Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Tewasnya Senopati Arya Kastara


__ADS_3

Saat tubuhnya terdorong ke belakang, Puguh segera melenting dan kembali mendarat di depan Putri Cinde Puspita dengan sikap siaga. Sementara itu, Senopati Arya Kastara walau sedikit terhuyung huyung namun tetap bisa mempertahankan kuda kudanya.


Terlihat lengan kirinya, terluka dan mengeluarkan darah. Dengan lidahnya, Senopati Arya Kastara membersihkan luka itu. Ajaibnya, luka itu langsung berhenti mengeluarkan darah, saat terjilat oleh lidahnya.


"Hahhh ... ! Boleh juga kau prajurit ! Ayo kita lanjutkan lagi, karena kalian berdua harus mati !" ucap Senopati Arya Kastara sambil tersenyum sinis.


Kemudian, dengan memasang kuda kudanya yang khas prajurit, Senopati Arya Kastara melesat lagi ke arah Puguh. Serangan pedangnya mencecar semua bagian tubuh Puguh dengan sangat cepat, dengan jurus yang berbeda lagi.


Melihat lawannya mulai menyerang lagi, sambil meningkatkan aliran tenaga dalamnya, Puguh memapaki setiap serangan yang datang. Pedangnya berkelebat cepat menangkis kemanapun pedang Senopati Arya Kastara mengancam tubuhnya. Tidak hanya tenaga dalamnya yang bertambah, kecepatan Puguh pun juga ikut bertambah. Membuat Puguh tetap bisa mengimbangi setiap serangan Senopati Arya Kastara. Bahkan Puguh pun selalu membalas menyerang setiap ada kesempatan menyerang.


Sementara itu, senopati Arya Kastara merasakan, setiap serangannya seperti membentur tembok yang sangat kokoh. Pedangnya berkali kali harus berbenturan dengan pedang Puguh. Setiap benturan pedang itu, membuat tangan Senopati Arya Kastara bergetar hebat.


Trang ! Trang ! Trang ! Trang !


Sreeettt ! Sreeettt !


Kembali Senopati Arya Kastara terkena sabetan pedang. Terlihat dua luka menganga di bahu kiri dan dada kirinya. Pakaiannya terkoyak. Namun dengan cepat, Senopati Arya Kastara menjilat telapak tangan kanannya dan kemudian mengusap kedua luka itu dengan telapak tangan kanannya yang basah oleh ludahnya sendiri.


Kedua luka itu pun segera berhenti mengeluarkan darah dan hanya terlihat garis lukanya.


"Apakah dia menguasai ilmu 'Ilu Kalpa' ?" kata Puguh dalam hati.


Kemudian setelah lukanya kering, Senopati Arya Kastara kembali bersiap menyerang. Terjadi lonjakan tenaga dalam di seluruh tubuhnya.


Kemudian, tubuhnya melesat dan kembali menyerang dengan jurus yang lain lagi dan dengan tenaga dalam yang semakin meningkat.


Melihat lawannya kembali menyerang, Puguh juga bergerak maju menghadang sambil menambah aliran tenaga dalamnya.


Seketika, bilah pedangnya mengeluarkan pendaran sinar hijau terang, begitu terkena aliran tenaga dalam tingkat tinggi.


Dalam posisi tubuh yang melesat sangat cepat, Senopati Arya Kastara sejenak terkesiap melihat pedang Puguh yang mengeluarkan sinar hijau terang.


Namun, sudah tidak ada waktu lagi untuk berpikir ulang. Sesaat kemudian, kembali terjadi benturan pedang berkali kali.


Klang ! Klang ! Klang ! Klang !

__ADS_1


Setiap terjadi benturan pedang, Senopati Arya Kastara merasakan tangannya bergetar hebat.


"Anak muda, jangan jangan kau adalah penyusup yang menyamar menjadi prajurit !" teriak Senopati Arya Kastara untuk menutupi kepanikannya.


Mendengar teriakan Senopati Arya Kastara, Puguh hanya diam saja.


"Putri Cinde ! Waspadalah ! Dia adalah musuh yang menyamar menjadi prajurit kerajaan !" teriak Senopati Arya Kastara.


Sesaat, Putri Cinde Puspita terhentak. Hati dan pikirannya bingung, antara percaya dan tidak.


Kebingungan Putri Cinde Puspita itu, dimanfaatkan oleh Senopati Arya Kastara. Tangan kirinya dengan cepat mengambil belati yang masih terselip di pinggangnya dan kemudian melemparkannya ke arah Putri Cinde Puspita.


Belati meluncur dengan sangat cepat ke arah leher Putri Cinde Puspita. Puguh yang tidak mengira kenekatan dan kekejian lawannya, segera melemparkan pedangnya ke arah belati secara berputar.


Ketika belati hanya tinggal berjarak satu lengan dari leher Putri Cinde Puspita, belati itu tiba tiba terpental terkena putaran pedang milik Puguh yang meluncur di belakangnya.


