Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Kelompok Gogor Gora


__ADS_3

Walaupun jumlah anggota dan pendekar di Perkumpulan Jaladara Langking banyak, namun karena akhir akhir ini hampir semua Kademangan bahkan Kadipaten mulai berani menolak tidak melakukan permintaan Perkumpulan Jaladara Langking, membuat Perkumpulan Jaladara Langking harus membagi kekuatannya guna kembali menanamkan pengaruhnya di Kademangan Kademangan dan Kadipaten Kadipaten yang mulai berani melawan. Mereka semua menjadi berani melawan karena terinspirasi oleh perlawanan yang dilakukan oleh Kademangan Pandan Ireng.


Walaupun Kademangan Kademangan itu belum melakukan perlawanan secara terang terangan, namun hal itu justru yang menyulitkan Perkumpulan Jaladara Langking.


Selain yang dari pemerintahan, sebenarnya ada banyak pendekar dari Padepokan Padepokan yang berada di Kadipaten Langitan dan Kadipaten lain di sekitarnya.


Namun pendekar pendekar itu belum berani melawan dengan menggunakan nama Padepokannya, karena masih khawatir dengan keselamatan Padepokannya, sehingga para pendekar dari berbagai Padepokan itu seringnya menyamar menjadi prajurit ataupun senopati.


Saat ini, beberapa pendekar dari berbagai Kademangan bahkan ada yang dari Kadipaten, serta beberapa pendekar yang berasal dari berbagai padepokan, sedang berkumpul di suatu tempat yang dekat dengan Kademangan Watu Wot dan Kademangan Waringin Putih. Di antara mereka, ada Raden Raksanala, anak sulung dari Raden Tumenggung Surya Langit yang menjadi adipati di Kadipaten Langitan. Raden Raksanala memang diutus oleh ayahnya untuk memimpin dan mengatur para pendekar dari berbagai Kademangan ataupun dari Padepokan.


Walaupun Raden Raksanala masih muda, namun memiliki ilmu yang tinggi. Selain sejak kecil menjadi murid Senopati Widura dan Senopati Nala, dua senopati andalan Kadipaten Langitan, juga oleh kedua gurunya dicarikan guru, seorang pertapa dan tokoh persilatan yang bernama Ki Jangkung. Dengan ilmu silat yang diajarkan oleh gurunya, membuat Raden Raksanala sulit dicarikan tandingannya dan sangat disegani siapapun, walaupun usianya masih sangat muda.


Puguh juga ikut berada di tempat itu, walaupun tidak mau terlibat dalam pembicaraan. Puguh selalu ditemani oleh Den Roro dan juga Den Bagus, sehingga yang ikut dalam pembicaraan selalu Den Bagus dan Den Roro.


Mereka berkumpul untuk membicarakan rencana untuk mengusir sekelompok orang yang ditugaskan oleh Perkumpulan Jaladara Langking untuk menekan Kademangan Watu Wot dan Kademangan Waringin Putih.


Walaupun dulunya kedua Kademangan itu memusuhi Kademangan Pandan Ireng, namun Ki Demang Pandan Ireng tetap menyuruh kedua anaknya untuk ikut membantu kedua Kademangan itu.


Sekelompok pendekar yang diutus oleh Perkumpulan Jaladara Langking itu dipimpin oleh seorang yang bernama Gogor Gora.


Gogor Gora berbadan tinggi besar, rambutnya gondrong dan brewokan. Dalam berpakaian, dia selalu bertelanjang dada. Di kedua tangan, kedua kaki dan dadanya penuh dengan bulu, sehingga menambah seram penampilannya. Senjatanya berupa sepasang kapak besar.


Gogor Gora terkenal suka berlaku kejam pada setiap lawannya. Lawan yang dia kalahkan hampir semuanya tewas dan dengan anggota tubuh yang tidak utuh lagi, entah putus tangannya, kakinya bahkan lehernya,terkena tebasan kedua senjata kapaknya.

__ADS_1


Kebiasaannya mencabik cabik musuhnya hingga tewas itulah yang membuatnya terkenal dengan julukan Gigor Gora.


Delapan anak buahnya berpenampilan sama dengan Gogor Gora dan sama kejamnya dengan Gogor Gora.


Mereka dahulunya adalah gerombolan perampog yang tidak pandang tempat dan wilayah. Mereka merampog di mana ada kesempatan, tidak peduli di hutan, di jalan, di pasar atau di perkampungan.


Pada suatu saat, Gogor Gora bertemu dengan seseorang yang berjalan sendirian dengan membawa buntalan di punggungnya. Segera saja Gogor Gora dan anak buahnya mendekati orang itu dan berniat merebut buntalan yang dibawanya.


