Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Keanggunan dan Kecantikan Senopati Roro Nastiti


__ADS_3

Pada pagi menjelang siang itu, Den Roro sengaja menemui Puguh yang sedang berada di gerbang istana bersama dengan Rengganis, menemani para prajurit jaga.


Puguh dan Rengganis yang tidak menyangka, Den Roro akan menemuinya, terkejut melihat penampilan Den Roro yang sangat berbeda.


Rengganis yang biasanya langsung keluar judesnya setiap bertemu dengan Den Roro, kali ini hanya terdiam saja sambil terus menatap Den Roro yang berjalan semakin dekat.


Walau memakai pakaian prajurit, Den Roro tetap terlihat anggun dan cantik. Kulitnya yang putih terawat dan rambutnya yang panjang dan hitam legam tidak mengurangi kegagahannya dan kharismanya sebagai seorang Senopati.


Begitu tiba di dekat Puguh dan Rengganis, Den Roro segera memanggil nama Puguh.


"Puguh," kata Den Roro dengan suara yang tercekat, seperti berhenti di tenggorokan.


"Ehh Den Ro ...Enngh ... Roro Nastiti,... Selamat atas pengangkatannya menjadi Senopati kerajaan," kata Puguh, saat melihat Den Roro tidak bersuara dan seperti bingung hendak mengatakan apa.


"Terima kasih Puguh. Tetapi maaf, aku hanya ingin bertanya, kenapa engkau menolak tawaran Prabu Pandu Kawiswara untuk menjadi seorang Senopati ?" tanya Den Roro dengan memaksakan senyumnya yang canggung.


"Aku sangat tidak pantas untuk menjadi pejabat, apalagi seorang Senopati, Roro," jawab Puguh.


"Puguh, asal kau tahu, kau lebih dari pantas untuk menjadi seorang senopati. Bahkan paling pantas dari siapapun. Ilmumu paling tinggi diantara kita semua yang berada di kerajaan ini," sahut Den Roro.


Mendengar perkataan Den Roro, Puguh terdiam dan hanya menundukkan kepala.


"Bagaimana kalau aku yang memintamu, untuk menerima tawaran Prabu Pandu Kawiswara itu ?" tanya Den Roro lagi.


"Terima kasih atas perhatianmu kepadaku, Roro. Namun sementara ini, aku hanya ingin membantu dan mengabdi pada kerajaan ini semampu yang aku bisa, Roro," jawab Puguh sambil sekilas menatap wajah Den Roro.


Sementara itu, melihat Puguh memandang wajah Den Roro, Rengganis mendekati Puguh. Bibirnya sudah bergerak gerak berbicara, namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.


Melihat Rengganis yang mulai mendekat, Den Roro pun berpamitan untuk kembali ke tempatnya.


"Maaf kalau kedatanganku, telah mengganggu kalian berdua. Aku pergi dulu. Puguh, kuharap, kamu mau memikirkan lagi, tawaran Prabu Pandu Kawiswara itu, sehingga kita bisa terus bekerja sama !" kata Den Roro yang kemudian membalikkan badan dan melangkah pergi.


"Aku berharap, kita bisa bersama sama, ... Puguh," sambung Den Roro dengan sangat pelan dan hanya bisa dia dengar sendiri.

__ADS_1


Kemudian, dengan sedikit menghentakkan kaki kanannya, tubuh Den Roro menghilang, melesat dengan sangat pesatnya menuju ke arah istana. Selama berlari, beberapa kali punggung tangan kirinya mengusap kedua sudut matanya.


Sementara itu, Puguh dengan tanpa sengaja, terus menatap ke arah Den Roro pergi, hingga tidak merasa kalau Rengganis sudah berada di sampingnya.


"Roro memang cantik, apalagi dengan pakaian senopati seperti yang dipakainya itu !" kata Rengganis.


Puguh terkejut dengan kalimat yang diucapkan Rengganis. Untuk menutupi kekagetannya, Puguh memegang tangan Rengganis.


"Kalau adik Rengganis menjadi senopati dan memakai pakaian seperti itu, pasti juga akan terlihat sangat cantik !" kata Puguh.


Namun, tanpa Puguh sangka sangka, Rengganis mencubit lengannya dengan keras hingga Puguh merasakan sakit.


"Aaddduuuhhh !" teriak Puguh dengan ditahan.


Kemudian, Rengganis melesat cepat ke arah istana, meninggalkan Puguh sendirian.


Jika ada yang menyaksikan, akan melihat betapa senyuman tergurat di bibir Rengganis.


