Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Ki Naga Hitam dan Ki Naga Besar


__ADS_3

Puguh tidak membawa Pangeran Indra Prana ke Istana Kerajaan Kisma Pura. Karena dikhawatirkan, para pendekar akan mengejar hingga ke istana Kerajaan Kisma Pura.


Dengan sangat cepat, Puguh terbang melesat membawa Pangeran Indra Prana ke Gunung Pedang, diikuti Rengganis dan Kartika Dhatu yang menyusul terbang di belakangnya.


Setelah sampai di puncak Gunung Pedang, Puguh kembali bertanya pada Pangeran Indra Prana.


"Pangeran Indra Prana, aku minta kau ceritakan apapun yang terjadi yang berkaitan dengan kejadian tadi ! Mungkin kami bisa mempertimbangkan untuk membantumu menjelaskan pada teman teman pendekar !" kata Puguh.


"Pendekar Puguh ! Terimakasih, kau mau membantuku ! Aku sendiri juga tidak tahu, apa dan bagaimana yang sebenarnya terjadi. Kejadiannya mengalir begitu saja, " jawab Pangeran Indra Prana.


Kemudian Pangeran Indra Prana menceritakan kisahnya bisa bertemu dengan seseorang yang dia anggap sebagai gurunya.


Suatu ketika, beberapa waktu sebelum pasukan Pangeran Langit Barat dari Kerajaan Menara Langit datang dan mendarat di pesisir, Panglima Indra Prana mendapat laporan dari pendekar yang menjadi mata matanya, bahwa ada armada pasukan perang dari kerajaan seberang yang sepertinya hendak menuju ke Pulau Jawadwipa.


Sebelum mengirimkan pasukan pendekarnya, diam diam Pangeran Indra Prana pergi ke pesisir sendirian untuk memastikan situasi di sana.


Ketika tiba di suatu tempat deretan pesisir, Pangeran Indra Prana melihat keadaan tepi pantai itu porak poranda seperti baru saja terkena badai yang sangat besar.


"Kenapa daerah ini bisa hancur seperti ini ? Bukankah semalam tidak ada berita atau laporan akan adanya badai besar ?" kata Pangeran Indra Prana dalam hati, sambil memeriksa keadaan tepi pantai itu.


Saat sampai di sebuah tebing karang yang tidak terlalu tinggi, Pangeran Indra Prana, seorang kakek tua berbadan kurus dengan tubuh yang hampir telanjang, tergeletak diantara batu batu karang dalam keadaan tidak


sadarkan diri. Badannya yang sudah mulai memucat, terjepit batu karang yang cukup besar.


Segera saja Pangeran Indra Prana mendekati kakek tua itu.


Begitu mengetahui masih ada denyut kehidupan pada tubuh kakek tua itu, Pangeran Indra Prana segera menolong kakek tua itu dengan menyingkirkan batu karang yang menjepitnya. Kemudian membawa tubuh pucat dan sangat lemah itu ke tempat yang nyaman untuk menggeletakkannya.


Pangeran Indra Prana segera memeriksa keadaan kakek tua itu dan kemudian mengalirkan tenaga dalamnya melalui dada kakek tua itu.


Setelah beberapa waktu, kakek tua itu mulai sadar dan terbatuk batuk.


"Hhuuukkk hukkk hukkk ! Engkaukah yang telah menolongku, anak muda ?" tanya kakek tua dengan suara pelan.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, Pangeran Indra Prana hanya mengangguk.


"Terima kasih, anak muda !" kata kakek tua itu.


Kemudian, selama hampir setengah hari, Pangeran Indra Prana terus mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh kakek tua itu.


Setelah kakek tua itu pulih sebagian kekuatannya, Pangeran Indra Prana segera berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya, karena Pangeran Indra Prana tidak ingin dikenali oleh orang lain. Selain itu, Pangeran Indra Prana juga mengetahui dari getaran kekuatan yang keluar dari tubuh kakek tua itu, jikalau kakek tua itu adalah seorang pendekar.


Setelah kejadian itu, Pangeran Indra Prana beberapa kali bertemu kembali dengan kakek tua yang diselamatkannya itu. Setiap kali bertemu, secara kebetulan Pangeran Indra Prana sedang sendirian. Setiap kali bertemu kakek tua itu pun selalu mengucapkan terimakasih karena telah ditolong dan diselamatkan nyawanya.


Hingga pada suatu saat, kakek tua itu mengatakan, jika sebagai bentuk terima kasihnya karena telah diselamatkan, kakek itu ingin mengajarkan salah satu ilmu kesaktiannya pada Pangeran Indra Prana.


Mengetahui kalau kakek tua itu seorang yang sakti, Pangeran Indra Prana pun menerima tawaran kakek tua itu.


Karena kakek tua itu tidak ingin dikenal dan diketahui oleh orang lain, Pangeran Indra Prana mengajak kakek tua itu ke Istana Kerajaan Kisma Pura.


Di dalam ruangan khusus di Istana Kerajaan Banjaran Pura, Pangeran Indra Prana melatih ilmu kesaktian yang diajarkan oleh kakek tua itu.


