
Sementara itu di luar gedung Perpustakaan. Sesampainya di istana Pangeran Panji, Iblis Barat, Iblis Timur dan Iblis Selatan serta Iblis Utara menemui Iblis Bermata Satu di halaman belakang Istana Pangeran Panji.
"Iblis Bermata Satu, kau tadi menyebutkan satu nama. Siapa anak muda yang melarikan diri tadi ?" tanya Iblis Barat.
"Siapa anak muda itu, aku juga tidak tahu, karena aku juga baru pertama kali bertemu dengannya, bahkan kami sempat bertarung. Tetapi dia pernah menyebutkan, namanya Iblis Bermata Elang !" jawab Iblis Bermata Satu.
"Ilmu silat dan tenaga dalam anak itu sangat tinggi. Kita harus segera memberitahukan ini pada Pangeran Panji !" kata Iblis Selatan.
"Jangan dulu ! Kita cari sampai ketemu lalu kita rebut pedangnya. Setelah itu baru kita memberitahu Pangeran Panji !" jawab Iblis Barat.
----- * -----
Pada malam harinya, Pangeran Panji mengumpulkan tokoh tokoh dunia persilatan yang sudah dia undang untuk hadir dalam pertemuan.
Terlihat di dalam pertemuan itu, ada Iblis Barat, Iblis Timur, Iblis Selatan, Iblis Utara dan Iblis Bermata Satu. Selain itu hadir pula petinggi Perkumpulan Jaladara Langking yaitu Dharma Shankara dan Muka Pucat serta anaknya, Putri Mahatariti.
Di sebelah kanan Pangeran Panji, terlihat duduk seorang kakek seusia Ki Dwijo yang bernama Ki Kama Catra.
Semua pendekar yang hadir di situ terlihat begitu segan pada Ki Kama Catra. Bahkan Pangeran Panji pun sangat menghormati Ki Kama Catra.
"Paman Dharma Shankara, bagaimana dengan pergerakan Perkumpulan Jaladara Langking yang kau pimpin ?" tanya Pangeran Panji.
"Maaf Pangeran. Di beberapa Kadipaten yang sudah kami kuasai dan kami kondisikan, ada yang mampu mengusir anggota Perkumpulan Jaladara Langking, yang kami perintahkan untuk menduduki Kadipaten itu. Bahkan ada beberapa anggota Perkumpulan kami yang tewas terbunuh saat melawan orang orang yang menolak kehadiran Perkumpulan Jaladara Langking !" jawab Dharma Shankara.
"Bukankah anggota Perkumpulan Jaladara Langking yang kau kirim memiliki ilmu silat dan tenaga dalam yang lebih tinggi dari semua senopati Kadipaten ?" tanya Pangeran Panji lagi.
"Benar sekali Pangeran. Tetapi, ada beberapa pendekar yang berilmu tinggi yang membantu mereka," jawab Dharma Shankara.
"Paman Dharma Shankara, Aku tidak ingin rencana yang sudah kita susun, gagal. Dan tentunya Paman Dharma Shankara juga tidak mau menjadi penyebab kegagalan ini !" kata Pangeran Panji dengan suara pelan namun berat, "Paman Dharma Shankara tentunya tahu, hukuman apa yang akan Paman terima, jika Paman dan kelompok Paman, Perkumpulan Jaladara Langking menjadi penyebab kegagalan !"
"I ... iya Pangeran," jawab Dharma Shankara.
"Maka dari itu, tugas Paman dan kelompok Paman adalah membasmi para pendekar yang berani membantu mereka !" kata Pangeran Panji memberi perintah pada Dharma Shankara.
__ADS_1
"Baik Pangeran," jawab Dharma Shankara.
Setelah masalah masalah yang terjadi di beberapa Kadipaten diserahkan pada Perkumpulan Jaladara Langking untuk mengatasinya, kemudian Pangeran Panji menanyakan pada Lima Iblis tentang tugas yang diserahkan pada mereka.
Pangeran Panji memberi tugas pada Lima Iblis untuk menyelidiki keadaan Istana Pangeran Pandu. Bahkan kalau bisa, membunuh Pangeran Pandu secara diam diam.
"Maaf Pangeran. Kami telah menyuruh Nyi Manis untuk mencoba menyusup. Namun saat itu Nyi Manis ketahuan dan sempat bertarung dengan seorang prajurit yang bisa mengimbangi tingkat ilmu silat Nyi Manis," jawab Iblis Barat.
"Prajurit berkemampuan setingkat dengan kalian ?" tanya Pangeran Panji, "Itu tidak mungkin ! Adi Pandu tidak mempunyai prajurit yang berilmu silat tinggi !"
"Kenapa bukan kalian sendiri yang masuk ke istana Pangeran Pandu ?" tanya Pangeran Panji pada Lima Iblis.
