Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pohon Raksasa dan Resi Baruna


__ADS_3

Saat tubuh Pangeran Panji meledak, laki laki tua itu kembali bertarung menghadapi Putri Mahatariti yang sudah kembali menyerang.


Namun, karena sudah terluka, membuat kecepatan gerakan Putri Mahatariti sedikit berkurang.


Hingga pada suatu kesempatan, pukulan laki laki tua itu kembali menghantam dadanya.


Blanggg !


Terkena pukulan lagi, tubuh Putri Mahatariti terpental ke belakang dan terkapar di tanah.


Puguh yang melihat hal itu, segera melesat turun di samping tubuh Putri Mahatariti. Puguh bersiap untuk menghabisi Putri Mahatariti.


Namun, niat Puguh itu harus tertunda saat mendengar perkataan Putri Mahatariti yang seperti tidak dalam penguasaan kekuatan iblis.


"Puguh ... Selama ini orang menganggapku jahat. Jangan percaya pada kera raksasa itu. Dia menyimpan niat jahat !" kata Putri Mahatariti pelan.


"Ufhhh ... ! Bunuh dan musnahkan perempuan itu, Puguh ! Sebelum dia menjadi iblis yang sesungguhnya !" kata laki laki tua itu.


"Puguh, kau sudah tahu, kalau aku menyukaimu. Aku jatuh cinta padamu. Kau boleh membunuhku, tapi kali ini aku mohon kau percaya padaku !" kata Putri Mahatariti.


Mendengar perkataan Putri Mahatariti, Puguh menoleh ke arah laki laki tua jelmaan kera raksasa itu, hendak menanyakan padanya.


Namun saat Puguh baru saja menoleh, tiba tiba laki laki tua itu melesat ke arah Rengganis dan menyambarnya kemudian membawanya pergi.


"Puguh, kau bisa mengambilnya kalau kau sudah membayar upahku !" teriak laki laki tua itu sambil melesat pergi.


Puguh baru saja akan ikut melesat mengejarnya, ketika Putri Mahatariti memegang pergelangan kakinya.


"Puguh, tidak usah dikejar. Kalau kera raksasa itu ada yang diinginkannya pada dirimu, dia yang akan mengejarmu ! Tetapi kamu harus hati hati dengan kelicikannya," kata Putri Mahatariti.


"Putri Mahatariti ! Hal apa yang membuat aku harus percaya padamu !" sahut Puguh.


"Kau pergilah ke sebuah bukit di seberang hutan itu. Carilah seorang resi yang tinggal di sebuah goa," kata Putri Mahatariti lagi, "Untuk hal lainnya, bisa kau tanyakan padanya. Karena akupun bertemu dan kenal dengannya, hanya kebetulan saja."


"Baiklah Putri Mahatariti. Aku pegang omonganmu ! Kalau ternyata kedepannya kau ketahuan berbohong padamu, akau akan mencari dan membunuhmu !" jawab Puguh.


Kemudian, dengan cepat Puguh mengeluarkan pedangnya yang dengan cepat bilahnya mengeluarkan sinar hijau terang. Kemudian Puguh meletakkan bilah pedangnya di dada Putri Mahatariti.

__ADS_1


Putri Mahatariti yang melihat hal itu, hanya bisa memejamkan matanya, pasrah kalau Puguh akan membunuhnya.


Namun, di luar apa yang dipikirkannya, Putri Mahatariti merasakan hawa dingin menerpa dadanya dan seperti meresap masuk ke dalam dadanya melalui luka lukanya.


Hingga beberapa saat kemudian, Putri Mahatariti merasakan perasaan longgar dan hangat di dadanya. Maka Putri Mahatariti pun membuka matanya.


Sudah tidak ada bilah pedang yang berada di atas dadanya. Sudah tidak ada Puguh yang berdiri di dekatnya.


Ketika Putri Mahatariti bangun dan duduk, sudah tidak terasa sakit lagi di dadanya akibat pukulan kera raksasa yang sedang dalam wujud laki laki tua.


Putri Mahatariti pun berdiri. Namun sebilah pedang sudah menempel di lehernya.


"Kau menyerah, atau terpaksa aku membunuhmu !" kata Senopati Roro Nastiti yang sudah berdiri di sampingnya.


Saat melihat ke sekelilingnya, Putri Mahatariti melihat, dirinya sudah dikepung. Selain Senopati Roro Nastiti, ada Ki Kebo Ranu, Senopati Cakrayuda, Widura, Darutama dan Arimbi.


"Letakkan pedangmu, Senopati ! Aku tidak akan lari !" kata Putri Mahatariti.


