Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Perang Lagi di Perbatasan


__ADS_3

Ketika petang menjelang, suasana dikejutkan oleh datangnya serombongan prajurit telik sandi.


Para prajurit telik sandi itu terus saja memacu kudanya menuju ke istana yang saat itu sedang banyak orang berkumpul di sana.


Segera saja pimpinan pasukan telik sandi itu melaporkan pada Senopati Cakrayuda yang menerima mereka.


Pada Senopati Cakrayuda, pimpinan prajurit itu mengabarkan, jika di hutan Setra Jenggala muncul banyak sekali pasukan perang yang entah berasal darimana. Namun pasukan perang itu, dilihat dari arah berjalannya, kemungkinan hendak menuju istana Kerajaan Banjaran Pura.


Setelah mendengarkan semua laporan pimpinan prajurit telik sandi, Senopati Cakrayuda segera menghadap raja Prabu Pandu Kawiswara untuk melaporkan semua nya dan meminta ijin untuk menyiapkan pasukannya.


Setelah Senopati Cakrayuda mengundurkan diri dan mempersiapkan pasukan, Prabu Pandu Kawiswara segera memanggil Senopati Wiraga dan mengundang para pendekar untuk membahas masalah ini.


Seperti yang sudah direncanakan, sebelumnya, Senopati Cakrayuda memimpin persiapan para prajurit, Senopati Wiraga menyiapkan pasukan cadangan dan pasukan yang menjaga dan mengawal raja Prabu Pandu Kawiswara.


Sementara para pendekar saling membagi tugas. Ada yang mendampingi pasukan perang yang dipimpin Senopati Cakrayuda, sebagian lagi bekerja sama untuk membuat selubung gaib.


Setelah semuanya siap, Senopati Cakrayuda segera memberangkatkan pasukannya menuju ke wilayah yang berbatasan dengan hutan Setra Jenggala.


Sesampainya di perbatasan, pasukan yang dipimpin oleh Senopati Cakrayuda menunggu dengan penuh kewaspadaan. Wilayah perbatasan itu, segera menjadi lebih terang benderang lagi, setelah para prajurit menyalakan obor lebih banyak lagi.


Kemudian, tidak berapa lama, dari arah perbatasan hutan Setra Jenggala, muncul pasukan yang belum dikenal sebelumnya. Sebagian pasukan itu terdiri dari para penjahat yang bersedia bergabung. Dan sebagian lagi terdiri dari makhluk makhluk yang berasal dari alam iblis.


Para prajurit Kerajaan Banjaran Pura segera bersiap dalam formasinya masing masing. Kemudian, saat pasukan yang keluar dari hutan SetraJenggala itu sudah mendekat, dengan aba aba dari Senopati Cakrayuda, pasukan panah Kerajaan Banjaran Pura segera menghujaninya dengan panah api.


Plasss ! Plasss ! Plasss ! Plasss !


Ribuan panah api meluncur ke arah barisan pasukan iblis yang berlari menyerang. Panah panah api itu mengenai tubuh para prajurit iblis yang berada di barisan depan dan menimbulkan suara suara ledakan.


Bummm ! Bummm ! Bummm !


Ledakan yang disebabkan oleh panah api itu cukup membuat kekacauan pada barisan pasukan iblis.


Melihat hal itu, pemimpin pemimpin pasukan iblis segera memberi aba aba agar pasukan menyerang dalam banyak kelompok kelompok kecil yang terpisah pisah. Hal itu membuat panah api pasukan Kerajaan Banjaran Pura menjadi tidak terlalu banyak menimbulkan kerusakan.


Akhirnya, saat barisan terdepan pasukan iblis itu sudah mendekat, Senopati Cakrayuda segera memberi aba aba untuk maju bagi pasukan yang bersenjata pedang, golok dan tombak.

__ADS_1


Tak terhindarkan lagi, pertempuran jarak dekat segera terjadi. Suara teriakan teriakan berbaur menjadi satu dengan suara suara benturan senjata.


Arrhhh ! Hiaattt !


Trang ! Trang ! Trang !


Kekuatan pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura meningkat pesat setelah banyak pendekar masuk menjadi prajurit. Sehingga pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura mampu menahan pergerakan pasukan iblis.


Setelah pertempuran berjalan beberapa waktu, keadaan mulai berubah, saat pemimpin pemimpin pasukan iblis yang mempunyai kesaktian tinggi mulai turun ke dalam pertempuran.


Pasukan Kerajaan Banjaran Pura mulai mendapatkan kesulitan, karena para pemimpin pasukan iblis itu tidak mudah dibunuh dan dimusnahkan.


Namun para pendekar yang menyertai pasukan Kerajaan Banjaran Pura, yang saat itu tidak ikut menjadi tim pendekar yang sedang berusaha membuat selubung gaib, segera turun membantu menghadapi pemimpin pemimpin prajurit iblis. Sehingga pasukan iblis itu berhasil ditahan lagi pergerakannya.


Sampai dengan dini hari, pasukan Kerajaan mampu memukul mundur pasukan iblis.