----- * -----


Sementara itu, karena hari sudah hampir memasuki malam hari, para prajurit mulai sibuk menyalakan obor di seluruh wilayah yang berbatasan dengan hutan Setra Jenggala.


Pada malam itu, atas perintah Prabu Pandu Kawiswara, penjagaan di seluruh wilayah istana diperketat. Para pendekar seperti Ki Dwijo, Ki Bhanujiwo, Ki Pande dan yang lainnya, diam diam juga ikut berjaga.


Namun, hingga pagi tiba, tidak terjadi hal hal yang mereka semua khawatirkan.


Pada pagi itu, Senopati Cakrayuda mengumpulkan semua pendekar yang mendaftar untuk menjadi prajurit.


Walaupun hanya mengetes secara sekilas, beberapa pendekar memiliki kemampuan yang bisa dijadikan pemimpin prajurit. Bahkan ada tiga nama yang kemampuannya tinggi dan paling tinggi diantara para prajurit baru itu, sehingga diajukan ke Prabu Pandu Kawiswara untuk dimagangkan menjadi senopati.


Tiga nama itu adalah Widura, Arimbi dan Darutama. Nama nama yang sudah tidak asing bagi telinga Puguh.


Selain mencoba kemampuan para calon prajurit dan calon pemimpin prajurit, Senopati Cakrayuda juga menjelaskan, jika Kerajaan Banjaran Pura sedang menghadapi ancaman akan datangnya serangan manusia yang memiliki kemampuan iblis dan dibantu oleh makhluk iblis.

__ADS_1


Sehingga apabila ada pendekar yang tidak siap atau tidak bersedia, dipersilahkan mengundurkan diri.


Namun ternyata, semua pendekar itu bersedia menjadi prajurit dan siap untuk mati demi membela Kerajaan Banjaran Pura.


Setelah para pendekar itu diangkat sumpah untuk menjadi prajurit dan pemimpin prajurit, mereka semua diijinkan untuk beristirahat, karena hari sudah memasuki.siang hari.


Pada saat mereka beristirahat itulah, Puguh mendekati dan menyapa mereka yang Puguh kenal baik.


"Kakang Widura, kakang Darutama dan Mbakyu Arimbi," kata Puguh setelah dekat dengan mereka.


Sesaat ketiga orang itu, menatap wajah orang yang memanggil nama mereka. Namun, segera saja mereka, ganti memanggil nama orang yang berdiri di depan mereka itu.


"Adi Puguh ? Benarkah kau ini Puguh ?" kata Widura setengah berteriak.


"Benar kakang Widura," jawab Puguh.


Mendengar jawaban itu, seketika Widura melompat ke arah Puguh dan memeluknya dengan erat.


"Adi Puguh ! Aku senang kau masih selamat, dan masih hidup !" ucap Widura sebelum kemudian melepaskan pelukannya pada Puguh.


Darutama juga mendekat dan menepuk nepuk bahu Puguh. Sedangkan Arimbi hanya menatap Puguh dengan senyum lebarnya.


"Kau juga mendaftar untuk menjadi prajurit, adik kecil ?" tanya Arimbi bercanda. Kemudian Arimbi dan Darutama tertawa sambil menatap Puguh. Namun, Widura tidak ikut tertawa, karena dia tahu persis akan kekuatan dan kemampuan Puguh. Apalagi sekarang, mereka sudah sama sama dewasa, kemungkinan kemampuan Puguh menjadi lebih tinggi lagi.


Kemudian mereka berbincang bincang cukup lama. Dalam hati, Puguh merasa senang, orang orang yang dikenalnya, telah memiliki kemampuan dan ilmu silat yang tinggi, bahkan mereka semua dicalonkan untuk menjadi Senopati.


"Puguh ! Tawaranku padamu yang dulu itu, sampai sekarang masih berlaku. Kalau kau benar masuk menjadi prajurit, kau ikut denganku menjadi bawahanku saja, jangan ikut yang lainnya !" kata Darutama sambil melirik ke arah Arimbi.


Sementara Arimbi yang tidak paham dengan yang dimaksud oleh Darutama hanya balas melirik dan terdiam.


"Iya kakang Darutama," jawab Puguh.


Kemudian, karena hari telah mulai sore, Puguh berpamitan untuk kembali dulu, setelah sebelumnya, mengucapkan selamat pada mereka yang telah dicalonkan menjadi Senopati. Sedangkan Widura, Darutama dan Arimbi, kembali bergabung dengan para prajurit yang lainnya, dan ternyata mereka bertiga masuk kelompok yang berbeda beda.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2