
"Sekarang perhatikan baik baik. Aku hanya diberi waktu tiga hari selama purnama ini, untuk mengajarkan kepadamu, lebih tepatnya memberikan kepadamu, ilmu ini. Dalam waktu tiga hari itu, aku hanya bisa mempraktekkan ilmu satu kali setiap harinya. Itupun tanpa menggunakan kekuatan dan tenaga dalam. Lewat dari waktu itu, ilmu itu akan hilang dari ingatanku !" kata kera besar itu.
Mendengar penjelasan kera besar itu, Puguh jadi teringat saat terkurung di dalam ruangan di dalam batang pohon kayu hitam raksasa. Di sana dia secara tidak sengaja, mendapatkan ilmu yang hanya bisa dilihat tulisannya, saat bulan purnama.
"Apakah ilmu yang akan kau berikan itu, kelanjutan dari ilmu yang aku dapatkan saat berada di dalam batang pohon kayu hitam raksasa ?" kata Puguh dalam hati.
"Ngger Puguh, besok tepat bulan purnama. Latihanmu akan kita mulai nanti malam selama tiga hari. Hari ini, besok dan lusa. Persiapkan dirimu, agar bisa menyerap ilmu itu sebaik baiknya !" kata kera raksasa itu mengakhiri pembicaraannya.
"Sampai jumpa nanti tengah malam !" kata kera besar itu sambil menghentakkan kaki kanannya ke tanah. Seketika tubuhnya menghilang, melesat dengan sangat cepat ke arah bagian dalam hutan.
Mendengar semua perkataan kera raksasa itu, kemudian Puguh duduk bersila.
"Kakang, istirahatlah untuk persiapan berlatih nanti malam. Biar aku yang menjaga kakang !" kata Rengganis.
Sambil tersenyum, Puguh sekilas menatap Rengganis. Kemudian, tidak berapa lama, Puguh pun tenggelam dalam semedinya sampai dengan waktu menjelang malam.
----- * -----
Waktu tengah malam. Bulan yang hampir bulat sempurna, menebarkan pantulan sinarnya, menyelimuti seluruh permukaan bumi yang bisa dijangkaunya.
Sinar bulan yang menyentuh pepohonan di hutan, rumput tumput di tepian hutan serta punggung bumi yang tidak pernah mengeluh penat kelelahan, memberikan keindahan yang membawa perasaan damai.
Namun, semua yang terjadi saat ini di tepi hutan Setra Jenggala, tidak ada yang berani menikmati keindahan dan kedamaian itu. Karena semua orang, takut akan keangkeran hutan itu.
Di tepi hutan Setra Jenggala, di tanah yang cukup lapang, terlihat terang tidak seperti biasanya. Sinar rembulan seolah dicurahkan sebanyak mungkin di tanah lapang itu, guna menerangi seorang anak muda yang sedang berlatih gerakan gerakan ilmu silat dan tehnik pengaturan nafasnya.
Di pinggir tanah lapang itu tampak seorang perempuan muda yang selalu melihat kemanapun anak muda itu bergerak. Di samping perempuan muda itu, berdiri seorang kakek tua yang rambut, kumis dan jenggotnya sudah memutih semua. Kulit kakek tua itu terlihat bersih terawat walaupun sudah keriput termakan usia.
__ADS_1
Kakek tua itu adalah wujud manusia dari kera raksasa. Untuk melakukan semua gerakan ilmu silat yang dititipkan padanya, yang akan ditirukan oleh Puguh, kera raksasa itu harus kembali ke wujud manusia, agar Puguh bisa menirukan semua gerakannya dengan tepat. Karena, hari ini, kakek itu hanya bisa memberikan contoh satu kali.
Setiap kali Puguh selesai melakukan gerakan ilmu silat yang dipelajarinya, kakek tua itu selalu meminta Puguh untuk mengulangnya lagi. Sampai menjelang rembulan hilang ditelan rimbunnya daun daun pepohonan di hutan, sudah berapa puluh kali Puguh mengulang terus gerakan ilmu silat tadi.
Ketika sinar rembulan sudah tidak mampu menjangkau tanah lapang itu, kakek tua itupun menghentikan latihan ketika Puguh sudah sampai pada gerakan terakhir.
"Latihanmu sudah cukup, untuk hari ini ngger, Puguh. Sekarang istirahatlah, kita lanjutkan besok malam lagi," kata kakek tua itu, " Kalau terang hari nanti kau ingin melatih semua gerakan itu, latihanlah. Tapi ingat, jangan kau gunakan dulu tenaga dalammu." kata kakek tua itu.