Hingga tiba tiba suasana pertempuran menjadi kacau. Prajurit Kerajaan Banjaran Pura terlihat kocar kacir dan banyak yang berjatuhan menjadi korban, ketika dari pihak pasukan iblis, muncul dua manusia,laki laki dan perempuan berkekuatan iblis.


Walaupun bertubuh manusia, namun keduanya mempunyai kekuatan dan kecepatan jauh di atas para pemimpin pasukan iblis.


Melihat keadaan itu, para pendekar yang memiliki kemampuan dan tenaga dalam sangat tinggi, segera menghadang dua manusia berkekuatan iblis itu.


Senopati Roro Nastiti dan Rengganis yang sejak pagi tadi belum ikut bertempur jarak pendek, hanya membantu para prajurit dengan serangan serangan jarak jauhnya. Karena lebih mengutamakan untuk.memberikan pertolongan pada prajurit yang terluka.


Untuk mencegah timbulnya korban yang lebih banyak lagi, Senopati Cakrayuda segera mengajak Senopati Roro Nastiti dan Rengganis untuk menghadapi manusia berkekuatan iblis yang perempuan.


Saat berhadapan itu, Rengganis terkejut, melihat perempuan berkekuatan iblis itu adalah Putri Mahatariti.


"Perempuan iblis ! Akulah lawanmu !" teriak Rengganis sambil melenting dan kemudian mendarat di depan Putri Mahatariti. Di belakangnya menyusul mendekat, Senopati Cakrayuda dan Senopati Roro Nastiti.


Putri Mahatariti, dengan matanya yang hitam legam seluruhnya, menatap tajam Rengganis. Kemudian, dengan senyumannya yang sinis dan tanpa berkata kata, Putri Mahatariti segera melesat menerjang Rengganis dan melayangkan pukulan bertubi tubi.


Melihat serangan yang brutal itu, Rengganis menangkis sedemikian rupa dan mencoba untuk mengadu tenaga.


Plakkk ! Plakkk ! Plakkk !

__ADS_1


Desss ! Desss !


Di luar perkiraan Rengganis, tenaga dalam dan kecepatan Putri Mahatariti meningkat dan menjadi jauh lebih tinggi dari terakhir mereka bentrok.


Pada benturan pukulan beberapa kali itu, tubuh Rengganis terdorong hingga beberapa langkah dengan kedua lengan yang bergetar.


"Perempuan ini kekuatannya meningkat jauh. Pantas banyak manusia yang bersedia menukar jiwanya demi kekuatan iblis ini !" gumam Rengganis sambil mengusap kedua sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.


Senopati Cakrayuda dan Senopati Roro Nastiti tidak bisa berdiri berlama lama. Karena Putri Mahatariti sudah kembali melesat dengan sangat cepat ke arah mereka berdua. Rangkaian pukulan dan tendangan menghujani mereka berdua hingga membuat tubuh mereka berdua terdorong mundur.


Rengganis yang kali ini dibantu Senopati Cakrayuda dan Senopati Roro Nastiti kembali melesat dan melancarkan pukulan dan tendangan ke arah Putri Mahatariti.


Akhirnya, pertarungan Putri Mahatariti melawan Rengganis, Senopati Cakrayuda dan Senopati Roro Nastiti itu berlangsung dalam gerakan yang sangat cepat bahkan gerakan mereka bertiga sudah tidak bisa diikuti dengan mata biasa.


Sementara itu, Ki Kebo Ranu yang menghadang manusia berkekuatan iblis yang laki laki, langsung terpental ke belakang, saat mencoba menangkis pukulan laki laki berkekuatan iblis itu.


Desss !


Untung bagi Ki Kebo Ranu, masih bisa mendarat dengan kedua kakinya, walaupun tangan kanannya yang dipakai untuk menangkis pukulan, terasa sangat bergetar.


"Pangeran Panji ? Apakah dia mendapatkan kekuatan iblis ?" gumam Ki Kebo Ranu yang terkejut dengan kekuatan Pangeran Panji.


"Hati hati paman ! Kekuatannya belum bisa kita ketahui !" kata Puguh yang sudah mendekat, setelah melihat Rengganis sudah dibantu oleh Senopati Cakrayuda dan Senopati Roro Nastiti.


"Ayo ngger ! Kita kembalikan iblis ini ke neraka !" teriak Ki Kebo Ranu sambil melesat cepat ke arah Pangeran Panji.


Ki Kebo Ranu yang sejatinya memiliki kekuatan yang sangat besar, masih penasaran dengan lawannya, yang mampu membuatnya terpental.


Diawali dengan pukulan pukulan yang cepat, satu pukulan yang mengandung hampir kekuatan penuh dilayangkan ke dada Pangeran Panji, oleh Ki Kebo Ranu.


Slappp ! Slappp !


Dbammm !


Seperti halnya tadi, tubuh Ki Kebo Ranu kembali terlempar melayang ke belakang. Masih beruntung bagi Ki Kebo Ranu, Puguh yang berdiri di belakangnya segera menangkap tubuh Ki Kebo Ranu yang terlempar.

__ADS_1


__________ ◇ __________


__ADS_2