Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Kedatangan Para Sahabat


__ADS_3

Beberapa hari setelah Puguh pergi untuk menyusup ke istana Pangeran Panji, istana Pangeran Pandu kedatangan beberapa tokoh dunia persilatan sahabat sahabat dari Ki Dwijo.


Ki Pande yang datang terlebih dahulu, berhasil mengajak dua sahabat lamanya, Ki Klewang Klewung dan Nyi Jinten. Mereka adalah tokoh tokoh persilatan seangkatan Ki Dwijo dan sudah mundur dari keramaian dunia persilatan.


Selang sehari kemudian, Ki Kebo Ranu tiba di istana Pangeran Pandu bersama sama dengan Ki Tanggul Alas.


Walaupun sudah berusia lanjut, namun bertemu lagi dengan kawan kawan lama, membuat mereka kembali bersemangat.


Dengan kehadiran mereka di istana Pangeran Pandu, Ki Dwijo tidak khawatir lagi jika ada penyerang gelap atau ada penyusup masuk ke istana Pangeran Pandu, karena mereka bisa bergantian berjaga.


----- * -----


Pada suatu malam, dua sosok tubuh berkelebat cepat melompati tembok benteng istana Pangeran Pandu.


Mereka sepertinya sengaja dan tidak peduli kedatangan mereka akan ketahuan, karena mereka tidak memilih tempat yang gelap dan jauh dari penjagaan prajurit.


Melihat ada yang melompat masuk, para prajurit penjaga yang berjumlah lima orang segera mengejar dan menghadang mereka berdua. Tetapi hanya dalam satu gebrakan, kelima prajurit itu sudah jatuh tersungkur tidak sadarkan diri, saat salah seorang dari sosok yang datang itu berkelebat cepat menyongsong mereka dengan serangkaian pukulan dan tendangan.


"Iblis Bermata Satu, kelihatannya apa yang kau perkirakan, benar. Anak muda itu tidak ada di istana ini !" terdengar suara seorang perempuan.


"Nyi Manis, cepat kita lakukan tugas ini agar kita bisa secepatnya pergi dari sini !" jawab Iblis Bermata Satu.


Kemudian, dua sosok tubuh yang ternyata Iblis Bermata Satu dan Nyi Manis, segera melesat masuk ke dalam Istana Pangeran Pandu.


Ki Klewang Klewung dan Nyi Jinten yang saat itu masih berjaga di pendopo depan, begitu merasakan ada getaran energi yang besar mendekat dengan cepat, dan melihat kelebatan dua sosok tubuh, segera menghadang di halaman depan.


Begitu mereka berhadapan, Ki Klewang Klewung dan Nyi Jinten terkejut melihat siapa yang mendekat. Nyi Manis dan Iblis Bermata Satu pun juga terkejut melihat siapa yang menghadang.


"Nyi Manis dan Iblis Bermata Satu, ternyata kalian berdua yang datang. Apa kalian belum kapok, hingga harus digebug lagi ?" kata Nyi Jinten.


Mendengar ucapan Nyi Jinten, untuk sesaat Nyi Manis dan Iblis Bermata Satu sangat waspada dan hanya menatap Nyi Jinten dan Ki Klewang Klewung. Namun, orang yang mereka khawatirkan sepertinya tidak ada di istana Pangeran Pandu ini, seperti yang Iblis Bermata Satu katakan tadi.


"Hiiihhh ... ! Nyi Jinten, apakah di pasar sudah tidak ada keramaian,sehingga kau harus mencari keramaian di sini ?" kata Nyi Manis sambil tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Nyi Manis, sudah tua bangka mulut masih juga berbau racun !" jawab Nyi Jinten.


"Kalau kau mengatakan tua sekali lagi, aku sumpal mulutmu dengan rumput beracun !" sahut Nyi Manis yang sangat tidak suka dikatakan tua.


"Kau memang sudah tua ! Pipimu sudah peyot !" kata Nyi Jinten lagi.


"Jaga mulutmu, penunggu pasar !" bentak Nyi Manis yang tubuhnya melenting ke atas lalu melesat ke arah Nyi Jinten sambil melepaskan tendangan kaki kanan ke arah kepala Nyi Jinten.


Melihat serangan pertama yang ganas dan berbahaya itu, Nyi Jinten mengegoskan tubuhnya sedikit ke kiri.


Namun Nyi Manis tidak berhenti di situ. Begitu tendangannya gagal, masih dalam posisi melayang, Nyi Manis memutar tubuhnya sambil melayangkan tendangan tumit kiri ke arah kepala Nyi Jinten lagi.


