
Panglima Perang Sada terkejut saat ada yang menangkis tongkatnya secara tiba tiba, bahkan membuat tongkatnya terpental dengan keras.
"Siapa kau !" bentak Panglima Perang Sada.
"Aku adalah malaikat yang akan mencabut nyawamu !" jawab sosok yang memegang pedang hitam legam itu.
"Bocah kurang ajar !" teriak Panglima Perang Sada sambil kemudian melesat ke arah sosok yang memegang senjata pedang hitam itu. Senjata tongkatnya yang mengkilat, meluncur menotok ke arah dada.
Mendapatkan serangan yang sangat cepat, sehingga tiba tiba sudah sangat dekat dengan tubuhnya, sosok yang membawa pedang hitam itu mengibaskan pedangnya dua kali untuk menyapok dan membuat senjata tongkat itu menjauh dari tubuhnya.
Trang ! Trang !
Terkena tangkisan pedang hitam, tongkat Panglima Perang Sada kembali terpental dengan keras. Diam diam, Panglima Perang Sada merasakan, tangannya yang memegang tongkat bergetar hebat. Hal itu membuat kemarahan Panglima Perang Sada bertambah.
"Kurang ajar ! Ternyata hanya seorang anak perempuan !" Panglima Perang Sada kembali berteriak.
"Tua bangka ! Kamu yang kurang ajar !" sahut sosok yang memegang pedang hitam.
Sementara itu, ketika mencoba berdiri, Ki Dwijo merasakan dadanya sangat sesak dan seluruh isi perutnya bergejolak. Akhirnya Ki Dwijo kembali jatuh terduduk dan kemudian memuntahkan darah.
Melihat sekilas ada yang menolongnya, Ki Dwijo segera duduk bersila untuk mengatur pernafasan dan menormalkan peredaraan darahnya.
Beberapa saat kemudian, saat kondisinya sedikit lebih baik, telinga Ki Dwijo mendengar suara yang sangat dia kenal.
"Reng ... ga ... nis ... ?" kata Ki Dwijo terbata bata karena terkejut.
Kemudian, dengan perlahan, Ki Dwijo berdiri lagi dan memperhatikan lebih tajam lagi pada sosok yang memegang pedang hitam.
Agak jauh di depan Ki Dwijo, Panglima Perang Sada yang kemarahannya meningkat, segera kembali melesat menyerang sosok yang memegang pedang hitam.
Senjata tongkatnya mengeluarkan suara berkesiutan yang lebih nyaring lagi. Kilatan kecil seperti petir yang memenuhi permukaan tongkat membuat senjata tongkat itu lebih mengkilat lagi.
Melihat serangan yang lebih ganas lagi itu, sosok yang memegang pedang hitam itu mendengus dan segera memutar pedang hitamnya untuk menepis ujung tongkat yang mengarah ke kepalanya.
Klang ! Klang !
Dalam dua kali benturan senjata itu, tubuh Panglima Perang Sada kembali terdorong tiga langkah ke belakang.
Hal itu semakin membuat kemarahan Panglima Perang Sada memuncak.
Dengan disertai teriakan yang keras, Panglima Perang Sada mengeluarkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.
__ADS_1
"Hhrrraaa !"
Getaran kekuatan yang sangat besar dan membawa hawa menekan, keluar dari seluruh tubuhnya. Seperti halnya dengan seluruh permukaan senjata tongkatnya, seluruh permukaan kulit Panglima Perang Sada terlihat lebih mengkilat.
"Jangan meremehkan kekuatanku !" teriak Panglima Perang Sada, sambil tubuhnya melesat ke arah sosok yang memegang pedang hitam itu.
Kemudian, dengan kecepatan yang sudah tidak bisa lagi diikuti oleh mata, senjata tongkat Panglima Perang Sada melakukan tusukan, gebukan dan menebas berkali kali.
"Panglima Perang ini sangat berbahaya !" gumam sosok yang memegang pedang hitam itu.
Kemudian, dengan melintangkan pedang di depan dadanya dan telapak tangan kiri yang terbuka di samping menghadap ke bawah, sosok yang membawa pedang hitam itu, menunggu datangnya serangan.
Sesaat kemudian, terdengar suara seperti suara logam berdentangan, saat berkali kali senjata pedang hitam itu berbenturan dengan senjata tongkat.
Trang ! Trang ! Trang !
Klaaannnggg ! Klaaannnggg !
Tidak hanya benturan senjata, pukulan tangan kiri ataupun tendangan, mereka lakukan selama menyerang di setiap jurusnya.
Tanpa terasa, lima puluh jurus telah mereka lewati. Terlihat, sekitar tempat mereka bertarung, udara bergerak ke arah sosok yang memegang pedang itu bahkan seolah mengelilinginya.
Bahkan, beberapa waktu kemudian, pedang yang berwarna hitam legam itu, beberapa kali berhasil mengenai tubuh Panglima Perang Sada.
