
Sementara itu, bersamaan waktunya dengan hiruk pikuknya pertempuran, di ruangan khusus, Ki Kama Catra hampir sempurna dalam mempelajari dan melatih ilmu baru yang diciptakannya.
Jika Ki Kama Catra berhasil menguasai ilmu baru ciptaannya, tubuhnya bisa muncul dalam jumlah lebih dari satu. Bisa dua, tiga, sepuluh atau berapapun yang diinginkannya. Masing masing tubuh mempunyai kemampuan yang sama dengan tubuh aslinya.
Namun dalam proses menyempurnakan ilmunya ini, Ki Kama Catra harus melewati tahap dimana tubuhnya dalam kondisi paling lemah dan kosong tidak ada kekuatannya sama sekali. Saat tahap itu, tubuhnya tidak bisa dikendalikan, bahkan oleh pikirannya sekalipun.
Saat tinggal sedikit lagi menuju sempurna, tiba tiba terdengar suara ledakan yang sangat keras. Namun ledakan itu hanya Ki Kama Catra yang bisa mendengarnya. Semua yang berada di luar istana Setra Jenggala pun, hanya Puguh yang bisa merasakan getaran ledakannya, namun tidak dengan suaranya.
Walau telinganya mendengar suara ledakan, namun Ki Kama Catra tidak bisa berbuat apa apa, karena tubuhnya sedang dalam tahap paling lemah.
Sesaat setelah suara ledakan itu, suasana menjadi temaram. Tiba tiba, Ki Kama Catra merasa tubuhnya seperti diangkat ke atas dan melayang, kemudian tubuhnya seperti dilemparkan dengan sangat cepatnya ke arah hutan yang lebih dalam.
Ki Kama Catra tidak akan pernah menduga, kalau ledakan itu berasal dari udara di bagian hutan yang lebih dalam lagi. Ledakan yang diakibatkan pecahnya selubung gaib yang mengurung bagian hutan yang paling dalam, setelah selubung gaib itu terkena getaran teriakan yang membawa percampuran perasaan kemarahan, kesedihan dan kekecewaan Pangeran Panji.
Dengan pecahnya selubung gaib itu, makluk keturunan iblis yang terkurung menjadi terbebas lagi. Makluk keturunan iblis yang berabad abad yang lalu, yang dengan kekuqtannya hampir membuat hancur kehidupan manusia.
----- * -----
Sementara itu, sebelumnya, Pangeran Panji yang melesat ke arah hutan yang lebih dalam sambil membawa Putri Mahatariti, merasakan seperti ada suara yang memanggil manggilnya untuk pergi ke arah hutan yang lebih dalam.
Sebenarnya hati dan pikirannya tidak ingin pergi ke arah hutan, namun entah kenapa, suara panggilan itu terasa lebih kuat dibandingkan dengan hati dan pikirannya dalam memerintah tubuhnya. Dan juga, suara panggilan yang terdengar di telinganya, membuat pikiran dan hati Pangeran Panji yang sedang dipenuhi perasan sedih, marah dan kecewa, merasa tenteram dan damai. Rasanya seperti pulang ke rumah.
Selain itu, tanpa Pangeran Panji sadari, suasana hutan yang dia lewati, berubah menjadi bertambah redup dan temaram. Tidak ada sinar matahari. Hanya kabut yang berwarna abu abu, yang menyelimuti seluruh hutan itu.
Setelah beberapa waktu Pangeran Panji berlari, tibalah dia di bagian hutan yang tanah dan pohon pohonnya mengeluarkan api, menyala merah kekuningan seperti terbakar.
Sejenak kesadaran Pangeran Panji mengatakan, sepertinya bagian hutan yang seperti ini, belum ada sebelumnya. Namun kesadaran itu kembali melayang lagi, saat terdengar kembali suara yang menenteramkan hatinya.
"Masuklah anakku ! Kalau kau ingin ketenteraman yang kau rasakan itu, kekal selamanya, masuklah ke dalam hutan api itu !"
Setelah terdengar suara itu, sekilas Pangeran Panji melihat sesosok tubuh yang mirip ibunya, yang berdiri di tengah tengah nyala api di hutan yang seperti terbakar itu.
Maka, Pangeran Panji pun segera melangkah menuju sosok tubuh mirip ibunya itu, masuk ke dalam kobaran api.
__ADS_1
"Ibu ... " ucap Pangeran Panji pelan sambil melangkah masuk ke dalam kobaran api tanpa mempunyai perasaan takut sedikitpun.
"Anakku ! Apakah kau menginginkan perasaan tenteram yang abadi itu ? Dan apakah kau ingin membalas dendam pada kekalahanmu ? Pada semua yang membuatmu sedih dan kecewa ?" tanya suara itu.
Kemudian tiba tiba, dalam pandangannya, secara cepat diperlihatkan semua peristiwa yang telah terjadi dan telah dia alami.
Melihat hal itu, muncul kembali semua perasaan yang berkecamuk di dalam hati dan pikirannya. Yang membuatnya dengan mantap menjawab pertanyaan suara itu.
