Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pendekar Pengendara Elang


__ADS_3

Melihat kejadian itu, Ki Dwijo bergumam.


"Apakah dongeng itu benar benar kenyataan ?"


Dahulu sekali, bahkan saat Ki Dwijo masih kecil, beredar dongeng di masyarakat terutama di dunia persilatan tentang seorang pendekar yang selalu melindungi masyarakat dari kejahatan. Pendekar itu ditemani seekor elang raksasa berbulu hitam kehijauan, dalam setiap perjalanan ataupun pertarungannya. Keistimewaan elang itu adalah, lidahnya yang mengeluarkan pendaran berwarna hijau menyala.


Pendekar itu terkadang pergi dengan menunggang elang terkadang dengan melayang di samping elang raksasa itu. Sehingga pendekar itu mendapatkan julukan Pendekar Pengendara Elang.


Pada suatu masa, pendekar itu bertarung melawan tujuh orang pemimpin dari sekelompok tokoh persilatan yang datang dari Daratan Besar. Kelompok pendekar itu sangat kejam dan melakukan hal hal yang mengancam keutuhan negara dengan cara mengganggu ketenteraman dan keselamatan masyarakat.


Bersama sama dengan tokoh pendekar yang lain, mereka bertaruh nyawa membela keutuhan negara.


Pada pertarungan itu, pendekar itu ditemani seekor elang raksasa yang sudah menjadi temannya sejak kecil. Elang raksasa itu ikut bertarung seolah bisa ilmu silat.


Dalam pertarungan melawan tujuh pemimpin kelompok pendekar itu, elang raksasa itu menjadi sasaran utama serangan ketujuh orang itu. Elang itu dijebak dengan jaring besar dan kemudian dihujani dengan panah beracun. Hingga akhirnya elang raksasa itu terjatuh mengenaskan dengan luka luka di sekujur tubuhnya.


Melihat elang raksasa sahabatnya sekaligus hewan kendaraannya terjatuh, Pendekar Pengendara Elang itu tidak terima dan bertarung dengan seluruh kemampuannya melawan ketujuh orang pimpinan kelompok dari Daratan Besar itu hingga ketujuh odang lawannya itu bisa ditewaskan semuanya. Pendekar Pengendara Elang itu pun juga mendapatkan luka yang tidak sedikit.


Setelah pertarungan selesai dan para pendekar penyerang dari Daratan Besar itu dapat dikalahkan, Pendekar Pengendara Elang segera pergi membawa tubuh elang raksasa itu untuk diobati.


Namun karena luka luka yang sangat parah serta racun dari banyak sekali panah yang mengenai tubuhnya sudah terlanjur menyebar ke seluruh tubuhnya, elang Raksasa itu tidak bisa diselamatkan.


Menjelang kematiannya, elang raksasa itu menyuruh Pendekar Pengendara Elang untuk memotong lidahnya setelah dia mati, untuk dibuat senjata.

__ADS_1


Karena sudah bertahun tahun mereka bersama, maka walaupun elang raksasa itu tidak bisa berbicara, namun Pendekar Pengendara Elang itu bisa memahami dan mengetahui apa yang diminta oleh elang raksasa itu.


Setelah beberapa tahun tidak terdengar kabar beritanya, tiba tiba di dunia persilatan muncul seorang pendekar sakti yang bisa terbang melayang, menggunakan jubah besar berwarna hijau kehitaman, yang melambai lambai seperti sayap karena tidak dikancingkan.


Pendekar itu selalu memberantas kejahatan dalam setiap tempat yang dilewatinya. Dalam pertarungannya, Pendekar Pengendara Elang terkadang menggunakan senjata pedang berwarna hitam kehijauan yang bilahnya mengeluarkan pendaran cahaya berwarna hijau terang.


Karena kebaikannya dalam menegakkan kebenaran dan membela yang tertindas, dan karena kesaktiannya yang sampai dia menghilang beluam ada yang bisa menandinginya, sehingga namanya menjadi buah bibir masyarakat terutama dunia persilatan.


Bahkan setelah berpuluh puluh tahun setelah dia tidak ada pun sejarah tentangnya pun masih sering diceritakan, sampai sekarang.


----- * -----


Ki Dwijo, dengan diangkat oleh Puguh, mencoba melihat keadaan dalam peti hitam itu.


Setelah melihat dan mempelajari selama beberapa saat, Ki Dwijo berkata pada Puguh, "Ngger Puguh, kamu pegang pedang itu dengan tangan kiri. Kemudian coba kamu ambil kitab itu dengan tangan kananmu."