Traaannnggg !


Sedangkan pedang Puguh, sedikit berbelok dan terus meluncur melewati kepala Putri Cinde Puspita mengenai ujung antingnya, dan kemudian menancap di sandaran kursi hingga tidak terlihat lagi bilah pedangnya.


Sementara itu, sesaat setelah melemparkan belati ke arah Putri Cinde Puspita, Senopati Arya Kastara segera melesat menyerang Puguh yang sudah tidak memegang senjata, karena pedangnya sudah dilemparkan untuk menghalau luncuran belati.


Kemudian, dengan menambah lagi aliran tenaga dalamnya, dan dengan ilmu meringankan tubuh yang dia dapatkan saat terjebak dalam lubang pohon kayu hitam raksasa, tubuh Puguh melesat sangat cepat dengan sedikit memutar tubuh, menghindari datangnya tusukan pedang.


Masih dalam posisi tubuh memutar, tangan kanan Puguh melakukan gerakan menghantam dan tepat mengenai dada Senopati Arya Kastara.


Dbaaammm !


Terkena pukulan di dadanya, tubuh Senopati Arya Kastara terlempar ke belakang dan terhempas di tanah.


Buuummm !


Namun, Senopati Arya Kastara tidak sempat bangun dan berdiri, saat Puguh sudah menyusulinya kembali dengan pukulan yang mengenai lehernya dan mematahkannya.


Daaammm !

__ADS_1


Seketika Senopati Arya Kastara tewas mengenaskan dengan leher patah.


Setelah lawannya tewas, Puguh segera melesat ke arah Putri Cinde Puspita, yang ternyata telah pingsan karena keterkejutannya.


Puguh pun segera menyangga tubuh Putri Cinde Puspita dan kemudian menyalurkan tenaga dalamnya ke punggung Putri Cinde Puspita untuk menyadarkannya.


Saat Puguh selesai menyadarkan Putri Cinde Puspita, di depannya telah berdiri Prabu Pandu Kawiswara yang diikuti oleh Ki Dwijo, Ki Klewang Klewung, Nyi Jinten dan Rengganis. Mereka berdatangan setelah mendengar laporan dari prajurit penjaga gerbang kaputren yang mengetahui, di dalam kaputren terjadi pertarungan.


Kemudian, Puguh pun menceritakan semua yang telah terjadi di keputren hingga sampai tewasnya Senopati Arya Kastara pada Prabu Pandu Kawiswara yang terkejut melihat jasad Senopati Arya Kastara.


Akhirnya mereka kembali ke istana dan membawa Putri Cinde Puspita ke ruang pengobatan.


----- ◇ -----


Pada sore menjelang malam, pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura tiba kembali di halaman depan istana kerajaan.


Terlihat, Senopati Wiraga masih bisa berjalan gagah walaupun tubuhnya sudah penuh dengan luka luka.


Senopati Cakrayuda yang terluka parah langsung dibawa ke ruang pengobatan dan segera dirawat oleh tabib istana.


Sedangkan Senopati Karuna akhirnya gugur setelah memuntahkan darah segar beberapa kali dan mengalami luka dalam.


Selain itu, hampir sekitar seribu prajurit gugur dalam pertempuran hari ini, karena diluar dugaan mereka, banyak prajurit di pasukan Pangeran Panji yang ternyata adalah para pendekar dari dunia persilatan.


Pada malam harinya, Senopati Wiraga segera menghadap Prabu Pandu Kawiswara untuk melaporkan hasil pertempuran dan membuat rencana untuk besok pagi.


Pada pertemuan yang juga dihadiri oleh Ki Dwijo dan semua pendekar sahabatnya serta Rengganis dan Puguh. Hadir juga Ki Bhanuniwo dan Den Roro yang selama ini merawat Prabu Lingga Kawiswara.


Untuk keselamatan kerajaan, Ki Dwijo dan para pendekar yang lainnya akan ikut membantu pasukan perang kerajaan Banjaran Pura. Namun mereka hanya akan turun untuk menghadapi jika ada pendekar tingkat tinggi yang membantu dan berada di pihak pasukan Pangeran Panji.


Sementara itu di markas pasukan Pangeran Panji, Senopati Lembu Caraka pulang dalam keadaan luka luka yang cukup parah. Iblis Timur dan Nyi Manis yang tadi ikut membantu pertempuran juga mendapatkan luka saat bertarung melawan Ki Tanggul Alas dan Ki Pande.


Dalam pertempuran hari ini, Pangeran Panji kehilangan sekitar tiga ratus prajurit yang gugur. Dan bisa dikatakan, pada pertempuran hari ini, pasukan Pangeran Panji mendapatkan kemenangan kalau dilihat dari jumlah pasukan yang gugur.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_

__ADS_1


__ADS_2