Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Menyerahkan Pedang Milik Puguh


__ADS_3

Setelah dirawat selama beberapa hari dengan sangat telaten oleh Ki Bajraseta kakeknya, akhirnya Rengganis pulih seperti sediakala.


Karena merasa sudah sangat sehat, Rengganis mendesak Ki Bajraseta untuk segera mengantarnya ke Kadipaten Langitan.


Sebenarnya Ki Bajraseta masih ragu untuk pergi ke Kadipaten Langitan. Bukan karena takut untuk bertemu dengan Ki Dwijo, namun lebih karena tidak ingin menimbulkan masalah, karena Ki Bajraseta merasa, belum saatnya untuk bertemu dengan tokoh tokoh yang dimusuhi oleh Perkumpulan Jaladara Langking.


Namun karena Rengganis yang selalu mendesaknya, akhirnya Ki Bajraseta tidak bisa berdalih lagi.


"Ngger Rengganis cucuku, pagi ini kita akan menuju Kadipaten Langitan. Tetapi kakek hanya akan mengantar sampai perbatasan dan mungkin membantu kamu agar bisa menemukan guru temanmu Puguh itu," kata Ki Bajraseta.


"Kenapa kakek tidak ikut bersama Rengganis ?" tanya Rengganis.


"Belum saatnya, ngger. Kakek masih ada urusan yang harus kakek selesaikan," jawab Ki Bajraseta.


Rengganis hanya mengangguk mendengar jawaban Ki Bajraseta kakeknya.


"Ada satu hal yang ingin kakek tanyakan padamu, pedang siapakah yang kau bawa dalam buntalan perbekalanmu, ngger Rengganis ?" ganti Ki Bajraseta yang bertanya.


"Itulah kek. Itu pedang Puguh yang dititipkan pada Rengganis untuk diserahkan pada gurunya," jawab Rengganis polos.


"Owwhhh ya sudah. Hati hati kamu dalam membawanya. Pastikan pedang itu sampai di tangan orang yang dituju," pesan Ki Bajraseta pada Rengganis.


"Sekarang kamu berkemaslah, kakek menunggu di depan !" sambung Ki Bajraseta sambil beranjak ke depan, menunggu di teras.


"Aura dan getaran energi pedang itu, begitu mirip dengan pedang milik seorang pendekar jaman dulu, yang namanya sekarang menjadi legenda," kata Ki Bajraseta dalam hati.


"Kalau memang Puguh yang menjadi pewarisnya, seberapa besar kekuatan anak muda itu sekarang," gumam Ki Bajraseta.


"Kenal dan menjadi teman pemuda itu, semoga itu keberuntunganmu nduk," kata Ki Bajraseta pelan sambil kemudian cepat cepat lengan kirinya diusapkan pada kedua matanya yang hampir saja mengeluarkan air mata.


Sementara itu, Rengganis mulai menyiapkan semua perbekalan yang biasanya dia bawa dalam melakukan perjalanan.


Setelah semuanya siap, akhirnya Rengganis bersama Ki Bajraseta meninggalkan hutan itu untuk yang kedua kalinya, menuju ke Kadipaten Langitan.


Rengganis sengaja menggunakan ilmu meringankan tubuhnya agar bisa segera sampai di wilayah Kadipaten Langitan.


Ki Bajraseta yang mengikuti dari belakang, terkejut dengan perkembangan kemampuan Rengganis cucunya. Ki Bajraseta sampai harus mengerahkan seluruh kemampuannya agar dapat menyusul Rengganis.

__ADS_1


Selain kagum dengan perkembangan pesat yang dialami oleh Rengganis, Ki Bajraseta juga bersyukur, Rengganis cucunya mendapatkan teman yang bisa membimbingnya hingga bisa meningkat kemampuannya.


Hingga tengah hari kemudian, Ki Bajraseta dan Rengganis sampai di perbatasan Kadipaten Langitan.


Sesampai di pinggir hutan perbatasan Kadipaten Langitan, Ki Bajraseta mengajak berhenti. Kemudian Ki Bajraseta memberikan ciri ciri Ki Dwijo gurunya Puguh.


Namun, agar Rengganis bisa segera menemukannya, Ki Bajraseta akan membantu mencarikannya, namun meminta Rengganis agar tidak kaget kalau tiba tiba Ki Bajraseta menghilang tidak berada di dekat Rengganis.


Kemudian mereka berdua berjalan melewati perbatasan untuk memasuki wilayah Kadipaten Langitan.


Beberapa saat mereka berjalan, tidak ada kejadian apa apa. Mereka terus saja menyusuri jalan menuju ke gedung Kadipaten Langitan.