Kemudian Puguh mendekat ke peti hitam itu hingga sangat dekat. Dengan perlahan, dijulurkannya tangan kanannya untuk memegang kitab itu dan mencoba menariknya. Namun terasa berat, sehingga Puguh mencoba mengeluarkan sedikit tenaga dalamnya.


Saat telapak tangan kanannya yang mengandung tenaga dalam menyentuh kitab itu, seketika, seluruh tubuh Puguh bergetar dan sesaat kemudian tanpa bisa Puguh tahan, tenaga dalamnya mengalir keluar melalui telapak tangan kanannya dan mengarah ke kitab itu seolah tenaga dalam Puguh diserap oleh Kitab itu.


Ketika Puguh merasakan lemas karena hampir seluruh tenaga dalamnya tersedot keluar, tiba tiba kitab itu bisa ditarik dan diambil Puguh dengan mudahnya.


Saat kitab itu sudah berada dalam dekapan Puguh di depan dada, tiba tiba terdengar suara letupan berkali kali berasal dari tulang kerangka yang tergeletak di dalam peti hitam itu.

__ADS_1


Terlihat, seluruh tulang tulang kerangka itu hancur dengan sendirinya dan menjadi abu. Dibawah alas peti hitam yang tadinya tempat tulang tengkorak, terdapat deretan tulisan yang berbunyi, 'Sebarkan abuku di sepanjang aliran air jurang ini'.


Puguh bisa membaca tulisan itu, karena sejak masih bersama Ki Poyo di Kademangan Pandan Ireng, Puguh sudah diajarkan membaca dan menulis oleh Ki Poyo.


Segera Puguh mengambil pakaian gantinya dan digunakan untuk membungkus abu tulang kerangka pemilik pedang dan kitab yang Puguh bawa.


Setelah itu, Puguh kembali membawa gurunya keluar dari cerukan dan mendudukkan gurunya di tempat biasa gurunya duduk.


"Ngger Puguh, kesini dan dengarkan guru," kata Ki Dwijo memanggil Puguh.


Setelah Puguh mendekat dan duduk berlutut di depan gurunya, Ki Dwijo berkata,


"Ngger Puguh, pedang dan kitab itu sudah kamu ambil dan berhasil kamu bawa. Itu artinya, pedang dan kitab itu berjodoh denganmu. Selanjutnya, setelah guru mengajarkan ilmu yang guru miliki, kamu akan berlatih ilmu pedang yang tertulis di dalam kitab itu."


"Ketahuilah ngger, itu bukan ilmu pedang sembarangan. Itu ilmu pedang tingkat tinggi yang dulunya dimiliki seorang pendekar yang kalau tidak salah berjuluk Pendekar Pengendara Elang. Menurut cerita yang pernah guru dengar, Pendekar Pengendara Elang malang melintang dan merajai dunia persilatan tanpa terkalahkan hingga puluhan tahun, sampai kemudian dia menghilang dari dunia persilatan."


Akhirnya, tanpa terasa sudah selama dua tahun Puguh berlatih di bawah bimbingan gurunya. Dan selama dua tahun itu, ilmu pukulan tangan kosong 'Tapak Sewu' yang membuat Ki Dwijo termasyur dengan julukan Pendekar Tangan Seribu, dan ilmu tongkat milik Ki Dwijo berhasil Puguh kuasai dengan hampir sempurna. Bahkan tenaga dalam Puguh pun dalam usianya yang hampir sebelas tahun, sudah hampir menyamai tingkat tenaga dalam Ki Dwijo.


Namun ada satu hal yang membuat Puguh bersedih. Semenjak mereka berdua keluar dari cerukan dan mengambil pedang serta kitab peninggalan Pendekar Pengendara Elang, kondisi kesehatan Ki Dwijo gurunya semakin menurun.


Hal itu karena, saat terkena pukulan Ki Bayuseta dan kemudian terlempar ke jurang, totokan totokan yang Ki Dwijo lakukan di sekitar pinggangnya untuk menahan agar racun yang mengenai kedua kakinya tidak menjalar ke tubuh bagian atas, terbuka lagi sehingga membuat racun yang mengenai tubuh bagian bawahnya, naik menjalar ke tubuh bagian atas.


Untungnya setelah itu, Puguh dan Ki Dwijo tinggal di dalam goa dan hawa dingin yang keluar dari bilah pedang yang berada di dalam cerukan membuat racun itu berhenti menjalar dan unsur unsur berbahaya yang terkandung dalam racun itu tidak bekerja.

__ADS_1


Namun, setelah pedang itu diambil Puguh, dan pendaran sinar hijau masuk ke telapak tangan Puguh, secara perlahan, Ki Dwijo mulai merasakan tubuhnya semakin melemah. Namun Ki Dwijo tidak mengatakan apapun pada Puguh tentang keadaan tubuhnya.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_◇\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2