Kemudian, seperti saat berwujud kera raksasa, kakek tua itu menotolkan pelan kaki kanannya di tanah. Tiba tiba, seperti menghilang tubuhnya melesat sangat cepat ke atas, lalu melayang ke arah hutan dan hilang dari pandangan karena tertutup rimbunnya hutan.
Di hari berikutnya di hari kedua latihan, tepat di bulan purnama. Puguh kembali berlatih gerakan ilmu silat yang dicontohkan oleh kakek tua jelmaan kera raksasa. Pada hari kedua itu, Puguh menyempurnakan gerakannya yang belum tepat.
Selain itu, tepat saat rembulan berada di atas kepala, Puguh diajarkan tehnik menyerap sinar bulan purnama. Satu tehnik khusus yang digunakan untuk memainkan jurus jurus ilmu silat yang sedang dilatihnya. Tehnik khusus yang membutuhkan tingkat kekuatan dan tenaga dalam yang sangat tinggi itu menggabungkan energi yang terkandung dalam sinar bulan purnama, dengan tenaga dalamnya.
Selama melakukan tehnik itu, kembali terjadi ledakan di seluruh tubuh Puguh, saat tenaga dalamnya yang telah mengandung energi sinar bulan purnama, menerobos masuk dan membuka simpul simpul syaraf dan pembuluh darah yang lebih lembut lagi dan belum pernah terbuka sebelumnya.
Pada tengah malam itu, walaupun menguras hampir seluruh tenaga dalam dan kekuatan Puguh, namun begitu tehnik itu selesai sempurna, kekuatan dan tenaga dalam Puguh mengalami peningkatan yang luar biasa.
Begitu wajah bulan purnama itu menghilang ditelan rimbunnya pepohonan hutan, Puguh mengakhiri latihannya di hari kedua itu.
----- * -----
Pada malam ketiga bulan purnama, setelah beristirahat dan bersemedi hampir sehari penuh untuk memulihkan kekuatan dan tenaga dalamnya, Puguh kembali menjalani latihan terakhir.
Kali ini, dengan mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya, Puguh melakukan seluruh gerakan dari ilmu yang sedang dipelajarinya.
Berbeda dengan latihan pada hari pertama, di hari ke tiga ini, dengan tenaga dalam yang sudah memenuhi seluruh simpul syaraf dan pembuluh darah di tubuhnya, membuat tubuh Puguh terkadang melayang, bahkan hingga cukup tinggi. Tanpa gerakan sekalipun, tubuh Puguh terbang melayang. Dengan gerakan sedikit saja, tubuh Puguh melesat berkelebatan dengan sangat cepatnya.
__ADS_1
"Berhentilah bergerak dan coba bertahan melayang selama mungkin !" kata kakek tua yang tidak pernah lepas sekalipun memperhatikan semua gerakan Puguh.
Setelah cukup lama Puguh melayang di udara, kakek tua itu melesat ke atas menyusul Puguh dan langsung memberikan serangan serangan pada Puguh.
Selama sekitar sepuluh jurus, Puguh masih terlihat pontang panting menghadapi semua serangan kakek tua itu. Namun, semakin lama, setelah pikiran, hati dan gerakannya menyatu, Puguh mulai bisa mengimbangi serangan kakektua itu. Bahkan mulai bisa membalas.
Sementara di bawah, sambil berdiri di pinggiran hutan, Rengganis menyaksikan semua yang terjadi di atasnya.
Dua tubuh terlihat berkelebatan dengan sangat cepat. Kadang saling mendekat berbenturan, kadang saling menjauh kemudian hanya berdiri terdiam.
Pertarungan di udara antara Puguh melawan kakek tua yang mengajarinya, bagaikan dua ekor elang yang saling menyambar, saling menerjang.
Hingga memasuki jurus ke tiga puluh, Puguh dan kakek tua itu secara bersamaan melesat mendekat kemudian melepaskan serangkaian serangan.
Benturan setangan mereka berdua menimbulkan suara ledakan berulang ulang.
Daaammm ! Daaammm ! Daaammm !
Dreeedddaaammm !
Dalam benturan serangan yang terakhir itu, tubuh Puguh melayang mundur sekitar lima langkah. Sedangkan tubuh kakek tua itu terlempar hingga cukup jauh.
Untuk beberapa saat, tubuh mereka berhenti bergerak dan saling menatap.
"Haaahhh ha ha ha ha ... ! Puguh, kau telah berhasil menguasai ilmu yang dinamakan jurus silat Jata Candrama. Dan tehnik penyerapan energi bulan purnama dengan nama yang sama. Kekuatan dan tenaga dalammu sudah melampauiku ! Latihanmu telah selesai. Beristirahatlah ! Kita bertemu kembali besok pagi !" kata kakek tua itu yang kemudian melesat pergi.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1