Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Ruangan Besar Di Perut Gunung


__ADS_3

Jauh di dalam daratan, jauh dari tempat pertarungan Puguh dan Rengganis melawan Ki Naga Besar. Saat tiba di perbatasan wilayah Kerajaan Kisma Pura, Kartika Dhatu yang sudah bisa menyusul Pangeran Indra Prana, mengajak sejenak berhenti. Tatapan matanya tajam menghadap ke depan, seolah sedang berhitung, arah mana yang akan diambil.


"Pangeran Indra Prana, sudah berapa lama orang tua yang menjadi gurumu itu, berada di dalam Istana Kerajaan Kisma Pura !" tanya Kartika Dhatu.


"Sejak sebelum pasukan Pangeran Langit Barat masuk ke wilayah Istana Kerajaan Kisma Pura, " jawab Pangeran Indra Prana.


"Berarti sudah cukup lama gurumu berada di Istana Kerajaan Indra Pura ! Sepertinya, kakek tua itu tidak akan kembali ke Istana, karena benda yang dicarinya tidak dia temukan di dalam Istana ! Dari beberapa tempat yang dia tuju, kemungkinan besar kakek tua itu memilih menuju ke Gunung Pedang !" ucap Kartika Dhatu lagi.


"Pangeran Indra Prana ! Kita menuju ke Gunung Pedang dahulu, sebelum Pangeran aku antar masuk ke Istana Kerajaan Kisma Pura !" lanjut Kartika Dhatu.


"Kemanapun, asal ada yang bisa aku lakukan untuk negeri ini, akan aku lakukan, Nona Pendekar !" jawab Pangeran Indra Prana.


Kemudian, mereka berdua kembali melesat menuju ke Gunung Pedang.


Setelah setengah hari perjalanan dengan berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh, Kartika Dhatu dan Pangeran Indra Prana tiba di kaki Gunung Pedang.


Ketika sedang menelusuri kaki Gunung Pedang, Kartika Dhatu merasakan adanya getaran kekuatan yang sangat besar dan terasa aneh. Kartika Dhatu pun menghentikan langkahnya diikuti oleh Pangeran Indra Prana.


"Pangeran Indra Prana, sebenarnya apa yang sedang dicari oleh kakek tua yang menjadi gurumu itu ?" tanya Kartika Dhatu pelan.


"Guru tidak pernah bercerita banyak tentang apapun, Nona Pendekar. Hanya beberapa kali menanyakan, dimana tempat dahulu kala terjadi Pertarungan Besar yang dimenangkan oleh Pendekar Pengendara Elang dan istrinya. Dan juga menanyakan, dimana tempat yang ada hubungannya dengan senjata pedang," jawab Pangeran Indra Prana.


"Pangeran menjawab apa ?" tanya Kartika Dhatu lagi.


"Dua pertanyaan itu, aku tidak bisa menjawabnya, karena memang aku tidak tahu dan belum pernah mendengar. Aku hanya mendengar, ada sebuah tempat yang bernama Gunung Pedang !" jawab Pangeran Indra Prana.


"Pangeran Indra Prana ! Aku merasakan adanya getaran kekuatan yang sangat besar dari arah atas. Kemungkinan dari daerah puncak gunung. Kita belum tahu, apa yang kita hadapi dan apa yang akan terjadi dengan kita. Sebaiknya kita berpencar. Aku akan naik ke Gunung Pedang. Pangeran Indra Prana ke arah Istana Kerajaan Kisma Pura. Sekaligus buktikan, kalau Pangeran memang benar dan tidak mengkhianati negeri sendiri !" kata Kartika Dhatu.


"Baiklah Nona Pendekar ! Terimakasih atas kepercayaannya !" jawab Pangeran Indra Prana.


"Pangeran Indra Prana, segera kau temui Ki Bhanujiwo yang sedang merawat guru kakang Puguh, Ki Dwijo dan Resi Wismaya. Serta temui juga nenekku, Iswara Dhatu. Mereka semua berada di Istana Kerajaan Banjaran Pura. Ceritakan semuanya pada beliau berdua.

__ADS_1


"Akan secepatnya aku lakukan, Nona Pendekar !" jawab Pangeran Indra Prana.


Kemudian, dengan cepat Pangeran Indra Prana melesat pergi menuju ke arah Istana Kerajaan Kisma Pura.


Sementara itu, Kartika Dhatu masih berdiri terdiam dengan tatapan mata ke arah puncak Gunung Pedang.


"Siapa yang sudah berani memasuki wilayah Gunung Pedang !" gumam Kartika Dhatu.


Setelah menarik nafas panjang sekali, Kartika Dhatu segera melesat setengah terbang dengan sangat cepat menuju ke arah puncak gunung.


Ketika sampai di deretan bangunan Padepokan Wukir Candrasa, Kartika Dhatu menemukan seluruh bangunan yang sepi tanpa ada ssorangpun.


"Kemana para anggota Keluarga Trah Asmara Dhatu yang berada di sini ?" tanya Kartika Dhatu dalam hati.


Saat masuk ke ruang tengah, Kartika Dhatu menemukan beberapa coretan sandi di dinding yang secara singkat mengabarkan, kalau mereka swmua dipaksa pergi dari Gunung Pedang oleh seorang laki laki tua misterius yang belum mereka kenal sebelumnya.


