat ke arah Puguh.
Namun, belum juga Biyung Kencana sampai ke tempat Puguh berdiri, sebuah bayangan berkelebat dengan sangat cepat, menghadang arah geraknya.
"Wanita tidak tahu diri ! Jangan bersikap kurang ajar pada tuan rumah, kalau aku juga sedang menjadi tamunya !" teriak Topeng Kawung yang baru saja datang bersama dengan Topeng Seta dan Topeng Jenar, sambil melesat memapaki serangan Biyung Kencana.
Benturan kekuatan tingkat sangat tinggi, tanpa bisa dihindari lagi terjadi di depan Puguh dan Rengganis, hanya dalam jarak sekitar sepuluh langkah. Benturan itu menimbulkan suara ledakan yang sangat keras.
Blaaammm !
Sesaat setelah ledakan itu, terlihat, Biyung Kencana dan Topeng Kawung sama sama terlempar kembali ke belakang.
Begitu mendarat di tanah, Biyung Kencana dan Topeng Kawung sama sama menatap tajam lawannya, seolah hendak mengukur kekuatan lawannya.
"Kekuatan mereka semua yang datang kesini, sungguh diluar dugaanku," kata Puguh dalam hati, begitu melihat bentrokan yang terjadi antara Topeng Kawung dengan Biyung Kencana.
Tanpa memperdulikan reaksi dari dua anak muda yang mereka cari, Topeng Kawung dan Biyung Kencana sudah kembali melesat untuk melancarkan serangan.
Saling serang dan saling tukar pukulan terjadi diantara mereka. Berkali kali terdengar suara benturan pukulan yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.
Blaaammm ! Blaaammm !
Dbaaammm ! Dbaaammm !
Topeng Kawung dengan mengandalkan kecepatannya, mencoba mengurung dan mencari celah pertahanan Biyung Kencana. Sementara, Biyung Kencana, dengan pakaian dari bahan sutra dan gaya seorang saudagar, tidak merasa kesulitan, mengimbangi kecepatan Kawung Kencana.
Dengan perhiasan emasnya yang yang dipakai di tangan, di kaki, dan juga di telinga serta di leher, menimbulkan suara gemerincing seolah ingin memecah konsentrasi lawannya.
Sementara itu, melihat Biyung Kencana sudah disibukkan oleh Topeng Kencana, Wiku Polobogo merasa mendapatkan kesempatan.
__ADS_1
Tubuh Wiku Polobogo yang pendek dan gemuk dengan kulitnya yang putih, segera melesat dengan sangat cepat dan sedikit melayang ke arah Puguh dan melakukan serangan mendadak.
Telapak tangan kanannya yang terbuka membentuk cakar berkesiutan mengarah ke ubun ubun Puguh, sementara senjata tongkat di tangan kirinya bersiap mengait senjata pedang yang terselip di pinggang kiri Puguh.
Wiku Polobogo ingin, sekali serang, anak muda itu bisa dia kalahkan dan dia rebut senjatanya, saat yang lainnya sedang bertempur.
Melihat serangan yang sangat berbahaya itu, Puguh yang sudah mengetahui mereka semua yang datang memiliki tenaga dalam dan kekuatan yang sangat tinggi, segera mengalirkan tenaga dalam dengan jumlah yang cukup banyak ke seluruh tubuhnya terutama ke kedua tangannya.
Kemudian, saat Wiku Polobogo melayang tepat di atasnya, dengan menggunakan jurus Bantala Wreksa, Puguh menyambut telapak tangan kanan Wiku Polobogo dengan telapak tangan kanannya.
Sesaat kemudian, terdengar suara ledakan yang sangat keras akibat benturan pukulan.yang sama sama mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi.
Blaaannnggg !
Dalam benturan pukulan itu, tubuh Wiku Polobogo tertolak kembali ke belakang hingga cukup jauh, sedangkan Puguh tersurut mundur dua langkah.
"Dewa Batara ! Aku terlalu meremehkan anak ini. Kekuatannya ternyata sudah sangat tinggi ! Apa mungkin anak itu juga sudah mewarisi ilmu kesaktian Pendekar Penunggang Elang ?" kata Wiku Polobogo dalam hati.
Kemudian dengan cepat, Wiku Polobogo memutar tongkatnya ke depan, dan dipegang dengan kedua tangan.
Namun, baru saja tubuhnya melayang, sesosok tubuh tinggi ramping sudah menghadangnya sambil berteriak.