Ki Bajraseta yang sejak melewati perbatasan sengaja mengeluarkan energi yang cukup besar, terlihat berjalan dengan penuh kewaspadaan.


Ketika mereka tiba di jalan yang kiri kanannya dipenuhi dengan pohon pohon besar, Ki Bajraseta tiba tiba berhenti.


"Nduk Rengganis, kakek hanya bisa mengantar sampai di sini. Kemungkinan yang akan datang kemari adalah gurunya temanmu Puguh !" kata Ki Bajraseta.


Kemudian, tanpa menunggu jawaban dari Rengganis cucunya, Ki Bajraseta segera melesat pergi ke arah dari mana tadi mereka datang.


Tak selang berapa lama, di hadapan Rengganis telah berdiri seorang kakek tua, kira kira seusia kakeknya.


Begitu tiba, pandangan matanya tajam menatap Rengganis.


"Kamu di sini bersama siapa nduk ?" tanya kakek tua itu serius.


"Saya sendirian saja kek," jawab Rengganis yang tidak tahu maksud pertanyaan kakek tua itu.


Tiba tiba kakek tua itu melesat dengan sangat cepatnya kearah Rengganis, kemudian melakukan serangan beruntun.


Rengganis yang tidak menduga akan diserang, segera meloncat mundur sambil melakukan tangkisan.


Plak plak !


Plak plak plak !


Setelah melakukan beberapa serangan yang bisa dihindari dan ditangkis gadis muda di depannya, kakek tua itu berhenti dan tidak melanjutkan serangan.

__ADS_1


"Gadis muda ini, kekuatannya sudah sangat tinggi. Cara pemahaman tehniknya mirip Puguh," kata kakek tua itu dalam hati.


"Tapi, getaran tenaga dalam yang besar yang kurasakan sejak tadi, bukan tenaga dalam gadis ini ! Getaran kekuatan yang kurasakan bukan milik gadis ini," gumam kakek tua itu mengulang ulang seperti ada yang dipikirkan.


Kemudian, kakek tua itu melesat ke arah perginya Ki Bajraseta setelah sebelumnya berpesan pada Rengganis.


"Kau tunggu sebentar di sini, gadis muda, ada yang hendak aku tanyakan," kata kakek tua itu yang kemudian melesat pergi dengan sangat cepatnya.


Mendengar hal itu, Rengganis hanya bisa terdiam dan hanya menunggu.


Tidak berapa lama, kakek tua yang tadi menggempurnya datang lagi.


"Gadis muda, apakah kau tadi ke sini sendirian ?" tanya kakek tua itu sambil pandangannya sesekali melirik ke arah buntalan perbekalan Rengganis.


Rengganis mengangguk dan baru hendak menjawab, namun kakek tua itu telah melontarkan pertanyaan lagi.


"Senjata apakah yang berada dalam buntalanmu itu, gadis muda ?" tanya kakek itu cepat.


"Eee ... sebelumnya, ijinkan aku bertanya pada kakek. Apakah kakek guru dari kakang Puguh ?" tanya Rengganis.


Mendengar nama Puguh disebut, kakek tua itu langsung melesat mendekat pada Rengganis.


"Ada hubungan apa kau dengan Puguh cucuku, gadis muda ?" sahut kakek tua itu yang ternyata Ki Dwijo guru sekaligusnya Puguh.


"Aku teman mengembara kakang Puguh, kakek. Kakang Puguh titip suatu pesan padaku, untuk disampaikan kakek dan gurunya," jawab Rengganis.


Mendengar jawaban Gadis muda di depannya, Ki Dwijo menarik nafas panjang.


"Nduk, akulah kakek sekaligus guru dari Puguh cucuku. Panggil aku Ki Dwijo. Berita apa yang kau bawa dari Puguh cucuku, nduk ?" tanya Ki Dwijo dengan nada bicara yang sudah berubah. Sorot matanya pun sudah berubah kembali lembut.


"Ooohhh maaf kalau Rengganis sudah bersikap kurang hormat pada Ki Dwijo," jawab Rengganis sambil mengambil buntalan perbekalan dari punggungnya.


"Rengganis dititipi oleh kakang Puguh, untuk menyerahkan pedang ini pada kakeknya," lanjut Rengganis sambil menyorongkan sebatang pedang yang tadinya dia simpan di dalam buntalan perbekalannya.


Ki Dwijo segera menerima pedang yang diberikan Rengganis padanya. Sejenak Ki Dwijo melihat dengan teliti pedang itu. Kemudian Ki Dwijo berkata pelan, "Benar , ini memang pedang milik Puguh."


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_

__ADS_1


__ADS_2