Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Bertemu Lagi Dengan Kera Raksasa


__ADS_3

Saat Pangeran Panji masuk ke dalam hutan api, Putri Mahatariti yang tubuhnya masih belum pulih dari luka pukulan Rengganis, tidak terbawa masuk ke dalam hutan api dan ditinggal tepat di perbatasan hutan api. Dalam kesadaran yang tidak sepenuhnya, Putri Mahatariti bisa menyaksikan semua yang terjadi di hutan api di depannya, yang sebenarnya merupakan perbatasan antara alam iblis dan alam manusia.


Putri Mahatariti bisa bertahan dan tidak merasakan panasnya hutan api, karena saat ini ada perasaan sedih di hatinya. Namun, suara yang mengajak Pangeran Panji memasuki hutan api, tidak bisa mempengaruhinya, karena kesadarannya masih ada walaupun tidak sepenuhnya.


Beberapa sesaat setelah tubuh Pangeran Panji berubah sepenuhnya menjadi tubuh iblis, Pangeran Panji melangkah keluar dari hutan api dan kembali memasuki alam manusia menuju ke arah Putri Mahatariti berdiri.


Anehnya, begitu memasuki alam manusia, tubuh Pangeran Panji kembali ke wujud tubuh manusia. Namun tidak dengan jiwanya, dengan pikiran dan perasaannya. Pikiran, hati dan jiwanya sudah sepenuhnya menjadi iblis.


Setelah sampai di depan Putri Mahatariti, Pangeran Panji menjulurkan tangan kanannya ke arah kepala Putri Mahatariti.


Beberapa saat kemudian, Putri Mahatariti merasakan ada yang berusaha mengusir kesadarannya dan merebut tubuhnya. Dan akhirnya, Putri Mahatariti pun kehilangan kendali atas tubuhnya. Hati dan pikirannya seperti tertutup selubung hitam, sehingga dia tidak tahu apapun yang dilakukannya. Namun terkadang kesadarannya muncul, walaupun hanya sesaat dan kemudian kesadaran itu tertidur lagi.


----- * -----


Sementara itu, tubuh Ki Kama Catra yang di luar kendalinya, melayang dan seperti dilempar ke arah hutan yang lebih dalam lagi, akhirnya sampai di hutan api dan terjatuh di tanah yang menyala merah kekuningan.


Ki Kama Catra yang tidak dapat mengendalikan gerak tubuhnya, merasakan panas yang luar biasa.


Tubuhnya yang tadinya sedang dalam titik yang sangat lemah, dan merasakan panas yang sangat luar biasa karena terbakar selama beberapa saat, akhirnya tidak lagi merasakan panas.


Kesadaran Ki Kama Catra telah lenyap. Sehingga yang mengendalikan tubuhnya bukan diri Ki Kama Catra lagi. Namun sudah sepenuhnya dikuasai oleh jiwa iblis.


Akhirnya, selama beberapa waktu, Pangeran Panji, Putri Mahatariti dan Ki Kama Catra berada di hutan api, yang masuk ke dalam wilayah alam iblis dan menjadi perbatasan antara alam iblis dengan alam manusia.


----- * -----


Puguh dan Rengganis berlari dengan ilmu meringankan tubuh mereka dengan tidak terlalu cepat.


Ketika perjalanan mereka hampir sampai di tepi hutan, tempat berlangsungnya pertarungan, dari jarak yang masih cukup jauh, kembali Puguh melihat siluet bayangan transparan, yang sama seperti yang dia lihat kemaren.

__ADS_1


Puguh pun segera mengajak Rengganis untuk mempercepat lari mereka guna mengejar siluet bayangan tadi.


Tetapi, begitu dikejar, siluet bayangan itu berpindah arah, agak ke arah kanan, dan terus bergerak menjauhi tempat pertempuran kemaren.


Begitu sampai di sisi yang lain dari tepi hutan yang cukup jauh dari tempat pertempuran kemaren, Puguh melihat, siluet bayangan pransparan itu berhenti bergerak seperti menunggunya.


Puguh dan Rengganis menghentikan lari mereka, ketika mereka berdua tinggal berjarak sekitar sepuluh meter dari siluet bayangan transparan yang sepertinya menunggu mereka.


Puguh dan Rengganis berdiri menatap dengan tajam siluet bayangan transparan itu. Mereka berdua menyaksikan, siluet bayangan transparan itu, semakin bertambah terlihat jelas dan semakin tampak nyata dan akhirnya menampakkan wujud kera raksasa. Kera yang dijumpai Puguh, saat keluar dari lubang pohon kayu hitam raksasa.


