
Beberapa saat sebelumnya, dalam pertarungan Puguh melawan Biyung Kencana. Tanpa terasa, lima puluh jurus telah mereka lalui. Puluhan bahkan ratusan kali, senjata mereka berbenturan.
Dalam setiap benturan senjata, semakin lama, Biyung Kencana merasakan, kedua tangannya yang menggenggam belati panjang terasa kebas. Tangannya terasa bergetar keras.
"Anak muda ini telah memiliki kekuatan yang sangat tinggi ! Aku harus segera merebut pedang itu, untuk meningkatkan kekuatanku !" kata Biyung Kencana dalam hati.
Kemudian, dengan mengeluarkan hampir seluruh tenaga dalamnya, Biyung Kencana kembali melesat ke arah Puguh.
Bagaikan patukan ular, kedua ujung belati Biyung Kencana berkali kali mengarah ke bagian tubuh Puguh yang mematikan.
Melihat serangan lawannya semakin meningkat, Puguh pun kembali menambah jumlah tenaga dalamnya. Membuat kecepatan pukulannya bertambah.
Hingga akhirnya, beberapa pukulan dan goresan pedang mulai mendarat di tubuh Biyung Kencana. Lambat laun, Biyung Kencana mulai terdesak.
Apalagi saat melihat dua laki laki pembantunya tewas di tangan seorang gadis muda, membuat Biyung Kencana bersedih sehingga mengurangi konsentrasinya.
Namun, saat Biyung Kencana semakin terdesak, tiba tiba terdengar suara tertawa diikuti munculnya beberapa orang yang mengeluarkan getaran kekuatan yang sangat tinggi.
"Heehhh he he he he ! Dewa Betara ! Biyung Kencana, rupanya kau yang membuat pesta !" kata Wiku Polobogo yang baru saja datang, bersamaan dengan empat orang yang memiliki getaran kekuatan yang sangat besar.
Segera saja Wiku Polobogo diikuti dua pendekar yang memiliki kekuatan yang sangat besar, masuk ke dalam pertarungan. Membuat Biyung Kencana yang sudah terdesak, terselamatkan. Akhirnya Puguh pun dikerubut oleh empat orang yang kemampuannya hampir seimbang.
Sementara itu, Rengganis yang baru saja hendak mendekat ke arah Puguh, segera dihadang oleh dua orang yang baru datang.
Hanya dalam waktu sebentar, terjadi lagi pertarungan yang lebih seru lagi. Menghadapi lawan yang jumlahnya lebih banyak lagi, Puguh kembali meningkatkan aliran tenaga dalamnya hingga jumlah yang cukup besar.
Pendaran sinar hijau terang terlihat semakin terang dan bertambah luas. Bilah pedangnya yang berubah menjadi warna hijau, sedikit bergetar hingga mengeluarkan suara mendengung. Kesiuran angin tipis terlihat mengelilingi tubuhnya.
Kemudian, dengan sedikit menarik ke belakang kaki kirinya dan pedang yang lurus ke arah bawah tangan kanannya, Puguh menunggu sambil menatap tajam keempat lawannya.
Saat keempat lawannya melesat ke arahnya, dengan sedikit meloncat, tubuh Puguh yang sedikit melayang, melesat ke arah Biyung Kencana yang dia anggap dalam keadaan paling lemah. Namun, serangan Puguh segera dihadang oleh Wiku Polobogo dengan menggunakan tongkatnya.
Secara beruntun, pedang Puguh berbenturan dengan tongkat di tangan Wiku Polobogo, dengan dua belati panjang milik Biyung Kencana, kemudian dengan senjata golok yang masing masing dibawa oleh dua orang pedekar yang datang bersamaan dengan Wiku Polobogo.
Trang trang !
Traaakkk !
__ADS_1
Klang klang !
Benturan senjata yang terjadi terus menerus itu membuat Puguh harus selalu bergerak menangkis ataupun menghindari serangan keempat lawannya.
Saat Puguh mendesak satu lawannya, dua lawan yang lain segera menyerang Puguh dari arah kiri dan kanan.
"Benar apa yang dikatakan oleh adik Rengganis. Aku akan kerepotan, andaikata mereka semua bisa bekerjasama dalam mengeroyokku !" kata Puguh dalam hati.
Dengan memainkan jurus pedang warisan dari Pendekar Pengendara Elang, dan terkadang dibantu dengan tangan kiri yang memainkan Bantala Wreksa, Puguh terus bergerak menahan serangan lawan lawannya.
Sambil terus bergerak, Puguh berusaha untuk memperhatikan keadaan Rengganis. Puguh sekilas melihat, situasi yang dihadapi Rengganis, tidak jauh berbeda dengan yang dihadapinya.