Nyi Jinten kembali menarik tubuhnya ke arah kiri dan kembali bersiap menunggu dengan kuda kudanya.


Ternyata Nyi Jinten tidak lama menunggunya. Begitu kedua kakinya mendarat di tanah, Nyi Manis sudah melesat lagi menyerang Nyi Jinten dengan serangkaian pukulan.


Melihat Nyi Manis menyerang, Nyi Jinten juga melesat menghadangnya. Hingga dalam waktu singkat, terjadi benturan pukulan berkali kali.


Pertarungan Nyi Manis melawan Nyi Jinten yang berjalan seimbang itu, tanpa terasa berjalan hingga puluhan jurus.


Sementara dalam saat yang bersamaan di tempat lain, Ki Klewang Klewung menatap tajam Iblis Bermata Satu yang terlihat tidak terlalu peduli dengan keberadaan Ki Klewang Klewung.


Walaupun masing masing pernah mendengar namanya dan pernah bertemu, namun Ki Klewang Klewung dan Iblis Bermata Satu belum pernah berhadapan.


Melihat orang di depannya yang tidak menganggap keberadaannya, Ki Klewang Klewung merasa diremehkan.


"Kau terlalu menganggap enteng orang lain !" teriak Ki Klewang Klewung sambil tubuhnya yang tinggi besar melesat ke arah Iblis Bermata Satu.


Walaupun tubuhnya tinggi besar, Ki Klewang Klewung tetap bisa bergerak cepat. Pukulan tangannya berkesiuran mengurung Iblis Bermata Satu.


Setelah beberapa kali bisa menghindari pukulan Ki Klewang Klewung, pada suatu saat Iblis Bermata Satu harus menangkis satu pukulan yang datang.


Duuuggghhh !

__ADS_1


Dalam benturan pukulan itu, Ki Klewang Klewung terdorong mundur dua langkah dengan dada yang terasa sedikit sesak. Sementara itu Iblis Bermata Satu, tubuhnya tersurut ke belakang hingga kedua kakinya membuat garis di tanah. Saat tubuhnya terhenti, Iblis Bermata Satu merasakan seluruh tubuhnya bergetar.


"Tehnik penggabungan tenaga yang sangat unik !" kata Iblis Bermata Satu.


Kemudian secara bersamaan, Ki Klewang Klewung dan Iblis Bermata Satu melesat kembali dan saling mendekat. Beberapa saat kemudian, terdengar suara benturan pukulan berkali kali.


----- \* -----


Setelah beberapa pekan Ki Dwijo dan para sahabatnya berada di istana Pangeran Pandu, tiba tiba mereka dikagetkan dengan kedatangan Ki Bhanujiwo dan Den Roro.


Kegembiraan Ki Dwijo pun semakin bertambah ketika bertemu dengan Ki Bhanujiwo.


"Bagaimana Ki Bhanujiwo bisa tahu, kalau kita berkumpul di sini ?" tanya Ki Dwijo, setelah mereka semua duduk di teras belakang.


"Ceritanya panjang Ki Dwijo. Aku dan muridku ke sini diantar oleh Puguh !" jawab Ki Bhanujiwo sambil kemudian baru menyadari kalau Puguh tidak ada di sekitar mereka.


"Puguh ? Dimana anak itu sekarang ? Sudah cukup lama anak itu tidak kesini, sejak menyusup ke istana Pangeran Panji !" tanya Ki Dwijo.


"Bukannya tadi dia ada di belakangku ?" Ki Bhanujiwo keheranan.


"Wahhh wah wah .... Ki Bhanujiwo, apakah kau sudah mulai pikun ? Kau diantar kesini oleh prajurit penjaga, hanya berdua dengan muridmu !" kata Ki Dwijo sambil bercanda.


Setelah beberapa saat mereka saling bercanda, kemudian Ki Dwijo meminta pada Ki Bhanujiwo untuk menceritakan semua yang telah dia alami.


Sementara itu di ruangan lain, Den Roro berbincang dengan Rengganis.


"Gadis kampung ... ehh namamu Rengganis ya, kenapa kamu tidak ikut Puguh ?" tanya Den Roro.


"Aku tidak ikut pun, kakang Puguh selalu menemuiku di sini !" jawab Rengganis, "Tapi kasihan juga ya, sekarang Tuan Putri sudah menjadi gembel, gara gara tidak bisa bertemu dengan kakang Puguh !"


Kedua gadis cantik itu beberapa kali terus saling ejek. Namun, akhirnya mereka berdua terdiam. Entah apa yang berkecamuk di benak mereka.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_

__ADS_1


__ADS_2