Tak ! Tak ! Tak !
Taaannnggg ! Taaannnggg !
Namun, tusukan dan sabetan pedang itu tidak bisa melukai kulit Panglima Perang Sada, seakan kulitnya terbuat dari baja.
"Hhaaahhh ha ha ha ha ! Bocah kurang ajar ! Ayo seranglah sesukamu !" kata Panglima Perang Sada.
Melihat lawannya tidak terluka terkena sabetan pedangnya dan mendengar perkataan lawannya itu, sosok yang memegang pedang hitam itu mendengus.
"Hehhh ! Tehnik Tubuh Baja ya ?" gumam sosok yang memegang pedang hitam itu.
Kemudian dengan cepat, tangan kirinya terayun ke arah sebuah pohon yang berada di sebelah kirinya. Tiba tiba ada sebuah ranting pohon itu yang patah dan melesat ke arah tangan kirinya.
"Kau ingin aku menyerangmu dengan sesukaku ? Baiklah, aku berikan serangan itu !" kata sosok yang memegang pedang hitam itu.
Lalu, dengan sedikit mengangkat kaki kirinya, sosok yang memegang pedang hitam itu melesat dengan sangat cepat ke arah Panglima Perang Sada.
__ADS_1
Sesaat kemudian, pedang hitamnya berkelebatan cepat menyerang berkali kali ke seluruh tubuh Panglima Perang Sada.
Tak ! Tak ! Tak ! Tak ! Tak !
Walaupun tidak bisa melukainya, tetapi terkena serangan pedang berkali kali di hampir seluruh tubuhnya, membuat Panglima Perang Sada tersinggung dan meradang.
Maka, tanpa bersuara lagi, tubuhnya melesat dengan sangat cepat ke arah sosok yang memegang pedang hitam. Senjata tongkatnya meluncur cepat berkesiutan, menyerang dengan tusukan tusukan ke arah kepala, perut dan dada.
Sementara itu, sosok yang memegang pedang hitam itu, tadi sengaja menyerang ke berbagai bagian tubuh, untuk memastikan, apakah semua lapisan kulitnya kebal atau ada yang masih belum kebal senjata.
"Hampir semua permukaan kulitnya seolah berubah menjadi baja !" kata sosok yang membawa pedang hitam itu, "Berarti memang ini satu satunya cara untuk menghentikannya !"
Kemudian, sambil menyilangkan senjata pedang dan sebuah ranting pohon di depan dadanya, sosok yang memegang pedang hitam itu menambah aliran tenaga dalamnya.
Saat Panglima Perang sudah sangat dekat dengannya dan melakukan serangan, sosok yang memegang pedang hitam itu menggerakkan pedangnya untuk menangkis serangan tongkat, sekaligus ranting di tangan kirinya untuk melakukan serangan.
Namun, Panglima Perang Sada harus terkejut, saat merasakan, setiap serangan yang dilakukan oleh sosok yang memegang pedang yang menjadi lawannya, terasa semakin kuat dan cepat, dan tenaga dalam yang digunakan pun semakin besar.
Bahkan, setiap senjata pedang itu mengenai anggota tubuhnya, Panglima Perang Sada mulai merasakan sedikit sakit pada kulitnya.
Tetapi, sosok yang memegang pedang hitam itu tampaknya tidak memberi kesempatan pada Panglima Perang Sada untuk berpikir. Karena sabetan dan tusukan pedangnya semakin kuat, semakin cepat dan semakin sering mengenai tubuhnya.
Hingga akhirnya, pada saat Panglima Perang Sada sudah sangat kewalahan menangkis serangan pedang, satu sabetan pedang berhasil membuat senjata tongkat itu terpental dan terlepas dari genggaman tangan Panglima Perang Sada. Disusul kemudian, sebuah ranting pohon, melesat cepat dan menancap tepat di kerongkongan Panglima Perang Sada.
Claaappp !
Seketika, Panglima Perang Sada mengeluarkan suara yang menggambarkan betapa dia merasakan kesakitan.
Namun, suara kesakitan itu tidak berlangsung lama, karena sebuah pedang berwarna hitam berkelebat sangat cepat dan menebas lehernya hingga membuat kepalanya hampir lepas dari tubuhnya.
Hembusan angin yang mengitari tubuh sosok yang memegang pedang hitam itu berhenti, bersamaan dengan jatuhnya tubuh Panglima Perang Sada ke tanah.
Selama beberapa waktu, suasana menjadi senyap, hingga kemudian terdengar Ki Dwijo menyebut sebuah nama.
"Rengganis ? Benarkah ini kamu nduk ?" tanya Ki Dwijo.
Sosok yang memegang pedang hitam itu membalikkan badannya dan menjawab, "Benar guru. Aku adalah Rengganis !"
Kemudian, Rengganis segera mendekati Ki Dwijo dan membantunya memulihkan kondisinya.
---------- ◇ ----------
__ADS_1