Puguh melihat, dalam pertarungan yang tidak terlalu jauh dari tempatnya bertarung, Rengganis harus menghadapi dua orang yang kemampuannya hampir seimbang dengan keempat lawan Puguh. Hingga Rengganis pun harus mengeluarkan tenaga dalam hingga jumlah yang besar, untuk membagi serangan ke arah kedua lawannya.
"Untuk menghadapi mereka semua, aku harus membagi tugas dengan adik Rengganis !" gumam Puguh.
Kemudian, Puguh memutar senjata pedangnya lebih cepat lagi untuk menghalau semua serangan yang mendekatinya. Gerakan itu sejenak mampu membuat semua senjata keempat lawannya terpental mundur.
Kesempatan yang hanya sesaat itu, Puguh manfaatkan untuk meloncat ke arah Rengganis. Hanya dalam sekejap, Puguh sudah berdiri di samping Rengganis.
"Adik Rengganis, fokus saja dalam menyerang ! Biar kakang yang menghalau semua serangan mereka !" ucap Puguh.
"Baik kakang !" jawab Rengganis dengan penuh semangat.
Rengganis yang sejak tadi sudah merasa gemas dengan situasi pertarungan, segera memusatkan tenaga dalamnya untuk menyerang, tanpa mengkhawatirkan serangan lawannya lagi.
Gerakan Rengganis yang terkadang terlihat pelan, namun tiba tiba pedangnya berputar sangat cepat melakukan tebasan ataupun tusukan, membuat lawannya yang sudah terlanjur mendekat untuk menyerang dirinya, kalang kabut dalam menangkis tebasan pedangnya. Ditambah lagi, Rengganis yang hanya fokus menyerang tanpa harus memikirkan pertahanan, membuat setiap gerakannya menjadi lebih mantap dan lebih bertenaga.
Trang trang !
Trang ! Trang ! Trang !
Klang !
Puguh sengaja menyuruh Rengganis untuk menyerang, sedangkan dirinya yang bertahan. Karena Puguh sudah mengetahui, kekuatan tenaga dalam dan kecepatan Rengganis masih sedikit lebih tinggi dari keenam lawan yang mengeroyoknya. Sehingga apabila kekuatan dan kecepatan Rengganis hanya terfokus digunakan untuk menyerang, akan membuahkan hasil.
Dan hanya dalam sekitar dua puluh jurus, apa yang diharapkan oleh Puguh, membuahkan hasil.
__ADS_1
Pada suatu kesempatan, dengan sedikit melompat, Rengganis mencecar salah seorang pendekar yang bersenjata golok yang posisinya tepat didepannya.
Dengan tebasan pedang secara melintang, Rengganis membuat golok lawannya terpental kembali ke belakang.
Klaaannnggg !
Saat tubuh lawannya masih terdorong ke belakang, dengan cepat Rengganis menyusuli serangan dengan tendangan yang tepat mengenai dada lawannya.
Duuuaaaggghhh !
Terkena tendangan di dadanya, pendekar itu terlempar hingga jatuh terduduk dan kemudian memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Tanpa menghiraukan serangan yang datang, Rengganis segera mengarahkan serangan pada Biyung Kencana.
Rengganis yang sudah mengetahui kalau gerakan Biyung Kencana sedikit melambat, segera mengurung Biyung Kencana dengan tebasan tebasan pedang. Biyung Kencana berusaha menahan serangan Rengganis dengan kedua belati panjangnya.
Trang Trang !
Trang ! Trang ! Trang ! Trang !
Setelah berkali kali Rengganis sengaja membenturkan pedangnya pada senjata lawannya, akhirnya pada benturan yang ke sekian kalinya, pedang Rengganis berhasil membuat Biyung Kencana harus melepaskan kedua senjata belati panjangnya. Disusul dengan tebasan melintang yang berhasil menyobek perut Biyung Kencana.
Kemudian tanpa membuang waktu, Rengganis melesat lagi ke arah pendekar bersenjata golok yang satunya.
Dengan rangkaian tebasan dan tusukan senjata pedang yang mengurung pergerakan lawannya, akhirnya Rengganis berhasil menyarangkan senjata pedangnya ke dada lawannya.
Claaappp !
Pendekar bersenjata golok itupun jatuh terkulai dan tewas seketika.
Namun, tewasnya pendekar bersenjata golok itu, bersamaan dengan hadirnya lebih banyak lagi tokoh tokoh persilatan yang memiliki kekuatan yang sangat tinggi.
Kehadiran pendekar pendekar itu disambut dengan suara lengkingan yang berasal dari mulut pengemis yang ikut bertarung.
Sesaat setelah suara lengkingan itu, bermunculan pendekar pendekar yang berpenampilan sama dengan pengemis itu. Kemunculan pendekar pendekar itu, ternyata merupakan bantuan bagi Puguh dan Rengganis.
__________ ◇ __________
__ADS_1