"Aku ... menginginkannya, .... ibu !" jawab Pangeran Panji pelan.
"Haaahhh ha ha ha ha ..... ! Haaah ha ha ha ha ..... !" terdengar suara tertawa yang sangat panjang.
Bersamaan dengan suara tawa itu, tiba tiba saja tubuh Pangeran Panji terjilat api dan kemudian membakar tubuhnya.
Sesaat Pangeran Panji merasakan panas yang sangat luar biasa di seluruh tubuhnya yang terbakar. Tanpa Pangeran Panji sadari, seluruh tubuhnya perlahan lahan berubah. Kemudian, rasa panas itu perlahan mereda dan akhirnya tidak terasa sama sekali. Yang Pangeran Panji rasakan sekarang ini adalah luapan kekuatan yang luar biasa besar. Dirasakannya, tenaga dalamnya meningkat dengan drastis.
"Haaahhh ha ha ha ha ... ! Berlatihlah anakku ! Dapatkan kekuatan yang kau inginkan !" kata suara itu.
----- * -----
Sementara itu, Puguh yang dicegah oleh Rengganis saat hendak mengejar Pangeran Panji, segera menarik Rengganis agar berdiri di belakangnya, saat Puguh merasakan, ada getaran kekuatan yang sangat besar yang keluar dari arah hutan yang lebih dalam.
Namun getaran kekuatan itu segera menghilang, saat muncul getaran kekuatan yang lain lagi dari arah belakang Puguh.
Puguh pun seketika menoleh. Sekilas dirinya melihat bayangan siluet transparan yang kemudian lenyap lagi.
Tanpa berpikir panjang, Puguh melesat ke arah bayangan yang dia lihat tadi. Namun, Puguh tidak lagi bisa merasakan getaran kekuatan yang hanya sesaat tadi muncul.
"Kaukah itu ? Ada hal penting apakah yang membuatmu sampai ke sini ?" tanya Puguh lirih.
Selama beberapa saat Puguh berdiri terdiam. Pandang matanya melihat ke arah jauh. Terbayang kembali peristiwa saat dirinya baru saja keluar dari lubang pohon raksasa, disambut oleh seraut wajah kera raksasa.
Wujud tubuh kera raksasa itulah yang muncul dalam bayangan siluet yang tadi dilihatnya.
__ADS_1
Tiba tiba terdengar suara perempuan di belakangnya.
"Kakang, ada apakah ?" tanya Rengganis yang baru saja tiba menyusul Puguh.
Puguh sedikit terkejut dengan kemunculan Rengganis dan segera memutar tubuhnya.
"Adik Rengganis. Ayo kita menemui guru, untuk berpamitan. Ada suatu yang harus kakang lakukan," kata Puguh sambil tersenyum.
Kemudian, mereka berdua segera melesat kembali ke istana Kerajaan Banjaran Pura untuk menemui Ki Dwijo.
Kepada Ki Dwijo gurunya, Puguh mengatakan, akan mengembara lagi, dan akan berangkat saat ini juga. Sehingga meminta tolong pada gurunya untuk dipamitkan pada Prabu Pandu Kawiswara dan Putri Cinde Puspita.
Setelah berpamitan pada gurunya, Puguh segera keluar dari istana, diikuti oleh Rengganis hingga sampai perbatasan kotaraja kerajaan.
"Adik Rengganis, mungkin jalan pengembaraan yang akan kakang tempuh, penuh bahaya dan banyak hal hal.yang tidak terduga sebelumnya. Adik Rengganis bisa kembali ke istana untuk menemani guru. Kakang berjanji akan segera menemui adik Rengganis begitu kakang selesai dengan pengembaraan kakang. Namun, sampai berapa lama kakang mengembara, kakang tidak bisa memastikannya !" kata Puguh pada Rengganis.
Mendengar perkataan Puguh, Rengganis menggeleng gelengkan kepalanya.
"Tidak kakang. Rengganis juga tidak akan pulang ke istana. Rengganis akan mengikuti kemanapun kakang mengembara," jawab Rengganis.
"Adik Rengganis tidak takut ?" tanya Puguh.
Rengganis hanya menggelengkan kepalanya dengan sedikit tersenyum, sambil terus menatap wajah Puguh.
Melihat jawaban Rengganis yang hanya tersenyum, Puguh pun perlahan mendekat. Kemudian direngkuhnya tubuh Rengganis dan dipeluknya dengan erat.
"Terimakasih, adik Rengganis sudah bersedia menemani kemanapun kakang pergi. Mari kita pergi. Kemungkinan besok kita akan bertemu seseorang atau mungkin sesuatu, yang bisa saja membuat adik Rengganis terkejut," kata Puguh pelan di dekat telinga Rengganis.
Untuk beberapa lama, mereka saling berpelukan. Namun setelah itu, mereka melepaskan pelukan mereka dan mulai melakukan perjalanan.
Entah kenapa, Puguh merasa seperti ada sesuatu yang sedang menantinya. Sesuatu yang ada kaitannya dengan masa lalunya.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1