Untuk sesaat kera raksasa itu memperlihatkan seringainya seolah tersenyum. Seringai yang bagi Rengganis cukup menakutkan.


Tiba tiba, kera raksasa itu mengadu kedua telapak tangannya di depan dadanya. Kemudian, tanpa diduga oleh Puguh dan Rengganis, kera raksasa itu melesat dengan sangat cepat ke arah Puguh berdiri. Begitu sudah dekat dengan Puguh dan Rengganis, tangan kanannya melakukan gerakan sambaran mendatar sangat cepat, disusul dari arah tangan kirinya.


Melihat yang menjadi sasaran adalah Puguh, Rengganis segera melenting mundur, kemudian agak menjauh dari Puguh dan kera raksasa itu.


Merasa sambaran kedua tangannya hanya mengenai tempat kosong, Kera raksasa kembali melakukan serangan. Tubuhnya dengan ringannya melenting dan kemudian meluncur dengan sangat cepat ke arah Puguh. Kedua tangannya yang terkepal kencang, diayunkan dari atas ke bawah secara bergantian.


Melihat serangan yang sangat berbahaya itu, Puguh kembali menghindar dengan cara secepat mungkin menggeser tubuhnya ke arah samping tiga langkah. Sesaat kemudian, pukulan kera raksasa itu menghujam ke tanah.


Dbbbuuummm ! Dbbbuuummm !


Menghujamnya kepalan tangan kera raksasa itu menimbulkan kepulan debu yang cukup banyak.


Namun tiba tiba, di tengah tengah kepulan debu itu, mencuat sebuah kaki yang sangat besar yang mengarah ke tubuh Puguh dengan gerakan menginjak dari atas ke bawah.


Kembali terdengar seperti suara ledakan, saat kaki kera itu berbenturan dengan kedua lengan Puguh yang terpaksa menangkis karena sudah tidak ada waktu untuk menghindar.


Dddbbbaaammm !!!

__ADS_1


Sesaat setelah suara ledakan itu, terlihat kaki besar milik kera itu terpental kembali ke belakang yang membuat kera itu berdiri dengan sedikit terhuyung huyung.


Setelah bisa berhenti dan berdiri dengan kuat, kera raksasa itu melenting kembali ke atas. Kemudian, tubuh kera raksasa itu kembali meluncur deras ke arah tubuh Puguh dengan melakukan tendangan menyamping berkali kali.


Tap ! Tap ! Tap ! Tap !


Dddbbbuuummm !


Untuk ke sekian kalinya terjadi suara ledakan akibat tendangan kaki besar kera raksasa itu ditangkis kedua lengan Puguh. Bahkan kemudian disusul dengan melesatnya tubuh Puguh mengejar kera raksasa yang sedang terhuyung dan kemudian melesakkan pukulan kanannya ke perut kera raksasa itu.


Bbbaaannnggg !


Tubuh kera raksasa itu terdorong ke belakang hingga beberapa langkah, akibat terkena pukulan Puguh. Namun tubuh kera raksasa itu mendarat di tanah dengan ringan. Kemudian terjadi keanehan. Wujud tubuh kera raksasa itu terlihat bertambah pendek dan kecil disertai wujudnya yang kembali transparan. Setelah seukuran manusia biasa, wujud itu menampakkan sesosok tubuh manusia laki laki paruh baya.


Laki laki paruh baya itu segera tersenyum sambil menatap Puguh. Kedua tangannya terlihat mengibas kibaskan kedua tangannya pada pakaiannya, seolah olah sedang membersihkan kotoran yang menempel di pakaiannya.


"Puguh, latihlah tenaga dalammu, hingga naik setingkat lagi. Minumlah ramuan ini untuk membantu latihan tenaga dalammu !" kata laki laki paruh baya itu sambil mengansurkan tangan kanannya untuk memberikan bungkusan yang berisi ramuan yang dimaksud.


Setelah bungkusan itu diterima oleh Puguh, laki laki paruh baya itu berkata lagi.


"Semoga kau benar benar yang 'terpilih'. Setelah tenaga dalammu meningkat, aku akan menemuimu lagi," kata laki laki paruh baya itu.


Kemudian, secara perlahan, muncul sinar kuning dari dada laki laki paruh baya itu.


Sinar kuning itu semakin bertambah terang, seiring dengan semakin transparannya wujud tubuh laki laki paruh baya.


Setelah wujud transparan laki laki paruh baya itu hilang sepenuhnya, sinar kuning itu melesat dengan sangat cepat ke arah tepi hutan.


__________ ◇ __________

__ADS_1


__ADS_2