Namun saat itu Gogor Gora salah sasaran. Karena, orang yang hendak mereka rampas barang bawaannya, ternyata sangat tinggi ilmunya. Gogor Gora dan anak buahnya bisa dikalahkan oleh orang hendak mereka rampog. Yang ternyata, orang yang hendak mereka rampog adalah salah seorang pimpinan Perkumpukan Jaladara Langking.


Akhirnya Gogor Gora ditawari untuk bekerja pada Perkumpulan Jalara Langking.


Ketika diperintah oleh Perkumpulan Jaladara Langking untuk memberikan tekanan pada Kademangan Watu Wot dan Gora dan anak buahnya segera menyahut dengan cara segera menyerbu ke kedua Kademangan.


Bersama delapan anak buahnya, Gogor Gora memporak porandakan rumah Kademangan Watu Wot dan rumah Kademangan Waringin Putih. Bahkan sudah membantai beberapa anggota keluarga Kademangan Watu Wot, yang menyebabkan Demang Watu Wot berteriak menyerah.


Jatuhnya Kademangan Watu Wot dan Kademangan Waringin Putih ke pasukan pendekar yang dikirim oleh Perkumpulan Jaladara Langking, segera terdengar oleh Kademangan yang lainnya dan terdengar pula oleh Adipati Langitan.


Maka, beberapa waktu kemudian, beberapa pendekar dipimpin oleh Raden Raksanala mengadakan pertemuan untuk membahas cara menghadapi Gogor Gora dan anak buahnya.


Dari pembicaraan para pendekar itu, akhirnya disepakati, mereka membagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama menyerang ke arah Kademangan Watu Wot. Kelompok kedua dalam waktu yang bersamaan menyerang ke Kademangan Waringin Putih. Sedangkan kelompok ketiga bertugas membantu kedua kelompok yang bertemu dengan Gogor Gora.


Kemudian pada keesokan harinya, mereka segera bekerja sesuai dengan yang sudah mereka rencanakan.

__ADS_1


Raden Raksanala memimpin sekelompok pendekar menuju ke Kademangan Watu Wot. Sekelompok pendekar lagi menuju ke Kademangan Waringin Putih. Sedangkan Puguh bergabung di kelompok ketiga yang siap membantu kelompok manapun yang menemui lawan yang kuat, terutama Gogor Gora.


Dengan diam diam, Raden Raksanala segera melesat menuju Kademangan Watu Wot bersama dengan beberapa orang pendekar.


Kebetulan, di rumah Kademangan Watu Wot, mereka tidak menemui lawan yang berarti, sehingga mereka tidak terlalu mengeluarkan banyak tenaga untuk bertarung. Tetapi tugas mereka yang lebih berat adalah, menumbuhkan kembali keyakinan dan semangat warga Kademangan Watu Wot untuk melakukan perlawanan.


Sementara itu kelompok yang menuju ks Kademangan Waringin Putih, di sana mereka menjumpai, Gohor Gora dan anak buahnya sedang berada di rumah Kademangan Waringin Putih. Segera saja mereka mengirimkan tanda untuk meminta bantuan.


Melihat ada tanda bahaya dari arah Kademangan Waringin Putih, kelompok ketiga termasuk Puguh dan Den Roro yang tidak pernah jauh dari Puguh, segera melesat menuju Kademangan Waringin Putih.


Sesampai di sana, belum terjadi pertarungan, karena kelompok kedua memang sengaja menunggu bala bantuan datang.


Setelah bala bantuan dari kelompok ketiga bergabung dengan kelompok kedua, mereka segera menyerbu ke rumah Kademangan Waringin Putih.


Tak pelak, pertempuran pun segera terjadi dan berlangsung dengan brutal. Karena cara bertarung Gogor Gora dan anak buahnya yang sangat kasar dan sadis. Namun, walaupun Gogor Gora dan anak buahnya bertarung dengan sangat kasar, namun karena ditunjang dengan ilmu silat yang tinggi membuat mereka menjadi lawan yang sulit untuk dikalahkan.


Selama pertarungan berlangsung, sudah ada beberapa pendekar yang mengalami luka luka, bahkan luka parah.


Melihat hal itu, Puguh yang masih mengawasi keadaan segera mendekati Gogor Gora dan menghadang pergerakannya.


"Hah ha ha ha ...... anak muda ! Menyingkirlah ! Kalau tidak ingin tubuhmu tercabik cabik !" teriak Gogor Gora.


"Kita coba, apakah kau mampu mencabik tubuhku !" jawab Puguh.

__ADS_1


Segera saja Gogor Gora dan Puguh saling melancarkan serangannya. Demikian juga, anak buah Gogor Gora, segera maju bertempur.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2