Belum sempat menyimpulkan semua keadaan itu, Kartika Dhatu dikejutkan dengan munculnya getaran kekuatan yang sangat besar, berasal dari bangunan paling belakang dan berdiri terpisah dari bangunan bangunan yang lain.


Segera saja Kartika Dhatu melesat ke arah bangunan yang paling belakang itu.


Di tengah reruntuhan bangunan itu, Kartika Dhatu melihat adanya lorong yang cukup besar mengarah ke bawah.


"Rupanya disini ada ruangan bawah tanah, yang pintu masuknya disamarkan dengan bangunan itu !" kata Kartika Dhatu dalam hati.


Pelan pelan, Kartika Dhatu melangkah masuk ke dalam lorong bawah tanah itu. Lorong itu lurus dan agak menurun, namun cukup panjang sehingga tidak bisa langsung melihat keadaan ujung lorong.


Beberapa saat kemudian, Kartika Dhatu sampai di ujung lorong. Kartika Dhatu terperangah ketika melihat ujung lorong yang ternyata merupakan sebuah ruangan di dalam perut gunung yang sangat besar dan luas.


Walaupun di dalam tanah, tetapi keadaannya tidak gelap gulita. Ruangan besar itu cukup temaram mendapatkan sinar yang keluar dari lubang lubang yang ada di langit langit, sehingga cukup bisa melihat keadaan di dalam ruangan itu.


Tepat di depan mulut lorong tempat Kartika Dhatu berdiri, terdapat jurang gelap yang lebarnya mencapai setinggi pohon kelapa yang sudah sangat tua. Jurang gelap itu mengelilingi ruangan yang sangat luas itu, sehingga tidak ada jalan masuk ke tengah ruangan, kecuali meloncati jurang gelap itu.

__ADS_1


Tengah tengah ruangan di perut gunung itu berbentuk kerucut seperti gunung kecil yang puncak kerucutnya mencapai setengah ketinggian langit langit ruangan besar itu. Gunung kecil berbentuk kerucut itu sekilas terlihat mengkilat karena memantulkan cahaya yang berasal dari lubang lubang di langit langit.


Setelah Kartika Dhatu memperhatikan dengan lebih lama, ternyata bentuk gunung kecil di tengah tengah ruangan besar itu tersusun dari senjata pedang yang jumlahnya sangat banyak.


"Pantas saja, gunung ini dinamakan Gunung Pedang ! Ternyata di dalam perutnya terdapat tumpukan senjata pedang yang menggunung !" kata Kartika Dhatu dalam hati.


"Kelihatannya tumpukan senjata pedang yang berjumlah ribuan bahkan mungkin ratusan ribu itu, tidak sekedar menumpuk. Tetapi sepertinya disusun untuk menutupi lubang kawah di dalam perut gunung ini !" lanjut Kartika Dhatu dalam hati.


Dan yang membuat Kartika Dhatu heran dan takjub adalah, tumpukan senjata pedang itu mengeluarkan getaran kekuatan yang sangat besar dan sangat aneh.


"Senjata pedang yang menumpuk itu, pastinya bukan senjata pedang biasa, tetapi senjata pedang pusaka yang memiliki getaran kekuatan yang sangat besar !" kata Kartika Dhatu di dalam hati lagi.


Selain itu, jurang gelap yang mengelilingi tumpukan senjata pedang yang menggunung itu juga mengeluarkan getaran kekuatan yang sangat menekan.


Kartika Dhatu baru saja bersiap hendak meloncati jurang gelap di depannya, saat dirasakannya ada seseorang dengan kekuatan tenaga dalam yang sangat besar, bergerak di sisi lain tumpukan senjata pedang itu.


"Tenyata ada seseorang yang berada di sisi lain tumpukan senjata pedang !" gumam Kartika Dhatu.


Kemudian, dengan sekali meloncat, Kartika Dhatu melewati jurang gelap yang sangat lebar itu dan kemudian mendarat di tanah yang cukup luas di samping tumpukan senjata pedang yang menggunung.


Tappp !


Seketika, Kartika Dhatu merasakan adanya getaran kekuatan yang seakan menarik tubuh Kartika Dhatu, sehingga kedua kakinya yang menempel di tanah seperti ditarik maju ke arah tumpukan senjata pedang.


Dengan menambah aliran tenaga dalamnya, Kartika Dhatu bisa menguasai keadaan tubuhnya dan bisa berdiri dengan kokoh.


Tiba tiba Kartika Dhatu dikejutkan oleh munculnya dua sosok tubuh.


Dari samping kanan tumpukan senjata pedang itu, berjalan mendekat seorang laki laki tua yang ternyata adalah Ki Naga Hitam, guru dari Pangeran Indra Prana.


Dan yang membuat Kartika Dhatu lebih terkejut adalah, tangan kiri Ki Naga Hitam membawa sebagai sandera, tubuh Iswara Dhatu yang terlihat tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Hhaaahhh ! Bocah perempuan ! Kau datang tepat saat aku membutuhkan bantuan !" kata Ki Naga Hitam sambil menatap tajam Kartika Dhatu.


---------- ◇ ----------


__ADS_2