----- * -----


Setelah hampir melewati hutan itu, akhirnya Puguh melihat sebuah bukit kecil yang berbatasan langsung dengan hutan Setra Jenggala.


Puguh turun di punggung bukit yang terdapat sebuah pohon yang sangat besar. Sambil berjalan pelan, Puguh bermaksud melihat lihat daerah itu sekaligus mencari goa yang diceritakan oleh Putri Mahatariti.


Hingga akhirnya Puguh sampai di dekat pohon yang sangat besar yang rimbun daunnya sangat lebar. Walau belum sampai di bawah naungan rimbunnya daun pohon itu, Puguh sudah merasakan adanya getaran kekuatan dari arah bawah pohon besar itu.


Maka, Puguh pun melangkah ke bawah pohon dan menuju ke pokok pohon yang ternyata sangat besar.


Puguh berjalan pelan dan ketika ada akar pohon yang keluar dari tanah di depannya, Puguh pun melangkahinya.


Namun, saat Puguh melangkahi akar pohon itu, tiba tiba dia terjatuh walaupun tidak ada yang mendorongnya dan tidak merasakan adanya getaran tenaga dalam.


Tiba tiba Puguh mendengar suara kakek kakek yang terdengar marah marah.


"Anak muda kurang ajar ! Tidak sopan pada orang tua !"


Puguh menoleh ke kanan kiri, namun tidak bisa menemukan dari mana suara itu berasal. Bahkan saat Puguh berusaha merasakan getaran kekuatan dari suara itu, Puguh tidak bisa menemukannya.

__ADS_1


Maka dari itu, Puguh melanjutkan berjalan ke arah pokok pohon besar itu. Ketika baru dua langkah berjalan, sekilas Puguh merasakan getaran kekuatan dari belakangnya yang kemudian dengan cepat lenyap lagi.


Saat Puguh membalikkan badan dan sambil bersiap, tiba tiba sebatang akar sebesar lengan sudah menghantam dadanya.


Duagggh !


Terkena hantaman akar, tubuh Puguh tersurut dua langkah ke belakang.


"Walau kurang ajar, namun kemampuanmu boleh juga, anak muda !"


Tiba tiba terdengar lagi suara kakek kakek di belakang Puguh.


Puguh yang masih belum bisa menemukan sumber suara, akhirnya menghentikan langkahnya. Kemudian, agar panca indra yang lainnya bisa lebih fokus, Puguh memejamkan matanya sambil mengalirkan tenaga dalamnya ke semua panca indranya.


Pada saat kedua matanya terpejam itulah, Puguh terkejut. Karena dirinya seperti melihat seorang kakek yang tampak sudah sangat renta. Dan yang membuatnya lebih terkejut adalah, seluruh tubuh kakek renta itu menyatu dengan pohon raksasa atau tepatnya, tubuhnya seperti menjadi kulit bagi pohon besar itu.


"Ternyata kau sangat cerdas, anak muda !" kata kakek renta yang wajahnya seperti tumbuh dari kulit pokok pohon besar itu.


Kemudian Puguh melihat wajah kakek renta itu merembet pada pokok pohon besar itu, menuju ke bagian pokok pohon yang lebih rendah hingga setinggi manusia berdiri. Bersamaan dengan itu, beberapa dahan juga bergerak mendekat ke kiri kanan pokok pohon. Bentuk dahan itu menyerupai tangan dan kaki manusia namun dengan wujud yang lebih panjang panjang. Dan Anehnya, dahan yang berbentuk tangan dan kaki manusia itu, bisa berganti ganti.


"Mendekatlah anak muda !" kata kakek renta itu, saat melihat Puguh masih terdiam saja dan hanya menatap semua yang sedang terjadi.


Mendengar kakek renta itu menyuruhnya mendekat, Puguh perlahan mendekat ke pokok pohon yang ada bagian kulitnya yang membentuk sebuah wajah kakek renta itu.


Setelah Puguh cukup dekat dengan dirinya, kakek renta itu bertanya lagi.


"Anak muda, siapa namamu ?" tanya kakek renta.


"Saya Puguh, paman !" jawab Puguh.


"Hehhh he he he he .... ! Nama yang bagus ! Perkenalkan, namaku Baruna, atau dulu sekali aku dikenal dengan panggilan Resi Baruna !" kata kakek itu.


"Dari siapa kau mengetahui tempat ini ? Dan ada hal apa hingga kau harus datang ke sini ?" tanya kakek renta itu lagi.


Kemudian, Puguh menceritakan semua yang sudah terjadi tadi.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_

__ADS_1


__ADS_2