Sejak saat itu, Pangeran Indra Prana semakin meningkat kesaktian dan kekuatan tenaga dalamnya.


     ----- * -----


Mendengar semua kisah Pangeran Indra Prana, Puguh sejenak terdiam. Pikirannya teringat dengan peristiwa yang sudah berlalu. Datangnya rombongan besar pasukan perang Kerajaan Menara Langit. Juga munculnya tokoh tokoh aneh dan misterius seperti Aswa Muka dan Aswa Kudana serta Kala Soca dan Kala Dupa.


"Pangeran Indra Prana ! Apakah Pangeran bisa memperkirakan, dari mana pendekar yang dengan menyusup menjadi guru Pangeran Indra Prana ? Dan kira kira, kemana perginya dia ?" tanya Puguh.


Mendengar pertanyaan Puguh, Pangeran Indra Prana menggelengkan kepalanya pelan beberapa kali.


"Kalau memang Guru ada hubungannya dengan Pangeran Langit Barat, kemungkinan besar dia berasal dari Kerajaan Menara Langit. Kalau kemana kira kira dia pergi, aku juga tidak tahu !" jawab Pangeran Indra Prana, "Tetapi, pada suatu saat, Guru pernah berpamitan hendak ke pesisir. Mungkin juga sekarang menuju ke pesisir !"


"Pangeran Indra Prana ! Aku masih percaya dengan ucapan Pangeran ! Tetapi, bukan berarti Pangeran bisa bebas ! Kita berangkat ke pesisir sekarang juga ! Siapa tahu kita bisa mengejar pendekar yang menjadi guru Pangeran ! Pangeran ikut bersama kami !" sahut Puguh.


"Adik Rengganis, adik Kartika Dhatu ! Kita menuju pesisir sekarang juga !" sambung Puguh sambil kemudian menyambar tubuh Pangeran Indra Prana.

__ADS_1


Kemudian, dengan terbang melayang, Puguh yang membawa Pangeran Indra Prana, Rengganis dan Kartika Dhatu melesat ke arah pesisir.


     ----- * -----


Sementara itu di pesisir, tidak jauh dari tempat pendaratan armada kapal pasukan perang Kerajaan Menara Langit.


Air laut di wilayah itu bergolak sangat dahsyat, disertai angin yang berhembus kencang berputaran. Bahkan gumpalan gumpalan awan pun menjadi berwarna hitam hingga membuat dunia seolah menjadi gelap.


Hal itu terjadi dikarenakan adanya sesosok manusia yang mengamuk di dalam lautan.


"Kita sudah melangkah sejauh ini ! Aku tidak ingin semua rencana ini gagal !" teriak sosok manusia itu sambil berkali kali melepaskan pukulan hingga membuat air lautan terangkat dan menjadi ombak badai yang sangat besar.


Ddaaammm ! Ddaaammm !


Debaaammm !


"Ki Naga Besar ! Kendalikan amarahmu dulu ! Kita belum gagal ! Kita juga belum ketahuan ! Kita hanya kehilangan orang orang yang bisa kita manfaatkan !" kata seorang laki laki tua tinggi kurus.


"Ki Naga Hitam ! Kau jangan mencoba membujukku hanya untuk membuatku tenang !" sahut sosok manusia yang sedang mengamuk yang dipanggil dengan Naga Besar.


"Ki Naga Besar ! Kita mungkin sudah kehilangan Pangeran Langit Barat yang sudah tewas serta pasukan perangnya yang hancur lebur ! Tetapi aku secara sengaja bisa mengadu domba mereka ! Saat ini, Pangeran mereka yang aku jadikan murid demi penyamaranku, sekarang ini dimusuhi oleh semua pendekar yang tadinya membantunya ! Sebentar lagi akan terjadi perseteruan antara pasukan Kerajaan Kisma Pura dengan para pendekar yang merasa ditipu oleh Pangeran yang terlalu lugu itu ! Perseteruan yang akan melemahkan mereka dari dalam ! Sehingga kita bisa menghancurkan mereka dengan mudah ! Lalu kita bisa mengambil semua senjata pusaka kita yang mereka rampas, dengan mudah !" kata Ki Naga Hitam.


"Ki Naga Hitam ! Aku berusaha mempercayai perkataanmu ! Semoga bukan hanya bualanmu untuk menyenangkanku !" jawab Ki Naga Besar dengan nada suara yang lebih tenang.


"Panggil Ki Naga Kecil ! Kita akan membahas rencana penyerangan !" sambung Ki Naga Besar.


"Ki Naga Besar ! Saat ini, Ki Naga Kecil sedang terluka parah hingga tidak sadarkan diri !" jawab Ki Naga Hitam.


"Grrwwwhhh ! Siapa yang mampu melukai Ki Naga Kecil !" teriak Ki Naga Besar.


"Kalau melihat ilmu yang dipergunakan saat bertarung denganku walau hanya sebentar, sepertinya dia murid Pendekar Pengendara Elang, berjuluk Pendekar Elang Malam !" kata Ki Naga Hitam.


---------- ◇ ----------

__ADS_1


__ADS_2