"Kami baru saja akan pergi ke istana Pangeran Pandu. Namun, bersamaan dengan itu, ada seseorang yang mencoba menyusup ke istana ini. Kami hendak menangkapnya, tetapi ternyata orang itu ilmu silat dan tenaga dalamnya sangat tinggi. Kami sudah bisa mendesaknya, saat kemudian orang itu melarikan diri dan kemudian bersembunyi di perpustakaan kerajaan," kata Iblis Barat.
Mendengar semua yang disampaikan oleh Iblis Barat, akhirnya Pangeran Panji memerintahkan pada Lima Iblis untuk mencari dan membunuh orang yang berilmu silat sangat tinggi itu. Juga menyelidiki siapa saja pendekar yang membantu Pangeran Pandu serta membunuh Pangeran Pandu dengan tidak meninggalkan jejak.
Kemudian semuanya meninggalkan ruang pertemuan setelah pertemuan selesai, dan hanya Pangeran Panji serta Ki Kama Catra yang masih berada di ruangan dalam itu.
"Bagaimana saran guru, untuk keadaan ini ?" tanya Pangeran panji pada Ki Kama Catra yang ternyata guru dari Pangeran Panji.
"Apakah masih menunggu ramuan itu, guru ?" tanya Pangeran Panji.
"Perintahkan pada orang itu untuk cepat membuat ramuan itu, Pangeran !" kata Ki Kama Catra.
----- * -----
Entah sudah berapa lama, Puguh berada di dalam gudang perpustakaan itu. Sekarang Puguh sedang dalam posisi bersemedi untuk latihan tahap terakhir ilmu yang dia pelajari dari kitab yang ke dua.
Dalam posisi duduk bersila, Tanpa Puguh sadari, tubuhnya melayang layang di tengah tengah ruangan perpustakaan itu.
Kitab ke dua yang Puguh pelajari, pada halaman paling belakang tertulis, ilmu yang sedang dia pelajari sudah sempurna saat dalam semedinya, tubuh Puguh melayang namun sudah tidak bergerak gerak lagi.
Setelah beberapa waktu, dalam semedinya, Puguh merasakan tubuhnya berhenti bergerak dan rasanya seperti duduk bersila di udara.
__ADS_1
Kemudian, saat Puguh berniat menghentikan semedinya, tubuhnya perlahan turun dan duduk di tempat semula dia bersila.
Saat Puguh membuka matanya, tepat di dinding di depannya, terdapat sebentuk pintu berwarna hitam yang seingat Puguh, selama dia berada di dalam gudang perpustakaan kerajaan, tidak pernah melihatnya.
Namun, dalam hati dan pikiran Puguh, ada dorongan untuk segera berdiri dan memasuki pintu itu.
Perlahan Puguh melangkah memasuki pintu yang ternyata sangat gelap pekat.
Begitu Puguh melewati pintu itu, tiba tiba Puguh merasa seperti berada di ruangan lain yang cukup besar dan luas.
Yang pertama Puguh rasakan sesaat setelah berada di ruangan itu adalah bau wangi aneka macam bunga dan bau khas rempah rempah.
Puguh melihat, di ruangan yang dia masuki ada tiga buah meja, satu meja besar dan dua meja kecil. Di atas meja besar terdapat berbagai macam rempah rempah, potongan kayu dan akar, berbagai daun tanaman dan bunga. Sedangkan di dua meja kecil, terdapat berbagai macam alat untuk membuat racikan ramuan obat.
Di dinding sekeliling ruangan, terdapat rak rak yang penuh dengan kitab berbagai ukuran.
Di sudut kanan ruangan itu, terlihat dua sosok tubuh yang sibuk mengerjakan sesuatu dalam posisi membelakangi Puguh. Seorang kakek tua berpakaian serba hitam dan seorang perempuan berpakaian putih.
Mereka mengerjakan sesuatu terkadang sambil berbicara, walaupun seringnya mereka saling diam.
"Nduk, Roro, air rebusan daun ini kamu tuang ke dalam kuali besar. Kamu campur sekalian bahan bahan yang sudah tertata di sampingnya !" kata kakek itu.
"Baik guru," jawab perempuan yang bernama Roro itu sambil langsung mengerjakan perintah gurunya atau Ki Bhanujiwo.
Den Roro segera mengangkat kuali kecil dan melangkah ke meja kecil yang terdapat kuali besar. Kemudian, Den Roro segera menuangkan air panas itu ke dalam kuali besar dan dengan cepat tangannya mengambil dan memasukkan berbagai bahan yang telah tersedia di dekatnya.
Seketika mengepul asap dari kuali besar itu. Sesaat kemudian, tercium bau khas ramuan obat.
Den Roro mengangkat sedikit kepalanya saat mukanya terkena sedikit kepulan asap.
Dari sela sela kepulan asap itu, Den Roro melihat seseorang berdiri di depannya menghadap ke arahnya. Sosok orang yang sangat dia kenal namun cukup lama tidak bertemu.
"Siapa kau ? Kau ... Puguh ?" teriak Den Roro dengan perasaan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_