"Pendeta sesat ! Jangan pernah berani untuk mendahuluiku !" teriak suara perempuan paruh baya yang baru saja datang, sambil mengayunkan senjata tongkat kecil sepanjang satu depa dengan bulatan merah diujungnya, untuk menyapok tongkat Wiku Polobogo.
Bertemunya dua tongkat yang dilapisi tenaga dalam sangat tinggi di udara itu menimbulkan suara yang sangat nyaring.
Klaaannnggg !
Wiku Polobogo yang kembali terdorong ke belakang, segera melakukan salto beberapa kali dan kemudian mendarat di tanah dengan sikap waspada.
"Siapa perempuan itu ? Tenaga dalamnya sangat kuat dan tongkatnya mengandung energi yang tidak biasa !" kata Wiku Polobogo dalam hati.
Sementara itu, perempuan paruh baya yang bersenjatakan tongkat kecil juga kembali bersiap, setelah tubuhnya tersurut mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"Pantas saja pendeta sesat itu berani jumawa. Kemampuannya sangat tinggi !" gumam perempuan paruh baya itu.
"Siapa kau, telah berani menghadangku ?" tanya Wiku Polobogo.
Dengan seolah tidak memperdulikan Wiku Polobogo, perempuan paruh baya itu menatap Puguh dengan tajam.
"Anak muda, benarkah kau yang membunuh Ki Dahana Yaksa ?" tanya perempuan paruh baya itu.
"Aku memang bertarung dengan Ki Dahana yaksa dan mengalahkannya. Namun aku tidak berniat sedikitpun untuk membunuhnya. Tapi kalau Ki Dahana Yaksa benar benar telah tewas, aku minta maaf !" jawab Puguh.
"Karena kau sudah mengakuinya, aku, Nyi Riwut Parijatha, kakak kandung Ki Dahana Yaksa akan menuntut balas atas kematiannya ! Anak muda, terimalah tantanganku !" ucap perempuan paruh baya yang bernama Nyi Riwut Parijatha.
Kemudian, tanpa menunggu jawaban Puguh, Nyi Riwut Parijatha melenting ke atas kemudian dengan cepat meluncur dan melakukan serangkaian serangan.
Wiku Polobogo yang masih penasaran dengan perempuan paruh baya yang mengaku bernama Nyi Riwut Parijatha, ikut melenting untuk menggebrak lagi.
Namun, tanpa diduga, gerakannya dihadang oleh Rengganis yang sejak tadi masih diam saja dan hanya mengamati keadaan.
"Cah ayu ! Jangan ikut ikutan bertarung ! Menyingkirlah, daripada nyawamu hilang dengan sia sia !" kata Wiku Polobogo sambil sejenak menghentikan langkahnya. Namun kemudian, dengan gerakan mendadak yang sangat cepat, Wiku Polobogo menerjang ke arah Rengganis.
Karena merasa khawatir, didahului oleh perempuan yang bernama Nyi Riwut Parijatha, maka Wiku Polobogo segera melakukan serangan mendadak dengan kekuatan yang sangat tinggi. Karena Wiku Polobogo ingin secepatnya menghabisi Rengganis, agar segera bisa menangkap Puguh.
Namun, tanpa diduga oleh Wiku Polobogo, Rengganis, anak perempuan yang dia pandang dengan sebelah mata, berani menangkis serangannya.
Plaaakkk !
Dan tanpa Wiku Polobogo perkirakan sebelumnya, tangkisan Rengganis juga mampu membuat tubuhnya terdorong mundur hingga dua langkah, sama dengan Rengganis yang badannya juga tersurut hingga dua langkah.
Sejenak, Wiku Polobogo membelalakkan matanya. Hanya dalam waktu yang singkat dirinya dikejutkan oleh dua anak muda yang kekuatannya sudah sangat tinggi.
Kemudian, Wiku Polobogo kembali melesat ke arah Puguh, tetapi kembali dihadang oleh Rengganis. Hingga tanpa bisa menolak lagi, Wiku Polobogo harus melawan Rengganis, walaupun sesekali matanya berusaha melihat pertarungan Nyi Riwut Parijatha yang terus menyerang Puguh.
Hingga akhirnya, di puncak bukit Gumuk Pasir Wedhi, terjadi tiga pertarungan yang semuanya berkekuatan sangat tinggi dan berlangsung dalam kecepatan yang sudah tidak bisa diikuti oleh mata.
__ADS_1
__________ ◇ __________