
Kalayaksa dan Kaladitya merasa sangat gembira, saat sasaran mereka tidak bereaksi dengan serangan mereka.
Bersamaan dengan itu, melihat Puguh di serang dua orang kembar, membuat Den Roro khawatir dan segera melesat ke arah Puguh.
"Puguh ! Awas !" teriak Den Roro.
Namun, saat serangan keduanya hanya tinggal sejengkal, tiba tiba Puguh sudah tidak ada di tempatnya. Dengan gerakan yang sangat cepat, Puguh melesat menghindar sambil menyambar tubuh Den Roro agar tidak terkena serangan Kalayaksa dan Kaladitya. Sehingga serangan mereka berdua mengenai tempat kosong, membuat mereka berdua jatuh bergulingan ke depan.
Dalam waktu yang bersamaan, Rengganis yang masih menghadapi serangan Putri Mahatariti, terkejut mendengar teriakan Den Roro yang menyebut nama Puguh. Sesaat Rengganis melihat ke arah tempat Puguh berdiri sambil berteriak juga.
"Kakang Puguh !" teriak Rengganis.
Waktu yang hanya sesaat itu dimanfaatkan dengan baik oleh Putri Mahatariti untuk melepaskan serangan. Pedangnya meluncur dengan sangat cepat mengarah ke dada Rengganis, disusul dengan pukulan tangan kiri ke arah kepala.
Pada saat serangan cepat itu berlangsung, ada satu bayangan tubuh yang juga melesat ke arah Rengganis.
Tanpa bisa dicegah lagi, pedang tipis Putri Mahatariti itu menghujam ke tubuh lawan.
Jleeebbb !
Pedang tipis Putri Mahatariti yang berwarna hitam legam, berhasil menancap di punggung lawannya. Namun bukan punggung Rengganis, melainkan punggung bayangan tubuh orang yang berusaha melindungi Rengganis. Orang itu adalah Ki Bajraseta, guru sekaligus kakek Rengganis.
Sesaat setelah serangan pedangnya, disusul kemudian dengan serangan pukulan tangan kiri Putri Mahatariti yang mengenai dada Rengganis.
Buuuggghhh !
Terkena pukulan di dadanya, Rengganis terdorong mundur dua langkah, kemudian tubuhnya terjatuh berlutut. Saat itulah, dilihatnya tubuh kakeknya yang terduduk dengan pedang yang menancap di punggungnya.
"Kakek !!!" Rengganis berteriak dengan sangat kerasnya, melihat kakeknya terluka bersimbah darah demi melindunginya.
Rengganis berusaha bangkit untuk mendekat ke arah kakeknya, namun karena dadanya terasa sesak, membuat tubuhnya kembali merosot jatuh.
Sementara itu, Puguh yang baru saja meletakkan tubuh Den Roro, begitu mendengar teriakan keras Rengganis yang memanggil kakeknya, menoleh cepat dengan mata menyalang memerah. Kemudian, tubuhnya berkelebat sangat cepat menyerang Putri Mahatariti yang masih berdiri terdiam.
Diserang Puguh dengan gerakan yang sangat cepat, membuat Putri Mahatariti pontang panting menghindar hingga tubuhnya harus berloncatan ke belakang. Namun tetap saja satu pukulan tangan kanan Puguh menghantam bahu kirinya.
Buuuggghhh !
Tubuh Putri Mahatariti pun terdorong dan jatuh bergulingan.
__ADS_1
Melihat Putri Mahatariti terjatuh, Kalayaksa dan Kaladitya segera melesat mendekat untuk membantunya.
"Putri, biar kami yang menghadapinya !" ujar Kalayaksa sambil bersiap menyerang.
Kemudian, secara bersamaan, Kalayaksa dan Kaladitya bergerak ke arah Puguh. Mereka menyerang dengan rangkaian pukulan dan tendangan untuk mengurung Puguh.
Sementara itu, tanpa ada yang mengetahuinya, terjadi perubahan pada diri Puguh.
Saat mendengar suara Rengganis berteriak, Puguh merasa sangat kenal dengan suara itu. Hatinya bergetar, secara samar ingatannya muncul. Puguh mencoba kembali mengingat ingat, namun tetap tidak bisa mengingat. Semakin berusaha bisa mengingat, Puguh semakin merasakan kepalanya sakit. Matanya menyalang merah. Puguh berusaha mengurangi rasa sakit di kepalanya dengan bergerak. Saat asal bergerak, kebetulan lagi yang diserang adalah Putri Mahatariti. Dalam keadaan setengah sadar, Puguh melakukan serangan bertubi tubi. Saat itulah, Kalayaksa dan Kaladitya bergerak menyerang Puguh. Puguh pun reflek bergerak menghadang setiap serangan kedua lawannya.
Terjadilah benturan pukulan dan tendangan berkali kali. Hal ini semakin membuat peredaran darah Puguh semakin cepat. Seluruh badannya terasa panas, kepalanya sakit sekali.
Dalam keadaan yang tidak bisa mengontrol diri, tenaga dalam Puguh keluar membanjir dan tersalurkan melalui adu pukulan dan tendangan. Membuat Kalayaksa dan Kaladitya bergetar seluruh tubuhnya, setiap berbenturan dengan pukulan Puguh. Saling serang bertukar pukulan dan tendangan itu berlangsung hingga dua puluh jurus.
Hingga suatu ketika, saat Puguh menerjang menyerang seperti orang kesurupan, dengan tenaga dalam yang sangat besar, pukulan Puguh berhasil mengenai dada Kaladitya.
Duuaaakkk !!!
Seketika tubuh Kaladitya terlempar ke belakang. Tubuhnya jatuh ke tanah dalam posisi terlentang. Kaladitya tergeletak tidak ada gerakan. Dari kedua ujung bibirnya terlihat darah mengalir.
Saat lawannya terlempar, Puguh yang tenaga dalamnya mengalir keluar dalam jumlah yang cukup besar, merasakan kepalanya semakin sakit.
Sementara itu, Kalayaksa, saat melihat saudaranya terjatuh terkena pukulan, segera menyerang Puguh dengan serangan beruntun.
"Putri ! Pergilah ! Biar kami yang melanjutkan pertarungan ini ! " teriak Ki Bayuseta.
Putri Mahatariti yang mengalami sedikit luka, tetap berpikir jernih. Pertarungan kali ini situasinya tidak menguntungkan. Maka, langkah yang paling aman adalah melarikan diri.
Segera saja Putri Mahatariti melesat meninggalan tempat bertarung itu.
Sesaat setelah Putri Mahatariti pergi, Bayuseta juga melesat pergi sambil memberi tanda pada semua untuk pergi.
Tanpa berpikir panjang lagi, Nyi Chandra Praya dan Kalayaksa menyusul pergi setelah sebelumnya menyambar tubuh Kaladitya yang tergeletak di tanah.
Puguh yang kehilangan lawan, terlihat berdiri dengan nafas yang terengah engah. Kedua bola matanya memerah. Ditatapnya semua yang masih berada di tempat itu. Matanya menatap Ki Dwijo cukup lama, kemudian ganti menatap Ki Bhanujiwo, kemudian wajah Den Roro. Kemudian ganti menatap Rengganis yang masih terduduk serta Ki Bajraseta yang juga duduk berlutut.
Mereka semua memanggil Puguh bersamaan.
"Ngger Puguh !"
__ADS_1
"Puguh !"
"Kakang Puguh !"
Saat mendengar semua panggilan itu, Puguh merasakan kepala bagian belakangnya semakin sakit.
Tidak tahan dengan rasa sakit itu, Puguh menyusul melesat pergi, tanpa memperdulikan mereka semua yang memanggil manggilnya.
Semakin lama Puguh berlari, semakin bertambah besar tenaga dalam yang dikeluarkannya. Hingga tanpa menyadarinya, dengan gerakan yang sangat cepat yang tidak bisa diikuti dengan pandangan mata, tubuh Puguh melayang di udara, melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, dan terus berlari hingga semakin menjauh dari tempat pertarungan tadi.
----- * -----
Sementara itu di tempat bertarung tadi, mereka semua terpaku dengan kepergian Puguh. Sejenak suasana menjadi senyap tanpa ada yang bersuara.
Namun keheningan itu tidak berlangsung lama, saat terdengar suara Rengganis.
"Ki Dwijo ..., tolonglah kakekku !" kata Rengganis dengan suara yang agak tersendat.
Mendengar namanya disebut, Ki Dwijo langsung tersadar dan kemudian memperhatikan sekitarnya.
Melihat Rengganis terduduk dalam keadaan terluka, Ki Dwijo langsung mendekat dan memberikan obat berwujud pil dan kemudian menyalurkan tenaga dalamnya melalui punggung untuk membantu proses bekerjanya obat.
Setelah sekitar setengah jam, Ki Dwijo mengakhiri proses penyembuhan pada Rengganis yang sudah bersemedi.
Kemudian Ki Dwijo melihat ke arah Ki Bajraseta. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam hatinya. Namun akhirnya, hati nuraninyalah yang menang. Didekatinya Ki Bajraseta untuk memberikan pertolongan. Namun Ki Bajraseta menolak.
"Ki Dwijo dan Ki Bhanujiwo, kuharap kalian bersedia memaafkan perbuatanku yang dulu. Aku tetap bersalah walaupun aku melakukannya dengan terpaksa," kata Ki Bajraseta.
"Ki Bajraseta, aku yang harus mengucapkan terimakasih, karena diam diam kau telah menyelamatkan aku," sahut Ki Bhanujiwo.
Mendengar itu, Ki Bajraseta menatap wajah Ki Bhanujiwo dengan menampakkan senyum bahagia.
"Aku lega melihat Ki Bhanujiwo bisa selamat," jawab Ki Bajraseta semakin pelan.
"Apa maksudnya semua ini !" tanya Ki Dwijo.
Mendengar kegusaran Ki Dwijo, Ki Bajraseta menggerakkan tangan kanannya lemah untuk memanggilnya mendekat.
Setelah Ki Dwijo mendekat, Ki Bajraseta berkata dengan pelan.
__ADS_1
"Ki Dwijo, aku menyesal, aku telah berlaku kejam kepadamu. Tolong maafkan aku. Dan tolong juga, kutitipkan cucuku satu satunya padamu. Reng ... ga ... nis," kata Ki Bajraseta hingga suaranya hilang tak terdengar.
__________ ◇ __________